07/06/2021
Barnabas Sarikromo
Keberadaan Sendangsono tak bisa dilepaskan dari sosok bernama Barnabas Sarikromo. Kateketis Pribumi pertama di p**au Jawa bahkan Indonesia, Sarikromo ikut berperan dalam sejarah misi Katolik di Pulau Jawa.
Sarikromo muda seorang "abangan" yang gemar ngelmu kejawen memiliki kebiasaan bertapa di tempat-tempat wingit. Suatu hari, Sarikromo menderita sakit “cecek” yang sulit disembuhkan. Setelah mendapatkan wangsit, Sarikromo memutuskan untuk mencari obat dengan ngesot menuju ke arah Timur Laut.
Berbagai godaan dan tantangan dihadapi Sarikromo sampai ia bertemu dengan Br. Kersten dan Romo Van Lith. Di Muntilan itulah Sarikromo sembuh dan tertarik untuk menjadi seorang Katolik. Ia dibabtis pada tanggal 20 Mei 1904 bersama 3 orang temannya.
Sarikromo merasakan bahwa kesembuhan sakit kakinya berkat belas kasih Allah, oleh karenanya Sarikromo bernadar menggunakan kedua kakinya untuk mewartakan Allah. Inilah puncak pergulatan seorang Barnabas Sarikromo, dengan bekal sebuah Kitab Suci pemberian Romo Van Lith ia menceritakan kisah hidupnya dan mengajar orang-orang di sekitar perbukitan menoreh.
Tantangan tak pernah berhenti, tetapi Barnabas Sarikromo telah bertekad mengabdikan hidupnya untuk mewartakan Kristus di Menoreh. Akhirnya pada tanggal 14 Desember 1904, sebanyak 171 orang dibabtis di sebuah sendang di bawah pohon sono, tempat itu dinamakan Sendang Sono hingga sekarang.
Kegigihan Barnabas Sarikromo itu diakui oleh Gereja. Ia pun mendapat anugrah bintang Pro Ecclesia et Pontifice dari Paus Pius XI. Penghargaan itu diterima Barnabas pada tahun 1929, yaitu dalam peringatan Jubilium perak misi di tanah Jawa
Sarikromo ingin lebih banyak lagi berbuat untuk karya ilahi, tetapi kiranya Tuhan memandang telah cukup, dan ingin memberikan istirahat panjang baginya. Tahun 1942 “Paulusnya orang Jawa” itu jatuh sakit, orang gunung yang sederhana penerima anugerah bintang Pro Ecclesia et Pontifice itu telah menghadap Bunda Surgawinya, untuk dihantar memasuki kemuliaan abadi.
Katekis yang tekun itu dimakamkan di makam Semagung di kompleks Gua Maria Lourdes, Sendangsono. Bersama jenazah ikut disertakan p**a medali illahi yang dianugerahkan Tahta Suci. Berkat pewartaannya di sekitar Kalibawang, iman Katolik tumbuh subur hingga sekarang.
***Disadur dari beberapa sumber.