Historia Islamica en Indonesiana

Historia Islamica en Indonesiana Historia Islamica en Indonesiana adalah halaman yang bertujuan untuk membahas Sejarah Islam dalam bahasa Indonesia dengan format diskusi terbuka dan sederajat.

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.SHALAT DI MASJID VS LAPANGAN : CATATAN KECIL MENGENAI KONTEKS SUNNAH NABITa...
24/05/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

SHALAT DI MASJID VS LAPANGAN : CATATAN KECIL MENGENAI KONTEKS SUNNAH NABI

Tak terasa, Lebaran telah datang. Kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri ke-1441 H. Hari ini kita akan membahas mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipertengkarkan, tapi sering menjadi perdebatan antar umat Muslim : Yaitu tempat terbaik melaksanakan Shalat 'Id.

Perihal area terbaik mengenai Shalat 'Id sering dipertengkarkan. Kedua area tersebut sering diidentikkan dengan keberadaan ormas tertentu, seperti Muhammadiyah yang terkait dengan shalat di lapangan dan NU dengan shalat di masjid. Sebenarnya, kedua hal tersebut tidak perlu dipertengkarkan karena hanya ikhtilafiyah dalam urusan furuiyah.

Penganjur shalat 'Id di lapangan berpendapat, bahwa shalat 'Id di lapangan adalah suatu sunnah Nabi karena Nabi pun melaksanakannya di lapangan. Pendapat tersebut benar, karena ada hadits yang menyatakan kalau Nabi memang shalat 'Id di lapangan.

"Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat idul Fitri atau Idul Adha keluar (menuju ke lapangan), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat ‘Ied sebanyak dua rakaat, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan shalat lain sebelum dan setelahnya." [Riwayat Muslim, no. 884]

Akan tetapi, perlu kita ketahui, bahwa dalam menghadapi sebuah dalil, bukan berarti kita harus menelannya mentah-mentah tanpa memikirkan ulang dalil tersebut. Ternyata, dibalik keberadaan sikap Rasul yang shalat 'Id di lapangan, terdapat konteks yang mendasarinya.

Perlu kita ketahui, di zaman Rasul, Rasul sering melaksanakan shalat di Masjid Nabawi. Akan tetapi, Masjid Nabawi pada saat ini tidak sama dengan Masjid Nabawi pada masa Nabi. Saat itu, Masjid Nabawi cukup sederhana dan tidak seluas pada masa kini. Banyak catatan sejarah mengenai bentuk Masjid Nabawi saat itu. Oleh karena kecilnya Masjid Nabawi, banyak khalifah sesudah Rasul yang kemudian berniat untuk meluaskan masjid tersebut supaya bisa memuat banyak orang.

Oleh disebabkan konteks tersebut, kita akhirnya tahu motif Nabi melakukan shalat 'Id di lapangan. Shalat 'Id, dilaksanakan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, pasti peserta shalat 'Id jauh lebih banyak daripada shalat Jum'at. Untuk memastikan bahwa jamaah shalat 'Id muat disebuah tempat, Nabi menggunakan akalnya dan memutuskan untuk mengadakan shalat 'Id di lapangan.

Nah, di masa kini, sunnah Nabi tersebut tampaknya agak kurang relevan karena masjid di masa kini ukurannya besar-besar. Di tambah p**a, keadaan Nabi yang tinggal di padang pasir, membuat lapangan di sana lebih mudah dijamin kebersihannya daripada lapangan yang ada di Indonesia. Jadi, pendapat yang mengatakan shalat 'Id lebih baik di masjid ada benarnya juga sesuai dengan konteks Ke-Indonesia-an.

Akan tetapi, di mana saja kita shalat, yang terbaik bukanlah di mana kita shalat, tapi bagaimana kita bisa meluruskan niat untuk mendapat keridhaannya itu yang baik. Mengingat ada pandemi semacam ini, lebih baik kita mengikuti anjuran pemerintah untuk shalat 'Id di rumah, supaya penyebaran Novel Coronavirus bisa dihentikan.

- Abdullah Saeed

Referensi:
- Haekal, Muhammad Husein. 1990. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta : Litera AntarNusa
- Ariffin, Syed Ahmad Iskandar Syed. 2005. Architectural Conservation in Islam : Case Study of the Prophet's Mosque. Johor : Penerbit UTM. hlm. 88–89,109
- Atiqur Rahman. Umar Bin Khattab: The Man of Distinction. Adam Publishers. hlm. 53. ISBN 978-81-7435-329-0.
- Wahyudi, Hari Hendra. 2020. Mana yang Lebih Utama, Shalat Ied di Masjid atau di Lapangan? . Indonesia:IB Times (https://ibtimes.id/mana-yang-lebih-utama-shalat-ied-di-masjid-atau-di-lapangan/)

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuhRUKYATUL HILAL VS HISAB : SEBUAH PERDEBATAN TENTANG AWAL RAMADANSebelum kami...
24/04/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh

RUKYATUL HILAL VS HISAB : SEBUAH PERDEBATAN TENTANG AWAL RAMADAN

Sebelum kami membahas tentang Rukyatul Hilal dan Hisab, kami ucapkan selamat untuk Umat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun 1441 H.

Berbicara tentang puasa Ramadan, tak lupa seringkali kita membicarakan metode penentuan awal kehadirannya. Pembicaraan ini memang jarang dilakukan oleh orang awam, karena mereka merasa tidak tahu dan tidak ingin tahu serta hanya menyerahkannya kepada yang ahli saja. Padahal kalau kita membaca Al-Quran sekali lagi, kita diperintahkan untuk belajar dan tidak hanya sekadar ikut-ikutan belaka.

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui tentangnya (ilmunya). Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya." QS. Al-Isra ayat 36.

Oleh karena itu, pembahasan ini ditujukan untuk memberi pengetahuan kepada pembaca tentang kedua metode tersebut.

Metode penetapan awal Ramadhan dikenal secara umum ada dua, yaitu Rukyatul Hilal dan Hisab. Sebenarnya, ada metode selain itu seperti Imanur Rukyat dan Wujudul Hilal. Namun, yang terkenal hanyalah Rukyatul Hilal dan Hisab karena dua metode yang disebutkan terakhir, pada dasarnya adalah pengembangan dari keduanya.

Metode Rukyatul Hilal adalah metode penentuan awal Ramadhan yang dilakukan dengan melihat Hilal atau Bulan Sabit setelah Magrib pada akhir hari bulan Sya'ban. Jika bulan sudah terlihat dari pengamatan tersebut, maka esok harinya akan menjadi hari pertama bulan Ramadhan, dan apabila bulan tidak nampak, maka hari berpuasa akan ditunda menjadi lusanya.

Sedang metode Hilal adalah metode penentuan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan perhitungan yang matematis serta ilmiah. Dengan metode ini, kelebihannya adalah praktis dan dapat memperhitungkan kemungkinan bulan Ramadan bahkan untuk tahun-tahun berikutnya, karena peredaran bulan memang adalah sebuah objek yang bisa dihitung.

Jika kita berbicara Sejarah, metode yang pertama kali digunakan Rasul adalah Metode Rukyatul Hilal. Hal ini dapat diketahui melalui hadits berikut ini.

"Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari." HR. Imam Bukhari & Muslim.

Lantas, apa berarti metode Rukyatul Hilal adalah metode yang paling baik dan benar? Belum tentu.

Rasul melaksanakan metode Rukyatul Hilal karena memang metode itulah yang paling mungkin dilaksakan pada masa itu. Pada abad ke-6 ketika Rasul hidup, meski perhitungan matematis terhadap peredaran benda langit telah dikenal di Babilonia kuno, tapi perhitungan tersebut tidak masyhur di kalangan bangsa . Jadi, jelas metode Hilal tidak mendapat perhatian Rasul saat itu, mengingat p**a Rasul juga bukan seorang ahli Matematika dan Astronomi, maka Rukyatul Hilal adalah metode yang paling mungkin dijalankan saat itu.

Metode Hisab mendapat sendi perhatian ketika kita melihat Al-Qur'an. Di dalam Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat bahwa matahari dan benda-benda langit beredar menurut perhitungan manusia.

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." QS. Yunus ayat 05.

Lalu, metode manakah yang harus kita pilih? Jika berbicara pilihan, maka masing-masing pribadi dapat memilih sendiri metode tersebut berdasar keyakinan dirinya dengan penuh tanggung jawab. Akan tetapi jika berbicara rekomendasi, kami rasa, ada sebuah sebuah rekomendasi unik dari Universitas Al-Azhar. Yaitu menyatukan kedua metode tersebut.

Metode Al-Azhar yang digunakan sebagai fatwa Ramadan di Mesir menggunakan metode Hisab sebagai penentu awal Ramadan, dan Rukyatul Hilal sebagai pemantapan dari metode Hisab tersebut. Jika melalui Hisab didapati perbedaan dengan Rukyatul Hilal, maka Hisab dipilih lebih dahulu dan pada tahun berikutnya, serta hasil perhitungan Hisab akan dievaluasi kembali sebagai pengaturan keakuratan supaya tidak terjadi perselisihan nantinya ketika Rukyatul Hilal dilakukan.

Kenapa Rukyatul Hilal tidak diutamakan? Karena kelemahan metode tersebut juga ada banyak. Salah satunya adalah anggapan imajiner bahwa bulan tidak muncul hanya karena gangguan astronomis seperti mendung. Jika bulan tertutup oleh awan, maka secara Rukyatul Hilal dianggap bulan tidak nampak dan puasa akan bisa ditunda, padahal bisa jadi kenyataannya bulan sudah nampak.

Begitu p**a dengan Hisab, ia juga mempunyai kelemahan di sisi keakuratan perhitungan. Oleh karena itu, penyatuan metode Rukyatul Hilal dan Hisab adalah sebuah solusi unik untuk menghindari pertengkaran umat karena perbedaan metode, sering kali membuat hari raya dari sebuah ormas akan berbeda dari ormas yang lain. Dan mereka akan bertengkar karena mengaku yang paling benar.

- Fazlur Rahman

Daftar referensi :

- Kementerian Agama Republik Indonesia. 2013. Buku Saku Hisab Rukyat. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
- Mustofa, Agus. 2010. Mitos dan Anekdot di sekitar Umat Islam. Surabaya : Padma Press
- Mustofa, Agus. ___ . Jangan Asal Ikut-ikutan Hisab dan Rukyat. Surabaya : Padma Press
- Tim Penulis Wikipedia. ___ . Hisab dan Rukyat. Indonesia : Wikipedia bahasa Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Hisab_dan_rukyat?wprov=sfla1)

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.PARADIGMA TEOANTROPOSENTRIS : SEMANGAT KEMAJUAN PERADABAN ISLAM (Part 03)Pa...
20/04/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

PARADIGMA TEOANTROPOSENTRIS : SEMANGAT KEMAJUAN PERADABAN ISLAM (Part 03)

Pada masa Abad Kejayaan Islam, banyak orang yang menganut Paradigma Teoantroposentris, meski banyak p**a yang menganut Paradigma Teosentris. Bagaimana hal itu bisa diketahui? Yaitu lewat Sejarah.

Sejarah menuliskan ketika umat Islam menaklukkan daerah Irak dan Persia serta Syiria yang termasuk jajahan Romawi, Filsafat Yunani kuno pun mulai bersentuhan dengan Islam. Alih-alih mempertentangkannya dengan ajaran agama, banyak orang saat itu yang berusaha mensintesiskan ajaran agama dengan filsafat saat itu (meski banyak p**a yang mempertentangkan hal itu pada zaman dulu).

Memadukan filsafat yang tak lain adalah simbol produk pemikiran manusia dengan Wahyu sebagai Kalam Allah menunjukkan saat itu ada visi untuk mempersatukan kebaktian pada Tuhan dengan memakmurkan kehidupan manusia dengan segenap rasionalitasnya. Hal itu berdasar pada keyakinan bahwa memperbaiki kehidupan manusia sebagai makhluk bumi, merupakan tugas manusia itu sendiri sehingga ia turun ke bumi menjadi Khalifah, pengganti atau wakil Allah dalam menurunkan rahmat serta kasih sayangnya. Selain itu, keyakinan tersebut diperkuat dengan bahwa Tuhan juga menginginkan kebaikan bagi manusia sebagai manifestasi akan asmanya yaitu sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”" QS. Al-Baqarah ayat 30.

"Dan Allah sekali-kali tidak menzhalimi hamba-hamba-Nya." QS. Al-Hajj ayat 10.

"Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia." QS. Al-Baqarah ayat 143.

Dengan adanya visi tersebut, maka segala tindakan untuk memperbaiki kehidupan kemanusiaan, bukanlah sebuah hal yang patut diletakkan sebagai sampingan, tapi dianggap sebagai hal yang utama. Memperbaiki kehidupan manusia adalah wujud dari kebaktian kepada Tuhan juga. Maka dari itu, ketika umat Islam pada saat itu menerapkan paradigma ini, mereka berorientasi untuk memajukan kehidupan manusia sehingga timbul sebuah peradaban yang sangat besar tiada tandingannya.

Salah satu dari usaha untuk memajukan kehidupan manusia adalah dengan menggembleng keberadaan sains dan filsafat. Tanpa keduanya, impian untuk memajukan kehidupan manusia akan tetap menjadi impian dan belum menjadi kenyataan. Mereka yakin bahwa dengan mereka mempelajari sains dan filsafat, selain memajukan kehidupan manusia, mereka akan mendapatkan ridha Tuhan karena sesuai dengan ajaran Al-Quran tentang penggunaan akal.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." QS. Ali-Imran ayat 190.

Oleh sebab itu, kehidupan manusia pada masa Abad Kejayaan Islam menjadi makmur. Sekolah atau Madrasah giat dibangun, Rumah Sakit menjadi prioritas pembangunan, Perpustakaan dengan banyak buku pun disediakan. Penulis pada masa itu benar-benar mendapatkan penghargaan yang selayaknya. Mereka akan mendapat emas seberat buku yang mereka tulis. Selain penulis, semua orang yang memperjuangkan kemakmuran manusia seperti dokter, guru, dll. akan mendapat penghargaan yang serupa. Sebuah hal yang kontras dengan saat ini di mana kehidupan manusia sangat diabaikan karena terlalu fokus menyembah Tuhan dengan ritual kosong tanpa makna, padahal menghidupi kehidupan manusia juga termasuk dalam ibadah yang utama.

Demikianlah penjelasan kami tentang Paradigma Teoantroposentris yang kami harap, rekan pembaca akan mengambil pelajaran darinya, dan bersemangat untuk memajukan Islam bersama-sama sebagai Khalifah di muka bumi.

- Fazlur Rahman

Daftar Pustaka :
- Kato, Hisanori. 2002. Agama dan Peradaban. Jakarta : Dian Rakyat
- Laksono, Eko. 2010. Imperium III : Zaman Kebangkitan Besar. Jakarta : Hikmah
- Madjid, Nurcholish. 2019. Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta : Gramedia Pustaka
- Mustofa, Agus. 2008. Beragama dengan Akal Sehat. Surabaya : Padma Press
- Mustofa Agus. 2006. Membonsai Islam. Surabaya : Padma Press
- Rohmanu, Abid. 2019. Paradigma Teoantroposentris : dalam Konstelasi Tafsir Hukum Islam. Yogyakarta : Diva Press
- Wahib, Ahmad. 2012. Pergolakan Pemikiran Islam. Jakarta : Democracy Project

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.PARADIGMA TEOANTROPOSENTRIS : SEMANGAT KEMAJUAN PERADABAN ISLAM (Part 02)Da...
19/04/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

PARADIGMA TEOANTROPOSENTRIS : SEMANGAT KEMAJUAN PERADABAN ISLAM (Part 02)

Dalam pembahasan part 01 kemarin, kami telah membahas perihal bagaimana munculnya perubahan dalam diri umat Islam yang disebabkan karena pergeseran paradigma umatnya. Umat Islam kini mengalami nasib yang sama dengan orang Eropa pada Abad Pertengahan.

Eropa saat itu juga menganut paradigma Teosentris. Mereka memandang segala sesuatu yang ada menggunakan sudut pandang Tuhan. Oleh karena itu, penjelasan ilmiah jelas akan ditolak karena dianggap sebagai bentuk independensi dari kekuasaan Tuhan. Ketika Tuhan sudah menciptakan sesuatu, maka Ilmu Pengetahuan akan mencari hukum-hukum dibalik adanya fenomena itu, yang nampak sekilas seolah-olah ingin mencari penjelasan selain Tuhan. Oleh karena itu Gereja benar-benar memusuhi Ilmu Pengetahuan dan menganggapnya sebagai Sihir.

Alhasil, ketika sampai pada puncaknya yaitu Reformasi Gereja oleh Martin Luther, orang Eropa sadar akan ketergantungan mereka terhadap gereja. Mereka pun menggeser paradigma mereka ke paradigma Antroposentris (berpusat pada manusia). Paradigma tersebut menuntut bahwa segala sesuatu harus membawa kebaikan bagi manusia itu sendiri. Memang paradigma ini bisa membawa kemajuan bagi Eropa hingga saat ini, tapi paradigma ini juga bukan berarti tanpa masalah.

Masalah utama dari paradigma ini terletak pada unsur ketuhanan. Ketika paradigma ini berusaha memusatkan diri hanya pada manusia, maka secara tak langsung ia akan mengabaikan Tuhan. Apalagi setelah adanya rasa kekecewaan terhadap gereja saat itu, akhirnya membuat banyak orang Eropa menganggap Tuhan itu tidak membawa dampak baik bagi manusia. Maka, ateisme berkembang dengan cepat dalam penerapan paradigma ini.

Paradigma ini jelas-jelas tidak satu prinsip dengan agama Islam. Lalu, bagaimana cara umat Islam zaman dahulu bisa maju tanpa menerapkan paradigma Antroposentris? Yaitu dengan menggunakan paradigma Teoantroposentris. Sebuah paradigma yang memusatkan diri pada kebaktian dengan Tuhan, tapi tidak melupakan unsur kemanusiaan. Sederhananya, menjadikan Tuhan dan Manusia sebagai sebuah pusat sekaligus.

Sebelum beranjak lebih jauh, mungkin ada beberapa orang yang menganggap aneh paradigma ini. Bagaimana mungkin Tuhan dan Manusia dipasangkan sebagai satu pusat? Dan ini mungkin memang tampak seperti Syirik, yaitu menduakan Tuhan dengan manusia.

Nampak secara sekilas memang paradigma Teoantroposentris seperti mengandung contradictio in terminis. Namun perlu kami tekankan, meski menjadikan manusia dan Tuhan sebagai pusat, bukan berarti menjadikan keduanya sebagai Tuhan. Karena paradigma ini sendiri bukan jawaban dari pertanyaan yang bersifat Teologis (keimanan) tapi solusi dari visi misi kehidupan yang justru mengalami penyimpangan karena tidak memahami arti pentingnya keimanan terhadap Tuhan.

Paradigma Teoantroposentris merupakan sebuah visi keimanan yang ditujukan untuk menjawab masalah kemanusiaan. Oleh karena itu istilahnya menjadikan manusia dan Tuhan sebagai sebuah pusat dalam memandang masalah atau yang kita sebut sebagai paradigma. Paradigma ini bukan ditujukan untuk menduakan Tuhan dengan manusia, tapi justru membuat masalah kemanusiaan yang biasanya dianggap sekuler menjadi masalah kemanusiaan yang bisa diarahkan ke visi Teologis atau Iman. Justru, Paradigma Teoantroposentris selaras dengan visi Islam sebagai Rahmatan Lil 'Alamin yang memberikan kesejahteraan kepada manusia, tapi tanpa melupakan unsur Ketuhanan.

Penjelasan ini adalah penjelasan singkat mengenai Paradigma Teoantroposentris. Insya Allah Kami akan membahas tentang penerapan paradigma ini pada masa Abad Kejayaan Islam esok pada part 03.

- Abdullah Saeed

Daftar Pustaka :
- Kato, Hisanori. 2002. Agama dan Peradaban. Jakarta : Dian Rakyat
- Laksono, Eko. 2010. Imperium III : Zaman Kebangkitan Besar. Jakarta : Hikmah
- Madjid, Nurcholish. 2019. Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta : Gramedia Pustaka
- Mustofa, Agus. 2008. Beragama dengan Akal Sehat. Surabaya : Padma Press
- Mustofa Agus. 2006. Membonsai Islam. Surabaya : Padma Press
- Rohmanu, Abid. 2019. Paradigma Teoantroposentris : dalam Konstelasi Tafsir Hukum Islam. Yogyakarta : Diva Press
- Wahib, Ahmad. 2012. Pergolakan Pemikiran Islam. Jakarta : Democracy Project

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.PARADIGMA TEOANTROPOSENTRIS : SEMANGAT KEMAJUAN PERADABAN ISLAM (Part 01)Mu...
18/04/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

PARADIGMA TEOANTROPOSENTRIS : SEMANGAT KEMAJUAN PERADABAN ISLAM (Part 01)

Mungkin banyak orang yang tahu kenapa umat Islam pada masa kini tidak sehebat atau sekeren umat Islam pada abad pertengahan yang maju. Mereka menjawab bahwa umat Islam sekarang tidak memiliki orientasi ke Sains, malas belajar, bodoh, dll. Itu mungkin bisa menjadi jawaban yang tepat. Tapi juga bisa memunculkan pertanyaan baru: "Bagaimana umat Islam bisa kehilangan orientasi sains atau semangat belajar mereka?"

Mungkin jawabannya bisa bervariasi, tergantung pendekatan yang digunakan. Bisa dari Sejarah atau dari Sosiologis. Di sini, kami akan memberikan jawaban secara Epistemologis. Pertanyaannya apa itu Epistemologi? Ia adalah cabang pemikiran yang memfokuskan tentang beberapa hal tentang pengetahuan.

Dilihat dari Epistemologis, jawaban dari kenapa umat Islam tidak lagi sama seperti dulu adalah satu: Cara pandang umat Islam melihat agama dan dunianya. Cara pandang melihat segala sesuatu sehingga timbul pemikiran atau kelogisan berpikir inilah yang disebut Paradigma. Pergeseran paradigma yang membuat akhirnya segala tindak-tanduk, pemikiran, atau sesuatu dari umat Islam menjadi berubah.

Pasca penyerangan kota Bagdad oleh Mongol dan hancurnya Andalusia pada abad 13 & 15 M, umat Islam mengalami pergeseran paradigma yang awalnya bermula dari Teoantroposentris menjadi Teosentris. Paradigma Teoantroposentris secara harfiah bermakna memusatkan (sentris) pada manusia (antro) dan Tuhan (Teo), yaitu seperangkat paradigma yang menjadikan pengabdian kepada Tuhan dan kemajuan manusia sebagai pusat pemikiran. Sedangkan Teosentris secara literal berarti memusatkan (sentris) pemikiran hanya kepada Tuhan (Teo) saja tanpa mengindahkan unsur-unsur kemanusiaan.

Pergeseran ini ditandai dengan hancurnya kota Bagdad dan ditutupnya pintu Ijtihad serta merebaknya paham spiritualisme yang berusaha untuk mendekati Tuhan dengan cara menjauhkan diri dari dunia. Hal itu terjadi karena orang-orang saat itu kecewa melihat hancurnya Bagdad yang berawal dari intrik politik dari internal hingga diserang pihak eksternal seperti Mongol. Orang-orang saat itu menganggap bahwa Bagdad sudah begitu jauh meninggalkan agama (yang terlihat dari perebutan kekuasaan antar anggota istana), maka dari itu ia runtuh dengan mudah. Maka, cara untuk membangun kemajuan pasca hancurnya Bagdad menurut mayoritas orang saat itu adalah dengan kembali beragama dengan fokus ke ritus keagamaan dan membuang segala sesuatu yang tidak berkaitan dengannya. Dari sinilah, tahap pergeseran paradigma dari Teoantroposentris menjadi Teosentris bermula.

Paradigma Teosentris menuntut bahwa segala perilaku yang dilakukan oleh manusia, harus membuat Tuhan menjadi senang. Hal ini juga bisa diartikan sebagai memandang segala sesuatu menggunakan sudut pandang Tuhan yang jelas, di mana Tuhan bisa melakukan segala sesuatu yang tidak masuk akal. Maka dengan itu, semangat umat Islam yang dulunya sains-oriented (berorientasi pada ilmu pengetahuan) menjadi fiqh-oriented (berorientasi pada hukum). Segala sesuatu, harus berlindung pada payung legalitas. Umat akhirnya hanya memikirkan tentang Halal-Haram, ritual-ritual keagamaan, dll. Karena semua hal itu dapat membuat Tuhan senang dan tidak membuatnya murka serta menunjukkan diri sebagai pribadi yang taat. Sedangkan sains sama sekali tidak membuat Tuhan senang dan hanya manusia yang senang, maka dari itu patut diletakkan sebatas pinggiran.

Oleh karena pergeseran orientasi itulah, kemudian metode pengajaran agama pun mengalami perubahan. Awalnya, agama diajarkan dengan diskusi keagamaan atau kontemplasi guru kepada muridnya dengan penuh hikmah menjadi pengajaran yang dogmatis atau doktriner. Setiap pertanyaan atau perbedaan pendapat akan dianggap sebagai penentangan atau penyimpangan. Beragama harus seragam, sesuai dengan metode yang diajarkan, tidak boleh berganti.

Maka dengan pengajaran semacam itu, posisi nalar atau akal akan mengalami marginalisasi (peminggiran). Dalam paradigma Teosentris, tidak mungkin akal menjadi komoditas yang utama atau dominan. Hal itu dikarenakan karena jika akal itu menjadi prioritas, maka menurut mereka akal akan bisa melawan Tuhan dan membuat seseorang menjadi atheis. Ironisnya, hal ini akan melahirkan sebuah pertanyaan: "Apakah Tuhan takut kepada akal manusia yang tak lain adalah ciptaannya sendiri?".

Nah, itulah sekelumit cerita tentang Paradigma Teosentris yang dianut oleh banyak umat Islam pada masa kini. Lalu, bagaimana cerita tentang Paradigma Teoantroposentris? Hal itu dapat dibaca di part 2 yang Insya Allah akan terbit pada esok hari.

- Fazlur Rahman

Daftar Pustaka :
- Kato, Hisanori. 2002. Agama dan Peradaban. Jakarta : Dian Rakyat
- Laksono, Eko. 2010. Imperium III : Zaman Kebangkitan Besar. Jakarta : Hikmah
- Madjid, Nurcholish. 2019. Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta : Gramedia Pustaka
- Mustofa, Agus. 2008. Beragama dengan Akal Sehat. Surabaya : Padma Press
- Mustofa Agus. 2006. Membonsai Islam. Surabaya : Padma Press
- Rohmanu, Abid. 2019. Paradigma Teoantroposentris : dalam Konstelasi Tafsir Hukum Islam. Yogyakarta : Diva Press
- Wahib, Ahmad. 2012. Pergolakan Pemikiran Islam. Jakarta : Democracy Project

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.ASBABUN NUZUL SURAH AL-AN'AM AYAT 52-53 : TEGURAN ALLAH KEPADA NABI MUHAMMA...
03/04/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

ASBABUN NUZUL SURAH AL-AN'AM AYAT 52-53 : TEGURAN ALLAH KEPADA NABI MUHAMMAD YANG MELUPAKAN KESETARAAN HAK

Setelah kemarin kita membahas Rasul sebagai seorang pejuang keadilan sosial. Kini kita akan membahas sebuah "kritik" Allah yang dialamatkan kepada Rasul karena melupakan kesederajatan sosial. Akan tetapi, bagaimana orang banyak yang bilang bahwa Rasul adalah pribadi yang tak pernah salah atau istilah agamanya adalah ma'shum?

Sebenarnya, arti dari ma'shum adalah terlindung. Nabi memiliki sifat ma'shum sebenarnya adalah terlindungi dari dosa, bukan kesalahan. Apalagi kapasitas Nabi adalah seorang manusia biasa yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada beliau, tentu Nabi sebagai seorang manusia pernah mengalami sebuah kesalahan, tapi kesalahan tersebut tidak diartikan dosa dan tak mampu merendahkan derajat beliau yang begitu tinggi.

Dalam konteks yang lebih luas, Nabi diriwayatkan melalui beberapa Asbabun Nuzul (sebab turunnya suatu surah) pernah melakukan kesalahan sebanyak 8 kali sehingga Allah menegurnya dalam 8 surah yang berbeda. Teguran yang paling terkenal ialah ketika Nabi membuat muka masam kepada seorang buta. Dan yang akan kita bahas ini, adalah teguran yang mungkin populer ketiga setelah teguran dari sikap tawanan perang Badar. Sekali lagi kami tekankan, tulisan ini tidak hendak bermaksud menunjukkan kesalahan Rasul, akan tetapi sebagai bahan evaluasi bagi diri kita.

Ketika pada masa awal Islam didakwakan, Nabi hanya mendapat pengikut sedikit dan terdiri atas orang-orang miskin dan mereka yang dhuafa (lemah). Sedangkan, para bangsawan Quraisy justru malah menolak dan memusuhi Islam. Mereka pun bersiasat untuk membuat Nabi kehilangan para pengikutnya.

Siasat tersebut di mulai dengan beberapa tokoh Quraisy yang berpura-pura hendak masuk Islam. Mereka adalah orang yang anti-keserajatan kedudukan, maka dari itu, mereka meminta sebuah syarat kepada Nabi, jika ingin para pembesar Quraisy masuk Islam, maka Nabi harus menyingkirkan para kaum dhuafa tersebut dari majelisnya. Setelah kaum dhuafa di usir, mereka langsung pergi tanpa masuk Islam. Itulah siasatnya.

Sebagai seorang rasul, Nabi Muhammad ketika mendengar bahwa beberapa pembesar Quraisy akan masuk Islam tentu merasa senang. Kehadiran mereka diharapkan bisa membantu perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam. Akan tetapi, Rasul pun dihadapkan sebuah dilema ketika mendengar bahwa para pembesar ini membawakan syarat untuk mengusir kaum lemah dari majelis Nabi. Nabi pun berpikir untuk memilih antara mempertahankan kaum dhuafa atau menerima syarat pembesar Quraisy.

Pada saat itu, hampir saja Rasul memutuskan untuk mengusir kaum dhuafa, karena para pembesar Quraisy nampaknya memiliki banyak manfaat daripada kaum dhuafa. Maka karena itu, Allah dengan perantaraan Malaikat Jibril pun berfirman, menegur Rasul karena pilihannya.

"Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridhaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zhalim." QS. Al-An'am ayat 52.

"Demikianlah Kami telah menguji sebagian mereka (orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang yang miskin), agar mereka (orang yang kaya itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?” (Allah berfirman), “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?”." QS. Al-An'am ayat 53.

Hari ini, ayat tersebut masih relevan dalam melihat kesenjangan sosial yang ada di sekitar kita. Kita melihat, banyaknya perbedaan pelayanan antara Si Kaya dengan Si Miskin dalam suatu instansi. Contohnya seperti beberapa Rumah Sakit di Indonesia. Mereka lebih mengutamakan pelayanan kepada orang Kaya daripada orang Miskin, padahal bisa jadi si Miskin lebih membutuhkannya daripada si kaya, laksana kaum Dhuafa yang lebih membutuhkan Nabi di majelis daripada para pembesar Quraisy. Begitu p**a dengan instansi pelayanan lainnya.

Maka dari itu, mari kita perjuangkan keadilan sosial selalu, dan jangan melupakan bahwa kita adalah manusia yang sama dan sederajat. Tak ada yang lebih tinggi derajatnya, kecuali orang yang bertakwa.

- Fazlur Rahman

Referensi :
- Haekal, Muhammad Husain. 1990. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta : Litera AntarNusa
- Mufid, M. 2015. Dan Rasulullah pun Ditegur. Jakarta : Qultum Media.

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.NABI MUHAMMAD SAW : SANG PEJUANG KEADILAN SOSIAL DAN PENGGERAK PERUBAHAN"Su...
01/04/2020

Assalāmu'alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

NABI MUHAMMAD SAW : SANG PEJUANG KEADILAN SOSIAL DAN PENGGERAK PERUBAHAN

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi siapa saja yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Akhir serta sering mengingat (kepada) Allah." QS. Al-Ahzab ayat 21

Nabi Muhammad adalah nabi yang mungkin paling sering diceritakan oleh beberapa guru dan orang tua kita. Di antara nabi-nabi yang lain, tak ada kisah yang lebih lengkap daripada kisah Nabi Muhammad. Itu wajar saja, sebab, umat Islam juga ingin meneladani Rasul sebagaimana Allah memerintahkannya dalam Al-Qur'an, dan itu tak akan terjadi jika kita tak tahu kisah atau sejarah dari beliau.

Akan tetapi, cukup di sayangkan p**a beberapa orang yang berusaha meneladani Nabi, tapi dari hanya tampang luarnya saja, bukan dari dalamnya. Maka dari itu, kami ingin sedikit bercerita tentang Nabi, menggunakan sudut pandang sebagai seorang yang Revolusioner.

Sebelum masa kenabian, sebagian besar kehidupan Muhammad Saw. dihabiskan untuk berdiam diri di Gua Hira, berpikir dan merenung setiap hari di sana. Bisa dibilang beliau menjauhi kehidupan bermasyarakat, karena kehidupan masyrakat saat itu yang sangat buruk. Dengan menjauhkan diri dari kehidupan dan menyendiri di dalam sebuah gua, Muhammad Saw. mungkin dapat terisolasi dari perbuatan tercela yang berasal dari masyarakatnya.

Akan tetapi, isolasi diri semacam itu harus berhenti. Semenjak Allah menjadikannya Nabi, beliau harus berani terjun ke kehidupan masyarakat, mengambil peran sebagai agen perubahan. Apalagi ketika perintah dakwah dengan terang Allah firmankan dalam Surah Al-Mudassir ayat 1 - 7.

"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah dan beri peringatan!
Dan nama Tuhanmu, agungkanlah!
Dan pakaianmu, bersihkanlah!
Serta segala perbuatan keji, maka tinggalkanlah!
Janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh yang lebih banyak.
Dan karena Tuhanmu, maka bersabarlah." QS. Al-Mudassir ayat 1-7.

Dengan ayat tersebut, maka Nabi sadar bahwa hanya dengan mengisolasi diri dari kehidupan, hanya dapat membuatnya terlindungi dari perbuatan buruk, tapi itu tidak mengubah keadaan masyarakat. Masyarakat akan tetap rusak apabila tak ada yang menyadarkan mereka dari keterpurukannya. Maka semenjak itu, Nabi benar-benar keluar dari Gua Hira dalam arti yang sebenarnya, dan tak lagi kembali ke sana karena ada pekerjaan yang lebih penting daripada sekedar merenung, yaitu bekerja membuat perubahan.

Nabi Muhammad pun bergerak, mendakwahkan sebuah ajaran yang benar. Sebuah agama yang menuntun manusia menuju tujuan kehidupannya sebagai Khalifah atau Wakil Tuhan yang menyalurkan rahmat Tuhan dari langit menuju bumi. Dengan agama itulah, Nabi berharap perubahan yang signifikan akan terjadi pada masyarakatnya.

Nabi juga bekerja sebagai penyampai pesan Tuhan yang kini pesan tersebut berada di tangan kita. Pesan-pesan tersebut memiliki beberapa inti, selain menentang politeisme (musyrik) yang menyesatkan orang dari tujuan hidupnya, pesan-pesan tersebut juga menentang ketimpangan sosial di masyarakat Arab saat itu. Pesan itu adalah Al-Qur'an.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berbuat baik dan memperjuangkan keadilan sosial. Ia perintahkan kita untuk memberi makan orang miskin, merawat anak yatim, dan membantu orang dengan barang yang berguna. Siapa yang mengingkari itu, maka ia adalah pendusta agama. Maka, Nabi kita sebagai teladan yang baik, tidak hanya berkata-kata saja dalam mulutnya, tapi dia juga menunjukkan aksi yang nyata. Nabi kita membantu orang miskin, berani duduk bersama mereka. Beliau juga mencintai anak yatim, serta sering membantu orang dengan sebatas kemampuan yang beliau miliki.

Rasul juga seorang pionir penentang perbudakan. Meskipun dalam Al-Qur'an tidak secara eksplisit memerintahkan untuk menghapus perbudakan, tapi perintah untuk membebaskan budak adalah langkah awal dalam memulai tatanan kehidupan yang baru. Perbudakan saat itu memang sulit di hapuskan, maka cara terbaik saat itu ialah dengan membebaskan budak serta memerdekakannya. Nabi dan para sahabat banyak memerdekakan para budak serta menjunjung mereka yang melakukan itu. Tak jarang p**a kita mendengar, karena pembebasan itu, para budak yang merdeka kemudian menjadi orang yang berguna bagi masyrakat. Bilal bin Rabah adalah salah satu contohnya.

Maka dari itu, mari kita meneladani Nabi Muhammad. Kita diciptakan untuk menjadi Khalifah yang membangun bumi supaya menjadi lebih baik, dan Nabi Muhammad adalah salah satu figur yang dapat mencapai tujuan hidupnya. Oleh sebabnya, kita harus menjadi agen perubahan sebagaimana teladan kita mencontohkannya.

- Fazlur Rahman

Referensi :
- Haekal, Muhammad Husein. 1990. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta : Litera AntarNusa
- Rohmanu, Abid. 2018. Paradigma Teoantroposentris : Dalam Konstelasi Hukum Islam. Yogyakarta : Diva Press

Address

Pongangan Rejo RT 01 RW 03
Gresik
61151

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Historia Islamica en Indonesiana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Historia Islamica en Indonesiana:

Share