Majelis Ta'lim Nurul Huda

Majelis Ta'lim Nurul Huda Majelis ta'lim Nurul Huda
Kp. Cidamar rt/rw : 02/08
Desa. Bobojong kec. Mande kab. Cianjur
Jawa B Makna literalnya seakan menetapkan tempat bagi Allah].

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Pembahasan dalam menentang Kesesatan Kaum Mujassimah ;

Kaum Yang Mengatakan Bahwa Allah Sebagai Benda (J**m)

waspada terhadap pemahaman mujasyimah modern



Jika ada yang berkata: ”Telah diriwayatkan dalam dua kitab Sahih (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) dari hadits Syuraik bin Abi Namir dari Anas bin Malik dalam menceritakan peristiwa Mi

’raj, bahwa ia (Anas bin Malik) berkata:



(قيل) فَعَلاَ بهِ إلَى الْجَبَّار تَعَالَى



[Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: “Maka Rasulullah terus naik [bersama Jibril] kepada Allah”. Makna literal ini seakan menetapkan bahwa Allah bertempat di arah atas]. Lalu dalam riwayat ini p**a, bahwa ia (Anas bin Malik) berkata:



(قيل) وَهُوَ فِي مَكَانهِ: يَا رَبّ خَفّفْ عَنّا



[Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah berada pada suatu tempat, lalu Rasulullah berdoa kepada-Nya: ”Ya Allah ringankan (perintah shalat itu) dari kami”]. Jawab: ”Imam Abu Suliman al Khath-thabi telah mengatakan bahwa redaksi di atas hanya berasal dari Syuraik seorang saja (تفرّد بها شريك). Redaksi seperti itu tidak pernah disebutkan oleh siapapun selain oleh Syuraik, dan Syuraik ini adalah orang yang banyak meriwayatkan hadits-hadits dengan redaksi yang lain dari para perawi lainnya; ”كثير التفرد بمناكير الألفاظ”. Kemudian, ”tempat” itu tidak boleh dinyatakan bagi Allah [karena Allah bukan benda], adapun redaksi ”وهو في مكانه” [artinya; ”Dan dia berada di tempatnya”] yang dimaksud ”dia” di sini adalah Rasulullah. [artinya bahwa Rasulullah kembali ke tempatnya semula saat beliau menerima wahyu, dan di tempat itulah beliau berdoa kepada Allah agar diringankan perintah shalat atas umatnya]. Semakna dengan pemahaman hadits ini; hadits lainnya yang berbunyi:



(قيل) فَاسْتَأذَنْتُ عَلى رَبّي وَهُوَ فِي دَارِه



[Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: ”Aku meminta izin kepada Tuhanku, dan Dia sedang berada di rumah-Nya”. Bukan maksud hadits ini bahwa Allah bertempat di sebuah rumah, tetapi yang dimaksud adalah rumah atau tempat tinggal yang dimuliakan oleh Allah bagi para wali-Nya. [Ini yang dimasud dengan Idlâfah at-Tasyrîf, Imam al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Sihfat mempertegas bahwa yang dimaksud adalah surga). Bahkan al-Qâdlî Abu Ya’la sendiri dalam kitabnya yang berjudul al-Mu’tamad telah menetapkan bahwa Allah tidak disifati dengan tempat.

• Ayat Ke-1

• Ayat Ke-2

• Ayat Ke-3

• Ayat Ke-4

• Ayat Ke-5



• Ayat Pertama]:

Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum Mujassimah adalah firman Allah:



• أأمنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاء (الملك: 16)



[Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan seakan Allah berada di langit: ”Adakah kalian merasa aman terhadap yang ada di langit?”]. Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna zahirnya [seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang menyimpulkannya bahwa Allah berada di langit], karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”( للظرفية ); padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun. Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit [dan itu artinya bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri]. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah. Ayat Ke Dua]:

Di antara ayat lainnya, firman Allah:



يَا حَسْرَتَى عَلَى مَا فَرّطْتُ فِي جَنْبِ الله (الزمر: 56)



[Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan: ”Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam pinggang Allah”. Pemahaman literal seperti ini menyesatkan karena menetapkan anggota badan bagi Allah].

[Makna ”al-Janb”, ”الجنب” dalam ayat ini bukan artinya ”pinggang” seperti pemahaman sesat kaum Mujassimah], tetapi yang dimaksud dengan ”في جنب الله” adalah ”في طاعة الله وأمره”; maka pemahaman yang benar bagi ayat tersebut adalah: ”Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam ketaatan kepada Allah dan melalaikan perintah-Nya”. Sesungguhnya kelalaian (at-Tafrîth) itu hanya terjadi dalam berbuat baik kepada-Nya, adapun ”al-Janb” dalam makna pinggang yang merupakan anggota badan; sedikitpun tidak pernah ada ungkapan yang mengatakan adanya kelalaian (at-Tafrîth) di sana. Sementara Ibnu Hamid al-Mujassim berkata: ”Kita beriman bahwa Allah memiliki pinggang dengan dasar ayat ini”. Apa yang dinyatakan Ibnu Hamid ini sangat aneh dan menggerankan, betul-betul tanpa dasar logika. Padahal makna at-Tafrîth (kelalaian) ini tidak pernah terjadi pada ”Janb” (makna pinggang; anggota badan) yang ada pada makhluk, lalu dari mana ia menetapkan bagi Allah makna ”al-Janb” sebagai makna ”pinggang” dan bahkan menetapkan at-tafrîth (kelalaian) bagi makna tersebut? Dalam sebuah syair, Tsa’labah berkata:



خَلِيْلِيْ كِفَا وَاذْكُرَا الله فِي جَنْبِي



[Maknanya: ”Wahai kekasihku, hentikanlah [ratapanmu], aku perintahkan engkau sebutlah nama Allah”]. Makna kata ”في جنبي” dalam bait sya’ir ini adalah ”في أمري”; artinya ”Dengan perintahku” atau ”Aku perintahkan kepadamu”. Bait sya’ir tersebut bukan bermakna: ”Sebutlah nama Allah pada pinggangku”, [tentunya pemaknaan seperti ini menyesatkan]. Ayat Ke Tiga]:

Di antara ayat lainnya, firman Allah:



فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91)



[Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang sebagian dari ruh tersebut adalah ruh Nabi Isa].

[Makna ayat ini bukan seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang kemudian sebagian ruh tersebut dibagikan kepada Nabi Isa saat menciptakannya]. Para ahli tafsir berkata: ”Yang dimaksud ”Min Rûhinâ” , ”من روحنا” adalah ”Min Rahmatinâ”, ”من رحمتنا” ; artinya bahwa Allah memberikan rahmat dan kemuliaan bagi Nabi Isa. Adapun penyebutan kata ”روح” dalam ayat tersebut dengan disandarkan kepada Allah (yaitu kepada zhamîr ”نا”) adalah karena kejadian peristiwa tersebut (penciptaan Nabi Isa) dengan perintah Allah. Ke Empat]:

Di antara ayat lainnya, firman Allah:

يُؤْذُوْنَ اللهَ (الأحزاب: 57)

[Ayat ini tidak boleh dipahami dalam makna literalnya yang seakan bahwa Allah disakiti atau diperangi].

[Makna ayat ini bukan artinya Allah yang disakiti, oleh karena siapakah yang dapat mengalahkan Allah?], tetapi yang dimaksud dengan ”يؤذون الله” dalam ayat ini adalah dalam makna: ”Yu-dzûna Awliyâ-ahu”, ”يؤذون أوليائه” ; artinya yang disakiti di sini adalah para wali Allah. Contoh penggunaan bahasa seperti ini seperti dalam ayat lainnya dalam QS. Yusuf: 82, Firman Allah:

وَاسْأل الْقَرْيَة (يوسف: 82)

[Makna literal ayat ini: ”Tanyalah ke kampung!!”]. Firman Allah ini bukan artinya: ”Bertanyalah ke kampung!!”, [Bagaimana mungkin kampung akan berkata-kata], tetapi yang dimaksud adalah: ”Bertanyalah kepada penduduk kampung tersebut”. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

أُحُدٌ جَبَلٌ يٌحِبُّنَا وَنُحِبّهُ

[Maknanya: “Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita mencintainya”. (Yang dimaksud adalah penduduknya)]. Seorang penyair berkata:

أنْبئْت أنّ النّارَ بعدكَ أوْقِدَتْ واستبّ بعدكَ يَا كليْب الْمَجْلس

[Maknanya: “Engkau diberitahukan bahwa api telah dinyalakan jauh darimu, dan api itu melahap kejauhanmu wahai orang yang terlena di tempat”. (yang dimaksud adalah bahwa api itu membesar dan mendekati orang itu)]. Ayat Ke Lima]:

Di antara ayat lainnya firman Allah:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ إلاّ أنْ يَأتِيَهُمُ اللهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَام (البقرة: 210)

[Ayat ini tidak boleh dipahami dalam makna literalnya, mengatakan: ”Tidakah mereka (orang-orang kafir) menunggu-nunggu kecuali kedatangan Allah kepada mereka dalam kegelapan dari awan?!”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah akan datang, artinya pindah dari suatu tempat ke tampat lain, dan bergerak, serta seakan Allah mengendarai awan].

[Pemahaman ayat ini tidak seperti kesimp**an sesat kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah akan datang kepada orang-orang kafir dalam kegelapan awan, dalam pemahaman mereka bahwa Allah bergerak dan pindah dari suatu tempat ke tempat lain], tetapi pemahaman yang benar adalah bahwa kata “في ظلل” dalam ayat tersebut adalah dalam pengertian “بظلل”; artinya Allah akan mendatangkan kepada mereka (orang-orang kafir) awan gelap yang merupakan siksaan bagi mereka. [Allah bukan benda; Dia tidak disifati dengan datang, bergerak, dan ataupun berpindah-pindah]. Demikian p**a dengan firman Allah:

وَجَاءَ رَبُّكَ (الفجر: 22)

[Ayat ini tidak boleh dipahami dalam makna literalnya, yang mengatakan seakan Allah akan datang; bergerak dan pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain].

[Kata ”Jâ’a”, “جاء” pada hak Allah dalam ayat ini bukan dalam pengertian datang, bergerak, dan atau berpindah dari satu tempat ke tampat lain]. Al-Qâdlî Abu Ya’la sendiri telah meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia (Ahmad) memaknai firman Allah QS. Al Baqarah: 210 “أن يأتيهم الله” dengan mentakwilnya, Imam Ahmad berkata: “Yang dimaksud ayat ini adalah datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah dan perintah-Nya (قدرته وأمره)”. Pemahaman Imam Ahmad ini beliau simpulkan dari firman Allah sendiri dalam ayat lainnya, yaitu “ويأتي أمر ربك”. Tidak hanya itu, bahkan dalam kitab Taurat sekalipun dalam pemahaman “وجاء ربك” disebutkan bahwa yang dimaksud adalah datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah. Sementara Ibnu Hamid al-Mujassim berkata: “Pemahaman dengan takwil seperti itu adalah pemahaman yang salah, yang benar adalah bahwa Allah akan turun dengan Dzat-Nya dengan cara berpindah”. Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Ungkapan Ibnu Hamid ini jelas dalam makna indrawi. Ungkapannya ini tidak beda dengan pembicaraan masalah benda”. Imam Ibnu Aqil [salah seorang ulama Ahlussunnah dalam madzhab Hanbali] dalam menjelaskan firman Allah QS. Al Isra: 85 “قل الروح من أمر ربي”; [Katakan wahai Muhammad bahwa ruh itu adalah urusan Tuhanku], berkata: “Dengan ayat ini Allah telah melarang setiap makhluk-Nya untuk tenggelam (mempertanyakan) sesuatu yang padahal notabenenya makhluk (yaitu ruh), terlebih lagi untuk tenggelam mempertanyakan tentang (hakikat) Allah maka itu lebih terlarang”. Para ulama menuliskan sya’ir berikut:

كَيْفِيّةُ النّفْسِ لَيْسَ الْمَرْءُ يُدْرِكُهَا فَكَيْفَ كَيْفيّة الْجَبّار فِي الْقِدَمِ

[Maknanya: “Hakikat jiwa tidak ada seorang-pun yang dapat meraihnya, maka terlebih lagi meraih hakikat Allah (yang maha perkasa) pada sifat Qidam-Nya”].

Imam Syafi'i Radhiyallahu anhu berkata:Seandainya hatiku dibelah dua maka akan nampak tengahnya * 2 bagian yg telah tert...
16/07/2015

Imam Syafi'i Radhiyallahu anhu berkata:
Seandainya hatiku dibelah dua maka akan nampak tengahnya * 2 bagian yg telah tertores tanpa ada yg menores
syariah dan tauhid saya letakkan dsebelahnya * dan sebelahnya lagi aku letakkan cinta kepada keluarga nabi

15/07/2015

هُوَ النُّورُ
Dialah Pelita Cahaya
هُوَ النُّورُ يَهدِى الحَا ئِرِينَ ضِيَاؤُهُ
وَفِى الحَشرِ ظِلُّ المُرسَلِينَ لِوَاؤُهُ
Dialah Nabi ﷺ Pelita Cahaya yang memberi petunjuk orang-orang yang bimbang di Padang Mahsyar Panjinya sebagai pemberi naungan...
تَلَقَّى مِنَ الغَيب المًجَرَّدِ حِكمَةً
بِهَا اَمطَرَت فِى الخَافِقِينَ سَمَاؤُهُ
Sampailah kepadanya hikmah tanpa perantara apapun dengan hikmah itu hujanlah langit )dengan Rahmat( di segala penjuru barat dan timur...
وَمَشهُودُ اَهلِ الحَقِّ مِنهُ لَطَائِفٌ
تُخَبِّرُ اَنَّ المَجدَ وَالشَّأ وَشَأوُهُ
Para saksi dari para Ahli Ma`rifah yang dalam kebenaran, menyaksikan dari Beliau ﷺ kasih sayang dan kelembutan-kelembutan, dikhabarkan sungguh apa yang terjadi adalah dengan keinginanmu )ﷺ(.
فَلِله مَالِلعَينِ مِن مَشهَدِ اجتِلاَ
يَعِزًّ عَلَى اَهلِ الحِجَابِ اجتِلاَؤُهُ
Padaku penglihatan apa-apa yang kusaksikan sangatlah berpijar luhur, menundukkan para pemilik kemuliaan yang masih tertutup penglihatannya dari pandangan keluhuran ini.
اَيَانَازِحًاعَنِّى وَمَسكَنُهُ الحَشَا
اَجِب مَن مَلاَ كُلَّ النَّوَاحِى نِدَاؤُهُ
Wahai yang jauh dariku dan tempatnya di lubuk hati yang terdalam, jawablah wahai Saudaraku seruan )Sang Nabi ﷺ( yang memenuhi segala penjuru.
اَجِب مَن تَوَلاَّهُ الهَوى فِيكَ وَامضِ فِى
فُؤَادِى مَايَهوَىَ الهَوى وَيَشَاؤُهُ
Jawablah wahai yang diriku adalah terbenam dalam rindu padamu )ﷺ( dan mengalir pada sanubariku apa-apa yang dirindukan sanubari ini dan yang ia )diriku( dambakan.
فَيَارَبِّى شَرِّفنِى بِرُؤ يَةِ سَيِّدِى
وَاَجلِ صَدَى القَلبِ الكَثِير صَدَاؤُهُ
Wahai ALLAH, Muliakanlah aku dengan memandang Tuanku )Sayyidina Muhammad( dan Bersihkanlah hati yang penuh dengan kekeruhan ini.
وَبَلَّغ عَلِيًّا مَيَرُومُ مِنَ اللِّقَا
بِاشرَفِ عَبدٍ جُلَّ قَصدِى لِقَاؤُهُ
Dan Sampaikanlah pada diriku )al-Habib `Ali al-Habsyi( pada puncak harapan untuk berjumpa dengan semulia-mulia hamba,dan perjumpaan dengannya adalah segala tujuanku...
عَلَيهِ صَلاَةُ الله مَاهَبَّتِ الصَّبَا
وَمَااَطرَبَ الحَادِى فَطَابَ حِدَاؤُهُ
'Atasnya Curahan Selawat selama angin berhembus sebanyak asyik merdunya Qasidah pujian yang memadukan cinta padamu )ﷺ(, maka semakin indahlah yang menyatukan hati dalam cinta padanya )ﷺ(
مَعَ الالِ وَالاَصحَابِ مَاقَالَ مُنشِدٌ
هُوَالنُّورُ يَهدِى الحَائِرِينَ ضِيَاؤُهُ
Beserta Keluarga, Sahabat dan yang diucapkan oleh Munsyid )Pembaca Qasidah(, dialah Pelita Cahaya yang memberi petunjuk orang-orang yang bimbang.
اذا علم العشاق داي فقل لهم
فان لقا احباب قلبي دواؤه
Jika para perindu mengetahui penyakitku, maka katakan kepada mereka, sesungguhnya perjumpaan dengan kekasih hati itulah obatnya.
ايا راحلا بلغ حبيبي رسالة
بحرف من الاشواق يحلو هجاؤه
Wahai orang yang berjalan )ke Madinah( sampaikan lembaran cinta kepada Kekasihku )ﷺ( dengan indahnya ejaan huruf-huruf kerinduan.
وهيهات ان يلقى العذول الى الحشا
سبيلا سواء مدحه وهجاؤه
Maka sulitlah bagi yang memusuhi cinta ini sampai ke batas yang tidak mungkin, mencapai jalan kebenaran dengan memujinya )ﷺ( dan mengucapkan padanya )ﷺ(...
فوادي بخير المرسلين مولع
واشرف مايحلو لسمعي ثناؤه
Jiwaku terbakar )karena cinta( dengan sebaik-baik Utusan, dan yang terindah di pendengaranku adalah mendengar pujiannya.
رقى في العلى والمجد اشرف رتبة
بمبداه حار الخلق كيف انتهاؤه
Mulia dalam tangga-tangga keluhuran, semulia-mulia tingkatan yang semakin luhur, dalam awal cinta dan rindu pada Beliau ﷺ akan muncul hangat membara di hati makhluk, maka bagaimana keadaan yang telah mencapai puncaknya.
ايا سيدي قلبي بحبك بايح
وطرفي بعد الدمع تجري دماؤه
Wahai Tuanku, hatiku lebur dengan kecintaan kepadamu, mata ini niscaya menangis darah setelah air mata mengering dan tidak mengalir.
اذا رمت كتم الحب زادت صبابتي
فسيان عندي بثه وخفاؤه
Jika engkau sembunyikan cinta maka akan bertambah kecintaanku dan airmataku, maka sama sahja bagiku, ku ungkapkan cinta itu atau ku sembunyikannya.
اجب ياحبيب القلب دعوة شيق
شكى لفح نار قد حوتها حشاؤه
Jawablah seruan kerinduan ini wahai Kekasih hati, rintihan api kerinduan telah menyelimuti lubuk hatiku.
ومرطيفك الميمون في غفلة العدا
يمر بطرف زاد فيك بكاؤه
Maka lewatkanlah keindahan dan kelembutanmu saat hamba-hamba ummatmu )ﷺ( yang tenggelam dalam kelupaan, lintasan keindahan dan kemuliaanmu yang membuat berlinangnya airmata.
لي الله من حب تعسر وصفه
ولله امري والقضاء قضاؤه
Duhai ALLAH, sungguh sulit cinta ini di ungkapkan, semua ini hanya kepada ALLAH kupasrahkan karena ketentuan adalah KetentuanNYA

·dikisahkan dari Muqatil, beliau berkata:''sesungguhnya di belakang gunung Qaf ada bumiyang halus seperti perak yang bes...
11/07/2015

·
dikisahkan dari Muqatil, beliau berkata:''
sesungguhnya di belakang gunung Qaf ada bumi
yang halus seperti perak yang besarnya 7 kali lipat
besarnya bumi, dan tempat itu dipenuhi dengan
malaikat, sekiranya terjatuh satu jarum pastilah
jarum itu jatuh diatas mereka,
di tangan setiap malaikat tersebut terdapat
bendera yang tertulis ''Laa ilaha illallàh
Muhammad Rasulullah''
para malaikat tersebut berkumpul di setiap malam
pada bulan rajab di sekitar gunung, mereka
berdo'a kepada Allah, agar Allah memberikan
keselamatan untuk Umat Nabi Muhammad, mereka
berkata:'' Wahai Tuhan Kami sayangilah umat Nabi
Muhammad dan jangan Engkau Adzab umat Nabi
Muhammad, mereka menangis dan terus berdo'a
hingga Allah bertanya kepada mereka:'' apa yang
kalian inginkan''?
para malaikat tersebut menjawab:''kami
menginginkan Engkau memberikan ampunan untuk
umat Muhammad"
maka Allah berfirman kepada mereka''sungguhAku
telah mengampuni mereka''
(Nawadir kisah ke 70. syekh Qalyubi)

حكي أن امرأة جاءت إلى الحسن فقالت له توفيت لي إبنة و أريد رؤيتها في النوم, فقال لها صلي أربع ركعات بعد العشاء واقرئ في ك...
11/07/2015

حكي أن امرأة جاءت إلى الحسن فقالت له توفيت لي إبنة و أريد رؤيتها في النوم, فقال لها صلي أربع ركعات بعد العشاء واقرئ في كل ركعة بعد الفاتحة سورة ألهاكم مرة ثم اضطجعي و صلي على النبي إلى أن تنامي
ففعلت فرأتها في العقوبة مسلسلة و مغلولة فجاءت إليه فأخبرته
فاغتمّ وقال تصدّقي عنها, ففعلت ثم رأى في تلك الليلة كأنه في روضة من رياض الجنة و فيها سرير عليه جارية جميلة و على رأسها تاج من نور
فقالت له أعرفتني, فقال لا فقالت له أنا إبنة تلك مرأة, فقال لها بغير هذا وصفت لي أمك حالك.
فقالت كنت كذلك, فقال ثمّ بماذا بلغت هذا ?
قالت كنا سبعين الف نفس في تلك العقوبة فعبر واحد من الصالحين على قبورنا و صلّى على النبي مرة و جعل ثوابها لنا فأعتقنا الله من ذلك ببركته و بلغ نصيبي ما رأيت

dikisahkan bahwasannya ada seorang wanita datang kepada Imam Hasan Albashri, lalu dia berkata kepada beliau,''putriku telah wafat dan aku ingin melihatnya di dalam tidur )bermimpi(, maka Imam Hasan berkata kepada wanita itu:''Sholatlah4 raka'at setelah isya, dan bacalah Alhakumu )at-takatsur( satu kali, kemudian berbaringlah dan bersholawatlah kepada Nabi saw sampai engkau tertidur.
maka perempuan itu melakukannya, lalu dia melihat putrinya dalam mimpi dalam keadaan disiksa dengan terantai dan terbelenggu. lalu perempuan itu datang kepada imam Hasan dan mengabarkan pada beliau tentang mimpinya tersebut.
maka Imam Hasan bersedih, dan beliau berkata kepada wanita itu:'' bersedekahlah untuk putri anda''
lalu wanita itu melakukannya, kemudian Imam Hasan pada malam harinya bermimpi seakan-akan beliau berada di satu taman dari taman-taman surga, dan di sana terdapat singgasana yang di atasnya ada seorang anak perempuan yang cantik, dan di atas kepalanya terdapat mahkota dari cahaya.
lalu anak perempuan itu berkata:''apakah anda mengenaliku''? imam Hasan menjawab:''tidak'' lalu anak perempuan itu berkata:''aku adalah anak perempuan wanita itu'' lalu imam Hasan berkata:''bukanbegini yang diceritakan oleh ibumu mengenai keadaan dirimu.
lalu anak perempuan itu berkata:''keadaanku memang seperti itu )yang diceritakan ibuku( lalu imam Hasan bertanya:''kemudian dengan sebab apa engkau bisa sampai begini?
anak perempuan itu berkata:''tadinya kami ada 70 ribu jiwa didalam siksaan itu, kemudian lewatlah salah satu orang sholeh di atas kuburan kami, dan beliau bersholawat atas Nabi saw. satu kali, dan menjadikan pahala bersholawat itu untuk kami. maka Allah membebaskan kami dari siksaan tersebut, dan sampailah bagianku pada kedudukan seperti yang anda lihat. )atsimarul yani'a-syekh Nawawi albantani

Karamah sayidina Umar.روى أن رسول ملك الروم جاء إلى عمر فطلب داره فظن أن داره مثل قصور الملوك فقالوا: ليس له ذلك، وإنما ...
10/07/2015

Karamah sayidina Umar.
روى أن رسول ملك الروم جاء إلى عمر فطلب داره فظن أن داره مثل قصور الملوك فقالوا: ليس له ذلك، وإنما هو في الصحراء يضرب اللبن فلما ذهب إلى الصحراء رأى عمر رضي الله عنه وضع درته تحت رأسه ونام على التراب، فعجب الرسول من ذلك وقال: إن أهل الشرق والغرب يخافون من هذا الإنسان وهو على هذه الصفة ثم قال في نفسه: إني وجدته خالياً فأقتله وأخلص الناس منه. فلما رفع السيف أخرج الله من الأرض أسدين فقصداه فخاف وألقى السيف من يده وانتبه عمر ولم ير شيئاً فسأله عن الحال فذكر له الواقعة وأسلم.
diriwayatkan, bahwasannya utusan raja Rum datang kepada Sayidina Umar ra. kemudian mencari Rumah sayidina Umar, dan utusan itu menyangka bahwa rumah sayidina Umar seperti istana para raja, maka orang2 berkata, tidaklah Rumah Umar seperti itu, sesungguhnya Ia berada di padang pasir sedang memerah susu, ketika utusan itu berangkat ke padang pasir, dia melihat sayidina Umar Ra. meletakan kantong tempat susu dibawa kepalanya dan beliau tidur di atas tanah, maka si utusan tersebut menjadi takjub melihat hal itu, dan dia berkata:''sesungguhnya orang-orang yang berada di timur dan barat takut kepada manusia ini, sedang ia hanya seperti ini, kemudian utusan tersebut berjanji pada dirinya sendiri:'' aku mendapatinya dalam keadaan sendirian maka aku akan membunuhnya dan membebaskan manusia dari perasaan takut kepadanya. ketika utusan tersebut mengangkat pedangnya, Allah ta'ala mengeluarkan dari dalam bumi dua Ekor singa yang keduanya berjalan menghampiri si utusan tersebut sehingga si utusan itu takut dan menjatuhkan pedangnya dari tangannya, dan sayidina Umar pun terbangun sedang beliau tidak melihat sesuatu apapun, maka sayidina Umar menanyai si utusan itu mengenai keadaan yang sedang terjadi, lalu si utusan tersebut menceritakan kejadiannya kepada sayidina Umar dan dia pun masuk kedalam agama islam
تفسير الفخر الرازي dan تفسير السراج المنير الشربيني

الصلاة مقبولة ولو من الغافل•Ucapan sholawat tetap diterimah walaupun dari orang yang lalai.•كما قال الشيخ الشاذلي رحمه ا...
10/07/2015

الصلاة مقبولة ولو من الغافل

Ucapan sholawat tetap diterimah walaupun dari orang yang lalai.

كما قال الشيخ الشاذلي رحمه الله تعالى
رأيت رسول الله ص. في النوم فقلت يا رسول الله, صلاة الله عز و جل عشرا على من صلى عليك مرة واحدة هل ذلك لمن كان حاضر القلب؟
قال لا بل هي لكل مصلّ عليّ ولو غافلا و يعطيه الله أمثال الجبال من الملائكةِ تدعو له و تستغفر له
وأما إذا كان حاضر القلب فيها فلا يعلم ثواب ذلك إلا الله عزّ و جلّ

sebagaimana keterangan As-Syeikh As-Sadziliy Rhm.:'' aku melihat Rasulullah Saw. didalam tidur, lalu aku berkata:''WahaiRasulullah, Rahmat Allah Azza wa Jalla sepuluh kali bagi orang yang bersholawat kepadamu satu kali, apakah hal itu bagi orang yang menghadirkan hati?''
Nabi bersabda:''Tidak, bahkan ketentuan ini bagi setiap orang yang bersholawat kepadaku , walaupun dalam keadaan lalai, dan Allah akan mengaruniai kepadanya malaikat-malaikat sebesar umpama gunung yang selalu berdo'a untuknya dan memohonkan ampunan baginya.
adapun apabila ia menghadirkan hati dalam bersholawat, maka hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui ganjaran sholawat itu''

09/07/2015

BELAJAR MEMBANGUN TUJUAN DI SELA SELA WAKTU MENAHAN LAPAR DAN HAUSNYA BERPUASA
======
:
adalah taqwa, orng patuh ketika di larang makan dan minum. walau makanan dan minumnya adalah makanan yg halal dan minuman yg halal.
ketika orang yg berpuasa, bukan hanya tidak makan dan tidak minum. tp juga bersedia meninggalkan "keinginan keinginan" yg sudah menjadi watak dan tabiat yg di perbolehkan. dan menjauhi keinginan keinginan untuk mendapatkan lupah dan balasan pahala atau pujian.
tuujuan utama puasa adalah menggempur nafsu, melemahkan semua keiinginnan pikir dan kehendak kehendak untuk memiliki nafsu.
dan kesuksesan seorang yg berpuasa adalah manakala dia bangga bila meluluh lantakkan keinginan keinginan yg menjadikan jauh dg tuhan. yg menjadikan lupa bersama tuhan.
puasa adalah menggiring bola maksud dan tujuan menggosongkan perut pada kekosongan keinginan dan kekosongan kebahagiaan.
membangun tuujuan puasadi pagi hari, siang hari hinga waktu sore. di setiap hari selama 4 minggu.
:
TIDAK LAIN TIDAK BUKAN. PUASA ADALAH DI LATIH PATUH, UNTUK TIDAK MELAKUKAN HAL HAL YG BOLEH.
PUASA ADALAH BELAJAR DALAM MENGARUNGI HIDUP DI SAAT HIDUP UNTUK KEMBALI DAN EMENGEMBALIKAN HIDUP KEPADA ALLOH DI SAAT MASIH MENGHIRUP HIDUP.

بِسْــــــــمِ اللهِ الرَّ حْمَـنِ الرَّ حِيْــــمِكِتَابُ أَحْكَمِ الصِّيَامِKitab yang menerangkan hukum-hukum berpuas...
06/07/2015

بِسْــــــــمِ اللهِ الرَّ حْمَـنِ الرَّ حِيْــــمِ
كِتَابُ أَحْكَمِ الصِّيَامِ
Kitab yang menerangkan hukum-hukum berpuasa
وَهُوَ وَالصَّوَمُ مَصْدَرَانِ مَعْنَا هُمَا لُغَةً أَلْاِمْسَاكُ وَشَرْعًا إِمْسَاكُ عَنْ مُفْطِرٍ بِنِيَّةٍ مَخْصُوْصَةٍ جَمِيْعَ نَهَارٍ قَابِلٍ لِلصَّوْمِ مِنْ مُسْلِمٍ عَاقِلٍ طَاهِرٍ مِنْ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ
Shiyam dan shoum kedua-duanya adalah masdar )isim manshub yang dalam tasrifan fi’il jatuh pada urutan ketiga : SOOMA, YA SUUMU, SOUMAN صام، يصوم، صوما(.
Arti makna Shiyam dan Shoum menurut bahasa adalah Imsak )MENAHAN(. Dan menurut istilah Syara’ yaitu menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, disertai dengan niat yang telah ditentukan dari semua siang hari yang menerima terhadap puasa dari seorang muslim, yang mempunyai akal, yang suci dari Haid dan nifas.
وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الصِّيَامِؤثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ : اْلإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالعَقْلُ وَالقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ. وَهَاذَا هُوَالسَّاقِطُ عَلَى نُسْخَطِ الثَّلاَثَةِ، فَلاَيَجِبُ اَلصَّوْمُ عَلَى الْمُتَّصِفِ بِأَضْدَادِ ذَالِكَ.
Syarat wajibnya puasa yaitu ada 3 perkara, dan menurut sebagian salinan matan ada 4 perkara yaitu: 1. Islam 2. Baligh 3. Berakal 4. Mampu/kuasa untuk berpuasa. Dan yang keempat )kudrot/ mampu( yaitu perkara yang gugur dari tulisan 3 perkara. Maka tidaklah wajib bagi orang yang terkena lawan dari 4 sifat perkara diatas.
وَفَرَائِضُ الصَّوْمِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ
1. اَحَدُهَا أَلنِّيَّةُ بِالْقَلْبِ، فَأِنْ كَانَ اَلصَّوْمُ فَرْضًا كَرَمْضَانَ أَوْ نَذْرًا فَلَا بُدَّ مِنْ إِيْقَاعِ النِّيَّةِ لَيْلاً وَيَجِبُ اّلتَّعْيِيْنُ فِيْ صَوْمِ الفَرْضِ كَرَمْضَانَ وَأَكْمَلُ نِيَّةِ صَوْمِهِ أَنْ يَقُوْلَ الشَّخْصُ “نَوَيْتُ صَوْمَ غَـدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَحْرِ رَمَضَانِ هَاذِهِ السَّنَّةِ لِلهِ تَعَالَى
Kefardhuan/rukun berpuasa itu ada 4 perkara :
Fardhu puasa yang pertama dari yang empat adalah niat degan hati. Maka seandainya berpuasa fardhu seperti puasa Romadhon atau puasa Nadzar hendaklah saat menghadirkan niat dalam hati pada malamnya wajib menentukan puasa fardhu seperti puasa romadhon. Sedangkan kesempuraan niat puasa Romadhon “Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa`I fardhi syahri ramadhoni haadzihis-sanati lillahi ta’ala” saya niat berpuasa fardhu hari esok bulan Romadhon tahun ini lillahi ta’ala.
2. وَالثَّانِى اَلْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَإِنْ قَلَّ اَلْمَأْ كُوْلُ وَالْمَشْرَبُ عِنْدَالتَّعَمُّدِ فَأِنْ اَكَلَ نَاسِيًا اَوْ جَاهِلًا لَمْيُفْطِرْ اِنْ كَانَ قَرِيْبَ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْنَشَأَ بَعِيْدًا عَنِ الْعُلَمَآءِ وَأِلّاَ اَفْطَرَ
Dan fardhu puasa yang kedua dari yang empat yaitu menahan dari makan dan minum meskipun hanya sedikit sesuatu yang dimakan atau diminum halnya disengaja. Maka seandainya makan dan minum halnya karena lupa atau jahil )tidak tahu hal tsb batal( maka hal tersebut tidak membatalkan puasanya. Kemungkinan hal itu karena orang tersebut masih awam dalam agama islam atau baru masuk islam ataupun juga karena orang tersebut jauh dari ulama )sehingga tidak tahu pembatalan puasa(.
3. والثَّالِثُ الْجِمَاعُ عَامِدًا، وَأَمَّالْجِمَاعُ نَاسِيًا فَكَالْاَكْلِ نَاسِيًا
Fardhu puasa yang ketiga dari yang empat yaitu menahan Jima’ )bersetubuh( halnya disengaja )siang hari(, adapun Jima’ halnya lupa sedang berpuasa maka hukumnya sama seperti lupa makan dan minum saat berpuasa )tidak batal(
4. وَالرَّابِعُ تَعَمَّدُالْقَيْءِ فَلَوْ غَلَبَهُ اَلْقَيْءِ لَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ
Fardhu puasa yang keempat yaitu menahan dari muntah yang disengaja, maka seandainya memiliki kebiasaan muntah bukan disengaja orang tsb, maka tidaklah batal puasanya.
وَالّذِيْ يَفْطُرُ بِهِ اَلصَّائِمُ عَشَرَةُ اَشْيَآءَ
Dan perkara yang membatalkan oleh perkara tersebut terhadap puasa itu ada 10 perkara :
1-2اَحَدُ هَا وَثَانِهَا مَا وَصَلَ عَمْدًا إِلىَ الْجَوْفِ اَلْمُنْفَتِحِ أَوْغَيْرِالْمُنْفَتِحِ كَالْوُصُوْلِ مِنْ مَأْمُوْمَةٍ إِلىَ الْرَأْسِ وَالْمُرَادُ اِمْسَاكُ صَأئِمِ عَنْ وُصُوْلِ عَيْنٍ اِلَى مَايُسَمَّى جَوْفًا
Yang pertama dan yang kedua dari yang sepuluh yaitu perkara yang sampai perkara tsb halnya disengaja terhadap jauf/1.(rongga terbuka )yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain( atau 2.( rongga yang tidak terbuka seperti kulit ubun-ubun kepala. Dan perkara yang dikukuhkan dalam hal ini yaitu menahan bagi orang yang berpuasa dari sampainya ‘aen yang dinamai perkara ini terhadap jauf )rongga(.
3.وَالثّالِثُ اَلْحُقْنَةُ فِيْ اَجَدِالسَّبِيْلَيْنِ وَهِيَ دَوَاءٌ يَحْقُنُ بِهِ الْمَرِيْضُ فِيْ قُبُلٍ اَوْدُبُرٍ اَلْمُعَبَّرِعَنْهُمَا فِى الْمَتْنِ بِالسَّبِيْلَيْنِ
Dan yang ketiga yaitu memas**an obat pada salah satu lubang. Maksudnya yaitu memas**an obat kepada orang sakit pada lubang kubul )lubang kencing( atau dubur )lubang berak( yang diistilahkan kubul dan dubur pada matan ini dgn lafadz sabilaini السَّبِيْلَيْنِ.
وَالرَّابِعُ اَلْقَيْءُ عَمْدًا فَإِنْ لَمْ يَعْتَمِدْ لَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ كَمَا سَبَقَ 4.
Yang ke empat yaitu muntah halnya disengaja, maka seandainya tidak disengaja tidaklah batal puasanya orang tersebut.
وَالْخَامِسُ اَلْوَطْءُ عَمْدًا فِى الْفَرْجِ ، فَلاَ يَفْطُرُ اَلصَّائِمُ بِالْجِمَاعِ نَاسِيًا كَمَا سَبَقَ 5.
Yang kelima yaitu wathi )bersetubuh( halnya disengaja pada farji, maka tidaklah batal orang yang berpuasa bersetubuh halnya lupa seperti perkara yang sudah dituturkan sbelumnya.
6.وَالسَّادِسُ اَلْاِنْزَالُ ، وَهُوَ خُرُجُ الْمَنِيِّ عَنْ مُبَاشَرَةٍ بِلاَ جِمَاعٍ مُحَرَّمًا كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِّهِ أَوْ غَيْرَ مُحَرَّمٍ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِّ زَوْجَتِهِ أَوْجَارِيَتِهِبِمُبَاشَرَةٍ عَنْ خُرُجِ الءمَنِيِّ بِاحْتِلَاَمٍ فَلَا إِفْـطَارَبِهِ جَزْمًا
Yang keenam yaitu keluar air mani maksudnya yaitu keluar air mani karena bersentuhan kulit meski tidak berjima’ )rangsangan( diharamkan saat berpuasa seperti haram mengeluarkan air mani dengan tangannya sendiri )onani(, atau TIDAK diharamkan seperti mengeluarkan air mani dengan tangan istrinya atau dengan tangan jariahnya )budak perempuan(. Akan tetapi dikecualikan saat bersentuhan kulit )rangsangan( keluarnya air mani disebabkan mimpi, maka tidaklah batal puasanya karena keluar mani disebabkan mimpi.
وَالسَّابِعُ إِلَى آخِرِ الْعَشَرَةِ : أَلْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْجُنُوْنُ، وَالرِّدَّةُ. 7-10
Dan yang ketujuh hingga yang ke sepuluh yaitu 7.Haidh 8. Nifas 9. Gila 10. Murtad.
فَمَتَى طَرَءَ شَيْءٌ مِنْهَا فِيْ اَثْنَاءِالصَّوْمِ
Maka kapan saja kedatangan salah satu perkara dari 10 perkara tsb pada tengah-tengah puasa )saat berpuasa wajib atau sunnah( maka batal lah puasanya.
وَيُسْتَحَبُّ فِى الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَآءَ :
Dan disunnahkan saat berpuasa 3 perkara :
أَحَدُهَا تَعْجِلُ الْفِطْرِ إِنْ تَحَقَّقَ اَلصَّائِمُ غُـرُبَ الشَّمْسِ، فَإِنْ شَكَّ فَلاَ يُعَجِّلُ الْفِطْرَ وَيُسَنُّ اَنْ يُفْطِرَ عَلَى تَمَرٍ وَاِلَّا فَمَاءٍ
1. Yang pertama dari yang tiga yaitu disunnahkan menyegerakan berbuka, seandainya jelas dan yakin orang yang berpuasa terhadap terbenamnya matahari )maghrib/waktu berbuka(. Maka seandainya ragu hendaklah jangan menyegerakan untuk berbuka. Disunnahkan juga berbuka dengan kurma, jika tak ada kurma maka dengan air putih.
وَالسَّانِى تَأْخِيْرُالسَّحُوْرِ مَالَمْ يَقَعْ فِىْ شَكٍّ وَيَحْصُلُ السَّحُوْرُ بِقَلِيْلِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ
2. Yang kedua yaitu disunnahkan mengakhirkan sahur selama tak ada keraguan )waktu imsak( dan hasil )sah( sahurnya meski hanya sedikit makan dan minumnya
وَالثَّالِثُ تَرْكُ الْهُجْرِ اَيْ الْفُخْشِ مِنَ الْكَلَاَمِ الْفَاخِشِ فَيَصُوْنُ اَلصَّائِمُ لِسَانُهُ عَنِ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَنَحْوِ ذَالِكَ كَالشَّتْمِ وَإِنْ شَتَمَهُ اَحَدٌ فَلْيَقُلْ مَرَّتَيْنِ اَوْ ثَلَاثًا إِنِّىْ صَائِمٌ إِمَّا بِلِسَانِهِ كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ فِيْ الْاَذْكَارِ اَوْ بِقَلْبِهِ كَمَا نَقَلَهُ اَلرَّفِعِيُّ عَنِ الْأَئِمَّةِ وَاقْتَصَرَ عَلَيْهِ
3. Yang ketiga yaitu disunnahkan meninggalkan keburukan, tegasnya yaitu meninggalkan keburukan dari ucapan-ucapan yang buruk. Maka hendaklah mawas orang yang berpuasa dari lisannya dari perbuatan bohong, ghibah )gosip( dan sejenis lainnya dengan ghibah seperti marah. Dan seandainya ada seseorang yang memarahi orang yang sedang berpuasa maka mestilah berkata orang yang berpuasa tersebut 2 kali atau 3 kali dengan ucapan “ innii shoo`imun” )sesungguhnya saya sedang berpuasa( apakah dengan lisannya orang tersebut seperti perkara yang telah ditutur oleh Al Imam nawawi rahimahullah pada kitab Al Adzkar atau dengan hatinya orang tersebut seperti perkara yang telah ditutur oleh Al Imam Rofi’i dari para Imam. Dan mestilah meringkas terhadap lisan dan hati )innii shoo`imun 2x atau3x(.
وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ اَيَّامٍ : اَلْعِيْدَانِ اَيْ صَوْمُ يَوْمِ عِيْدِالْفِطْرِوَعِيْدِالْأَضْحَى وَاَيَّامِ التَّشْرِيْقِ وَهِيَ اَلثَّلَاثَةُ اَلَّتِيْ بَعْدَيَوْمِ النَحْرِ
Diharamkan berpuasa pada 5 hari : yang pertama dan kedua yaitu pada hari raya ‘idul fithri dan hari raya ‘idul adh-ha dan pada hari Tasyrik yaitu 3 hari pada hari setelah diperbolehkan kurban.
وَيَكْرَهُ تَحْرِيْمًا صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ بِلَاسَبَبٍ يَقْتَضِيْ صَوْمَهُ وَاَشَارَالْمُصَنِّفُ لِبَعْضِ صُوَرِ هَاذَاالسَّبَبِبِقَوْلِهِ اِلَّا اَنْ يُوَافِقَ عَادَةٌلَهُ فِيْ تَطَوُّعِهِ كَمَنْ عَادَتُهُ صِيَامُ يَوْمٍ وَإِفْطَارُ يَوْمٍ فَوَافَقَ صَوْمُهُ يَوْمَ الشَّكِّ وَلَهُ صِيَامُ يَوْمِ الشَّكِّ اَيْضًا عَنْ قَضَاءٍ وَنَذَرٍ. وَيَوْمُ الشَّكِ هُوَ يَوْمُ الثَّلاَثِيْنَ مِنْ شَعْبَانَ اِذْ لَمْ يَرَ اَلْهِلاَلُ لَيْلَتَهَا مِنَ الصَّحْوِ اَوْتَحَدَّثَ النَّاسُ بِرُؤْيَتِهِ وَلَمْ يَعْلَمْ عَدْلٌ رَوَاهُ اَوْشَهِدَ بِرُؤْيَتِهِ صِبْيَانٌ اَوْعَبِيْدٌ اَوْفَسَقَهُ.
Dan dimakruh tahrimkan ucapan dari mushonnif )pengarang kitab( berpuasa pada hari yang meragukan tanpa ada sebab. Kecuali adanya kebiasaan orang tersebut melakukan puasa sunnahnya, seperti kebiasaan 1 hari berpuasa sunnah satu hari berbuka )puasa nabi daud a.s( maka bertepatan puasanya dengan hari yang meragukan, maka boleh bagi orang tersebut berpuasa pada hari itu, juga dari puasa qodho dan puasa nadzar. Maksud hari yang meragukan yaitu hari ke 30 dibulan sya’ban jika TIDAK TERLIHAT bulan baru pada malamnya dari cuaca yang terang )tak ada awan( atau dari ucapan-ucapan orang yang melihat bulan )biru’yatul hilal( dan tidak tahu orang yang berucap orang adil melihat bulan atau menyaksikan bulan halnya dari anak kecil, hamba sahaya atau orang fasiq.

06/07/2015

adalah taqwa, orng patuh ketika di larang makan dan minum. walau makanan dan minumnya adalah makanan yg halal dan minuman yg halal.

06/07/2015

Diriwayatkan,Keledai-keledai liar mengadu kepada Allah masalah bau busuk mayat orang2 kafir, lalu dikatakan kepadanya, ''sesungguhnya perut ulama yg buruk (ulama su') lebih busuk dibandingkan yg kalian cium.

06/07/2015

Al-imam asy-syafi'i mengatakan: aku mendengar sufyan bin uyainah mengatakan: '' sesungguhnya seorang alim itu tidak s**a berselisih atau menghasut. Dia selalu menyebarkan hikmah. Bila diterima dia bertahmid kepada Allah,dan ketika ditolak tetap bertahmid.'

06/07/2015

Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad mengatakan: ada 2 ilmu yg membuat kami tidak merasa aman untuk dipegang oleh pelajar masa sekarang, yaitu ilmu Hakikat dan Ilmu khilafiyah para imam. Kami memiliki banyak kitab tentang itu,dan tidak kami tunjukkan.

Address

Cianjur
Cianjur Regency
15141

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Ta'lim Nurul Huda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share