23/08/2026
HIDUP DAN BERJALAN DALAM KEMULIAAN ALLAH
“23Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 24dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
Roma 3:23-24
Dalam kehidupan kita selama ini, kita telah menerima begitu banyak kasih karunia dan kebaikan Tuhan. Dan sekali lagi, bagian terbaik yang kita dapat lakukan sebagai manusia dalam hubungan kita dengan Allah adalah menerima, menikmati apa yang Allah berikan, dan mengucap syukur. Seperti yang juga telah kita pelajari, bagian Allah adalah untuk melayani, memberi, dan memberkati. Bahkan waktu sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan kita, karena Allah adalah Allah yang melayani, memberi, dan memberkati kita, maka Ia turut bekerja untuk mengubahkan segala yang buruk menjadi kebaikan dalam hidup kita. Karena itu, justru ketika kita mengalami yang buruk, maka pada waktu itulah kita dapat melihat pekerjaan Tuhan yang lebih besar lagi di dalam kehidupan kita. Kalau kita terus-menerus hidup dalam area kenyamanan kita, kemungkinan bisa jadi tidak ada pertumbuhan, iman kita tidak bertumbuh, pengenalan kita akan Tuhan juga tidak bertumbuh. Tetapi justru ketika melalui yang sesuatu buruk maka pengenalan kita akan Tuhan menjadi lebih lagi, yang membawa kita pada berkat dan kemuliaan yang lebih besar. Berdasarkan ayat di atas, apa yang menyebabkan manusia kehilangan kemuliaan Allah? Berbuat dosa! Jadi, sebelum manusia berbuat dosa, manusia memiliki kemuliaan Allah. Apa yang dimaksud dengan kemuliaan Allah? Dalam bahasa Yunani, kata “kemuliaan” menggunakan kata “doxa” yang artinya adalah “pandangan yang baik.” Mari kita belajar.
Tadinya, manusia memiliki pandangan yang baik dari Allah. Tetapi ketika mereka berdosa, mereka kehilangan pandangan yang baik dari Allah ini. Lebih buruknya, karena pandangan yang baik sudah hilang, manusia juga kehilangan pandangan yang baik “tentang” Allah. Namun puji Tuhan, Dia adalah Allah yang baik yang begitu mengasihi kita, sehingga Dia mau mengembalikan kemuliaan yang hilang dari kita dengan cara menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Yesus, sehingga Ia yang telah disempurnakan dapat memimpin kita kepada kemuliaan Allah—yang dalam kasih karunia Allah—dengan menderita dan mati di kayu salib ganti kita (Ibrani 2:5-10). Pertukaran tempat telah terjadi. Yesus yang memiliki pandangan yang baik, kemuliaan Allah, di dalam Dia tidak ada dosa, tidak mengenal dosa, dan tidak pernah berbuat dosa. Tetapi untuk waktu yang singkat Dia sedemikian direndahkan di kayu salib agar Dia dibuat menjadi dosa, kehilangan kemuliaan Allah. Dan karena hal ini, maka Bapa memandang Yesus sebagaimana layaknya orang yang berdosa, sehingga hukuman, ganjaran, dan konsekuensi pelanggaran hukum Taurat ditimpakan kepada-Nya, bahkan sampai mati, agar kemuliaan, kebenaran, yang dimiliki-Nya menjadi milik kita. Sekarang, di mata Allah, di mata Allah, saudara bukan lagi orang berdosa, melainkan orang benar. Dan hari ini, Allah memandang saudara sebaik Ia memandang Yesus. Artinya, kita memiliki kembali pandangan yang baik (kemuliaan) di hadapan Allah, dimahkotai kembali dengan mahkota kemuliaan dan hormat!
Ada begitu banyak orang Kristen yang lupa bahwa kemuliaan yang dimilikinya adalah pemberian. Karena itu mereka sering merasa dirinya lebih mulia, lebih baik dari orang lain. Ini tidak benar. Semua orang yang percaya memiliki kemuliaan yang sama, yaitu kemuliaan Yesus! Ingat baik-baik, kemuliaan yang anda miliki hari ini bukanlah hasil usahamu, melainkan pemberian Allah (Yohanes 17:22). Yesus memberikan kemuliaan yang diperoleh-Nya dari Bapa kepada kita. Kata “memberikan” di sini menggunakan bentuk waktu “perfect tense,” yang menyatakan “suatu kegiatan atau kejadian yang sudah selesai dilakukan,” tidak perlu diulang, dan berlaku selama-lamanya. Jadi, kemuliaan yang diberikan Yesus kepada kita berlaku satu kali untuk selama-lamanya, yaitu ketika Ia berada di kayu salib menggantikan posisi kita, di mana Ia menerima dosa kita dan dibuat menjadi dosa sehingga kehilangan kemuliaan Allah, agar hari ini saudara yang menerima dan percaya kepada Yesus dapat menerima kembali kemuliaan Yesus yang diterima-Nya dari Bapa-Nya. Dan dunia harus tahu dan melihat, bahwa setiap orang percaya telah dimahkotai oleh kemuliaan Allah (Yohanes 17:23). Seperti Bapa mengasihi Yesus, demikian juga Bapa mengasihi kita, sehingga kita dapat mengasihi orang lain, sama seperti Yesus mengasihi kita (Yohanes 13:34). Inilah kemuliaan, pandangan yang baik, yang Tuhan berikan kepada kita. Percayakah engkau akan hal ini? Petrus melihat, menyaksikan, dan mendengar suara Bapa dalam sebuah peristiwa di mana langit terbuka dan Yesus dipermuliakan di atas gunung bersama Musa dan Elia (2 Petrus 1:17-18). Dan bukan sekali ini saja hal ini terjadi. Sebelumnya, ketika Yesus dibaptis di Sungai Yordan, peristiwa yang sama pun terjadi. Sungai Yordan terletak di daerah Laut Mati, yang merupakan tempat paling rendah yang ada di muka bumi (kurang lebih -440m di bawah permukaan laut). Ada sesuatu yang signifikan yang terjadi dalam dua peristiwa ini, yaitu kalau Bapa begitu mengasihi dan mempermuliakan Yesus di gunung (tempat yang tinggi, kondisi yang baik) dan di laut Mati (tempat terendah, kondisi yang paling buruk), Ia juga mengasihi dan mempermuliakan kita di posisi apapun di dalam kehidupan kita. Jadi, mulai hari ini jangan lagi berpikir bahwa ketika kerohanianmu, posisimu, kondisimu lagi baik-baik saja, maka Tuhan akan mengasihimu, atau sebaliknya. Tidak! Sekalipun kerohanianmu dalam posisi terendah, ketika kondisimu sedang tidak baik-baik saja, Tuhan tetap berkata kepadamu: “Inilah anak yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan!” Jadi apapun kondisi kita, Bapa tetap mengasihi kita! Mengapa demikian? Karena kemuliaan yang engkau miliki bukan sesuatu yang engkau perjuangkan melainkan pemberian-Nya! Bukankah perkataan ini memberikan kekuatan bagimu?
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, sekarang, bagaimana kita dapat hidup dan berjalan dalam kemuliaan-Nya yang bermanifestasi agar dapat diketahui dan terlihat oleh dunia? Perhatikan baik, kemuliaan itu datang ketika Tuhan menyatakan bahwa Dia begitu mengasihi dan berkenan kepada kita oleh karena Yesus. Jadi yang pertama, bagaimana kemuliaan itu bermanifestasi dalam dan melalui diri kita adalah ketika kita menyadari, percaya, dan memperkatakan bahwa kita adalah orang-orang yang paling disayang oleh Tuhan, bahwa kita adalah orang-orang yang telah dibernarkan karena iman, oleh Kristus Yesus! Jadi ke mana pun, di mana pun, kapan pun itu, perkatakanlah dalam iman bahwa anda adalah orang yang paling dikasihi oleh Tuhan. Ingat, kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa (1 Korintus 4:20). Mulutmu berkuasa. Perkatakan itu maka dunia akan menyaksikan manifestasi kemuliaan Allah di dalam dirimu. Karena itu, selalu memiliki kesadaran ini. Artinya, engkau memiliki pewahyuan-Nya. Mengapa Tuhan begitu sayang kepadamu? Karena Tuhan Yesus telah memberikan kemuliaan-Nya untukmu. Dan inilah hak istimewa kita untuk berkata bahwa kita adalah orang-orang yang paling disayang oleh Tuhan! Dan setiap kali kita memperkatakan hal ini, percayalah, engkau sedang berjalan dalam kemuliaan-Nya, dan sesuatu yang baik pasti terjadi di dalam hidupmu dan dunia akan mendengarnya. Kedua, bagaimana kemuliaan Tuhan termanifestasi adalah dengan menempatkan dirimu di bawah firman Kristus, sehingga diri kita mencerminkan kemuliaan-Nya yang dapat dilihat oleh dunia (2 Korintus 3:17-18). Kalau anda memperhatikan konteks ayat-ayat yang telah kita bahas, maka kita akan mendapati bahwa semuanya berbicara mengenai bagaimana kita menempatkan diri di bawah firman-Nya, melihat Yesus dalam firman-Nya. Bagaimana kita dapat mencerminkan firman-Nya? Dari Roh Kudus yang ada di dalam kita! Amin, Tuhan memberkati.
Dalam kasih karunia Kristus,
Pdt. Paul Abraham Jean-Peter, M.Th., CPLC., CLC.
Sahabat Allah