Lesbumi Bali

Lesbumi Bali Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Lesbumi Bali, Religious Center, Denpasar.

Makam Dirawat Bersama oleh Keluarga Hindu dan Konghucu* Keunikan Makam Syeh Hasan-Banten di Pekarangan Rumah Krama Bali ...
05/09/2021

Makam Dirawat Bersama oleh Keluarga Hindu dan Konghucu
* Keunikan Makam Syeh Hasan-Banten di Pekarangan Rumah Krama Bali di Banjar Sangging, Kelurahan Gianyar
www.nusabali.com-makam-dirawat-bersama-oleh-keluarga-hindu-dan-konghucu
NusaBali.com - Made Rusmini (pemeluk Konghucu) harturkan sesajen di pusara Makam Syeh Hasan-Banten di banjar Sangging, Kelurahan Gianyar, Senin (25/5). .
Mereka yang merawat dan haturkan sesajen saban hari di Makam Syeh Hasan-Banten adalah keluarga Dewa Putu Suastika (Hindu) dan keluarga Made Atimbawa (Konghucu)

GIANYAR, NusaBali

Di Banjar Sangging, Kelurahan Gianyar, Kecamatan Gianyar terdapat sebuah makam kuno bernama Makam Syeh Hasan-Banten. Makam yang diperkirakan sebagai kuburan jenazah salah seorang tokoh Muslim ini berada di pekarangan krama Hindu setempat, Dewa Putu Suastika, 42. Uniknya, makam ini dirawat oleh keluarga Dewa Putu Suastika dan dijaga keluarga pemeluk Konghucu di Banjar Sangging, Made Arimbawa (almarhum).

Tak salah jika keberadaan Makam Syeh Hasan-Banten ini disebut sebagai salah satu wujud toleransi pemeluk agama berbeda: Islam, Hindu, dan Konghucu. Namun, tidak banyak orang tahu tentang lokasi makam ini. Pasalnya, untuk menuju lokasi Makam Syeh Hasan, lebih dulu harus melintasi gang sempit di sebelah utara Pura Penataran.

Lokasi Makam Syeh Hasan ini berada di kawasan Jalan Kapten Dipta Gianyar, sekitar 200 meter arah selatan dari Lapangan Astina Gianyar menuju Kelurahan Abianbase. Makam ini dibangun di atas pekarangan seluas 2 are milik keluarga Dewa Putu Suastika. Makam ini hanya berbatas tembok di belakang bangunan rumah keluarga almarhum Made Arimbawa, pemeluk Koghucu.

Pantauan NusaBali. luas bangunan Makam Syeh Hasan berbentu persegi empat ukuran 5 meter x 5 meter. Posisi bangunan ini menyudut di pojok barat laut pekarangan. Sedangkan luas kamar makam berbentuk persegi panjang dengan ukuran 5 meter x 3,5 meter.

Makam Syeh Hasan ini berundak tiga, membentang utara-selatan, dengan panjang 2,5 meter, di mana posisi kepala di utara. Di bagian depan bangunan makam ada tempat wudhu dan amben (halaman seluas 5 meter x 1,5 meter). Di tembok makan terdapat tulisan Makam Syeh Hasan-Banten. Semenrara di sisi timur bangunan makam, yang berjarak hanya sejengkal, terdapat Merajan Kemulan berisi palinggih lengkap.

Ketika NusaBali berkunjung ke Makam Syeh Hasan, Senin (25/5) siang, istri almarhum Made Arimbawa, Made Rusmini, 69, tengah menghaturkan sesajen di makam ini. Menurut Made Rusmini, tidak ada catatan sejarah yang pasti tentang Makam Syeh Hasan. Setahunya, makam ini dirawat oleh mertuanya (semasih hidup), Made Tiksna alias The Tjing Tik.

Berdasarkan penuturan para tetua yang pernah didengarnya, kata Rusmini, Makam Syeh Hasan terkait dengan perkembangan Islam di Kabupaten Gianyar, khususnya di Kampung Muslim Sindu, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh yang berjarak sekitar 4 km arah selatan dari posisi makam. “Saya sempat mendengar cerita kalau tokoh Muslim ini (Syeh Hasan, Red) meninggal karena sakit saat penyebaran agama Islam. Beliau meninggal di tempat ini dan langsung dimakamkan di sini,” cerita perempuan berusia 69 tahun ini.



Terkait nama makam yakni ‘Makam Syeh Hasan-Banten’, menurut Rusmini, karena Syeh Hasan gerasal dari Banten. Ini diketahui atas petunjuk tiga paranormal yang sempat ditanya almarhum suaminya, Made Arimbawa.

“Makam ini dirawat oleh keluarga sejak mertua saya masih hidup. Maka, kami pun melanjutkannya. Kami setiap hari menghaturkan sesajen jenis kue dan wangi d**a. Kami berdoa di pusara makam secara Konghucu. Kami hanya mohon agar diberi keselamatan,” papar Rusmini.

Selain keluarga Made Atrimbawa, keluarga Dewa Putu Suastika juga merawat Makam Syeh Hasan. Setiap hari, keluarga Dewa Suastika menghaturkan sesaji di makam yang berada di pekarangan rumahnya ini. Kebetulan, Makam Syeh Hasan berada dalam satu natah (pekarangan) dan berhadap-hadapan dengan rumah Dewa Suastika.

Dewa Suastika menjelaskan, lahan pekarangan seluas 2 are yang ditempati dan berisi Makam Syeh Hasan ini merupakan tanah ayahan desa milik Banjar Adat Sangging, namun awalnya tidak ada yang menempati. Karena tanah kosong, kemudian 11 krama Banjar Sangging, termasuk orangtua Dewa Suastika, mohon tanah itu untuk dijadikan tempat tinggal.



Dari hasil undian bersama 11 krama lainnya, ayah Dewa Suastika yang beruntung dapat jatah untuk menempati tanah tersebut. Selanjutnya, Dewa Suastika bersama keluarga kecilnya tinggal di tanah berisi Makam Syeh Hasan ini sejak tahun 2015. “Sebelumnya, saya tinggal di Denpasar, karena orangtua saya tidak punya rumah di Gianyar,” ungkap Dewa Suastika didampingi sang istri, Jero Ketut Deniasih, 39, saat ditemui NusaBali di rumahnya, Senin lalu.

Sementara, Jero Ketut Deniasih mengatakan saat awal-awal tinggal di pekarangan berisi Makam Syeh Hasan ini, dirinya merasakan aura angker. Maklum, pekarangn termasuk makam sebelumnya kurang terawat dan banyak tumbuhan liar. Beberapa kali sempat tercium bau bau harum, terutama sore hari.

“Bahkan, setiap Jumat, saya merasakan ada beberapa orang berbaju koko putih menuju pintu makam. Tapi, setelah saya pastikan, tidak kelihatan apa-apa. Ini bukan mimpi,” kenang perempuan asal Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Bangli ini.

Guna mencegah ketakutan berkepanjangan dan agar terhindar dari hal-hal gaib, Jero Ketut Deniasih sempat mendatangkan orang pintar ke Makam Syeh Hasan. Dari hasil penerawangan orang pintar, makam ini adalah kuburan jenazah seorang kakek. Orang pintar juga menyampaikan roh jenazah itu mohon sajen pada rahina tertentu, yakni tiap Jumat Umanis, berupa air kembang, kopi, dan jaja basah.



Setelah petunjuk orang pintar diikuti dengan merawat Makam Syeh Hasan, Jero Ketut Deniasih mengaku tidak pernah lagi merasakan hal aneh-aneh di pekarangan rumahnya, baik siang maupun malam hari. Setiap hari, sebelum menyuguhkan sesajen di makam, Jero Ketut Deniasih juga menghaturkan banten saiban di Merajan Kemulan.

“Haturan di merajan tentu yang utama. Tiyang sangat bersyukur bisa menjalani hidup dengan keyakinan seperti ini dan diberikan kesehatan untuk keluarga. Kami juga baik-baik di sini,” tutur ibu tiga anak dari pernikahannya dengan Dewa Putu Suastika ini.

Jero Ketut Deniasih juga mengaku hampir setiap hari membersihkan kamar Makam Syeh Hasan hingga halaman depan. Namun, kegiatan rutin ini tidak dilakukan jika sedang datang bulan (menstruasi).

Menurut Jero Deniasih, suatu ketika pernah anaknya yang masih bayi ngambek karena sakit. Saat itu p**a dia menaruh air putih dalam gelas di pusara Makam Syeh Hasan. Dia berucap-ucap agar Mbah Syeh Hasan memberikan obat kesembuhan anaknya. “Ajaib, ternyata setelah minum air putih tersebut, anak saya perlahan sembuh. Saya percaya cerita orang bahwa Mbah Syeh Hasan dulunya seorang dukun,” terang Jero Deniasih.

Jero Deniasih menyebutkan, Makam Syeh Hasan di pekarangan rumahnya ini sering didatangi warga Muslim dari luar Gianyar, untuk berziarah. Bahkan, ada warga Muslim dari Jawa yang mengaku terpanggil untuk berziarah ke Makam Syeh Hasan.

Suami Jero Deniasih, Dewa Putu Suastika, mengatakan jika nanti punya cukup biaya, dia akan merehab bangunan Makam Syeh Hasan itu. “Kami akan rehab terutama atap, pintu, dan jendela makam yang sudah rusak parah. Kalau hujan, atapnya pasti bocor,” ungkap Dewa Suastika, yang kesehariannya karyawan bagian operator sebuah perusahaan taksi di Denpasar.

Sementara itu, Ketua Yayasaan Nurul Hikmah Kabupaten Gianyar, Abdul Muhri Mulyono, 64, mengaku sering mendengar informasi soal Makam Syeh Hasan tersebut. Namun, sejak tinggal menetap di Lingkungan Panglan, Banjar Pasdalem Kelod, Kelurahan Gianyar, 5 Januari 1980, Abdul Muhri belum pernah datang ke makam ini. “Saya juga tidak tahu sejarah keberadaan Makam Syeh Hasan,” ujar tokoh Muslim asal Desa Taman Sari, Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur ini kepada

Media Berita Bali Online

Tradisi Kenduren, Tujuan dan Asal UsulnyaBeberapa daerah di pedesaan jawa memang masih banyak yang tetap memegang teguh ...
05/09/2021

Tradisi Kenduren, Tujuan dan Asal Usulnya

Beberapa daerah di pedesaan jawa memang masih banyak yang tetap memegang teguh tradisi dari nenek moyangnya. Meski bentuknya ada yang dimodifikasi mengikuti tuntutan zaman, nilai ritual yang ada tetap dipertahankan sebagaimana yang telah ada. Tradisi-tradisi yang ada memang erat kaitannya dengan peranan Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di jawa.

Mereka memodifikasi tradisi yang ada agar selaras dengan ajaran agama Islam namun tetap sesuai dengan kultur yang ada di jawa. Salah satu di antara tradisi-tradisi tersebut adalah kenduren (kenduri), kendurenan atau ada juga yang menyebut kepungan.

Tradisi kenduren adalah tradisi yang sudah turun temurun dilakukan dari zaman dahulu. Kenduren adalah acara kumpul bersama yang diselenggarakan oleh warga yang punya hajat dengan mengundang kerabat atau tetangga untuk ikut mendoakan agar segala sesuatu yang dihajatkan dari pihak tuan rumah atau penyelenggara lekas dikabulkan oleh Tuhan.

Selain permohonan hajat, inti dari acara kenduren yang utama adalah doa bersama dalam memperingati kematian seseorang. Doa bersama yang dilaksanakan ini merupakan permohonan agar dosa-dosa orang yang didoakan mendapat ampunan dari Tuhan.

Dalam lingkup yang lebih luas, kenduren juga diadakan saat merayakan peringatan tertentu, seperti muludan, rajaban dan lain-lain. Biasanya untuk acara seperti ini kendurenan akan diselenggarakan di masjid atau ruangan terbuka. Acara kendurenan, apapun bentuknya, biasanya dipimpin oleh seorang kiyai, pemuka agama yang alim atau sesepuh yang dituakan di lingkungan tersebut.

Jika dicermati, acara kendurenan yang masih lestari di daerah-daerah pedesaan ini erat kaitannya dengan upacara selametan. Sehingga bisa dikatakan bahwa kendurenan juga merupakan bagian dari selametan atau pun juga keduanya adalah hal yang sama.

Dalam acara kendurenan di lingkup kecil atau di rumah warga, acara akan dimulai setelah kerabat atau tetangga yang diundang telah hadir. Acara kendurenan biasanya akan dimulai dengan diawali sambutan dari perwakilan tuan rumah atau shohibul hajat yang menjelaskan tujuan doa bersama dilaksanakan.

Setelah itu kemudian acara kendurenan diisi dengan pembacaan doa tahlil atau pembacaan surat yasin dan tahlil sebagaimana yang dikehendaki oleh tuan rumah. Oleh karenanya, acara kenduren seperti ini biasa disebut juga dengan istilah tahlilan atau yasinan.

Pembacaan doa yang dipimpin oleh seorang kiyai ini akan diikuti oleh seluruh warga yang hadir pada acara kendurenan ini. Selesai pembacaan doa, acara ditutup dengan makan bersama dan pembagian berkat.

Pada masa lalu, bentuk berkat yaitu makanan beserta lauk lengkap sederhana ala jawa yang dikemas dalam besek (di daerah saya disebut pithi), yaitu wadah yang terbuat dari anyaman bambu segi empat.

Sedangkan pada masa kini, berkat biasanya dikemas dalam cething plastik, dan adakalanya juga isi berkat pada masa kini masih bentuk makanan mentah yang belum diolah. Berkat inilah yang dibawa p**ang oleh masing-masing tamu undangan setelah selesai acara selametan atau kendurenan.

Tujuan Kenduren

Tujuan doa bersama dalam kenduren atau selametan biasanya merupakan bentuk dari upacara-upacara berikut ini:

a. Kenduren Mitoni

Tujuan kenduren mitoni adalah doa bersama untuk memperingati kehamilan atas anak yang masih dalam kandungan dan berumur kurang lebih tujuh bulan.

b. Kenduren Puputan

Tujuan kenduren puputan adalah doa bersama untuk memperingati terlepasnya tali pusar anak. Biasanya dilakukan sebelum anak berumur selapan atau kalau tali pusarnya terlepas.
c. Kenduren Syukuran

Tujuan kenduren syukuran adalah doa bersama untuk mengucapkan rasa syukur karena harapan yang diinginkan telah tercapai. Misal lulus ujian kerja, jadi PNS, beli mobil atau motor baru dan lain-lain. Kenduren diadakan dengan bersedekah kepada masyarakat sekitar.

d. Kenduren kematian

Kenduren ini ditujukan sebagai do'a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kendurenan atau selametan tersebut. Kenduri jenis ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yakni: kenduren/selametan hari wafatnya seseorang hari ke-3(Telung dinanan), ke-7 (Pitung dinanan), ke-40 (Patang puluh dina), ke-100 (Nyatus), dan ke-1000 (Nyewu).

Dalam lingkup masyarakat luas, kenduren juga biasa diadakan dengan tujuan doa bersama misalnya saat memperingati Muludan (maulid Nabi), Rajaban, Suronan (10 muharram), likuran (pada hari ke 21 bulan Ramadhan), badanan (idul fitri & idul adha) dan sebagainya.

Sebetulnya, praktek kenduren atau selametan di berbagai daerah, khususnya di jawa, ada sedikit perbedaan, baik dalam bentuk nama (misal ada yang menyebut kepungan), pelaksanaan atau menu yang disajikan. Namun semuanya memiliki substansi yang sama yaitu doa bersama.

Doa yang dilakukan secara bersama-sama ini juga sejatinya bukan hanya untuk mendoakan yang punya hajat(tuan rumah) saja, tetapi juga berdoa bagi hajat semua yang hadir dalam acara kendurenan. Acara doa bersama dalam kenduren inilah yang merupakan rancangan dari Walisongo pada masa lalu kala menyebarkan Islam di tanah jawa.

Asal Usul Kenduren

Secara umum, banyak kalangan berpendapat bahwa tradisi kenduren merupakan hasil karya Walisongo dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat jawa agar lebih mudah dimengerti sesuai kultur yang sudah ada di jawa. Namun pendapat berbeda dikemukakan oleh pengamat budaya dan sejarah, Agus Sunyoto.

Menurutnya, tradisi kenduren (kenduri) pada saat peringatan kematian yang dilakukan oleh umat Islam di jawa bukanlah berasal dari tradisi kultur yang sudah ada di jawa (yakni pengaruh Hindu atau Budha). Menurutnya, dalam ajaran Hindu atau Budha tidak dikenal kenduren dan tidak p**a dikenal peringatan kematian pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000.

Menurut Agus, tradisi kenduren justru berasal dari tradisi orang-orang Muslim Campa (Kamboja) berfaham Syiah Persia yang datang mengungsi ke jawa pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi. Hal itu juga dikuatkan dengan asal muasal penyebutan istilah kenduren atau kenduri itu sendiri. Menurut Agus Sunyoto, sebutan kenduri merupakan kutipan dari bahasa Persia, yakni Kanduri, yang berarti upacara makan-makan saat memperingati Fatimah Az Zahroh, putri Nabi Muhammad SAW.

Menurut Agus, orang-orang Campa inilah yang biasa memperingati kematian seseorang pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Selain itu, orang-orang Campa juga biasa menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan data ini, dapat diketahui bahwa tradisi kenduren, termasuk upacara khaul adalah tradisi khas Campa yang kemudian diadopsi menjadi tradisi bagi jawa muslim. Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro, dan pembacaan kasidah-kasidah (berjanjen) dengan memuji-muji Nabi Muhammad juga menunjukkan keterkaitan tersebut.

Demikianlah sekilas tentang tradisi kendurenan. Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai asal usulnya, tradisi kenduren (kenduri) telah mewarnai ragam ritual masyarakat jawa dalam memperteguh keyakinan keberagamaan mereka.

Selain itu, dalam aspek sosial, tradisi kenduren juga nyata-nyata berfungsi sebagai sebuah mekanisme sosial untuk merawat keutuhan masyarakat, yakni dengan cara memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama warga masyarakat. Kenduren juga sekaligus memiliki fungsi untuk memperkuat tali silaturahim dan persatuan di antara umat Islam, khususnya mereka yang hadir dan mengikuti acara kendurenan

23/05/2021

INDONESIA TEMPAT KELAHIRAN AGAMA SIWA-BUDDHA

Oleh : Ardhana Wijaya Saputra

Indonesia merupakan tempat kelahiran agama baru, Siwa-Buddhagama. Dengan fakta ini kebudayaan Hindu Indonesia merupakan sebuah ramuan baru (a new blend) sebagai akibat dari pertemuannya dengan berbagai elemen asing (baca: India) maupun Nusantara dengan kemampuan adaptasi, selektivitas dan kreativitas para "local genius" bangsa Indonesia di masa lalu. Ramuan baru (new blend) yang demikian harmonis tidak hanya terjadi pada tataran "luar", seperti diwujudkan di dalam bentuk fisik, kesenian atau estetika yang dapat dilihat, diraba (tangible) tetapi juga pada tataran "dalam" dalam wujud yang tidak dapat dilihat, diraba (intangible) tetapi dirasakan dan diyakini ada, yaitu sistem metafisika, teologi, etika yang jelas. Ramuan baru (new blend) tadi terasa khas Indonesia karena identitas keduanya tidak hilang, tetapi secara bersama-sama menuju suatu konsep tertinggi yang disebut Sunya. Di Indonesia pengaruh-pengaruh India ditata kembali (restructure) sehingga ia membentuk suatu entitas budaya yang baru, segar, lahir dari perpaduan antara unsur Indonesia asli dan India.

Ajaran Siwa-Buddha yang merupakan perpaduan antara ajaran Siwa dan Buddha adalah sebuah produk khas "local genius" Nusantara yang tidak ditemukan di tempat lain. Kalaupun di tempat lain kedua agama ini bisa hidup berdampingan, seperti di Nepal, Tibet, Kashmir (India) dan lain-lain, di Indonesia (baca: Jawa) keduanya tidak hanya hidup berdampingan tetapi sudah menjadi berpadu dalam sistem metafisika, teologi dan agama yang bersistem jelas dan masih dipraktekkan oleh pemeluknya yang kebetulan sebagian besar hidup di Bali. Ungkapan "Siwa lawan Buddha tunggal" memperlihatkan kemanunggalan kedua agama ini. Antara Siwa dan Buddha tidak ada perbedaan. Di dunia ini hanya ada di Indonesia, khususnya di Bali dipelihara dan hidup sebagai agama yang tetap dipeluk oleh pemeluknya. Hal ini memperlihatkan adanya perkembangan pemikiran filsafat di dalam tradisi perjalanan hidup berdampingan kedua agama tersebut. Penyatuan ini sudah menyeluruh hampir seluruh bidang kehid**an. Peradapan Indonesia (Jawa) sejak abad ke-8 (Era Jawa Tengah) hingga akhir abad ke-14, yaitu ketika Majapahit (Era Jawa Timur) runtuh akibat masuknya kekuatan Islam dibangun di atas nilai-nilai kedua agama ini. Yang jelas, ketika Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi.

Apa yang sekarang disebut di Bali sebagai agama Hindu atau Hindu Dharma sesungguhnya adalah perkembangan lanjut ajaran Siwa-Buddha yang telah mempunyai sistem kepercayaan, religi, etika, filsafat, kitab suci, lembaga kependetaan, tempat suci, kebudayaan tersendiri, berbeda dari tradisi agama Hindu di tempat-tempat lain. Ajaran Siwa-Buddha adalah agama nenek moyang orang Jawa pada masa Jawa Kuno. Ajaran Siwa-Buddha Tantris hanya ada disini, di Indonesia, tidak ada lagi ditemukan di tempat lain. Hal ini sangat jelas memperlihatkan betapa para Rsi, Acharya, Mpu, di masa silam telah melahirkan sebuah karya yang agung di bidang agama, spiritual, seni, dan kebudayaan. Karya ini sungguh mengagumkan paling tidak bagi dia yang berjalan di jalan rohani dan bagi mereka yang masih bisa menghargai karya-karya besar leluhurnya atau bagi mereka yang masih tidak mau menghapus sejarah besar pendahulu-pendahulunya. Ajaran Siwa-Buddha ini sangat unik, khas dan telah melahirkan kebudayaan besar di sebuah negara yang besar p**a. Indonesia tempat kelahiran agama baru, "Siwa-Buddhagama". Nilai-nilai yang bersumber dari agama ini digunakan untuk membangun negara kebangsaan yang "Bhinneka Tunggal Ika", berbeda namun tetap satu. Ajaran agama mempromosikan pluralisme dalam segala aspek kehid**an.

Negara Indonesia adalah negara besar tidak hanya dari segi wilayah teritorialnya namun juga kebudayaannya. Oleh karena itu Indonesia adalah sebuah negara besar dan juga sebuah bangsa yang besar karena mempunyai dan mewariskan kebudayaan besar. Di sini peranan aksara dan sastra sangat menentukan arah kebudayaan Indonesia kedepan. Kesusastraan Indonesia ke depan semestinya mengambil roh nilai-nilai universal dari khasanah kesusastraan Nusantara.

Istilah "Siwa-Buddha" atau "Buddha-Siwa" dijumpai dalam sejumlah teks, seperti Sang Hyang Kamahayanikan, Negarakrtagama, Sutasoma, Arjuna Wiwaha dan lain-lain. Istilah "Siwa-Buddha" ini sebagai bentuk dwandwa. Buddha timbul dari adwaya dan adwayajñana (=Prajñaparamita) dalam adwaya yoga. Dalam S.H . 48 disebutkan: (am - ah = sanghyang adwaya) bapa sira de bhatara hyang Buddha ... sanghyang adwayajñana, sira ta dewi bharali Prajñaparamita ngaran ira. Sira ta ibu de bhatara hyang Buddha. Sang hyang diwarupa sira ta bhatara hyang Buddha ngaran ira. Sementara itu 'siwa' dan 'saiwa' begitu juga 'buddha' dengan 'bauddha' atau 'bodha' menarik dicermati. 'Siwa' adalah ajaran atau juga prinsip tertinggi, atau dewa; sementara 'saiwa' adalah pengikut ajaran Siwa. Demikian p**a halnya di dalam Buddhisme; 'buddha' adalah ajaran atau prinsip tertinggi atau dewa; sementara 'bauddha' atau 'bodha' adalah pengikut jalan Buddha.

Istilah Siwa-Buddha ini juga sering digabungkan dengan unsur-unsur Ta**ra, sehingga disebut "Siwa-Buddha Ta**ra. Dengan kata 'ta**ra' ini mencerminkan bahwa ajaran Siwa-Buddha ini juga sangat diwarnai oleh ajaran-ajaran Ta**ra, khususnya Wajrayana. Ada juga sarjana memberi istilah 'Siwa Ta**ra' dan 'Buddha Ta**ra'. Dengan kata 'ta**ra' ini mencerminkan baik Siwa maupun Buddha sudah bersifat Tantris, berbeda dari agama Buddha pada awalnya (earlier Buddhism).

Selanjutnya istilah ini digunakan untuk menyatakan penunggalan (unity) agama Siwa dan Buddha yang terjadi di Indonesia, khususnya para periode Jawa Tengah dan Jawa Timur dan hidup dan dijaga dengan baik di Bali. Warisan spiritual nenek moyang orang Jawa sejak abad ke-5 hingga ke-15 diamankan dan dikembangkan di Bali. Kita harus berterima kasih kepada Bali karena di sini warisan kesusastraan Jawa Kuno diamankan. Tidak saja diamankan tetapi dibaca, diapresiasi, dikaji dan dijadikan pedoman dalam praktek keagamaan dan sosial di Bali. Nilai-nilai bersumber dari ajaran ini dipakai menata kehid**an masyarakat Bali. Di Bali sampai kini Kakawin Arjuna Wiwaha termasuk karya yang kerap dibaca dalam perkump**an mabasan. Satu bait atau lebih dari Kakawin Arjuna Wiwaha digunakan pada upacara-upacara keagamaan, yang berhubungan dengan Dewayadnya (X) dan Pitrayadnya (XIII). Kesusastraan Jawa Kuno dalam bentuk kakawin maupun parwa sering dibaca, diterjemahkan dalam upacara-upacara keagamaan. Dengan demikian karya-karya tersebut cukup dikenal di Bali; masyarakat memberikan apresiasi yang tinggi terhadap karya-karya ini.

Apa yang disebut Hindu Dharma Indonesia sejak tahun 1959, yaitu sejak agama Hindu diakui secara formal oleh pemerintah Indonesia sebenarnya adalah perkembangan lebih lanjut ajaran Siwa-Buddha yang telah berkolaborasi dengan sekte-sekte dan juga dengan elemen-elemen asli Nusantara. Istilah ini sering dijumpai di dalam teks-teks kesusastraan Jawa kuno dan juga di dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja baik di Jawa maupun di Bali. Istilah inilah yang digunakan oleh para sarjana yang telah melakukan penelitian secara mendalam di dalam bidang ini.

Penelitian terhadap data-data prasasti Jawa dan Bali kuno dan teks-teks berbahasa Sanskerta, Kawi (Jawa Kuno) maupun Bali Kuno dan juga dengan memperhatikan tradisi yang masih hidup berkembang di masyarakat bahwa agama orang Bali bahkan juga Jawa pada masa Jawa Kuno dan Bali Kuno adalah Siwa-Buddhagama.

Siwaisme dan Buddisme yang lahir dari tradisi India kuno ternyata mengalami juga evolusi terutama pada tataran metafisika dan selanjutnya diikuti oleh perkembangan di bidang kebudayaan. Evolusi kearah penyatuan kedua agama ini justru terjadi di luar India. Indonesia adalah contoh yang baik untuk membuktikan bahwa spirit Hindu telah berkolaborasi dengan daya adaptibilitas dan kreativitas local genius setempat; membangun peradaban tersendiri yang berbeda dari tanah kelahirannya, India.

Evolusi kedua agama Siwa dan Buddha ini di masa lalu yang berjalan damai dan pasti menuju kepada penunggalan ini ternyata membedakan dirinya dari agama Hindu yang pernah ada di tempat lain, termasuk dari tanah kelahirannya, India (Bharata). Agama Hindu awal (Wedisme) berbeda dari agama Hindu zaman purana (puranic religion) yang ada sekarang. Demikian p**a agama Hindu yang bercorak Siwa-Buddha ini berbeda dengan agama Hindu yang perkembangannya terjadi belakangan, khususnya sejak dibentuknya majelis agama Hindu tertinggi, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), sebuah lembaga yang di-back up oleh pemerintah tahun 1959. Lembaga ini telah melakukan banyak reformasi sosial, budaya, keorganisasian untuk memperjuangkan agama Hindu setara dengan agama-agama lain yang diakui syah oleh pemerintah Indonesia. Reformasi dilakukan untuk menyingkirkan hal-hal yang bisa menghambat kemurnian agama yang bersumber dari Weda, wahyu Tuhan. Di lembaga ini berkumpul orang-orang pandai, pendeta, pemuka agama, akademisi, dan praktisi agama yang mengusung prinsip modernisasi, rasionalitas, hak-hak asazi manusia agar agama Hindu jauh dari kesan ajaran-ajaran sesat yang tidak berdasar apa-apa; juga agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat moderen. Agama Hindu perjuangan Parisadha ini terkesan berbeda paling sedikit paradigma yang diperjuangkan dengan agama Hindu yang dulunya ingin diperjuangkan.

Akhir-akhir ini agama Siwa-Buddha ini juga dihadapkan dengan semakin banyaknya mazab-mazab baru dari India datang dan berkembang di Indonesia yang semuanya mengusung nama besar Weda. Mazab-mazab tersebut masih baru yang lahir rata-rata setelah India merdeka dari kekuasaan Inggris tahun 1947. Agama yang ditawarkan adalah agama universal (universal religion) yang menekankan pada spiritualitas. Weda mendapatkan tanggapan dan penafsiran yang beragam. Pertarungan pikiran-pikiran filsafat tidak bisa dihindarkan. Umat Hindu Nusantara di era global ini menghadapi dan berjuang menghadapi usaha-usaha "konversi internal" dan "konversi eksternal".

Gencarnya pengaruh luar belakangan masuk ke Indonesia melalui berbagai media dan forum memungkinkan sekali terjadinya penguatan dan juga sebaliknya pelemahan terhadap agama Hindu yang dianut oleh sebagian bangsa Indonesia. Agama ini telah mengalami akulturasi dan asimilasi kebudayaan dalam waktu yang panjang hingga menjadi bentuknya sekarang. Ada semacam gerakan memurnikan ajaran agama Hindu agar mengacu kepada sumber tertinggi Weda; di pihak lain ada yang menganut pandangan bahwa agama Hindu bersifat fleksibel, luwes dan dinamis sehingga unsur-unsur lokal secara bersama-sama membentuk kebudayaan Hindu. Dengan demikian, agama Hindu Indonesia dihadapkan dengan berbagai tantangan baik dari kalangan internal maupun eksternal.

Bagaimana ajaran Siwa dan Buddha berevolusi sehingga menjadi ajaran Siwa-Buddha (Siwa-Buddha cult) menarik diteliti di dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan mendalam terhadap perjalanan sejarah agama Hindu di Indonesia sejak zaman kuno hingga sekarang.

OM Shanti.

PURA SAMUAN TIGASebelum berkembangnya agama Hindu seperti sekarang ini, di Bali terdapat banyak paham/sekte/paksa atau a...
23/05/2021

PURA SAMUAN TIGA

Sebelum berkembangnya agama Hindu seperti sekarang ini, di Bali terdapat banyak paham/sekte/paksa atau aliran2 kepercayaan.

Ada pun paham/sekte/paksa atau aliran2 kepercayaan tersebut, adalah :

1). Siva Sidhanta
2). Pasupata
3). Bhairawa
4). Waisnawa
5). Bodha (sogatha).
6). Brahma
7). Resi
8). Sora
9). Ganapatya

Disamping paham/sekte2 atau aliran2 kepercayaan tersebut, terdapat 6 (enam) lagi sekte Agama (Sad Paksa), yaitu :

1). Agama Sambu
2). Agama Brahma
3). Agama Indra
4). Agama Visnu
5). Agama Bayu
6). Agama Kala

Untuk mengatur kehid**an beragama masyarakat di Bali saat itu, Sri Udayana Warmadewa, selaku raja/Penguasa Bali, kemudian mengundang serta mendatangkan Mpu Kuturan alias Mpu Rajakretha dari Jawa ke Bali, yaitu pada Saka 923 atau tahun 1001 M, dan beliau kemudian ditunjuk menjadi Ketua "Majelis pakiran-kiran ijro makabehan" (Dewan Pertimbangan istana), dimana Majelis ini beranggotakan seluruh Senapati dan para Pandita Dang Acarya dan Dang Upadhyaya (Siva dan Buddha).

Dalam kapasitasnya selaku Ketua "Majelis pakiran-kiran ijro makabehan" tsb, Mpu Kuturan alias Mpu Rajakretha, kemudian mengundang semua paham/sekte atau aliran2 kepercayaan kepercayaan serta Sad Agama tsb untuk mengadakan "Pesamuhan Agung" (rapat akbar) di Kota Bataanyar (sekarang bernama : "Pura Samuan Tiga", Bedulu, Gianyar).

Pada "Pesamuhan Agung" tersebut diundang dan dihadiri oleh masing2 tokoh penganut kepercayaan dan pemeluk agama, dan kemudian dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :

1). Mpu Kuturan alias Mpu Rajakretha, disamping selaku Ketua Majelis "Pakiran-kiran ijro makabehan" dan pimpinan pesamuhan tersebut, juga sebagai wakil dari penganut agama Buddha.

2). Tokoh2 dari pimpinan orang2 Bali Aga, dari masing2 kepercayaan dan pemeluk agama yang terdiri dari Sad Paksa (enam sekte agama), dijadikan satu kelompok yang jumlahnya paling banyak.

3). Tokoh2 dan pimpinan agama Siva didatangkan dari Jawa, merupakan kelompok tersendiri.

Mereka yang hadir di dalam pesamuhan agung (rapat akbar) tersebut telah siap membawakan konsep dari masing2 kelompok, dimana Mpu Kuturan telah mendapatkan gambaran dan pada kesempatan tersebut disampaikan dalam sidang dengan mengungkapkan pokok2 agama.
Sebab itu Mpu Kuturan alias Mpu Rajakretha memandang perlu mengadakan perubahan2 dan mengatur kembali tatanan kehid**an dengan suatu peraturan, yaitu berdasarkan situasi dan kondisi serta aspirasi masyarakatnya.

Dalam pesamuhan agung tersebut kemudian menghasilkan kemupakatan yang menyangkut 5 (lima) keputusan pokok, yaitu :

1). Paham Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva) dijadikan dasar keagamaan, yang telah mencakup seluruh paham dan aliran agama yang berkembang di Bali kala itu.

2). Diadakan perubahan mengenai organisasi kemasyarakatan, yaitu dengan dibentuk wadah yang disebut "Desa Pakraman", dimana pada masing2 Desa Pakraman didirikan Kahyangan Tiga Desa, yaitu :

a). Pura Desa atau "Pura Bale Agung", yaitu tempat suci untuk memuliakan atau memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawa atau manifestasinya sebagai Dewa Brahma (Pencipta).

b). Pura Puseh (Pura Segara), yaitu tempat suci untuk memuliakan atau memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawa atau manifestasinya (perwujudannya) sebagai Dewa Visnu (Pemelihara).

c). Pura Dalem (ulun setra) yaitu tempat suci untuk memuliakan dan memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawa atau manifestasinya sebagai "Dewi Durga", yang merupakan 'sakti' (istri) Dewa Siva, dalam fungsinya sebagai "pamralina" (Pelebur).

Disamping hal tersebut, yaitu kewajiban untuk mendirikan bangunan suci (Pura) di Sawah, sebagai "penyungsungan" (pemujaan) krama (warga) Subak..

3). Keharusan bagi tiap2 rumah tangga untuk mendirikan palinggih (bangunan suci) berbentuk Rong Tiga (rong 3) atau disebut "Kemulan", yaitu sebagai tempat untuk memuja dan memuliakan rokh suci leluhur di Sanggah/Pemerajan.

4). Semua tanah pekarangan dan tanah2 yang terletak di sekitar Desa Pakraman dan Pura Kahyangan Tiga, adalah milik Desa Pakraman, yang berarti p**a milik pura Kahyangan Tiga, dan tanah2 tsb tidak boleh diperjual-belikan.

5). Adapun nama agama yang dianut oleh masyarakat Bali metika itu, adalah agama "SIVA BUDDHA".

Tempat pesamuhan agung ("pertemuan akbar") di Kota Bataanyar tsb, sekarang dikenal sebagai "Pura Samuan Tiga", yang bermakna "Pertemuan Tiga paham", yang berlokasi di Desa Bedulu, Gianyar.***

1

Address

Denpasar
80221

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lesbumi Bali posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share