04/05/2025
Sejak 1924, Syubbanul Wathon telah menorehkan sejarah panjang dalam menjaga negeri. Nama-nama berganti—PPNU, PNU, hingga ANO—namun jiwa mereka tetap padu, jadi penolong, pelindung, dan pelopor. “Ansor,” kata KH Abdul Wahab Chasbullah (1934), bukan sekadar gelar. Ia adalah doa sekaligus amanah dari para sahabat Nabi Muhammad saw. yang dahulu berdiri di garda depan perjuangan.
Banser, sebagai pasukan inti Ansor, adalah empu serba gunanya Indonesia. Kami, tak hanya sigap menjaga, tapi juga lugas merawat kehidupan. Dari membantu korban bencana, menjaga sesama dalam rumah ibadah, hingga ikut menanam dan menjaga pangan Nusantara.
Kami adalah kump**an orang yang berkhidmah, bukan mengintimidasi yang lemah. Kami tak hadir untuk gagah-gagahan. Kami ada agar rakyat merasa terlindungi, agar nilai luhur tetap tegak, dan agar marwah Indonesia terjaga demi kemanusiaan seutuhnya.
Karena kekuatan sejati tak berbunyi. Ia bekerja, dalam diam, dan p**ang tanpa pamrih (sepi ing pamrih, rame ing gawe).