13/10/2019
TENTANG MAKNA "BERKAT" DALAM TAHLILAN
Islam masuk ke tanah air dengan cara damai. Hal ini terlihat bagaimana Islam yang dibawa oleh para Wali penyebar agama tersebut, bisa berpadu dengan budaya lokal Nusantara dan Jawa. Hal paling menonjol yang terkait dengan tradisi akulturatif tersebut adalah ritual Tahlilan untuk orang meninggal dunia.
Dalam praktik Islam Jawa, Tahlilan dihayati sebagai bagian dari kegiatan keagamaan, juga merupakan budaya yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan orang Jawa. Tahlilan yang dikenal dikenal juga dengan nama Kajatan, selalu dilakukan dengan hidangan atau makanan. Umumnya dikenal dengan nama berkat.
Berkat dan Tahlilan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebab keberadaan berkat menjadi suatu bentuk do’a. D'oa bagi orang Jawa tidak cukup hanya dalam bentuk kata-kata. Agar lebih mantap, mereka mewujudkannya dalam ragam makanan. Selain itu, makanan juga dianggap sebagai wujud kesungguhan dalam berdoa.
Praktiknya, kesungguhan do’a dalam bentuk berkat tidak hanya pada acara Tahlilan, tetapi juga acara-acara ritual slametan lainnya. Namun isi berkat acara Tahlilan dalam rangka memeringati hari kematian ketiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus sampai pada seribu hari, memiliki ciri khas. Pada umumnya, dalam acara rutinan Tahlil setiap malam Jum’at hidangannya cenderung bebas.
Umumnya berkat berisi beberapa jenis makanan. Seperti Sego suci ulam sari atau sego gurih, kacang panjang, pisang, ketan kolak, apem dan jenang sengkolo. Masing-masing makanan memiliki makna pengingat dalam kehidupan manusia.
Berkat sendiri bermakna berkah atau barokah. Barokah artinya bertambahnya kebaikan. Sama halnya seperti melakukan sedekah. Sebab Tahlilan diselenggarakan dengan mengundang tetangga sekitar. Selesai mengikuti tertib Tahlilan, tetangga yang datang merasakan senang dan berterima kasih karena mendapatkan berkat. Tidak hanya itu, sesampainya di rumah, berkat bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Terkadang berkat juga menjadi hidangan bagi tamu.
Bukan hanya berkat yang memiliki makna. Keberadaan kacang panjang dalam berkat dimaknai sebagai sebuah tongkat. Tongkat yang dapat menjadi pegangan hidup di dunia. Bahwa saat menjalani hidup harus berpegang pada agama yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadist. Sehingga, manusia dapat membedakan antara halal dan haram, agar selamat di dunia dan akhirat.
Kemudian, do’a agar selamat di akhirat diselipkan juga dalam cenggereng. Cenggereng terbuat dari kelapa yang diparut kasar. Pada umumnya hampir mirip dengan srondeng. Yang dihidangkan dalan berkat bukan srondeng melainkan cenggereng. Karena bertujuan agar nanti di akhirat tidak kelilipen. Maksudnya, kita memiliki mata agar memanfaatkannya dengan dengan baik. Tidak untuk melihat sesuatu yang dilarang sehingga di akhirak kelak, mata kita diberi keselamatan.
Nasi dalam berkat memiliki makna tersendiri. Sego suci ulam sari atau sego gurih dengan ayam lodho dalam bentuk dibekakak (bukan ingkung) bermakna sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan keluarganya.
Selain itu, di dalam berkat juga terdapat ketan kolak. Ketan merupakan makanan yang memiliki makna sebagai kekuatan. Sementara kolak berasal dari bahasa Arab yaitu qola yang berarti berbicara. Kata berbicara memiliki maksud meminta ampunan dari segala kesalahan dalam berbicara secara lahir maupun batin.
Komposisi berkat juga berisi pisang raja. Pisang yang dihidangkan tidak harus pisang tersebut. Tetapi, mayarakat Jawa kebanyakan lebih s**a menghidangkannya. Tidak harus pisang Raja, tetapi yang pasti gedang stangkep.
Gedang setangkep juga memiliki makna tersendiri. Keberadaannya dimaksudkan untuk memuliakan Siti Fatimah binti Muhammad yang merupakan putri Nabi Muhammad. Diharapkan agar beliau menjadi suri tauladan pemimpin para muslimat. Serta sebagai penuntun kita besok di surga.
Bagian dari berkat selanjutnya yaitu jenang sengkolo. Sengkolo atau kolo berarti malapetaka. Adanya Jenang tersebut bertujuan agar diberi keselamatan. Berharap malapetaka di masa depan yang hendak datang dapat ditolak. Sementara malapetaka yang terlanjur datang, dapat disirnakan.
Ada juga makanan, dikenal dengan nama apem. Apem berasal dari bahasa Arab yaitu ‘afuwwun yang artinya ampunan. Namun orang Jawa kesulitan dalam menyebutnya. Agar lebih mudah diucapkan maka menjadi apem. Dihadirkannya apem, berarti kita memintakan maaf bagi para arwah yang telah mendahului. Kemudian apem tersebut disedekahkan dengan niat pahalanya ditujukan kepada para arwah.
Pada hakikatnya, Islam masuk ke tanah Jawa tidak serta-merta mengubah tradisi yang ada, tetapi mampu bersintesis dengan nilai yang telah ada di masyarakat Jawa.