18/01/2022
🙏😊
🍀
‘Yen cening timpuge aji tai, timpug ya aji bunga’
demikian pesan alm. Ida Pedanda Istri Mas Manuaba Siddhanta.
Di sepanjang hayatnya, almarhum saat walaka, bernama Ida Ayu Putu Berati, mengabdikan dirinya kepada keluarga dan lingkungannya. Beliau seorang pejuang handal pada jamannya, veteran dari Abiansemal, Badung.
Takdir mengantar perempuan sederhana ini, menjalani hidupnya disunting oleh Ida Bagus Meregeg (sulinggih; Ida Pedanda Gede Manuaba Siddhanta) bersama di ranah pengabdian untuk alam semesta.
Perempuan yang membiasakan dirinya ‘menginang’, mengikhlaskan dirinya mengabdi hampir setengah abad merawat pura Jagatnatha di Denpasar, yang merupakan cikal bakal berdirinya pura Jagatnatha di kabupaten Bali.
Dari tatapan damainya, beliau bertutur, menjadi saksi saat alm. suaminya Ida Bagus Meregeg, berhasrat mewujudkan tempat persembahyangan bersama untuk seluruh pendatang dan masyarakat yang berdomisili di Denpasar, di awal tahun 1960.
Ide yang sederhana ini dirangkum bersama I Gusti Ngurah Pindha, Anak Agung Ngurah Ketu, I Nengah Sudarma, Ida Bagus Sena, Ida Bagus Gunada, Ida Bagus Mantra dan sahabat sahabat sehati beliau.
Dengan kesadaran penuh, Bapak Gubernur Bali saat itu, Anak Agung Bagus Sutedja memfasilitasi tanah untuk penempatan pura.
Sepanjang sejarah perwujudan pura Jagatnatha, yang didesign oleh Anak Agung Ketut Anggara, tak banyak yang mengetahui, bahwa pembangunan pura ini dibangun oleh keikhlasan hati seluruh masyarakat Bali.
Dari Tanjung Benoa, menghaturkan batu karang putih, menjadi Padmasana Petak.
Dari Luwus dan Pelaga, menghaturkan madu, menjadi perekat Padmasana, menjulang tinggi menjadi pusat pemujaan.
Dari Bondalem, menghaturkan hasil jeruk untuk pembelian emas, menjadi keseimbangan Acintya di puncak Padmasana Petak.
Demikian juga dari berbagai lapisan masyarakat daerah bergantian menghaturkan hasil pangan bagi para pekerja yang saling melengkapi untuk terwujudnya pura pemersatu kebersamaan.
Jagatnata (Dewanagari: जगन्नाथ; IAST: jagannātha; ‘penguasa’ [nātha] ‘dunia’ [jagat]) dimaknai untuk pemujaan Dewa Wisnu, Sang Perawat Hidup.
Pura yang memiliki keunikan tersendiri, dikelilingi oleh kolam air, menjadi simbul sumber kehidupan, kini berdiri anggun seanggun hati sang pemrakarsa.
Ibunda dari Ida Pedanda Istri Oka Telaga (welaka Ida Ayu Sasih) mengembalikan nafasnya pada Sang Maha Muasal, Sang Hyang Maha Urip di tahun 2010 pada fajar usai beliau menghaturkan ‘Nyurya Sewana’, persembahan terakhir pada kehidupannya saat itu, untuk Sang Matahari…sang perawat kehidupan.
🙏🍀🧚♀️❄️🥰
Repost