07/02/2026
*Ketika Lisan dan Qalbu Menjadi Akar Kerusakan Sosial*
Kerinduan akan kehidupan sosial yang rukun, hangat, dan saling menjaga kembali menemukan momentumnya dalam Kajian Pagi Musholla Bait Al Barookah, Cluster Dahlia Bella Cassa Residence, Sabtu (8/2/2026). Di tengah realitas sosial yang kerap diwarnai ketegangan, prasangka, dan retaknya hubungan antarindividu, kajian ini terasa relevan dan membumi—seolah menjadi jeda reflektif atas kegelisahan sosial yang diam-diam kita alami bersama.
Kegelisahan itulah yang kemudian dibaca dan diurai secara mendalam melalui kajian Kitab Nashā’ihul ‘Ibād karya Syekh Nawawi al-Bantani, khususnya pada nasihat ke-15. Kitab klasik ini tidak hanya berbicara tentang kesalehan personal, tetapi juga menyingkap akar-akar kerusakan sosial yang sering luput disadari, namun dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian ini diasuh oleh H. Fuad Syaifuddin, S.Ag., M.Ag., yang dikenal karena ketekunan dan kedalaman ilmunya dalam khazanah kitab-kitab salaf. Dengan gaya penyampaian yang jernih dan reflektif, Ustadz Fuad membuka kajian dengan sentuhan sosial-moral yang kuat. Ia mengajak jamaah membaca ulang realitas kehidupan: konflik rumah tangga, renggangnya hubungan bertetangga, hingga rusaknya harmoni sosial. Semua itu, menurutnya, bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar pada dua kerusakan mendasar: rusaknya lisan dan rusaknya qalbu.
*Fasād: Kerusakan yang Lebih Dalam dari Sekadar Bencana Alam*
Syekh Nawawi al-Bantani, dalam Nashā’ihul ‘Ibād, menautkan nasihat ini dengan firman Allah dalam QS. Ar-Rūm ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
Ustadz Fuad menegaskan bahwa makna fasād dalam ayat ini tidak boleh dipersempit hanya pada banjir, pencemaran laut, atau kerusakan hutan. Sebagai penulis dan penerjemah kitab-kitab salaf—di antaranya penerjemah Kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i selama lima tahun dalam 16 jilid—penjelasannya tidak berhenti pada tafsir tekstual, melainkan menembus lapisan sosial dan spiritual yang lebih dalam.
Menurutnya, fasād mencakup rusaknya akhlak, keadilan, amanah, dan kepekaan hati manusia. Bahkan, sering kali kerusakan sosial dan moral justru mendahului kerusakan alam yang kasat mata.
Syekh Nawawi memberi isyarat simbolik yang tajam:
*_al-barr_* (darat) dimaknai sebagai lisan,
*_al-bahr_* (laut) dimaknai sebagai qalbu.
Artinya, ketika lisan dan qalbu manusia rusak, dampaknya menjalar ke seluruh sendi kehidupan.
Ustadz Fuad—yang juga menerjemahkan Nashā’ihul ‘Ibād—mengutip ungkapan puitis Syekh Nawawi:
فَإِذَا فَسَدَ اللِّسَانُ بَكَتِ النَّفْسُ
Apabila lisan rusak, yang menangis adalah jiwa pemiliknya.
وَإِذَا فَسَدَ الْقَلْبُ بَكَتِ الْمَلَائِكَةُ
Namun apabila qalbu yang rusak, yang menangis adalah para malaikat.
Lisan yang dipenuhi dusta, fitnah, dan kata-kata melukai memang tidak menumpahkan darah, tetapi ia melukai jiwa pemiliknya sendiri. Namun ketika qalbu yang rusak—dipenuhi dengki, niat busuk, dan kemunafikan—kerusakannya berskala kosmik-spiritual, sampai malaikat pun digambarkan ikut berduka.
Ia menguatkan dengan hikmah yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq:
اللِّسَانُ يَنْقُضُ وَلَا يَقْطَعُ، كَالإِبْرَةِ
Lisan itu merusak tanpa memotong, seperti jarum.
Jarum tidak memutus, tetapi tusukannya bisa meninggalkan luka yang lama sembuh.
*Syariat, Thariqat, dan Makrifat*
Diskusi menghangat ketika Dr. Iwan Sudrajat mengajukan pertanyaan reflektif: bagaimana ayat zhaharal fasād dipahami dalam kerangka syariat, thariqat, dan makrifat?
Ustadz Fuad menjawab dengan jernih. Dalam tataran syariat, ayat ini mengingatkan manusia agar menjaga hukum Allah dalam muamalah dan akhlak. Dalam thariqat, ayat ini mengajak membersihkan batin melalui riyadhah dan muhasabah. Sedangkan dalam makrifat, fasād dipahami sebagai terputusnya rasa kehadiran Allah dalam hati manusia.
“Ketika hati tidak lagi merasa diawasi Allah, di situlah kerusakan paling awal terjadi,” ujarnya.
*Keteladanan Abu Bakar: Iman yang Bulat*
Pertanyaan lain datang dari H. Ilham, yang mengaitkan kajian ini dengan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Saat ditanya Rasulullah ﷺ, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku titipkan mereka kepada Allah.”
Ustadz Fuad menegaskan, itulah iman yang bulat—bukan nekat, melainkan puncak keyakinan, kejujuran, dan kepasrahan total. Dari sikap itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq.
Ia menutup bagian ini dengan bait zuhud yang masyhur:
يَا دُنْيَا إِنْ كُنْتِ تُرِيدِينَ أَنْ تَغُرِّينِي فَالْتَمِسِي غَيْرِي
Wahai dunia, jika engkau hendak merayuku, carilah selain aku.
*Bekal Penting Menuju Ramadhan*
Kajian ini tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi cermin dan bekal menjelang Ramadhan. Ustadz Fuad mengingatkan firman Allah:
*_“Lā taḥzan innallāha ma‘anā”_* (QS. At-Taubah: 40),
*_“Lā takhāfū wa lā taḥzanū”_* (QS. Fushshilat: 30).
Pesannya jelas: jaga lisan agar jiwa tidak menangis, bersihkan qalbu agar langit tidak berduka. Menjelang Ramadhan, kaidah ini menjadi sangat penting. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menata ucapan dan niat.
Masyarakat yang rindu kehidupan sosial yang hangat, rukun, dan penuh empati menemukan jawabannya di sini: memulai perbaikan dari lisan dan qalbu masing-masing. Kajian fajar ini pun menjadi undangan terbuka—bahwa membangun peradaban yang damai selalu dimulai dari kata yang dijaga dan hati yang disucikan.
(Mohammad Saihu)