14/10/2025
Sejarah Jam’iyah Syubbaniyah
KH. QOSIM SHOLEH & RĀTIBUL HADDĀD
Beliau adalah ulama karismatik dari desa Lemahayu (sebelum pemekaran termasuk wilayah desa Jambe), sebuah desa yang berjarak kurang lebih 4,7 KM dari kantor kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu. Beliau adalah putra KH. Sholeh Sal seorang ulama karismatik yang berasal dari Desa Gintung Lor di Kabupaten Cirebon yang telah mukim dan disemayamkan di Blok Kedokanbajing Desa Lemahayu.
Kiai Qosim termasuk ulama yang mendawamkan membaca dan mengenalkan Rātibul Haddād di Desa Lemahayu. Beliau selalu membaca rātib tersebut dengan jamaahnya pada setiap malam di antara waktu Magrib dan Isya di musholla pesantren beliau.
Pada tahun 1973 M. berdirilah Jam’iyah Syubbaniyah (jam’iyah pemuda) yang diprakarsai oleh santri-santri beliau, seperti KH. Muntaha Syafaat (Kaplongan, Indramayu), Alm. KH. Muhyiddin (Lebe Mukidin), termasuk putra beliau, Alm. KH. Slamet Qosim dan ponakan beliau, K. Ma’ruf Shaleh. Tujuan didirikannya jam’iyah tersebut adalah untuk mengoordinir para pemuda setempat agar mereka mempunyai wadah untuk meyelenggarakan halaqah dzikir (dzikir berjamaah) secara rutin setiap seminggu sekali. Selain untuk mengingat Allah, halaqah dzikir ini p**a bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan bersilarurrahim di rumah-rumah anggota jam’iyah yang mendapat giliran tempat setiap minggunya.
Sebelum pembacaan Yasin dan Rātibul Haddād final dijadikan wirid resmi jam’iyah ada beberapa wirid yang diamalkan oleh jam’iyah, diantaranya adalah Hizbun Nashr karya Syekh Abul Hasan asy-Syādzili. Karena beberapa pertimbangan akhirnya hizb tersebut urung dijadikan wirid jam’iyah hingga akhirnya jatuhlah pilihan pada pembacaan surat Yasin dan Rātibul Haddād sebagai wiridan resmi jam’iyah.
Di antra alasan Rātibul Haddād dijadikan wirid resmi jam’iyah, selain keutamaan-keutamaannya, adalah melestarikan dan meneruskan sesuatu yang telah diistikamahkan oleh sesepuh terdahulu, yaitu KH. Qosim Sholeh.
Mudah-mudahan kita mendapat keberkahan beliau, Rātibul Haddād dan penyusunnya, yaitu al-Imam al-Habib Abdullah al-Haddad. Dan mudah-mudahan jam’iyah ini tetap istikamah sampai anak-cucu kita kelak. Aamiin.
Al-Fatihah..