Komisi Litbang & Media Digital GKII Daerah Bali

Komisi Litbang & Media Digital GKII Daerah Bali Akun Media Digital GKII Daerah Bali (2021-2026)

07/04/2026

Apakah merawat ciptaan adalah bagian iman yang kita lupakan?Sering kali kita berbicara tentang iman, pelayanan, dan penginjilan—tetapi tanpa sadar melupakan ...

Shalom Sobat Bumi!  🌏Dalam rangka memperingati Hari Bumi, 22 April 2026, Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) mengajak se...
07/04/2026

Shalom Sobat Bumi! 🌏

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, 22 April 2026, Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) mengajak seluruh umat Kristen dimanapun berada, untuk ambil bagian dalam gerakan peduli lingkungan sebagai wujud nyata iman kita dalam merawat ciptaan Tuhan.

Mari lakukan aksi sederhana namun berdampak:
 Menanam pohon
 Membersihkan lingkungan
 Menghijaukan dan menata ruang sekitar
 Dan aksi peduli lingkungan lainnya.

Jangan berhenti pada aksi!
Bagikan setiap momen kepedulianmu berupa foto dan atau video dengan:
• Gunakan hashtag kampanye
• Tag & mention platform medsos GKII
• Kolaborasikan (collab) postinganmu, khususnya di Instagram & TikTok GKII

FB Page: GKII Pusat
https://s.id/FBGKIIPusat
IG: kemahinjil
https://s.id/IGkemahinjil
IG: kemahinjil_dm
https://s.id/IGkemahinjil_dm
Tiktok: kemahinjil
https://www.tiktok.com/
Threads: https://www.threads.com/
YT Channel: gereja kemah injil indonesia
https://s.id/YTGerejaKemahInjilIndonesia

Mari ramaikan bulan April dengan aksi nyata kasih terhadap bumi!
Karena merawat ciptaan adalah bagian dari panggilan iman kita.
Dari gereja, untuk dunia, bersama kita bisa membawa perubahan!

03/04/2026
  Pengorbanan Yesus Kristus  Yesus Kristus
03/04/2026

Pengorbanan Yesus Kristus
Yesus Kristus

27/03/2026
✝️
26/03/2026

✝️

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.

Selamat Jalan Alm Pnt Adv Jimmy Rade SE., SH., MH
23/03/2026

Selamat Jalan Alm Pnt Adv Jimmy Rade SE., SH., MH

23/03/2026

Renungan Kepemimpinan:

Menyiapkan Pendamping Pelayanan Tanpa “Politicking”

Tidak lama lagi gereja kita akan memilih pemimpin, baik tingkat Pusat, Wilayah, dan Daerah/Klasis. Ada isu penting dalam kepemimpinan manakala seseorang terpanggil dan kemudian dicalonkan memimpin dalam pelayanan atau organisasi gerejawi, yaitu muncul pertanyaan: bolehkah ia mulai memikirkan siapa yang akan mendampinginya dalam pelayanan?

Jawabannya boleh, namun harus dilakukan dengan motivasi rohani, integritas, dan ketundukan pada kehendak Tuhan, bukan dengan pendekatan manuver politik kekuasaan alias politicking:

1. Prinsip Alkitabiah dalam Memilih Rekan Pelayanan

Alkitab menunjukkan bahwa pemimpin rohani sering tidak melayani sendirian. Mereka didampingi oleh orang-orang yang memiliki karunia dan panggilan yang saling melengkapi.

Beberapa contoh Alkitab: Musa memiliki Harun dan Hur yang menopang pelayanannya., di mana “Harun dan Hur menopang kedua tangan Musa, seorang di sebelah sini dan seorang di sebelah sana.” (Keluaran 17:12). Yesus sendiri memilih dua belas murid untuk berjalan bersama-Nya dalam pelayanan. Paulus memiliki rekan pelayanan seperti Timotius, Titus, Silas, dan Lukas. Prinsip ini menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani bersifat kolaboratif, bukan individualistik. Menurut ahli kepemimpinan rohani J. Oswald Sanders menjelaskan dalam Spiritual Leadership, bahwa pemimpin rohani yang efektif memahami bahwa pelayanan adalah kerja tim yang dipersiapkan Tuhan, bukan semata hasil strategi manusia (hal. 45-47).

2. Boleh Memikirkan Rekan Pelayanan, Dengan Beberapa Catatan

Seorang yang terpanggil memimpin boleh mulai mendoakan dan mempertimbangkan siapa yang dapat mendampinginya, namun harus menjaga kemurnian proses.

a. Tidak Membentuk Koalisi: Pertimbangan tersebut tidak boleh berubah menjadi koalisi politik yang mengatur kekuatan atau dukungan. Firman Tuhan ingatkan, “Janganlah kamu melakukan sesuatu karena kepentingan sendiri atau karena puji-pujian yang sia-sia.” (Filipi 2:3). Koalisi biasanya didasarkan pada kepentingan kekuasaan, sedangkan pelayanan harus didasarkan pada panggilan dan kehendak Tuhan.

b. Tidak Menjanjikan Jabatan: Boleh menyampaikan bahwa seseorang dipertimbangkan dan didoakan, tetapi tidak boleh dipastikan posisinya. Hal ini penting karena kepemimpinan gereja bukan hasil transaksi. Penetapan akhir tetap melalui proses bersama dan pimpinan Tuhan, karena “Rancangan di hati manusia itu banyak, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21)

c. Tidak Memberikan Uang atau Fasilitas untuk Mendapat Dukungan: Memberikan uang transportasi, akomodasi, atau uang saku dengan tujuan mempengaruhi proses pemilihan merupakan bentuk manipulasi yang tidak sesuai dengan etika pelayanan, di mana prinsipnya, “Gembalakanlah kawanan domba Allah… jangan karena mau mencari keuntungan.” (1 Petrus 5:2). Menurut John Maxwell, kepemimpinan yang sehat dibangun atas pengaruh moral dan karakter, bukan atas transaksi atau keuntungan pribadi (Developing the Leader Within You, hal. 95-99).

d. Membuat Beberapa Alternatif Nama untuk Didoakan: Seorang calon pemimpin dapat menuliskan beberapa nama dan kemudian mendoakannya secara khusus. Perlu meminta hikmat Tuhan, karena “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah.” (Yakobus 1:5). Di sini penting juga mendengarkan masukan badan formatur yang dibentuk dalam konferensi.

e. Memilih Berdasarkan Karunia, Bukan Popularitas: Dalam pelayanan rohani, karunia lebih penting daripada popularitas. Pemimpin yang bijak akan mempertimbangkan karunia rohani, karakter, kesetiaan, integritas. Ahli kepemimpinan Kristen Henry & Richard Blackaby menegaskan dalam Spiritual Leadership bahwa: Tuhan tidak mencari orang yang paling populer, tetapi orang yang paling siap dipakai-Nya (hal. 103-108).

f. Berdoa Secara Khusus: Proses memilih rekan pelayanan harus dilandasi doa. Contoh Alkitab: “Mereka berdoa: Ya Tuhan, Engkau yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih.” (Kisah Para Rasul 1:24). Doa menjaga agar keputusan tetap berada dalam pimpinan Roh Kudus.

g. Siap Jika Terpilih atau Tidak Terpilih: Kerendahan hati adalah tanda kedewasaan rohani. Diingatkan, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. (Yakobus 4:10). Pemimpin rohani harus siap jika dipercaya memimpin maupun jika tidak terpilih. Karena panggilan melayani tidak selalu identik dengan posisi.

h. Jangan Melakukan Black Campaign: Menjatuhkan orang lain untuk meningkatkan diri sendiri bertentangan dengan kasih Kristen. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu.”(Efesus 4:29). Menurut Peter Scazzero dalam Emotionally Healthy Leadership: Kepemimpinan rohani yang sehat tidak dibangun dengan menjatuhkan orang lain, tetapi dengan karakter yang memuliakan Tuhan (hal. 52-57).

3. Refleksi Penutup

Seorang yang terpanggil memimpin boleh memikirkan dan mendoakan siapa yang akan mendampinginya, tetapi proses tersebut harus dilakukan dengan hati yang murni, integritas rohani, tanpa manipulasi, tanpa transaksi, dan tanpa ambisi politik.

Pada akhirnya, kepemimpinan rohani adalah soal ketaatan kepada Tuhan, bukan hanya strategi organisasi. Pemimpin yang berjalan dalam prinsip ini akan melihat bahwa Tuhan sendiri yang akan menyusun tim pelayanan yang tepat pada waktunya.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

(Daniel Ronda)

23/03/2026

Renungan Kepemimpinan:

Siap Dipilih dan Siap Tidak Terpilih

Dalam banyak organisasi, termasuk gereja dan pelayanan, proses pemilihan pemimpin sering menjadi momen yang penuh harapan. Tidak jarang ada orang yang sangat ingin untuk terpilih. Mereka bekerja keras, mempersiapkan diri, bahkan menaruh harapan besar pada hasil pemilihan. Namun ketika tidak terpilih, muncul kekecewaan, rasa tersingkir, atau bahkan keengganan untuk tetap terlibat.

Di sinilah kedewasaan kepemimpinan diuji. Pemimpin sejati adalah orang yang siap dipilih, tetapi juga siap tidak terpilih. Ia bersedia memimpin ketika dipercaya, tetapi juga tetap setia membantu ketika orang lain yang dipilih.

Alkitab mengingatkan bahwa jabatan bukanlah inti dari kepemimpinan. Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26). Prinsip ini menjelaskan bahwa motivasi kepemimpinan sejati berakar pada sikap melayani, bukan pada posisi atau kedudukan.

Karena itu, seseorang yang tidak terpilih sebenarnya tidak kehilangan panggilan untuk memimpin. Ia tetap dapat memberi pengaruh melalui karakter, teladan hidup, dan kesediaan untuk mendukung pemimpin yang ada. Kepemimpinan adalah pengaruh yang lahir dari kehidupan, bukan karena mendapat jabatan struktural.

Alkitab juga memberi contoh sikap hati yang benar soal posisi. Yohanes Pembaptis menunjukkan kerendahan hati luar biasa ketika pelayanan Yesus secara publik dimulai. Ia berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Yohanes tidak merasa tersaingi atau kehilangan identitasnya. Ia memahami bahwa panggilannya adalah mempersiapkan jalan bagi yang lain.

Sikap seperti ini penting bagi seorang pemimpin. Ambisi untuk melayani adalah sah-sah saja, tetapi ambisi untuk mendapatkan jabatan bisa menjadi berbahaya jika tidak disertai keyakinan bahwa jabatan adalah pemberian Tuhan. Jika seseorang merasa identitasnya runtuh hanya karena tidak terpilih, kemungkinan besar ia telah mengaitkan harga dirinya dengan posisi tersebut.

Selain siap tidak terpilih, pemimpin juga harus siap untuk turun dari jabatan. Setiap kepemimpinan ada musimnya. Ada waktu untuk memimpin di depan, tetapi ada juga waktu untuk memberi ruang kepada orang lain.

Contoh yang baik diberikan Musa dan Yosua. Musa memimpin Israel dengan setia selama bertahun-tahun, tetapi pada akhirnya ia mempersiapkan Yosua untuk melanjutkan kepemimpinan (Ulangan 31:7–8). Musa tidak mempertahankan posisi itu selamanya. Ia memahami bahwa kepemimpinan adalah amanat Tuhan yang harus diestafetkan kepada orang lain.

John C. Maxwell pernah menulis, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” Kepemimpinan sejati tidak bergantung pada jabatan, tetapi pada kehidupan yang memberi arah dan teladan bagi orang lain.

Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukanlah apakah seseorang terpilih atau tidak, melainkan bagaimana sikap hatinya dalam setiap era pergantian kepemimpinan. Pemimpin sejati tetap melayani, tetap setia, dan tetap menerima rencana Tuhan, karena ia tahu bahwa kepemimpinan bukan soal kursi jabatan yang diduduki, tetapi karakter yang dihidupi! - Daniel Ronda

23/03/2026

Tema: Bertumbuh dalam KesabaranPembicara: Pdt. I Ketut Sudira, M. Th.Staff Gembala GKII Bungkulan Gembala Pos PI SembiranTim Kreatif Media Digital: Rolyvan, ...

23/03/2026

Tema: Gereja yang Melakukan MisiPembicara: Pdt. Putu Markus Arimbawa, S. Th.Gembala GKII PancasariTim Kreatif Media Digital: Rolyvan, Gelvyn, Vivi, Gaby, Ald...

23/03/2026

Tema: Mengasihi yang Sulit DikasihiPembicara: Vic. Brian Marpay, M. Th.Staf Gembala GKII Bukit Shalom Ubud, BaliWakil Sekretaris Departemen Pemuda GKIITim Kr...

Address

Denpasar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komisi Litbang & Media Digital GKII Daerah Bali posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Komisi Litbang & Media Digital GKII Daerah Bali:

Share