Hindu Indonesia

Hindu Indonesia Hindu adalah Sanatana Dharma atau Dharma yang Abadi. Sanatana Dharma merupakan serangkaian kesadaran tentang cara menjalani kehidupan

Hindu Bali
18/07/2024

Hindu Bali

Eksistensi agama Hindu yang menjadi agama mayoritas masyarakat Bali, tak bisa dilepaskan dari awal mula masuknya agama yang berasal dari India ini. Dalam nar...

09/11/2021

Hindu Indonesia vs Hindu India berbeda ya semeton

Asta kosala kosali
14/11/2020

Asta kosala kosali

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pekarangan merupakan sebidang tanah sebagai tempat mendirikan bangunan di atasnya, khususnya rumah. Bagi masyarakat Bali, selain rumah,

Mengembalikan Kejayaan Hindu di Sungai Gangga
29/06/2019

Mengembalikan Kejayaan Hindu di Sungai Gangga

balitribune.co.id | India - Pembangunan Padmasana di India tempatnya di Tepi Sungai Gangga dilakukan bulan November sampai April 2019. Material Bangunan Padmasana sendiri telah berada di India selama 15 tahun lalu yang dikirim oleh Dewa Berata yang saat itu menjabat Gubernur Bali.

https://www.youtube.com/watch?v=fqCwo97cBwU
10/06/2019

https://www.youtube.com/watch?v=fqCwo97cBwU

DHARMA SANTHI : DHARMA WACANA : NYEPI MENUJU SHANTI DESA ADAT PAKRAMAN BULELENG 2019 OLEH : IDA PANDITA MPU JAYA ACARYANANDHA NYEPI MENUJU SHANTI -----------...

Pengetahuan kesadaran diri🙏🙏🙏
31/08/2018

Pengetahuan kesadaran diri🙏🙏🙏

pencerahan dari Gases Bali Calonarang Sedah Wong Ring pura Dalem Agung Payangan

Mengingatkan Ajaran Upanisad yg mungkin sudah terlupakan, hal yang harus dijalankan dan dihindari dalam kehidupan manusi...
15/05/2018

Mengingatkan Ajaran Upanisad yg mungkin sudah terlupakan, hal yang harus dijalankan dan dihindari dalam kehidupan manusia

Panca Nyama Brata
1. Akroda, tidak marah
2. Guru susrusa, hormat taat dan tekun melaksanakan ajaran-ajaran dari guru
3. Sauca, suci lahir batin
4. Aharalagawa, memilih makan yang baik bagi tubuh kita dan makan, minum secara teratur untuk mencapai kesucian lahir batin.
5. Apramada, tidak sombong angkuh.

Panca Yama Brata
1. Ahimsa/tidak membunuh
2. Brahmacari/menuntut ilmu
3. Satya (jujur dan setia)
4. Awyawaharika tidak terikat duniawi
5. Asteya atau Astenya/mencuri atau memperkosa hak orang lain

Sad Ripu berarti enam musuh yang berada dalam diri manusia. Bagian – bagian sad ripu meliputi :
1. K**a : nafsu, keinginan
2. Lobha : tamak, rakus
3. Krodha : kemarahan
4. Moha : kebingungan
5. Mada : mabuk
6. Matsarya : dengki, iri hati

Sad Atatayi
Sad atatayi terdiri dari kata Sad dan Atatayi. Sad artinya enam, Atatayi artinya kejam atau pembunuhan. Jadi yang dimaksud Sad Atatayi adalah enam macam pembunuhan yang kejam yang tidak patut dilaksanakan oleh manusia.

a. Agnida, yaitu membakar hak milik orang lain atau memusnahkan milik orang lain dan juga dapat diartikan mengadu domba orang sehingga menimbulkan perselisihan yang mengakibatkan orang menjadi menderita. Ini perilaku atau perbuatan yang terlarang.

b. Wisada, yaitu meracuni atau menyakiti orang lain. Perbuatan meracuni baik sekala maupun niskala. Perbuatan ini merupakan perbuatan dosa. Hal ini mengingkari hakikat hidup di dalam bermasyarakat di dunia fana ini. Bagi orang yang melakukan atau melaksanakan perbuatan seperti itu sudah di sediakan tempat, yaitu neraka oleh Sang Hyang Widhi.

c. Atharwa, yaitu melakukan atau menjalankan ilmu hitam (black magic). Perbuatan semacam ini merupakan perbuatan yang tak terpuji dan terkutuk serta dijauhi orang. Orang yang s**a yang terlarang menjalankan ilmu hitam hanya sifatnya senang sementara semasa masih hidup dapat membuat orang lain menjadi menderita dan sesungguhnya p**a dirinya sendiri akan menderita p**a seperti yang diderita orang lain.

d. Sastraghna, yaitu mengamuk atau merampok sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain. Mengamuk yang dimaksud adalah bias menghilangkan nyawa orang lain dan merampok menimbulkan penderitaan karena kerugian yang dideritanya. Perbuatan semacam ini amat bertentangan dengan sastra agama, untuk mencapai ketenangan maupun kedamaian, maka perbuatan Sastraghna amat dilarang dan berdosa besar dan terkutuk.

e. Drathi Krama, yaitu memperkosa kehormatan seorang wanita. Perbuatan Drathi Krama sangat bertentangan dengan konsep ajaran agama Hindu. Di mana ajaran Agama Hindu memiliki konsep Tat Twam Asi. Karena itu, perbuatan Drathi Krama mengingkari kemerdekaan pribadi orang lain.

f. Raja Pisuna, yaitu memfitnah atau menghasut dan mengadu domba seseorang denga orang lain. Perbuatan memfitnah sangatlah keji karena membuat orang lain menderita. Mungkin orang yang difitnah tidak tahu sebab apa dirinya diberlakukan kurang baik. Memfitnah hendaknya dibuang jauh dari alam pikiran kita. Maka dikatakan memfitnah lebih kejam dari pada pembunuhan.

Sekedar catatan buat mengingatkan saja

Rahajeng Pagerwesi, Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwe...
21/03/2018

Rahajeng Pagerwesi, Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak.

Hari Raya Pagerwesi jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon, Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.

Makna Pagerwesi

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.

Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.

Oleh karena itu rangkaian hari-hari dari Saraswati ke Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:

Setelah Saraswati, esoknya hari Minggu, adalah hari Banyupinaruh, di mana pada hari itu umat Hindu di Bali melakukan pensucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata air. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
Kemudian esoknya, hari Senin disebut hari Somaribek, yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia.
Selanjutnya, hari Selasa, disebut Sabuh Mas, yang juga tidak lepas kaitannya dengan Saraswati, di mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma. Pada hari itu umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa.
Hari raya Pagerwesi di hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.
Renungan Dalam Pagerwesi

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Banten Dalam Pagerwesi

Yadnya (Banten) yang paling utama disebutkan pada hari raya Pagerwesi yaitu :
Untuk Para Pendeta (Purohita) adalah “Sesayut Panca Lingga” sedangkan perlengkapan tetandingan bantennya :
Daksina,
Suci Pras penyeneng, dan
Banten Penek.
Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi sebagai pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan.
Dan Bagi umat kebanyakan yadnya (banten) disebutkan adalah;
natab Sesayut Pagehurip,
Prayascita,
Dapetan.
Tentunya dilengkapi Daksina,
Canang, dan
Sodan.
Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu
Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta,
dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.
Semoga pemaparan dalam artikel ini tentang Hari Raya Pagerwesi dapat bermanfaat bagi semeton.Suksma…

(sumber:stitidharma,wedahindu,sejarahharirayahindu)

Address

Denpasar
80223

Telephone

+628170044065

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hindu Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share