08/02/2026
*Puasa sebagai Proposal Cinta: Jalan Pulang Menuju Ramadhan di Tengah Jiwa yang Lelah*
Islamic Centre Depok — Menjelang Ramadhan, banyak orang mulai memperbanyak ibadah. Namun di saat yang sama, tak sedikit yang diam-diam merasa letih secara batin. Ibadah dikerjakan, pahala dikejar, tetapi hati terasa kosong. Di tengah kesibukan hidup, tuntutan ekonomi yang makin kompleks, dan kompetisi sosial yang kian ketat, ibadah sering berhenti pada rutinitas, belum menjadi jalan p**ang bagi jiwa.
Dalam konteks inilah Kajian Kitab Monumental Karya Al Ghazali, "Iḥya’ ‘Ulumuddin" bertajuk *“Ibadah yang Menenangkan Jiwa”* digelar dalam Majelis Fajar Masjid An Nur Bella Cassa, Ahad (8 Februari 2026). Kajian ini menghadirkan *DR. KH. Abdul Hayy Al Kattani, Lc., MA, anggota Majelis Fatwa MUI Pusat*, yang menegaskan bahwa Ramadhan sejatinya adalah syahrut tarbiyah—bulan pendidikan hati.
“Puasa bukan sekadar kewajiban. Ia adalah *_proposal cinta_* seorang hamba kepada Allah. Bukan hanya menahan lapar, tapi mengajukan kedekatan,” ujar Kyai Abdul Hayy membuka kajian.
*Ibadah Ramai, Jiwa Sepi*
Menurut Kyai Abdul Hayy, problem keagamaan hari ini bukan kurangnya aktivitas ibadah, melainkan kehilangan kehadiran hati. Banyak orang rajin shalat, puasa, dan sedekah, tetapi amal itu kerap tercemar oleh pencarian prestise dan rasa paling benar.
_“Ibadah yang benar itu menenangkan. Kalau ibadah justru membuat kita mudah menghakimi, berarti ada yang salah di dalam hati,”_ tegasnya.
*Ma’rifatullah: Titik Awal Jalan Pulang*
Kajian kemudian diarahkan pada fondasi tasawuf: ma’rifatullah. Ketenangan jiwa, kata Kyai Abdul Hayy, hanya mungkin lahir jika seseorang mengenal Allah dengan benar—melalui tauhid dan penghayatan sifat-sifat-Nya.
Allah bersifat qidam (tidak berawal) dan baqa’ (tidak berakhir), tidak menyerupai apa pun dan tidak dapat digambarkan. Pengenalan ini membebaskan manusia dari ketergantungan palsu kepada selain Allah.
_“Orang yang mengenal Allah tidak mudah sombong. Ia sadar dirinya hanyalah hamba,”_ ujarnya.
*Mengukur Kehambaan: Tergerak atau Tidak?*
Mengutip Imam Al-Ghazali, Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa ukuran kehambaan bukan pada klaim, tetapi pada respons batin.
_“Apakah kita tergerak memenuhi panggilan Allah atau tidak.”_
Adzan, ajakan kajian, dan panggilan menuntut ilmu adalah “tes kehadiran hati”. Bila seorang hamba ringan melangkah memenuhi panggilan itu, di situlah tanda kehambaan diterima Allah.
*Jalan Pulang Menuju Ramadhan*
Kajian ini menjadi pengingat kuat bahwa keindahan Islam tidak terletak pada hiruk-pikuk simbol, melainkan pada ketenangan jiwa. Ramadhan bukan panggung kesalehan, melainkan jalan p**ang—kembali menjadi hamba yang sadar, rendah hati, dan hadir sepenuhnya di hadapan Allah.
Di tengah dunia yang bising, mungkin inilah yang paling kita butuhkan: ibadah yang tidak sekadar terlihat, tetapi benar-benar menenangkan jiwa.
*Dzikir dan Penyucian Qalbu*
Puasa, lanjut Kyai Abdul Hayy, mengajarkan manusia menyederhanakan hidup dan mengosongkan hati dari selain Allah. Ia mengutip firman Allah:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
_“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.”_ (QS. Al-Baqarah: 152)
Dalam tasawuf, dzikir dimaknai sebagai:
طَهَارَةُ الْقَلْبِ عَنْ تَفْكِيرِ مَا سِوَى اللَّهِ
Penyucian hati dari memikirkan selain Allah.
*Tanya Jawab: Khusyuk, Neraka, dan Penyucian*
Menjawab pertanyaan *H. Zainal Asikin* tentang shalat khusyuk dan hakikat neraka bagi orang Islam, Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa shalat yang benar adalah shalat yang membersihkan jiwa.
_“Barang siapa shalatnya tidak mencegah kemungkaran, berarti shalat itu belum hidup.”_
Tentang neraka, ia menegaskan bahwa mukmin yang berdosa bisa melewati proses penyucian. Selama iman masih ada, mereka tidak kekal di neraka. Ia menukil kisah Imam Abdul Qadir al-Jailani yang menolak pengkultusan palsu terhadap wali.
*Ibadah Sunnah dan Bahaya Merasa Paling Benar*
*H. Helman* menanyakan kaitan tema kajian dengan ibadah-ibadah yang menjanjikan pahala besar seperti shalat dhuha dan qiyamul lail.
Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa ibadah sunnah bukan ajang kompetisi pahala, melainkan sarana perawatan jiwa. Shalat dhuha adalah sedekah bagi tubuh—yang menurut hadis terdiri dari sekitar 300 persendian—sementara qiyamul lail melatih kejujuran batin.
_“Kalau ibadah sunnah membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain, di situlah penyakitnya,”_ ujarnya.
*Wudhu, Tarawih, dan Kebijaksanaan Syariat*
Menanggapi pertanyaan *H. Yusuf* tentang wudhu dan tarawih, Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa tidak ada doa baku dalam setiap basuhan wudhu, tetapi dianjurkan menghadirkan kesadaran. Wudhu adalah latihan penyucian jiwa sebelum shalat.
Adapun tarawih, meski tidak dibakukan Nabi, ia ditertibkan oleh Umar bin Khattab demi kemaslahatan umat—bukti bahwa syariat dan kebijaksanaan sosial berjalan beriringan.
*Catatan Akhir: Hati di Era Digital*
Di bagian akhir, Kyai Abdul Hayy mengingatkan bahwa di era teknologi digital, kesalehan mudah berubah menjadi simbol. Konten agama melimpah, tetapi kehadiran di majelis ilmu justru menurun.
“Ramadhan datang bukan untuk menambah tontonan keagamaan, tetapi untuk mengembalikan hati,” tutupnya.
Kajian ini menjadi ajakan hening: sebelum Ramadhan tiba, p**angkan dulu hati kita—agar puasa benar-benar menjadi proposal cinta, dan ibadah menjadi jalan p**ang yang menenangkan jiwa. (Mohammad Saihu)