25/12/2021
"Di mana Allah?"
Bagi pembelajar ilmu tauhid atau ilmu kalam, pertanyaan di atas mungkin sangat sepele bahkan nampak murahan. Tapi di manakah Allah sebenarnya?
Terlintas dalam pikiran saya sebuah hadits shohih yang berbunyi:
لو دليتم بحبل على الأرض لهبط على الله
"Seandainya kau melempar sebuah tali ke dalam bumi niscaya tali itu akan jatuh ke Allah"
Oh, berarti Allah berada di dalam bumi?
Tapi, kenapa Dia berfirman:
ثم استوى الى السماء
"Kemudian Dia (Allah) bersemayam/bertempat di langit"
Setelah sejenak berhenti merenung, pertanyaan itu kembali merasuk pikiranku lagi "Di mana Allah?"
Dan tiba-tiba kuingat sebuah hadits Nabi SAW:
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:"أقرب ما يكون العبد من ربّه وهو ساجد، فأكثروا الدّعاء".
Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi SAW: "Posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah saat ia sujud, maka perbanyaklah berdoa!"
Kalau memang demikian kenapa Nabi Muhammad SAW bertemu Allah ketika Mi'raj ke atas?
Kalau di langit, kenapa Nabi Yunus justru bertemu Allah di dasar laut?
Kalau Masjid itu rumah Allah, kenapa Nabi Musa menjumpai-Nya di gunung?
"Di mana Allah?" bisikan ini terbesit dalam fikiran kembali,
وهو معكم أينما كنتم
"Dia (Allah) bersamamu di manapun kalian berada"
Ayat inilah yang sontak saya ingat, Tapi mengapa Nabi Saw menyebut gadis (Jariyah) itu sebagai mukminah karena telah menunjuk Allah "di langit?" tanpa takwil atau melupakan tafwidh "Di mana Allah?"
Bahkan kata Allah sendiri:
ونحن اقرب اليه من حبل الوريد
"Kami (Allah) lebih dekat padanya dari urat leher"
Kuraba leherku tak kutemukan Allah di sana, di mana Allah?
Lagi-lagi pertanyaan itu seolah-olah bagaikan setumpuk masalah...
Mestinya pertanyaan itu biasa dipelajari dalam ilmu tauhid.
Teringat hadits tentang enam malaikat yang berkumpul di Makkah.
Keenam malaikat ini datang dari arah yang berbeda, dari atas, bawah, timur, barat, utara dan selatan.
Masing-masing mereka bertanya "dari manakah kamu?" lalu,
Masing-masing pun menjawab "dari sisi Tuhan"
Lantas akupun dibuat bingung sendiri...
😇😇😇
Jadi, di mana Allah? Itulah gumam fikiranku kembali,
sambil minum teh sembari mengingat cuplikan hadits qudsi
bahwasanya disebutkan:
قلب المؤمن عرش الله
"Hati seorang mukmin adalah singgasana Allah"
Kemudian di manakah Allah...?
كنت كنزا مخفيا فاردت ان اعرف فخلقت خلقا
"Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersimpan, Aku ingin dikenal lalu Akupun menciptakan makhluk."
Dari semua itu sayang sekali, tetap aku belum tahu di mana Allah?
اللهم زدني فيك تحيرا
"Ya ALLAH...Kau buat diriku bertambah bingung."
🤦🏻♂️🤦🏻♂️🤦🏻♂️
Padahal mestinya hal ini persis sama yang didawuhkan oleh sahabat Abu Bakar Asshidiq RA:
العجز عن درك الإدراك إدراك، والبحث عن ذاته كفر وإشراك
"Ketidakmampuan akan mengenal Allah adalah sejatinya mengenal Allah, adapun membahas tentang eksistensi dzatnya adalah kufur dan syirik."
Apapun yang terbenak, terlintas, maupun terbayang dalam hatimu,
Allah berbeda denganya.
مهما يتصور ببالك، الله بخلاف ذلك
Apalagi Allah Ta'ala...
lah wong surga saja disifati
مالا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر.
sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia.
Pada dasar tidak ada yang tahu hakikat Allah itu sendiri, kecuali hanya Allah dan orang-orang tertentu (mis, para Nabi dan Wali serta orang-orang pilihan-Nya) itupun sebab diberi pengetahuan oleh Allah, tanpa itu tidak mungkin.
Yang jelas kita hanya wajib mengetahui Allah sesuai apa yang disampaikan oleh para ulama pakar/ahli tauhid
والله أعلم بالصواب...