21/08/2026
*PENTINGNYA JATMAN BAGI SPIRITUALITAS NU*
Nahdlatul Ulama sejak awal lahir bukan hanya gerakan sosial dan politik keumatan. NU adalah gerakan yang ruhnya bertumpu pada tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah. Maka ketika berbicara tentang masa depan NU, kita tidak bisa lepas dari satu lembaga: *Jatman — Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah*.
Jatman bukan "ekstra" bagi NU. Jatman adalah jantung spiritualitas NU.
*1. JATMAN SEBAGAI PENJAGA ASWAJA YANG HIDUP*
NU sering disebut sebagai pengamal Aswaja. Tapi Aswaja tidak cukup dihafal di kitab. Aswaja harus dihidupi.
Thariqah Mu’tabarah di dalam Jatman adalah laboratorium pengamalan Aswaja. Di sana diajarkan:
1. *Tauhid*: Melalui dzikir dan muraqabah agar hati hanya bersandar kepada Allah.
2. *Fiqih*: Diamalkan dengan adab. Sholat tidak hanya sah, tapi khusyu’.
3. *Tasawuf*: Dibersihkan hati dari ujub, riya’, hasad — penyakit yang merusak amal.
Tanpa Jatman, Aswaja NU rawan menjadi formalitas. Dengan Jatman, Aswaja menjadi pengalaman ruhani.
*2. JATMAN ADALAH BENTENG MORAL WARGA NU*
Di tengah banjir informasi, budaya hedonis, dan pragmatisme, warga NU butuh "ruang suci" untuk tazkiyah.
Fungsi Jatman di sini sangat vital:
1. *Pendidikan Akhlak*: Lewat baiat, wirid, suluk, dan bimbingan mursyid. Ini proses pembentukan karakter yang tidak didapat di bangku sekolah.
2. *Terapi Spiritual*: Banyak warga datang ke pesantren dan thariqah bukan cari ilmu, tapi cari ketenangan. Jatman menyediakan psikoterapi Islami yang berakar pada Qur’an, Hadis, dan laku para wali.
3. *Menjaga Istiqamah*: Komunitas dzikir dan thariqah membuat warga tidak mudah "pindah haluan". Ada guru, ada sanad, ada disiplin.
Tanpa Jatman, NU bisa kuat secara struktur tapi keropos secara ruh.
*3. JATMAN DAN TRADISI NUSANTARA: SANAD KE PARA WALI*
Spiritualitas NU tidak lahir dari ruang kosong. Ia bersanad kepada Wali Songo, Syekh Nawawi Banten, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, dan para ulama thariqah Nusantara.
Jatman merawat sanad itu. Melalui ijazah dzikir, silsilah thariqah, dan adab ke mursyid, Jatman menyambungkan generasi sekarang dengan barokah para pendahulu.
Ini yang membuat NU berbeda: bukan hanya mengutip ulama, tapi "menyambung ruh" dengan ulama. Dan itu hanya bisa dijaga lewat thariqah yang mu’tabarah.
*4. TANTANGAN ZAMAN: MENGAPA JATMAN HARUS DIKUATKAN*
1. *Krisis Makna*: Anak muda NU banyak yang cerdas, tapi kosong spiritual. Jatman menawarkan kedalaman, bukan sekadar doktrin.
2. *Ekstremisme dan Liberalisme*: Keduanya sama-sama memotong tradisi. Jatman menjaga jalan tengah: syariat dijalankan, hati dibersihkan, akhlak dijaga.
3. *Profesionalisme Dakwah*: Dai NU hari ini harus paham psikologi, manajemen, dan media. Jatman bisa melahirkan dai yang tidak hanya fasih, tapi juga "bersih hatinya".
*5. PENUTUP: JATMAN BUKAN MILIK SEBAGIAN, TAPI KEPERLUAN SEMUA*
Jatman sering dianggap urusan "orang tarekat" saja. Padahal Jatman adalah oksigen bagi seluruh tubuh NU.
Struktur NU tanpa spiritualitas Jatman seperti tubuh tanpa ruh. Kegiatan NU tanpa dzikir dan muhasabah Jatman seperti mesin tanpa bahan bakar.
Maka menguatkan Jatman artinya menguatkan NU itu sendiri. Menghidupkan majelis dzikir, menghormati mursyid, menjaga adab thariqah, dan mengamalkan ajarannya dalam keluarga dan masyarakat.
Sebagaimana pesan para masyayikh: _"NU dijaga oleh NU, NU dihidupkan oleh dzikir."_
Dan dzikir yang terjaga sanad dan adabnya, itulah Jatman.
*Untuk NU....*
*selamat Ber-muktamar yang ke 35.*
*Semoga sukses selalu dan berkah untuk semuanya.*
_Wallahu muwaffiq ila aqwamith thariq_