07/08/2026
THARIQAH TIJANIYYAH MU'TABARAH
Dalam islam ada sebanyak 360 Thoriqoh Mu'tabaroh sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah SAW sebagai berikut:
إِنْ شَرِيْعَتِى جَآءَ عَلَى ثَلَثمائَةٍ وَسِتِّيْنَ طَرِيْقَةً مَا سَلَكَ أَحَدٌ طَرِيْقَةً مِنْهَا إِلَّا نَجَا. (رواه الطبرانى)
"Sesungguhnya syariat ku datang membawa 360 thariqah, siapapun yang menempuh salah satu thariqah-thariqah itu pasti selamat." (HR Thabrani)
Sedangkan yang tercatat dalam hasil Kongres dan Mubes Jam'iyah Ahli Thariqah Al Mu'tabarah sebanyak 44 thariqah. Thariqah itu dihukumi mu'tabarah apabila mempunyai sanad muttasil kepada Rasulullah SAW, dan sanad muttasil kepada Rasulullah SAW ada dua:
1. Dengan jalan ditalqin oleh Rasulullah SAW sewaktu beliau masih hidup, yaitu talqin kepada sahabat beliau.
2. Dengan jalan talqin oleh Rasulullah setelah beliau wafat/berada di alam barzakh. Talqin dikatakan talqin barzakhi.
Talqin Barzakhi
a. Sabda Rasulullah SAW dalam mimpi
Orang yang bermimpi melihat Rasulullah SAW, maka yang dilihat itu benar-benar Rasulullah SAW, sebab setan tidak bisa menyerupai Rasulullah SAW.
مَنْ رَأنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَأنِى حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بى (رواه البخارى ومسلم وأحمد)
"Barangsiapa yang melihatku dalam tidur/ mimpi, maka Dia benar-benar melihatku, sebab setan tidak bisa menyerupai aku." (HR Bukhari Muslim dan Ahmad)
Dalam hadis yang lain disebutkan:
مَنْ رَأنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَأى الْحَقَّ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَزَايَابِى (رواه البخارى ومسلم وأحمد)
"Barangsiapa yang melihatku dalam tidur (mimpi) maka dia benar-benar melihat kebenaran, karena sesungguhnya setan itu tidak bisa berbentuk seperti aku." (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Selain yang dilihat dalam mimpi itu benar-benar Rasulullah SAW, juga apa yang disabdakan dalam perjumpaan dalam mimpi itu benar, sebagaimana diterangkan dalam kitab Sirajun Thalibin Syahr kitab Minhajul 'Abidin, 1:131:
فَإِنَّ الصُّوْفِىَ يَقُوْلُ: الْعِلْمُ بِوُجُوْدِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَبيل المَحْسُوْسَاتِ الْمَرْئِيَةِ بِالأَبْصَارِ يَقَظَةً عِنْدَ الْمُقَّرَبِيْنَ وَنَوْمًا عِنْدَ غَيْرِهِمْ وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "مَنْ رَأنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَأنِى حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِصِوْرَتِى" إِذْ مَعْنَى الْحَدِيْثِ عِنْدَ الْأَكْثَرِ أَنَّ مَنْ رَأهُ نَوْمًا فَتِلْكَ الرُّؤْيَةُ مُسَاوِيَةٌ لِلرُّؤْيَةِ الْحِسِّيَّةِ يَقَظَةً بَلْ مَعْنًى كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ عُلَمَآءُ الْحَدِيْثِ فَانْظُرْهُ
"Maka sebenarnya golongan Sufi berkata: "Mengetahui wujudnya Nabi Muhammad SAW termasuk mahsusat (yang diketahui dengan panca indra) yang terlihat dengan pandangan mata kepala dalam keadaan jaga (yaqazhah) bagi golongan muqarrabin dan dalam keadaan tidur bagi selain mereka. Dan Nabi Muhammad SAW telah bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka dia benar-benar melihatku, karena setan tidak bisa menyerupai surahku (rupaku)." Sebab makna hadits ini menurut ulama yang terbanyak ialah bahwa orang yang melihat Nabi SAW dalam tidur/mimpi, maka nilai penglihatannya itu sama dengan penglihatan panca indra dalam keadaan yaqazhah, bahkan maknanya pun sama, sebagaimana diingatkan oleh para ulama hadits, maka perhatikanlah!"
b. Pertemuan Barzakhi
Sebagai mukjizat Rasulullah SAW adalah berjumpa makhluk bangsa ruh. Rasulullah SAW berjumpa malaikat, berjumpa manusia yang telah meninggal dunia (manusia yang sudah di alam barzakh). Berjumpa para nabi yang telah terdahulu dan mengerjakan shalat berjamaah bersama mereka ketika melaksanakan Isra di Baitul Maqdis. Berjumpa Nabi Musa di langit keenam dan memberi nasehat kepada Rasulullah SAW dan nasehatnya dilaksanakan oleh Rasulullah SAW ketika melaksanakan Mi'raj. Semua itu adalah mukjizat Rasulullah SAW dan mukjizat itu bisa menjadi kekeramatan wali Allah SWT, seperti:
قَالَ رَأَيْتُ يَوْمَ أُحُدٍ عَنْ يَمِيْنِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ عَنْ يَسَارِهِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ بِيْضٌ يُقَاتِلَانِ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ الْقِتَالِ مَارَأَيْتُهُمَا قَبْلَ ذَلِكَ وَلَا بَعْدَهُ يَعْنِى جِبْرِيْلَ وَمِكَائِيْلَ (أحرجه الشيخان)
"Sa'ad bin Abi Waqqash berkata: "Di hari (perang) Uhud saya melihat di kanan dan kiri Rasulullah SAW dua orang laki-laki berpakaian serba putih berperang membentengi Rasulullah SAW dengan gigih sekali. Saya belum pernah melihatnya sebelum hari itu dan tidak sesudahnya; yang dia kehendaki ialah Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)
بَيْنَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لَايُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَايَعْرِفُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ أَمَامَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ...... ثُمَّ انْطَلَقَّنَا فَلَبِثتُ مَلِيَّا ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أَتْدْرِى مَنِ السَّائِلِ؟ قُلْتُ : "أَللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ". قَالَ : إِنَّهُ جِبْرِيْلُ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ" (رواه البخارى)
"Ketika kami duduk di sisi Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncullah ditengah kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan rambutnya sangat hitam, tidak ada bekas-bekas berpergian dan tak seorangpun diantara kami yang mengenalnya sampai dia duduk di hadapan Nabi SAW. Lalu dia menyandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi SAW dan menaruh kedua telapak tangannya ke atas kedua paha Nabi Muhammad SAW..... Kemudian kami pergi, lalu saya diam beberapa lama. Kemudian Nabi SAW bersabda: "Hai Umar, tahukah anda Siapakah orang yang bertanya itu? Saya menjawab: "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahuinya." Nabi SAW bersabda: "Sebenarnya dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajar kalian tentang agama kalian." (HR Bukhari)
Imam Ibnu Bathisy dalam kitabnya "Itsbatul Karamah" mensitir dari kitab "Thabaqatul Manawi", menyebutkan bahwa Abdullah bin Salam berkata:
أَتَيْتُ عُثْمَانُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ لأُسَلِّمَ عَلَيْهِ وَهُوَ مَحْضُوْرٌ فَقَالَ مَرْحَبًا يَاأَخِى رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى هَذِهِ الْخُوْخَةِ فَقَالَ: يَاعُثْمَانُ حَصَرُوْكَ ؟ قُلْتُ : نَعَمْ ، فَأَدْلَى لِى دَلْوًا فِيْهِ مَآءٌ فَشَرِبْتُ حَتَّى رَوِيْتُ ، فَقَالَ إِنْ شِئُتَ نُصِرْتَ وَإِنْ شِئْتَ أَفْطَرْتَ عِنْدَنَا، فَا خْتَرْتُ أَنْ أُفْطِرَ عِنْدَهُمْ فَقُتِلَ ذَلِكَ الْيَوْمَ
"Saya datang kepada Utsman r.a untuk mendoakan selamat kepadanya ketika dia dikepung (pemberontak). Maka dia berkata: "Selamat datang wahai saudaraku, Saya melihat Rasulullah SAW di jendela ini, lalu bersabda: "Hai Utsman, mereka mengepung kamu! Saya katakan: "Na'am". Lalu Beliau mengulurkan timba berisi air kepadaku. Maka saya meminumnya sampai saya merasakan segar, dan beliau bersabda: "Kalau kamu menghendaki (pertolongan), saya beri pertolongan kepadamu, dan jika menghendaki berbukalah bersama kami." Maka saya memilih berbuka bersama mereka. Maka dia dibunuh pada hari itu." (Jami'ul Karamatil Auliya, 1:51)
Di samping Wali Allah SWT itu mendapat kekeramatan sebagaimana diterangkan diatas juga Rasulullah SAW berjanji akan menampakan diri beliau kepada orang yang pernah bermimpi melihat beliau. Rasulullah SAW akan menampakan dirinya kepadanya dalam keadaan jaga (yaqazhah) sebagaimana sabdanya:
مَنْ رَأَنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بى . (رواه البخارى ومسلم وأبو داود)
"Barang siapa melihatku dalam tidur, maka dia akan melihatku yaqazhah dan setan itu tidak bisa menyerupaiku." (HR Bukhari Muslim dan Abu Daud)
Janji Rasulullah SAW akan menampakan dirinya kepada orang yang pernah bermimpi itu dalam keadaan jaga (yaqazhah) tak ada mukhasshish (ketentuan-ketentuan khusus). Oleh sebab itu, janji itu baik ketika Rasulullah SAW masih hidup di dunia dahulu kepada para sahabat, atau setelah di alam barzakh maupun besok di akhirat, bahkan kalau di akhirat telah maklum bagi umatnya.
Dalam kitab "Bughyatul Mustafid Syahr Munyatu Murid" halaman 210 disebutkan sebagai berikut:
وَذُكِرَ فِى الْجَيْشِ الْكَبِيْرِ أَنَّ اللَّقَانِى رَحِمَهُ اللَّهُ حَكَى إِتِّفَاقَ الْحُفَّاظِ عَلَى جَوَازِ رُؤْيَتِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْيَقَظَةِ وَالْمَنَامِ وَأَنَّهُمْ لَمْ يَخْتَلِفُوْا فِى ذَلِكَ وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوْا هَلْ يَرَى الرَائى ذَاتَهُ حَقِيْقَةً أَوْ مُثَالًا يُحْكِيْهَا . فَذَهَبَ إِلَى الأَوَّلِ جَمَاعَاتٌ وَذَهَبَ إِلَى الثَّانِى القَرَافِىُ والغَزَالِىُ
"Dan disebutkan dalam kitab: "Al-Jaisyul Kabir", bahwa Al-Laqani menceritakan ittifaqnya para huffazh atas bolehnya melihat Nabi SAW yaqazhah dan mereka tidak berselisih tentang itu, dan yang diperselisihkan mereka adalah: "apakah yang dilihatnya itu benar-benar dzat Nabi yang mulia secara hakikat atau sebagai misal yang menceritakan dzat Nabi Muhammad SAW. Kepada yang pertama jamaah ulama memilihnya dan kepada yang kedua Al-Qarafi dan Al-Ghazali memilihnya."
Melihat dan berjumpa Rasulullah SAW dalam mimpi adalah benar dan sabdanya pun juga benar dan bernilai positif, maka yang terutama apabila perjumpaannya itu yaqazhah. Dalam kitab "Bughyatul Mustafid" halaman 37 disebutkan sebagai berikut:
وَمِنَ الْمُقَرَّرِ عِنْدَ الْعُلَمَآءِ الأَعْلَامِ أَنَّهُ يُعْمَلُ بِجَمِيْعِ مَتَلَقَّاهُ الْعَارِفُوْنَ مِنْهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَاءٌ فِى الْيَقَظَةِ أَوِ الْمَنَامِ مَالَمْ يُصَادِمْ شَيْئًا مِنَ النُّصُوْصِ الْقَطْعِيَّةِ أَوْ يُؤَدِّى إِلَى انْحِرَامِ قَاعِدَةٍ شَرْعِيَّةٍ
"Dan sebagian yang telah menjadi ketetapan bagi Al-Ulama Al-A'lam ialah bahwa semua apa yang telah diterimanya oleh Al-'Arifun dari Nabi SAW sama saja diterimanya dalamnya yaqazhah atau dalam mimpi diamalkan selama tidak berbenturan dengan nash qath'i atau menjadi rusaknya kaidah Syar'iyah "
Oleh sebab itu, talqin barzakhi sah hukumnya menurut agama Islam sebagaimana telah ditetapkan oleh Mu'tamar Nahdlatul Ulama ke-3 di Surabaya dan Mu'tamarnya yang ke-6 di Cirebon.
أَللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِى زُمْرَةِ أَبى الْفَيْضِ التِّجَانِى
وَأَمِدَّنَا بِمَدَدِ خَتْمِ الأوْلِيآءِ الْكِتْمَانِى
بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى الْعَدْنَانِى
Ikuti saluran ZAWIYAH SAYYIDI SYEKH AHMAD AT TIJANI RA di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb05H8kKgsO1bVmokB1A
Zawiyah Sayyidi Syekh Ahmad At Tijani ra