25/10/2025
Menurut KH. Said Aqil Siradj, beberapa tindakan ibadah yang berpotensi mendatangkan kemusyrikan adalah yang keluar dari tradisi dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, terutama jika tercampur dengan praktik di luar ajaran Islam murni. Ia dikenal sebagai ulama yang berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi keagamaan lokal dan ajaran Islam yang benar, sehingga pandangannya tentang kemusyrikan seringkali berkaitan dengan sinkretisme yang berlebihan.
Berikut adalah beberapa interpretasi mengenai pandangan KH. Said Aqil Siradj terkait ibadah yang bisa mengarah pada kemusyrikan:
Praktik sinkretisme yang berlebihan: KH. Said Aqil Siradj mengakui bahwa tradisi dan adat istiadat dapat dipertahankan, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, praktik yang menggabungkan unsur ibadah Islam dengan ritual atau kepercayaan pra-Islam secara berlebihan, di mana unsur-unsur non-Islam mendominasi, dapat dianggap sebagai bentuk kemusyrikan.
Pengagungan benda atau sosok tertentu yang melebihi batas: Meskipun menghormati ulama dan benda-benda bersejarah yang memiliki makna keagamaan adalah hal yang wajar, pengagungan yang berlebihan hingga sampai pada tahap penyembahan atau meminta pertolongan pada selain Allah adalah bentuk kemusyrikan. Ia membedakan antara kecintaan yang dianjurkan (seperti memuji Nabi Muhammad) dengan pemujaan yang sesat.
Mencampuradukkan niat ibadah: Ibadah yang murni harus ditujukan hanya kepada Allah Swt. Apabila dalam beribadah seseorang juga memiliki niat untuk mencari berkah dari selain Allah, seperti meminta kesembuhan dari kuburan wali, atau mengharapkan keuntungan duniawi dari benda-benda pusaka, hal itu dapat mengarah pada kemusyrikan.
Melanggar tradisi ahlussunnah wal jamaah: Sebagai salah satu tokoh Nahdlatul Ulama, pandangan KH. Said Aqil Siradj sangat menekankan pada pentingnya menjaga tradisi keagamaan yang sudah mapan dalam Ahlussunnah wal Jamaah. Menurutnya, ibadah yang menyimpang atau keluar dari tradisi ini dan cenderung ekstrem bisa berpotensi mengarah pada kesesatan, termasuk kemusyrikan.
Melupakan sumber utama ajaran: Dalam salah satu ceramahnya, ia menegaskan pentingnya mempelajari sumber-sumber utama ajaran Islam, seperti Al-Qur'an dan hadis, dengan pendekatan yang benar. Kurangnya pemahaman yang mendalam tentang sumber-sumber ini bisa membuat seseorang mudah terjerumus dalam praktik-praktik yang tidak sesuai syariat, termasuk yang mengarah pada kemusyrikan.