09/04/2026
KH Raden Asnawi, salah satu ulama kharismatik sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Kudus, Jawa Tengah, meninggalkan wasiat mendalam bagi para pengurus dan warga Nahdliyin. Pesan tersebut menekankan pentingnya sikap tawadhu dan kolektivitas dalam menjalankan roda organisasi.
Dalam fragmen sejarahnya, Kiai Asnawi mengingatkan agar setiap individu yang berkhidmah di NU tidak terjebak dalam sikap "merasa pintar sendiri" atau merasa paling benar. Beliau menekankan bahwa kekuatan NU terletak pada kebersamaan dan ketaatan pada keputusan ulama serta organisasi.
"Jangan merasa pintar sendiri, jangan merasa besar sendiri," demikian penggalan pesan yang menjadi pengingat bagi kader NU di semua tingkatan.
Pesan ini mengandung makna bahwa setiap persoalan organisasi harus diselesaikan melalui musyawarah, bukan atas dasar ego pribadi. Kiai Asnawi menghendaki agar warga NU tetap menjaga kerukunan dan tidak mudah terpecah belah hanya karena perbedaan pendapat yang bersifat teknis.
Bagi Kiai Asnawi, NU bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sarana perjuangan untuk membela agama dan bangsa. Oleh karena itu, integritas moral dan kerendahan hati menjadi syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin mencari keberkahan di dalam organisasi yang didirikan oleh para wali ini.
Wasiat ini tetap relevan hingga saat ini sebagai kompas bagi pengurus NU dalam menghadapi dinamika zaman yang kian kompleks, agar tetap teguh pada garis perjuangan para masyayikh (guru-guru).