23/03/2026
Renungan Kepemimpinan:
Menyiapkan Pendamping Pelayanan Tanpa “Politicking”
Tidak lama lagi gereja kita akan memilih pemimpin, baik tingkat Pusat, Wilayah, dan Daerah/Klasis. Ada isu penting dalam kepemimpinan manakala seseorang terpanggil dan kemudian dicalonkan memimpin dalam pelayanan atau organisasi gerejawi, yaitu muncul pertanyaan: bolehkah ia mulai memikirkan siapa yang akan mendampinginya dalam pelayanan?
Jawabannya boleh, namun harus dilakukan dengan motivasi rohani, integritas, dan ketundukan pada kehendak Tuhan, bukan dengan pendekatan manuver politik kekuasaan alias politicking:
1. Prinsip Alkitabiah dalam Memilih Rekan Pelayanan
Alkitab menunjukkan bahwa pemimpin rohani sering tidak melayani sendirian. Mereka didampingi oleh orang-orang yang memiliki karunia dan panggilan yang saling melengkapi.
Beberapa contoh Alkitab: Musa memiliki Harun dan Hur yang menopang pelayanannya., di mana “Harun dan Hur menopang kedua tangan Musa, seorang di sebelah sini dan seorang di sebelah sana.” (Keluaran 17:12). Yesus sendiri memilih dua belas murid untuk berjalan bersama-Nya dalam pelayanan. Paulus memiliki rekan pelayanan seperti Timotius, Titus, Silas, dan Lukas. Prinsip ini menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani bersifat kolaboratif, bukan individualistik. Menurut ahli kepemimpinan rohani J. Oswald Sanders menjelaskan dalam Spiritual Leadership, bahwa pemimpin rohani yang efektif memahami bahwa pelayanan adalah kerja tim yang dipersiapkan Tuhan, bukan semata hasil strategi manusia (hal. 45-47).
2. Boleh Memikirkan Rekan Pelayanan, Dengan Beberapa Catatan
Seorang yang terpanggil memimpin boleh mulai mendoakan dan mempertimbangkan siapa yang dapat mendampinginya, namun harus menjaga kemurnian proses.
a. Tidak Membentuk Koalisi: Pertimbangan tersebut tidak boleh berubah menjadi koalisi politik yang mengatur kekuatan atau dukungan. Firman Tuhan ingatkan, “Janganlah kamu melakukan sesuatu karena kepentingan sendiri atau karena puji-pujian yang sia-sia.” (Filipi 2:3). Koalisi biasanya didasarkan pada kepentingan kekuasaan, sedangkan pelayanan harus didasarkan pada panggilan dan kehendak Tuhan.
b. Tidak Menjanjikan Jabatan: Boleh menyampaikan bahwa seseorang dipertimbangkan dan didoakan, tetapi tidak boleh dipastikan posisinya. Hal ini penting karena kepemimpinan gereja bukan hasil transaksi. Penetapan akhir tetap melalui proses bersama dan pimpinan Tuhan, karena “Rancangan di hati manusia itu banyak, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21)
c. Tidak Memberikan Uang atau Fasilitas untuk Mendapat Dukungan: Memberikan uang transportasi, akomodasi, atau uang saku dengan tujuan mempengaruhi proses pemilihan merupakan bentuk manipulasi yang tidak sesuai dengan etika pelayanan, di mana prinsipnya, “Gembalakanlah kawanan domba Allah… jangan karena mau mencari keuntungan.” (1 Petrus 5:2). Menurut John Maxwell, kepemimpinan yang sehat dibangun atas pengaruh moral dan karakter, bukan atas transaksi atau keuntungan pribadi (Developing the Leader Within You, hal. 95-99).
d. Membuat Beberapa Alternatif Nama untuk Didoakan: Seorang calon pemimpin dapat menuliskan beberapa nama dan kemudian mendoakannya secara khusus. Perlu meminta hikmat Tuhan, karena “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah.” (Yakobus 1:5). Di sini penting juga mendengarkan masukan badan formatur yang dibentuk dalam konferensi.
e. Memilih Berdasarkan Karunia, Bukan Popularitas: Dalam pelayanan rohani, karunia lebih penting daripada popularitas. Pemimpin yang bijak akan mempertimbangkan karunia rohani, karakter, kesetiaan, integritas. Ahli kepemimpinan Kristen Henry & Richard Blackaby menegaskan dalam Spiritual Leadership bahwa: Tuhan tidak mencari orang yang paling populer, tetapi orang yang paling siap dipakai-Nya (hal. 103-108).
f. Berdoa Secara Khusus: Proses memilih rekan pelayanan harus dilandasi doa. Contoh Alkitab: “Mereka berdoa: Ya Tuhan, Engkau yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih.” (Kisah Para Rasul 1:24). Doa menjaga agar keputusan tetap berada dalam pimpinan Roh Kudus.
g. Siap Jika Terpilih atau Tidak Terpilih: Kerendahan hati adalah tanda kedewasaan rohani. Diingatkan, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. (Yakobus 4:10). Pemimpin rohani harus siap jika dipercaya memimpin maupun jika tidak terpilih. Karena panggilan melayani tidak selalu identik dengan posisi.
h. Jangan Melakukan Black Campaign: Menjatuhkan orang lain untuk meningkatkan diri sendiri bertentangan dengan kasih Kristen. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu.”(Efesus 4:29). Menurut Peter Scazzero dalam Emotionally Healthy Leadership: Kepemimpinan rohani yang sehat tidak dibangun dengan menjatuhkan orang lain, tetapi dengan karakter yang memuliakan Tuhan (hal. 52-57).
3. Refleksi Penutup
Seorang yang terpanggil memimpin boleh memikirkan dan mendoakan siapa yang akan mendampinginya, tetapi proses tersebut harus dilakukan dengan hati yang murni, integritas rohani, tanpa manipulasi, tanpa transaksi, dan tanpa ambisi politik.
Pada akhirnya, kepemimpinan rohani adalah soal ketaatan kepada Tuhan, bukan hanya strategi organisasi. Pemimpin yang berjalan dalam prinsip ini akan melihat bahwa Tuhan sendiri yang akan menyusun tim pelayanan yang tepat pada waktunya.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)
(Daniel Ronda)