Perkumpulan Kajian Islam Tradisional

Perkumpulan Kajian Islam Tradisional Perkumpulan Kajian Islam Tradisional (PKIT) adalah Cita-cita Gus Dur dalam upaya menjaga Budaya Lokal Indonesia yg tdk bertentangan dengan Syariat Islam.

TENTANG MAKNA "BERKAT" DALAM TAHLILANIslam masuk ke tanah air dengan cara damai. Hal ini terlihat bagaimana Islam yang d...
13/10/2019

TENTANG MAKNA "BERKAT" DALAM TAHLILAN

Islam masuk ke tanah air dengan cara damai. Hal ini terlihat bagaimana Islam yang dibawa oleh para Wali penyebar agama tersebut, bisa berpadu dengan budaya lokal Nusantara dan Jawa. Hal paling menonjol yang terkait dengan tradisi akulturatif tersebut adalah ritual Tahlilan untuk orang meninggal dunia.

Dalam praktik Islam Jawa, Tahlilan dihayati sebagai bagian dari kegiatan keagamaan, juga merupakan budaya yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan orang Jawa. Tahlilan yang dikenal dikenal juga dengan nama Kajatan, selalu dilakukan dengan hidangan atau makanan. Umumnya dikenal dengan nama berkat.

Berkat dan Tahlilan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebab keberadaan berkat menjadi suatu bentuk do’a. D'oa bagi orang Jawa tidak cukup hanya dalam bentuk kata-kata. Agar lebih mantap, mereka mewujudkannya dalam ragam makanan. Selain itu, makanan juga dianggap sebagai wujud kesungguhan dalam berdoa.

Praktiknya, kesungguhan do’a dalam bentuk berkat tidak hanya pada acara Tahlilan, tetapi juga acara-acara ritual slametan lainnya. Namun isi berkat acara Tahlilan dalam rangka memeringati hari kematian ketiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus sampai pada seribu hari, memiliki ciri khas. Pada umumnya, dalam acara rutinan Tahlil setiap malam Jum’at hidangannya cenderung bebas.

Umumnya berkat berisi beberapa jenis makanan. Seperti Sego suci ulam sari atau sego gurih, kacang panjang, pisang, ketan kolak, apem dan jenang sengkolo. Masing-masing makanan memiliki makna pengingat dalam kehidupan manusia.

Berkat sendiri bermakna berkah atau barokah. Barokah artinya bertambahnya kebaikan. Sama halnya seperti melakukan sedekah. Sebab Tahlilan diselenggarakan dengan mengundang tetangga sekitar. Selesai mengikuti tertib Tahlilan, tetangga yang datang merasakan senang dan berterima kasih karena mendapatkan berkat. Tidak hanya itu, sesampainya di rumah, berkat bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Terkadang berkat juga menjadi hidangan bagi tamu.

Bukan hanya berkat yang memiliki makna. Keberadaan kacang panjang dalam berkat dimaknai sebagai sebuah tongkat. Tongkat yang dapat menjadi pegangan hidup di dunia. Bahwa saat menjalani hidup harus berpegang pada agama yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadist. Sehingga, manusia dapat membedakan antara halal dan haram, agar selamat di dunia dan akhirat.

Kemudian, do’a agar selamat di akhirat diselipkan juga dalam cenggereng. Cenggereng terbuat dari kelapa yang diparut kasar. Pada umumnya hampir mirip dengan srondeng. Yang dihidangkan dalan berkat bukan srondeng melainkan cenggereng. Karena bertujuan agar nanti di akhirat tidak kelilipen. Maksudnya, kita memiliki mata agar memanfaatkannya dengan dengan baik. Tidak untuk melihat sesuatu yang dilarang sehingga di akhirak kelak, mata kita diberi keselamatan.

Nasi dalam berkat memiliki makna tersendiri. Sego suci ulam sari atau sego gurih dengan ayam lodho dalam bentuk dibekakak (bukan ingkung) bermakna sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan keluarganya.

Selain itu, di dalam berkat juga terdapat ketan kolak. Ketan merupakan makanan yang memiliki makna sebagai kekuatan. Sementara kolak berasal dari bahasa Arab yaitu qola yang berarti berbicara. Kata berbicara memiliki maksud meminta ampunan dari segala kesalahan dalam berbicara secara lahir maupun batin.

Komposisi berkat juga berisi pisang raja. Pisang yang dihidangkan tidak harus pisang tersebut. Tetapi, mayarakat Jawa kebanyakan lebih s**a menghidangkannya. Tidak harus pisang Raja, tetapi yang pasti gedang stangkep.

Gedang setangkep juga memiliki makna tersendiri. Keberadaannya dimaksudkan untuk memuliakan Siti Fatimah binti Muhammad yang merupakan putri Nabi Muhammad. Diharapkan agar beliau menjadi suri tauladan pemimpin para muslimat. Serta sebagai penuntun kita besok di surga.

Bagian dari berkat selanjutnya yaitu jenang sengkolo. Sengkolo atau kolo berarti malapetaka. Adanya Jenang tersebut bertujuan agar diberi keselamatan. Berharap malapetaka di masa depan yang hendak datang dapat ditolak. Sementara malapetaka yang terlanjur datang, dapat disirnakan.

Ada juga makanan, dikenal dengan nama apem. Apem berasal dari bahasa Arab yaitu ‘afuwwun yang artinya ampunan. Namun orang Jawa kesulitan dalam menyebutnya. Agar lebih mudah diucapkan maka menjadi apem. Dihadirkannya apem, berarti kita memintakan maaf bagi para arwah yang telah mendahului. Kemudian apem tersebut disedekahkan dengan niat pahalanya ditujukan kepada para arwah.

Pada hakikatnya, Islam masuk ke tanah Jawa tidak serta-merta mengubah tradisi yang ada, tetapi mampu bersintesis dengan nilai yang telah ada di masyarakat Jawa.

Oleh : Ali AdhimMenata sandal kiai bukanlah hal aneh di pesantren, terlebih di pesantren-pesantren tradisional, tradisi ...
13/10/2019

Oleh : Ali Adhim

Menata sandal kiai bukanlah hal aneh di pesantren, terlebih di pesantren-pesantren tradisional, tradisi semacam itu bahkan menjadi ciri khas yang berlangsung dan tetap terjaga hingga sekarang.
Manakala pak kiai atau ustadz hendak masuk ke sebuah gedung dan melepas sandalnya, bergegas saja santri-santri berebut untuk menatakan sandalnya itu, ditata menghadap ke arah yang sesuai dengan kemana kiai hendak berjalan.

Mendapat kesempatan bisa menatakan sandal kiai adalah kebahagiaan yang tak ternilai, sebab bagi seorang santri, sandal kiai bukan hanya benda, sandal itu bisa menjadi sepotong keberkahan yang akan membahagiakan dan menentramkan hati, bahkan bisa jadi juga membesarkan semangat pengabdian seorang santri.
Di manuskrip manakah kita bisa menelusuri akar historis tradisi menata sandal ini? Bagaimana asal-muasal pembentukan tradisinya?. Tradisi menatakan sandal kiai adalah warisan ajaran gurubhakti, dan itu bisa ditelusuri, misalnya pada nasakah-naskah kuno Silakrama, Tingkahing wiku, dan Wratisasana dari era Majapahit.
Kalimat itu milik seorang sastrawan pesantren, Aguk Irawan MN dalam disertasinya. Kemudian ia melanjutkan, di dalamnya memuat tata karma siswa dalam menuntut pengetahuan. Dalam tata karma itu, ada bab yang menyinggung tentang gurubhakti, berisi tata tertib, sikap hormat, dan sujud bakti yang wajib dilakukan para siswa kepada guru rohaninya.

Menurut sastrawan yang pernah kuliah di al-Azhar Cairo itu, dengan mengutip kalimat dalam buku “Pengembangan Nilai Keislaman,” karya sejarawan Agus Sunyoto, salah satu poin pentingnya termasuk menatakan sandal para wiku apabila hendak bepergian dari suatu tempat yang mulia.

Tradisi menata sandal kiai ini juga bisa digeledah di naskah kuno Serat Nitisutri, di naskah itu diterangkan bagaimana sikap dan jalan bagi seorang murid agar mendapatkan ilmu. Seorang murid tidak saja harus tekun belajar, tetapi juga harus menjaga etika. Misalnya dalam bertutur kata, harus bisa memilih bahasa-bahasa yang sopan jika berbicara dengan seorang guru, mau membersihkan diri, andhap ashor, termasuk juga kewajiban memuliakan guru, membersihkan tempat duduknya, tempat tidurnya, juga termasuk alas kaki. Kalimat itu dikutip oleh Aguk Irawan MN dari buku Khasanah Budaya Keraton Yogyakarta karya Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno.

Apakah Tradisi menata sandal kiai ini memiliki akar historis yang pasti dalam tradisi Islam? Az-Zarnuzy dalam Ta’lim al Muta’alim mengatakan bahwa menatakan sandal kiai memang tak pernah disebut satu katapun. Akan tetapi, secara garis besar, maksud dan tujuannya sama, yaitu memuliakan seorang guru. Kalimat itulah yang ditulis Aguk Irawan ketika mencoba melacak akar historis tradisi menata sandal kiai dalam Islam.
Ia memberikan penegasan, bahwa dalam Ta’lim al Muta’alim karya Az-Zarnuzy, mencakup beberapa hal seorang santri tidak boleh berjalan di depan guru, menempati tempat duduk guru, memakai sandal guru, dan berbicara di depan guru dengan lantang, kecuali dengan izinnya.

Dari sekian manuskrip dan kajian pustaka di atas; Silakrama, Tingkahing Wiku, Wratisasana, Serat Nitisutri dan Ta’lim al Muta’alim, kita bisa mengetahahui bahwa tradisi menata sandal kiai di pesantren bukanlah aktifitas seremonial belaka, ia memiliki akar historis yang jelas, memiliki keabsahan data yang valid, bahkan tidak berlebihan jika saya menyebut dibalik aktifitas itu terkandung sebuah keberkahan.

Hal ini diyakini oleh Kiai Ngabehi Agus Sunyoto merupakan peranan guru-guru rohani atau yang popular disebut Wali Songo dalam penyebaran Islam. Menurutnya berbagai cara dilakukan oleh Wali Songo untuk memberikan ilmu dan pengetehuan tetang Islam di tengah masyarakat Nusantara yang kala itu masih memiliki pemahaman Hindu-Budha dan Kapitayan yang cukup kental. Kendati demikain, menurut sejarawan yang kini menjabat sebagai ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU itu, pada saatnya, para guru-guru rohani bisa menempatkan Islam sebagai landasan hidup masyarakat Nusantara hingga kini.

Mengapa Santri Berebut Menata Sandal Kiai? Sudah barangtentu, karena santri ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah untuk kehidupannya di kemudian hari, sebab menata sandal kiai termasuk sebagian dari bentuk etika seorang murid terhadap guru, lebih-lebih guru di pesantren adalah guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu dan pengetahuan belaka, ia juga membimbing ruhaniyah, tak pernah letih mendoakan santri-santrinya.

Wallahu a’lam

12/10/2019
23/02/2018

Perkumpulan Kajian Islam Tradisional (PKIT), Upaya untuk menyatukan antara praktek ajaran Islam dengan sumber ajaran Islam, memadukan antara budaya lokal dengan Nilai-nilai ke-Islaman, serta mendekatkan antara teks dan konteks dalam agama Islam, agar Islam dapat berjalan beriringan dengan adat istiadat masyarakat.

Address

Gambiran

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Perkumpulan Kajian Islam Tradisional posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share