11/07/2015
BANGGA PUNYA ANJING BALI
Anjing Bali bukanlah anjing tanpa asal-usul, ditengarai sebagai proto-canine, anjing murni yang berevolusi dari hewan-serupa-serigala untuk bisa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka tidak lagi berburu, melainkan makan dari sisa-sisa perburuan dan makanan manusia.
Dr. Lawrence Blair, antropolog asal Inggris melihat Bali dipenuhi dengan ribuan anjing saat dia menginjakkan kaki di Bali tahun 1965. Menurutnya, anjing Bali istimewa, beda dengan anjing ras lain yang sudah melalui banyak perkawinan silang.
Anjing Bali umumnya memiliki ukuran tubuh ramping-sedang dan berbulu pendek, ekor sabit dan biasanya bertelinga tegak. Akan tetapi, banyak dari mereka memiliki bentuk telinga, ekor, serta warna yang berbeda-beda. Anjing Bali mungkin hitam atau putih, atau putih dengan bintik-bintik hitam atau berwarna cokelat. Terlepas dari itu semua, anjing-anjng ini berada di dalam kelompok DNA murni yang sama.
Nenek moyang dari Anjing Bali ditelusuri berasal dari 15.000 tahun sebelum zaman es terakhir. Evolusi yang lama telah membuat mereka cenderung lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca tropis. Jika diperlakukan dengan baik, mereka dapat hidup lebih dari 16 tahun.
Meskipun mereka sering terlihat berkelompok dan membuat suara besar, anjing Bali jarang agresif apalagi menggigit jika tidak terprovokasi. Mereka benci ruang terbatas dan dapat dengan mudah melompati dinding setinggi lebih dari 3 meter. Mereka dikenal sebagai "anjing jalanan" karena anjing Bali mencintai kebebasan, dan senang bersosialisasi dengan satu sama lainnya. Mereka biasanya terlihat nongkrong di pintu rumah, gonggongan khas mereka mengingatkan pemiliknya dalam mengusir berbagai jenis penyusup (hewan pengganggu seperti ular/tikus, orang asing, atau bahkan mahluk halus).
Sebelum plastik masuk ke Bali, anjing-anjing memainkan peran penting dalam ekosistem dengan mengkonsumsi sampah organik. Mereka juga memiliki peran yang kuat dalam mengelola populasi hewan pengerat di pulau ini. Ketika pemusnahan anjing (eliminasi) dimulai sejak wabah rabies tahun 2008, panen padi di beberapa daerah di mana anjing-anjing telah dieliminasi, dihancurkan oleh populasi tikus yang tidak terkendali.
Anjing Bali memiliki tempat khusus dalam budaya lokal masyarakat Bali. Seperti tertulis dalam cerita pewayangan, saat seekor anjing menemani Yudistira ke gerbang surga. Orang Bali kuno juga membuat standarisasi yang jelas untuk anjing Bali dari segi sifat dan fungsinya dalam kehidupan manusia. Apakah mereka akan menjadi anjing penjaga yang profesional, menjadi anjing yang nakal, atau akan menjadi anjing yang pemalas (tertulis dalam Lontar Carcan Asu dan perhitungan Paksa/Jaya/Guna/Ketek/Kiul).
Dengan sedemikian banyaknya keistimewaan anjing Bali, apakah masih kita setuju dengan eliminasi? Katakan TIDAK untuk ELIMINASI, YA untuk VAKSINASI. Mari lestarikan anjing Bali sebagai salah satu warisan penting di pulaunya sendiri.
STOP MENGKONSUMSI DAGING ANJING (RW), STOP BUANG, ANJING, ADOPSI JANGAN BELI
Tulisan: (disusun ulang dari berbagai sumber) Ajiq TheBullhead
Foto: Sinta Ward, Nyoman Sunarya, Gingsoel
Logo: Agung Kayon