ROHIS SMK Asy-Syifa DEPOK

ROHIS SMK Asy-Syifa DEPOK Semangat berprestasi, kepribadian islami. Mewujudkan generasi beriman berilmu serta berakhlak untuk

لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُAhlan wa sahlan Rosyid 5Kami dari ROHIS SMK ASY-SYIFA, menyambut deng...
18/07/2020

لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ahlan wa sahlan Rosyid 5
Kami dari ROHIS SMK ASY-SYIFA, menyambut dengan s**a cita kedatangan kalian. Meskipun tidak tatap muka dikarenakan wabah covid-19 pada saat ini, semoga kita semua diberi perlindungan oleh ALLAH SWT dari segala penyakit dan diberikan nikmat syukur atas kesehatan yang kita rasakan selama ini, aamiin.

Perkenalkan kami dari Rosyid 3 & 4, yang menjalankan ekstrakurikuler dibidang kerohanian Islam, disini kita belajar tentang Islam saja loh! Tapi disini kita juga bakalan dapat yang seru-seru, seperti menjalankan organisasi, bertemu teman seperjuangan mengembangkan bakat, dan masih banyak lagi!! Apalagi kita termasuk berjuang di jalan ilahi , betul gak ?

Jadi tunggu apa lagi ? Yuk gabung bersama kami dan menjadi bagian dari kepengurusan ROHIS SMK ASY-SYIFA, kami tunggu kehadirannya.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




07/07/2020

Siapa orang paling kaya di dunia ini ?
Jawabanya bikin kaget.

02/07/2020

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kita, Yang Allah lihat hanyalah hati dan amalan kita.

Hati seharusnya menjadi perhatian utama daripada lahiriyah. Karena baiknya hati, baik p**a amalan lainnya. Karena hati yang bersih, amalan yang lain bisa diterima. Beda halnya jika memiliki hati yang rusak, terutama hati yang tercampur noda syirik.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” [HR. Muslim no. 2564]

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1. Amalan yang dibalas oleh Allah adalah amalan yang disertai niat yang ikhlas dan benar.

2. Kita harus lebih memerhatikan keadaan hati dari berbagai sifat tercela.

3. Memerbaiki hati lebih didahulukan daripada memerhatikan amalan lahiriyah. Yang utama, hati diperbaiki dengan memerhatikan akidah.

4. Amalan seseorang bisa jadi nampak baik secara lahiriyah, namun hatinya rusak. Oleh karena itu, tetap kita berinteraksi dengan orang semacam ini dengan memerhatikan lahiriyahnya. Sedangkan hatinya yang rusak adalah urusannya dengan Allah.

Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang bersih dan menjadikannya hati-hati yang ikhlas. Hanya Allah yang memberi taufik.

25/06/2020

IKATLAH ILMU DENGAN CARA MENULISNYA

Sangat sayang pastinya, seseorang yang sanggup menulis ketika taklim, tapi dia tidak mau menulis hanya karena malas. Rasulullah ﷺ bersabda:

قيِّدوا العِلمَ بالكتابِ

"Ikatlah ilmu dengan menulis." [HR. Luwain Al Mashishi dalam Al Ahadits[2/24], Ibnu Syahin dalam An Nasikh wal Mansukh [2/65], Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Al Ilmi [1/72], disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah (2026)]

Syaikh Al 'Allamah Hammad Al Anshari rahimahullah berkata:
"Penuntut ilmu yang tidak pernah membawa pena (tidak mencatat) secara terus menerus, maka ia tidak akan bisa mengambil faidah ilmu." [Al Majmu': 2/571]

Berikut ini kami himpunkan beberapa motivasi dan cerita para ulama tentang pentingnya menulis ilmu. Semua ini kami pilih dari kitab Taqyidul Ilmi oleh Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah (463 H). Semoga bisa diambil manfaatnya.

Berkata Tsumamah bin Abdillah bin Anas:

أن أنسا كان يقول لبنيه « يا بني قيدوا هذا العلم بالكتاب »

"Anas bin Malik sering berpesan pada anak-anaknya: 'Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu ini dengan cara menulisnya." (hlm. 233)

Imam asy-Sya'bi menyatakan:

الكتاب قيد العلم

"Tulisan adalah pengikat ilmu." (hlm. 240)

Telah berpesan p**a, asy-Sya'bi rahimahullah:

إذا سمعتم مني شيئاً فاكتبوه ولو في حايط

"Bila kalian mendengar ilmu dariku maka tulislah, meskipun di dinding." (hlm. 241)

Tentu hal ini ketika tidak ada media untuk wadah menulis.

Beliau juga berpesan pada Abu Kibran:

لا تدعن شيئا من العلم إلا كتبته.. وإنك تحتاج إليه يوماً ما

"Janganlah kamu lewatkan suatu ilmu kecuali kamu tulis! Sebab kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti." (hlm. 242)

Di samping menulis, mereka juga menjaga catatan-catatan mereka dengan baik.

Al-Hasan rahimahullah mengisahkan:

إنا عندنا كتبا نتعاهدها

"Sesungguhnya kami memiliki buku-buku catatan (ilmu) yang senantiasa kami jaga." (hlm. 243)

Berpayah sesaat jelas lebih baik daripada harus lupa ilmu yang sudah pernah didengar bukan?!

Abu Qilabah mengatakan:

الكتاب أحب إلي من النسيان

"Menulis ilmu lebih aku s**a daripada akhirnya melupakannya." (hlm. 249)

Karena karakter manusia yang sering lupa, sebagian ulama tidak menganggap ilmu seseorang sebagai ilmu, manakala dia tidak menulis. Tidak lain dikarenakan besarnya kemungkinan salah yang terjadi padanya.

Muawiyah bin Qurrah rahimahullah berkata:

من لم يكتب العلم فلا تعد علمه علماً

"Barang siapa yang tidak menulis ilmu, maka jangan anggap ilmunya sebagai ilmu." (hlm. 262)

Beliau juga mengatakan:

كنا لا نعد من لم يكتب العلم علمه علماً

"Kami tidak pernah menganggap ilmu orang yang tidak menulis sebagai ilmu." (hlm. 262)

Seringkali ilmu yang ditulis lalu dibaca-baca kembali dapat mendatangkan manfaat bagi seseorang.

Al-Khalil bin Ahmad menyatakan:

ما سمعت شيئاً إلا كتبته ولا كتبت شيئاً إلا حفظته ولا حفظت شيئاً إلا انتفعت به

"Tidaklah aku mendengar suatu ilmu melainkan aku tulis. Dan tidaklah aku menulis sesuatu melainkan aku jadi hafal. Dan tidaklah aku menghafal suatu ilmu, melainkan aku mendapatkan manfaat darinya." (hlm. 274)

Pada Allah kita mohon petunjuk.

18/06/2020

PERBEDAAN MUKJIZAT, KARAMAH, DAN SIHIR

Tukang-tukang sihir, dukun, dan manusia semodel mereka seringkali memamerkan “kehebatan” mereka, kebal api atau kebal bacokan pedang. Sebagian mereka tidur di atas paku-paku tajam, atau dengan bangganya memakan pecahan-pecahan kaca. Aneh memang. Televisi pun tak ketinggalan menayangkan acara-acara tersebut. Anehnya, perbuatan syirik tersebut dianggap kesenian, budaya yang mendatangkan devisa. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah manakala seorang yang menyatakan dirinya Muslim berdecak kagum menyaksikan “kehebatan” mereka. Allahul Musta’an.

Sepintas fenomena aneh di hadapan kita itu mirip dengan mukjizat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang utuh tidak terbakar tatkala dilempar kaumnya di tengah kobaran api. Karena kemiripan antara mukjizat dan sihir, dari sisi keduanya menyelisihi adat kebiasaan dan hukum alam, maka kita perlu memahami perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir.

Di antara hal penting yang menjadi kaidah membedakan antara mukjizat dan sihir:

1. Mukjizat berasal dari Allah ﷻ sebagai bentuk pemuliaan terhadap nabi dan rasul-Nya. Adapun sihir adalah amalan-amalan setan.

Bagaimana sihir terwujud? Tukang sihir dan dukun tidak mungkin melakukan perkara-perkara aneh tersebut, melainkan jika mau memberikan persembahan kepada setan-setan, seperti menyembelih untuk jin, memberikan sesaji, atau yang semisalnya. Oleh karena itu, sihir adalah bentuk KEKUFURAN kepada Allah ﷻ, dan pelakunya kafir sebagaimana firman-Nya:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. (Dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” [QS. al-Baqarah: 102]

2. Di antara perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir, mukjizat mengandung tantangan yang bersifat umum bagi penentang dakwah rasul untuk menghadapi mukjizat itu, kalau memang mereka mampu.

Allah ﷻ berfirman tentang mukjizat Alquran:

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” [QS. al-Isra’: 88]

Berbeda halnya dengan sihir. Tidak ada seorang penyihir pun berani membuka tantangan secara umum. Sebab mereka tahu, banyak p**a manusia yang seprofesi yang mungkin mendatangkan sihir yang lebih kuat, dan ini merugikan mereka sendiri. Apalagi saat sihir dihadapkan dengan ayat-ayat Alquran dan zikir, niscaya mereka akan menuai kekalahan dan kebinasaan.

3. Mukjizat diberikan oleh Allah ﷻ kepada nabi dan rasul-Nya tanpa laku/latihan tertentu, belajar, atau kaidah-kaidah yang harus senantiasa diterapkan.

Tidak pernah Nabi Musa ‘alaihissalam memelajari bagaimana tongkatnya berubah menjadi ular atau membelah lautan. Demikian p**a semua mukjizat nabi dan rasul. Adapun sihir, ilmu ini memiliki kaidah-kaidah yang bisa dipelajari setiap orang, dengan syarat dia mau menjual agamanya. Allah ﷻ berfirman:

وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ

“Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia, dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu janganlah kamu kafir.”

Mereka memelajari dari kedua malaikat itu, apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Mereka memelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya, dan tidak memberi manfaat. [QS. al-Baqarah: 102]

4. Sihir selalu bisa dikalahkan, baik dengan sihir yang lebih kuat maupun dengan zikir dan bacaan Alquran. Berbeda halnya dengan mukjizat, tidak mungkin dikalahkan.

Allah ﷻ mengisahkan kekalahan sihir-sihir terhebat di zaman Musa ‘Alaihissalam. Sihir tidak mampu berhadapan dengan mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalam:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ () فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ () فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانقَلَبُوا صَاغِرِينَ

Dan kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Sekonyongkonyong tongkat itu menelan apa yang mereka sihirkan. Karena itu nyatalah yang benar, dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Mereka kalah di tempat itu, dan jadilah mereka orang-orang yang hina. [QS. al-A’raf: 117—119]

Demikian empat hal di antara pokok-pokok perbedaan antara sihir dan mukjizat. Lantas bagaimana halnya dengan karamah, yaitu kejadian menakjubkan di luar kebiasaan yang mungkin terjadi pada wali-wali Allah ﷻ sebagai karamah (pemuliaan) bagi mereka. Apakah sama dengan mukjizat?

Karamah diberikan oleh Allah ﷻ kepada wali-wali-Nya, seperti apa yang Dia ﷻ berikan kepada Ashabul Kahfi, berupa penjagaan dari kejelekan kaumnya dengan cara yang luar biasa. Mereka tidur selama 309 tahun dalam goa, seperti dikisahkan oleh Alquran:

لَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” [QS. al-Kahfi: 25]

Karamah hampir sama dengan mukjizat. Keduanya dari Allah ﷻ. Hanya saja karamah tidak diiringi dengan pengakuan kenabian.

18/06/2020

DINGINKAN AMARAHMU DENGAN AIR WUDHU

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

“Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” [HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sanadnya Hasan]

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan ke dalam Surga.”

Rasulullah ﷺ lantas bersabda:

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu Surga.” [HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadis ini Sahih Lighairihi]

Dari Athiyyah as-Sa’di radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” [HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]

BERBAGAI DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAMDoa Pertama Dari ‘Aisyah istri Nabi ﷺ. Aisyah mengabarkan, bahwa Rasulu...
18/06/2020

BERBAGAI DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

Doa Pertama

Dari ‘Aisyah istri Nabi ﷺ. Aisyah mengabarkan, bahwa Rasulullah ﷺ biasa berdoa di dalam salatnya:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAL, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WA FITNATIL MAMAAT. ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:
Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur. Aku meminta perlindungan pada-Mu dari cobaan Al Masih Ad Dajjal. Aku meminta perlindungan pada-Mu dari musibah ketika hidup dan mati. Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari perbuatan dosa dan sulitnya berutang.” [HR. Bukhari, no. 832 dan Muslim, no. 589]

Imam Bukhari membawakan hadis di atas dalam Bab “Doa Sebelum Salam.” Namun yang lebih tepat, doa di atas bukan dibaca khusus ketika Tasyahud Akhir, namun bisa ketika sujud p**a. Yang penting di dalam salat. Demikian penegasan dari Ibnu Hajar dalam Al-Fath, 2:318.

Doa Kedua

عَنْ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ – رضى الله عنه – . أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلِّمْنِى دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِى صَلاَتِى . قَالَ « قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ »

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata pada Rasulullah ﷺ: “Ajarkanlah padaku suatu doa yang aku baca dalam salatku.”

Beliau ﷺ menjawab, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

ALLAHUMMA INNI ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIROO WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA. FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIK, WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFURUR ROHIIM

Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang besar. Tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu. Kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [HR. Bukhari, no. 834 dan Muslim, no. 2705]

Maksud dari “Maghfiratan min ‘indik”, yaitu ampunan dari sisi-Mu, adalah permintaan ampunan yang besar dari Allah. Ibnu Hajar mengatakan seperti ini dalam Fath Al-Bari, 2:320.

Sedangkan sifat yang disebutkan di akhir doa “Al Ghofur Ar Rohim” yaitu dua sifat yang senantiasa bergandengan. Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Al Ghofur berarti Allah mengampuni maksiat yang telah dilakukan dan disesalkan. Sedangkan Ar Rohim berarti Allah mengasihi hamba ketika ia lalai dari melakukan kewajiban dan ketaatan. Ini yang disebutkan oleh beliau dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 3:277.

Adapun ampunan Allah (maghfirah) ada dua makna, yaitu Allah menutup dosa dan tidak memberikan hukuman. Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 3:271]

Doa di atas juga dimasukkan oleh Imam Bukhari dalam Bab “Doa Sebelum Salam”. Kalau dikatakan sebelumnya, doa semacam itu bukan khusus berada di akhir salat sebelum salam setelah Tasyahud Akhir, namun boleh juga di tempat lainnya di dalam salat.

Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, bahwa maksud Abu Bakr yang meminta pada Rasulullah ﷺ mengenai doa yang ia baca dalam salatnya, maka maksudnya adalah pada berbagai tempat dalam salat. Namun bisa jadi yang dimaksud adalah pada Tasyahud Akhir.

Ibnu Hajar rahimahullah menegaskan, bahwa Abu Bakr itu bertanya mengenai Tasyahud, lalu beliau diajarkan tentang hal itu, dan dikatakan oleh Nabi ﷺ setelahnya: “Kemudian pilihlah doa yang dis**ai.” Dari sini dapat kita tahu alasan kenapa Imam Bukhari mengatakan bahwa doa di atas terletak sebelum salam, maksudnya setelah Tasyahud Akhir. [Fath Al-Bari, 2:320]

Doa Ketiga

Sa’ad bin ‘Abi Waqqash biasa mengajarkan anaknya beberapa kalimat doa berikut. Ia mengajarkan doa tersebut sebagaimana para pengajar mengajarkan menulis. Ia mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa ini di dubur salat (akhir Tasyahud sebelum salam):

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATID DUNYAA, WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QODBRI

Artinya:
Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemah melakukan ibadah yang mulia. Aku meminta perlindungan pada-Mu dari keadaan tua yang jelek. Aku meminta perlindungan pada-Mu dari tergoda syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban). Aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur.” [HR. Bukhari no. 2822]

Semoga bermanfaat.

BATASAN AURAT WANITA YANG PERLU DIKETAHUI>> Aurat wanita menurut Madzhab Syafi’iManakah aurat wanita? Yang kita bahas ka...
18/06/2020

BATASAN AURAT WANITA YANG PERLU DIKETAHUI

>> Aurat wanita menurut Madzhab Syafi’i

Manakah aurat wanita? Yang kita bahas kali ini adalah aurat wanita yang tidak boleh ditampakkan di hadapan umum, di hadapan para pria yang bukan mahramnya. Tinjauan kali ini adalah berdasarkan Madzhab Syafi’i.

Aurat itu wajib ditutupi, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

“Jagalah (tutuplah) auratmum kecuali pada istri atau budak yang engkau miliki.” [HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]

Imam Nawawi menyatakan, bahwa aurat itu wajib ditutupi dari pandangan manusia. Dan ini adalah Ijmak (kata sepakat ulama). (Idem).

Adapun aurat wanita disinggung oleh Imam Nawawi yaitu seluruh badan, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. [Al Majmu’, 3: 122]. Juga disinggung beliau dalam Minhajuth Tholibin, 1: 188.

Pendapat yang dikemukakan oleh Imam Nawawi di atas adalah pendapat Mayoritas Ulama, dan itulah pendapat terkuat.

Muhammad Al Khotib -ulama Syafi’iyah penyusun kitab Al Iqna’ menyatakan, bahwa aurat wanita -merdeka- adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangannya (termasuk bagian punggung dan bagian telapak tangan hingga pergelangan tangan). Alasannya adalah firman Allah ﷻ:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya,” [QS. An Nur: 31]

Yang dimaksud, menurut ulama pakar tafsir, adalah wajah dan kedua telapak tangan. Wajah dan kedua telapak tangan bukanlah aurat, karena kebutuhan yang menuntut keduanya untuk ditampakkan. [Lihat Al Iqna’, 1: 221]

Asy Syarbini berkata:
“Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Termasuk telapak tangan adalah bagian punggung dan dalam telapak tangan, dari ujung jari hingga pergelangan tangan. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” [QS. An Nur: 31]

Yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan, inilah tafsiran dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah.” [Mughnil Muhtaj, 1: 286]

Konsekuensi dari pernyataan aurat wanita di atas, BAGIAN TANGAN dan KAKI adalah AURAT, termasuk juga BADAN. Sehingga kalau bagian tersebut hanya dibalut dengan baju dan tidak longgar, alias ketat, maka berarti aurat BELUMLAH tertutup.

Jadi apa yang dilakukan oleh sebagian wanita muslimah dengan memakai penutup kepala namun sayangnya masih berpakaian ketat, BELUMLAH menutup aurat, karena bagian aurat seperti tangan, badan, masih terlihat bentuk lekuknya. Celana ketat pada paha pun masih menampakkan lekuk tubuh yang seksi. Lebih-lebih di dada, walau kepala tertutup, masih bisa membuat laki-laki tergoda syahwatnya.

Berjilbab yang benar bukan hanya menutup rambut kepala, tetapi juga harus memerhatikan baju dan rok yang digunakan, mestilah lebar. Adapun menggunakan celana panjang tidaklah menggambarkan menutup aurat dengan sempurna meski longgar, karena bentuk lekuk tubuh masih terlihat.

Jadi yang aman bagi wanita adalah menggunakan baju atau gamis, lalu ditutupi dengan jilbab yang lebar di luarnya, yang panjangnya hingga pinggang atau paha, sehingga lebih menutupi sempurna bagian badan. Kemudian bagian bawah lebih baik menggunakan rok lebar (longgar), tidak ketat. Rok tersebut hingga menutupi kaki. Adapun panjang rok tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis Ummu Salamah berikut ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ « يُرْخِينَ شِبْرًا ». فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفَ أَقْدَامُهُنَّ. قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ersabda:
“Siapa yang menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena sombong, maka Allah pasti tidak akan melihat kepadanya pada Hari Kiamat.”

Ummu Salamah lantas berkata: “Lalu bagaimana para wanita menyikapi ujung pakaiannya?”

Nabi ﷺ menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkannya sejengkal.”

Ummu Salamah berkata lagi: “Kalau begitu, telangkap kakinya masih tersingkap.”

Beliau ﷺ bersabda: “Turunkan satu hasta. Jangan lebih dari itu.“[HR. Tirmidzi no. 1731 dan An Nasai no. 5338. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Sahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Sahih]

Pelajaran yang bisa kita petik dari penjelasan ulama Syafi’iyah di atas, punggung dan bagian dalam telapak tangan bukanlah aurat yang mesti ditutupi. Wallahu a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik.

18/06/2020

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang s**a memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR. Muslim no. 4849)

05/06/2020

🌼HUKUM SHOLAT SUBUH BAGI ORANG YANG KESIANGAN🌼

Kewajiban shalat merupakan salah satu kewajiban yang Allah swt telah tentukan waktunya. Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu WaTa'ala:

“Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4:103)”

Dengan demikian, seorang muslim harus melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Lalu bagaimana dengan orang yang bangun tidur kesiangan, sehingga matahari telah terbit ?

👉Pertama, bagi orang yang ketiduran hingga matahari terbit. Bagi orang yang tertidur, tidak bangun di waktu subuh hingga matahari terbit, maka tatkala bangun ia harus segera melaksanakan shalat subuh. Dalam hal ini, ia tidak berdosa. Sebab, keterlambatannya untuk melaksanakan shalat bahkan hingga keluar waktunya bukan karena unsur kesengajaan. Hal ini pernah terjadi pada diri Rasulullah Shalalahu alaihi wasalam. Suatu ketika Rasulullah Shalalahu alaihi wasalam sedang dalam perjalanan. Ketika malam, beliau Shalalahu alaihi wasalam dan para sahabat tertidur hingga matahari terbit. Seketika itu, beliau Shalalahu alaihi wasalam memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqamah. Akhirnya, Rasul Shalalahu alaihi wasalam dan para sahabat shalat subuh di kala matahari telah terbit.

👉Kedua, bagi orang yang ketiduran dan ada unsur kesengajaan. Sebenarnya ia telah terbangun di waktu shalat subuh. Hanya saja, karena rasa malas dan terasa berat, ia tidur kembali sampai matahari terbit. Jadi, ada unsur kesengajaan. Sebagian besar para ulama berpandangan bahwa ia berkewajiban untuk mengqadha shalatnya. Hendaklah dirinya segera melaksanakan shalat ketika bangun. Di samping itu, ia harus bertaubat kepada Allah Subhanahu WaTa'ala karena telah sengaja meninggalkan shalat tatkala telah tiba waktunya. Bagaimana pun juga, meninggalkan shalat secara sengaja termasuk dosa besar. Hal ini berdasarkan pada firman Allah Subhanahu WaTa'ala:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (QS. 107:4)”

“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. 107:5)”

Kesimp**annya, saudara tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat subuh setelah bangun tidur.

Semoga bermanfaat

26/05/2020

TIGA ORANG YANG PUASA RAMADHAN-NYA DITOLAK ALLAH SWT.

Suatu waktu sahabat melihat Rasulullah mengucapkan amin hingga tiga kali usai salat Idul Fitri. "Amin.. Amin.. Amin." Tentu saja hal itu membuat heran sahabat. Sebab sebelum Nabi Muhammad SAW tak sedang berdo'a. Akhirnya sahabat bertanya.

"Ada apa ya Rasul, kenapa engkau mengucapkan amin hingga tiga kali?"

"Tadi sehabis salat, datang malaikat Jibril kepadaku. Beliau berkata, 'Ya Muhammad, saya mau berdoa kepada Allah SWT, maukah engkau mengamini?' Aku jawab 'Tentu ya Jibril',"

Kalau sudah Jibril yang berdoa dan Rasulullah yang mengamini, pasti langsung didengar oleh Allah SWT. Doa tersebut berisi tentang tak diterimanya puasa umat muslim yang berikut:

1. Anak yang durhaka kepada orang tua.

"Ya Allah SWT saya memohon kepada kepadaMu, jangan Engkau terima puasanya anak yang durhaka kepada ibu dan bapaknya," doa Jibril. Doa itu langsung diamini oleh Rasulullah.

Tidak semua orang itu orangtua, tapi sudah pasti seorang anak. Setinggi apapun pangkat atau kedudukan anak, bahkan memiliki banyak harta namun kalau sudah menyakiti orangtua, Jibril mendoakan dan diamini oleh Rasul agar puasanya tidak diterima Allah SWT.

2. Istri yang durhaka kepada suami.

"Ya Allah SWT saya memohon kepada kepadaMu, jangan Engkau terima puasanya istri yang durhaka kepada suami," doa Jibril. Doa itu langsung diamini oleh Rasulullah.

Mungkin wanita ada yang bertanya, bagaimana jika suami yang durhaka kepada istri. Poinnya, suami ini pemimpin rumah tangga, dan bakal diminta pertanggungjawaban atas istrinya.

Surah Al-Baqaroh ayat 187 berbunyi, "Suami istri bagaikan pakaian."

Kalau suami istri bagaikan pakaian, sudah pasti untuk menutupi. Suami dan istri harus saling menutupi kekurangan masing-masing.

3. Muslim yang tak mau memaafkan saudaranya sesama muslim.

"Ya Allah SWT saya memohon kepada kepadaMu, jangan Engkau terima puasanya muslim yang tak mau memaafkan saudaranya sesama muslim," doa Jibril. Doa itu kembali diamini oleh Rasulullah.

Memaafkan lebih berat dari minta maaf, tapi memberi maaf lebih mulia daripada meminta maaf. Biasanya saat Idul Fitri halal bi halal, saling maaf memaafkan. Halal bi halal itu bahasa Arab yang di Arab sendiri tak ada tradisi itu. Asal kata dari Halalun bi halalin, artinya halal dengan halal. Maksudnya, kemarin si A menyakiti B dan itu haram, maka sekarang saat halal bi halal, tolong dihalalkan, tolong dimaafkan. Ini untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Orang sufi mengajarkan, tak ada dosa kecil kalau ditumpuk terus menerus, tak ada dosa besar jika setiap hari digempur Istigfar.

Rasulullah bersabda, "Silaturahmilah kau kepada orang yang marah denganmu, bahkan dengan orang yang pelit sekalipun

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمDengan segala kerendahan hati  ijinkan kami menghaturkan   تَقَبَّ...
24/05/2020

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Dengan segala kerendahan hati ijinkan kami menghaturkan

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَا وَ مِنْكُمْ صِيا منا وَ صِيَامكم كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H

Mohon maaf atas salah & khilaf. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT, dan kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan 1442 H..

آمــــــــــــــين.

ROHIS SMK ASY-SYIFA, TAPOS KOTA DEPOK

Address

Jalan Pekapuran, Gang Bungur No. 20 Kel. Sukatani, Kec. Tapos
Depok
16461

Opening Hours

Monday 07:30 - 17:30
Tuesday 07:30 - 17:30
Wednesday 07:30 - 17:30
Thursday 07:30 - 17:30
Friday 07:30 - 17:30
Saturday 07:30 - 17:30
Sunday 07:30 - 17:30

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ROHIS SMK Asy-Syifa DEPOK posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share