04/09/2022
SARAN DARI PEGIAT Masjid Enterprise
(Bang Beny sulastiyo )
Para pekerja sosial (sociopreneur) sebaiknya menjadikan Masjid Perjuangan sebagai basis aktivitas. Kenapa masjid? Karena Masjid itu bukan warung kopi. Di warung kopi, kopinya habis rapat bubar. Kontrakan warkop habis, tempat ngumpul ambyar.
Masjid adalah kawasan masajidalillah, tempat sujud milik Allah. Serahkan tanah dan bangunannya kepada Allah. Maka Allah yang akan menjaganya. Sebagaimana Allah menjaga Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, Masjid Nabawi, Masjid Al-Azahar, Masjid Demak, dan Berjuta kawasan masjid di seluruh dunia. Ia akan abadi.
Dengan demikian, lewat masjid, energi yang kita keluarkan hari ini akan dapat dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Dan apa yang kita korbankan hari ini tak akan sia-sia di esok hari.
Cara Memulainya?
Carilah tanah sepetak, dirikan bangunan untuk sujud kepada Allah. Bangun tradisi berjamaah sedari awal bersama anggota komunitas.
Jaga terus keberjamaahan di masjid dengan bertemu terus menerus dalam aktivitas ritual mensujudkan diri kepada Sang Pencipta (shalat berjamaah), berkomunikasi yang tulus dengan sesama, saling asah dan saling asuh, serta melakukan kerja-kerja sosial bersama yang sederhana dulu.
Mulailah dari 4-5 orang dulu. Cari yang sehati. Cari yang mau dididik. Cari yang mau dipimpin. Itu lebih dari cukup daripada berpuluh orang tapi tak sehati, tak mau memperkaya pengetahuan, tinggi hati, tak mau dipimpin dan tak becus p**a diberi kepercayaan untuk memimpin.
Kelak, pelan-pelan bangunan yang sempit diperbesar. Kelak, pelan-pelan wilayah kerja yang kecil diperluas. Kelak, pelan-pelan sumber daya manusia yang sedikit diperbanyak.
Pelan-pelan aja. Ga usah terburu-buru. Ga perlu ambisius. Nikmati prosesnya. Jangan pusingkan dengan hasilnya. Hadapi semua kemudahan dan kesulitan yang datang.
Dengarkan mas**an dari orang-orang yang tulus. Segera laksanakan jika dapat mendukung aktivitas yang diselenggarakan. Perbanyak silaturahmi dan hindari sikap merasa benar dan merasa hebat sendiri.
Jangan hirau dengan ejekan-ejekan dari orang lain. Percayalah, mereka yang s**a mengejek, pasti tidak lebih baik daripada yang diejek.
Natas, nitis, netes. Natas, hanya mengharap ridho dari yang di Atas. Nitis, jadilah individu dan komunitas yang rendah hati dan membumi. Netes, lakukan terus menerus walau hanya setetes kebaikan.
Setelah itu, Insyaallah masjid yang kecil itu akan dibesarkan sama Allah. Tanah yang sepetak, akan diperluas sama Allah. Orang yang sedikit akan ditambah sama Allah. Pekerjaan yang rumit akan dipermudah sama Allah.
Demikianlah yang saya saksikan dari guru-guru saya yang membangun aktivitas sosial berbasis masjid. Seperti Gurunda KH. Luqmanulhakim dan H.M. Nur Hasan melalui Masjid Kapal Munzalan Indonesia. Abangnda Kiai Syahid dengan Masjid Kurir Langit-nya, Abi Rendy Saputra dan Bunda Nirwana Tawil dengan Masjid Berkahboxnya. Abangnda Kiai dr.Andhyka Sedyawan dengan Masjidbillionaire-nya, dan puluhan sahabat lainnya yang aktivitas sosialnya sedang terus bertumbuh di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Lombok, dsb.
**
Yok sama-sama belajar menjadikan masjid sebagai basis aktivitas sosial
Berkahselaloe
Beni Sulastiyo