24/02/2016
Judul : Guru Para Pemimpi
Penulis : Hadi Surya
Penerbit :Qanita
Resensi : Harja Saputra ( www.harjasaputra.com )
Pagi ini satu pesan SMS mampir di HP saya, isinya mengabarkan bahwa bukunya sudah terbit. Buku ini, setelah saya baca seluruh isinya sangat luar biasa.
Buku setebal 369 halaman, terbitan Qanita (Mizan Pustaka) itu berjudul “Guru Para Pemimpi”, buku yang berisi kisah nyata perjuangan seorang pemuda mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak pinggiran, tepatnya di desa Babakan, Ciseeng, Bogor. Lokasinya memang tidak jauh dari Jakarta, tapi pendidikan menjadi barang yang amat mahal hingga tidak terjangkau oleh masyarakat di desa itu.
Hadi Surya, pengarang buku itu, mengisahkan secara detail dalam 10 bab bagaimana ia merintis sekolah gratis yang unggulan, kini bernama SMP dan SMA Cendekia.
Berawal dari kedatangannya bersama rekan-rekan mahasiswa untuk KKN, namun selepas KKN ia datang lagi ke desa itu, bergumul dalam “pertarungan” untuk mewujudkan impiannya: mendirikan sekolah bagi anak-anak di desa itu. Ia yakin dari pengalamannya semasa KKN, anak-anak di desa itu memiliki potensi yang sama dengan anak-anak kota. Tak kalah cerdas. Hanya fasilitas pendidikan formal yang kurang memadai. Ditambah belenggu kemiskinan yang mencengkeram mereka hingga hanya mampu tunduk pada nasib.
Kenapa disebut pertarungan? Meskipun bukan dalam arti sebenarnya, tapi kata itu cukup untuk menggambarkan bagaimana ia jatuh-bangun dalam mewujudkan sekolah itu. Tak jarang, nyawanya terancam. Dikisahkan di buku itu, ilmu hitam bahkan kerap menghantuinya. Entah kiriman dari mana. Ia pun sempat diperingati oleh Pak Arif (salah seorang tokoh masyarakat di desa itu), ““Kamu sedang diincar oleh orang-orang yang berilmu hitam.” “Lihatlah kaca meja itu!” kata Pak Arif suatu saat sambil menunjuk cermin yang retak. Selepas magrib, segelas kopi yang mau diminum oleh Hadi tiba-tiba seperti tertimpa batu dari atas. Pecah berhamburan. Kaca meja yang retak itu menjadi saksinya.
Itu mungkin terdengarnya aneh. Mungkin, jika kata pertarungan terdengar terlalu ekstrem, kata perjuangan bisa digunakan, meskipun belum mewakili untuk menjelaskan bagaimana kerasnya perjuangan Hadi. Sekolahnya sempat diisukan macam-macam, dari mulai statusnya tidak jelas, sekolah miskin yang tak layak, penyebar ajaran sesat, dan sebagainya.
“Keberadaan sekolah ini tampaknya menjadi semacam ancaman bagi sekolah-sekolah yang lain. Mungkin. Menjelang penerimaan siswa baru tahun kedua, muncullah isu-isu bahwa sekolah ini ilegal, tak akan ada ijazah, sekolah hanya dua kali seminggu, didanai oleh orang-orang kafir, dan lain-lain. Tak hanya itu, anak-anak yang akan naik ke kelas II ternyata juga mendapat tawaran untuk pindah ke sekolah lain dengan beragam iming-iming”, tulis Hadi dalam buku itu.
Niat Hadi tak pernah surut. Dari mulai tahun 2002 setelah KKN dengan tanpa modal finansial sepeserpun, hanya niat, ia merintis sekolah itu. Keajaiban-keajaiban bermunculan. Ia dibantu banyak oleh Dr. Abdullah, Yasmin, seorang ibu mantan karyawan World Bank yang mewakafkan tanahnya, dan banyak pihak yang ia sebutkan kisah rincinya di buku itu. Ibu pewakaf tanah awalnya berencana untuk umroh tetapi diurungkan dan dialihkan biayanya untuk tanah sekolah.
Hadi Surya, sosok guru luar biasa yang telah membawa perubahan pada desa Babakan. Meskipun kisahnya banyak diwarnai kegetiran, kesedihan, perjuangan yang berat, kini anak-anak di Desa itu telah menyadari betapa pentingnya bersekolah. Awalnya, selepas sekolah SD, anak-anak di desa itu terutama anak-anak perempuan jarang yang melanjutkan sekolah, mereka memilih untuk menikah di usia muda.
Di halaman 32 buku itu diceritakan: “Informasi lain menyerbu telingaku, “Anak-anak yang melanjutkan ke tingkat SMP tak melebihi jari-jarimu.”
“Apa kau bilang? Kenapa bisa begitu? Ke mana mereka pergi?” mataku membelalak.
“Nikah, meski bukan alasan satu-satunya.”
“Sekecil itu?”
“Diganjal sedikit, urusan beres.” Kukira hanya pintu, ternyata umur pun perlu diganjal agar tingginya sampai demi tercapainya tujuan yang entah itu keinginan orangtua entah keinginan si anak.”
Sekolah ini pun sudah banyak diliput oleh TV Swasta. Pengajarnya bahkan para mahasiswa S2, sarjana, dan para relawan yang sangat ikhlas mendermakan ilmunya bagi para anak-anak. Halangan materi yang selalu menghadang para pengurus sekolah setiap bulannya bukan alasan untuk tidak memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak.
Temukan di Perpustakaan Paroki Duri
Share-Study-Smart