19/04/2025
Khidmah, Mahabbah, dan Ketegasan: Menjawab Narasi Ambigus tentang Warga NU
By: Ki Askara Jagat(Ketua MWCNU Cikampek)
Dalam ruang-ruang diskusi publik, istilah “Warga NU” semakin sering mengemuka, digunakan secara luas oleh banyak kalangan, baik yang berada dalam struktural Nahdlatul Ulama maupun di luar. Fenomena ini tentu menunjukkan bahwa NU telah menjadi rumah besar yang dirindukan, dicintai, dan dijadikan rujukan dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan.
Namun, di balik semangat inklusivitas itu, muncul persoalan serius: makna “Warga NU” perlahan-lahan menjadi ambigus. Diksi ini digunakan untuk menyatakan identitas kultural tanpa diiringi dengan kesadaran akan adab, manhaj, dan garis perjuangan yang telah diwariskan para muassis.
Kita tentu sangat terbuka terhadap siapa pun yang mencintai NU. Tapi dalam cinta, perlu kejelasan. Dalam khidmah, perlu arah. Dan NU bukan sekadar semangat keagamaan kultural—ia adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang memiliki manhaj, harakah, dan muwazanah (keseimbangan) yang terjaga melalui sanad ulama dari masa ke masa.
Militansi NU bukanlah ta’asub. Ia adalah bentuk tanggung jawab moral dan ruhaniyah terhadap amanat keilmuan. Sebagaimana dawuh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim:
"Cintailah para ulama, muliakanlah mereka, dan teladanilah akhlak serta adab mereka."
Demikian p**a Gus Mus pernah berpesan:
“NU itu rumah besar. Tapi kalau kamu tinggal di dalam rumah, bukan berarti kamu boleh buang air di ruang tamunya.”
Kita boleh berbeda posisi, tapi tidak boleh kabur dalam prinsip.
NU bukan wadah bebas nilai yang bisa ditafsirkan sesuka hati. NU punya khittah, aswaja sebagai manhaj, dan ijtihad jam’iyyah yang menjaga akidah, fikih, akhlak, dan relasi sosial dengan proporsional. Dan ketika kita bersikap tegas terhadap narasi-narasi yang membelokkan nilai itu, itu bukan sikap keras, tapi bentuk al-ghirah—kecemburuan yang lahir dari cinta yang dalam.
Dan kami tidak anti terhadap perluasan makna ‘warga NU’ secara kultural.
Tapi saya percaya, seperti dalam thariqah, ada adab dan ijazah, maka dalam NU pun, ada manha,j ada muwazanah dan ada Bai'at. Itulah yang menjadikan kita tetap terhubung, bukan hanya secara sejarah, tapi juga secara ruhani dan sanad.
Mari kita terus rawat cinta ini.
Cinta yang bukan hanya ramai di luar, tapi juga rapi di dalam.
Cinta yang tidak merasa paling, tapi tidak juga membiarkan warisan ini lepas arah.
Kalau semua yang mencintai NU saling rangkul tanpa melepas prinsip, saya yakin…
Inilah hadiah terbaik yang bisa kita persembahkan untuk para muassis dan ahlul khidmah sejati yang telah lebih dahulu menunjukkan jalannya.
Mari kita duduk dalam satu majelis adab.
Mari saling menguatkan tanpa mengaburkan.
Karena khidmah dan mahabbah akan kehilangan ruhnya jika tidak disertai ketegasan dalam prinsip.
Untuk itu, kita perlu merawat NU dengan tiga hal:
Khidmah yang ikhlas, mahabbah yang bersanad, dan ketegasan yang beradab.
Inilah bentuk cinta sejati kepada NU, kepada para muassis, dan kepada umat.