GBI SHINE Jakarta

GBI SHINE Jakarta MENJADI GEREJA YANG MENGHIDUPI DAN MEMBERITAKAN INJIL YESUS KRISTUS SAMPAI KE UJUNG BUMI.

Ibadah Minggu pukul 10.00
Persekutuan Doa Rabu pukul 20.00
Persekutuan Doa Sabtu pukul 20.00

Link Zoom untuk PD & Pemuridan :
https://zoom.us/j/6957105512?pwd=RXF3dCs3UWlmbHJVS1drT3lHZWN1dz09

Link Zoom untuk Doa Pagi :
https://us02web.zoom.us/j/3353968144?pwd=YVEzNXpUeHNGNWdWYjdRbWJXcnhqQT09

17/05/2026

AKAR YANG DALAM

Baca: Yeremia 17:5-8
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan. —Yeremia 17:7

Douglas Kent, seorang arsitek lanskap, menelusuri lingkungan Los Angeles yang hangus setelah dilanda kebakaran dahsyat tahun 2025. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: ada pohon-pohon yang tetap hidup dan menghijau, tepat di samping mobil-mobil yang meleleh dan bangunan yang terbakar. Banyak di antaranya bahkan berdaun lebat, berbuah banyak, serta memiliki batang dan cabang yang kuat. Bagaimana bisa?

Setelah melewati dua kali musim dingin dengan curah hujan yang tinggi, akar pohon-pohon itu telah menembus kedalaman tanah untuk menyerap air, lalu menyalurkannya ke seluruh dahan dan daun. Inilah yang membuat pohon-pohon itu mampu bertahan saat kebakaran terjadi. “Saya belajar,” kata Kent, “bahwa jika berakar dengan dalam, kita dapat bertahan hidup.”

Di tengah tekanan hidup yang melanda, iman kita dapat mengalami hal serupa. Ketika akar rohani kita menancap kuat dalam Kristus dan kasih-Nya, kita menjadi “seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:8).

Nabi Yeremia, yang selalu berbicara dengan blak-blakan, memperingatkan bahwa mereka yang “mengandalkan kekuatannya sendiri” itu “terkutuk” (ay.5). Orang itu “akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik.” Sebaliknya, “ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk” (ay.5-6). Alangkah jauh lebih baik untuk mengandalkan Allah! Dengan aliran kasih-Nya yang memelihara kita, kita dapat bertahan, bahkan bertumbuh di masa-masa sulit, sambil menghasilkan buah rohani yang berkenan bagi-Nya. —Patricia Raybon

WAWASAN
Yeremia memperingatkan bangsa Yehuda yang tidak mau bertobat dan menyembah berhala bahwa Allah akan membuang mereka ke Babel karena ketidaksetiaan mereka (Yeremia 25:8-11). Meski demikian, Allah dengan sabar terus mengingatkan mereka untuk bertobat sebelum terlambat (35:15), dan Dia juga menjanjikan pemulihan serta berkat setelah hukuman itu tuntas (31:23-28).

Dalam pasal 17, Yeremia membedakan kutuk bagi orang fasik dengan berkat bagi orang benar (ay. 5-8). Dengan gaya bahasa yang mirip Mazmur 1:1-3, sang nabi berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN . . . Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air” (Yeremia 17:7-8). Sebaliknya, terkutuklah mereka yang “hatinya berpaling dari Allah . . . tanpa harapan untuk masa depan” (ay. 5-6 FAYH).

Tema kutuk dan berkat ini juga sejalan dengan konsekuensi perjanjian yang dijabarkan dalam Ulangan 28. Di tengah berbagai kesulitan, Yeremia mengingatkan bahwa keamanan, kestabilan, kesetiaan, dan buah kehidupan kita didasarkan pada iman kepada Allah, bukan kepada manusia. K.T. Sim

Sedalam apa akar kamu tertancap dalam Kristus? Bagaimana kamu dapat mempercayai-Nya di tengah kesulitan hidup yang melanda?

Ya Allah, saat dunia di sekelilingku seakan terbakar, ingatkanlah aku untuk tetap percaya kepada-Mu.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/akar-yang-dalam-2/

DIA NAIK UNTUK MENDEKAP LELAHMU, BAHKAN LEBIH DARI ITU!Oleh Dhimas AnugrahPernahkah Anda merasa kewalahan?  Sepanjang ha...
15/05/2026

DIA NAIK UNTUK MENDEKAP LELAHMU, BAHKAN LEBIH DARI ITU!

Oleh Dhimas Anugrah

Pernahkah Anda merasa kewalahan?

Sepanjang hari sibuk bekerja dengan deadline yang tiada habisnya, lalu pulang menembus kemacetan jalanan yang melelahkan. Tiba di rumah, masih harus berjibaku dengan urusan rumah tangga. Lalu, di tengah itu semua Anda teringat akan cicilan yang belum lunas, biaya hidup yang membengkak, ditambah lagi konflik relasi yang belum reda. Semua ini tampaknya hal-hal wajar dalam kehidupan orang dewasa, tapi Anda merasa seperti terpojok di titik nadir—cemas, sedih, bahkan kesepian. Jika pernah merasakannya, Anda tidak sendirian.

WHO mencatat satu dari delapan orang di dunia hidup dengan kendala kesehatan mental seperti di atas. Menariknya, ini bukan masalah eksklusif orang dewasa. Kemajuan zaman turut membuat anak-anak dan remaja juga merasakannya. Di Indonesia sendiri, ada sekitar 15,5 juta remaja yang bergumul dengan kecemasan, depresi, hingga stres berat.

Statistik itu bukanlah angka yang kecil, juga bukan sekadar catatan di atas kertas. Di baliknya, bisa jadi ada teman sepelayanan, rekan kerja, pasangan, atau bahkan diri kita sendiri yang bergumul. Dari luar mungkin kelihatan baik-baik saja, tetapi di dalam sedang bergumul dengan keras.

Memikirkan fenomena ini membuat saya menoleh kembali pada satu momen di kalender yang sering kali kita anggap sebagai tanggal merah di tengah minggu yang padat: Kenaikan Tuhan Yesus.

Bagaimana peristiwa kenaikan ini—yang mungkin kalah meriah dari Natal atau Paskah — ternyata memberikan jawaban dan pengharapan paling jujur akan pergumulan kita?

Dia Terangkat Bukan untuk Meninggalkan Kita

Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga terjadi di Bukit Zaitun. Mari kita bayangkan suasananya. Selama empat puluh hari sebelumnya, para murid mengalami berbagai spektrum emosi yang luar biasa. Mereka melihat bagaimana Sang Guru mereka disiksa, disalibkan, dan mati. Mereka berduka. Namun, dukacita itu berubah jadi ledakan sukacita karena Tuhan Yesus bangkit dan menemani mereka kembali. Mungkin mereka saat itu berpikir bahwa Yesus akan tetap selamanya berada bersama mereka, memulihkan segalanya saat itu juga.

Namun, Tuhan Yesus justru mengajak mereka keluar kota sampai dekat Betania. Tanpa peringatan yang panjang, Dia mengangkat tangan-Nya, memberkati para murid, lalu perlahan terangkat ke surga hingga awan menyembunyikan-Nya.

Saya membayangkan bagaimana dinamika perasaan para murid di sana. Ada suatu ketegangan manusiawi yang sangat indah. Di satu sisi, Injil Lukas mencatat bahwa setelah menyaksikan Yesus terangkat, para murid sujud menyembah Dia dan pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Lukas 24:52 TB2). Tapi, di sisi lain, Kisah Para Rasul 1 ayat 9 hingga 11 mencatat bahwa mereka “menatap ke langit” hingga dua orang yang berpakaian putih menegur mereka, “Hai orang-orang Galilela, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.”

Tatapan murid bukan sekadar tatapan kagum, tapi menyiratkan suatu perasaan yang campur aduk. Benar ada kekaguman di sana melihat Sang Guru sungguh hidup dan terangkat ke surga sebagai Allah dan manusia seutuhnya, tapi mungkin juga ada perasaan bingung, takut, atau bahkan sedih karena ditinggalkan. Ketika dua orang berpakaian putih menegur mereka dengan pertanyaan “mengapa kamu melihat ke langit?” ini bukan sekadar pertanyaan retoris atau basa-basi, melainkan pernyataan untuk membangunkan mereka dari kelumpuhan emosional.

Kita tahu kelanjutan kisah para murid dari Lukas yang mencatat bahwa mereka lalu pulang dengan sangat bersukacita. Sukacita ini bukanlah rasa bahagia yang dipaksakan, melainkan sebuah kepastian baru. Kelumpuhan emosional para murid pudar ketika mereka menyadari satu hal bahwa Kristus kini duduk di sebelah kanan Allah (Markus 16:19).

Bayangkan transisi batin ini: dari perasaan kehilangan sosok fisik yang bisa disentuh, menjadi kesadaran bahwa Sang Guru mereka kini bertakhta di tempat tertinggi. Sukacita itu lahir karena mereka menyadari bahwa Yesus tidak sedang meninggalkan mereka sendirian untuk menghadapi dunia, melainkan sedang memosisikan diri-Nya sebagai Raja yang memegang kendali atas segalanya. Pesan malaikat itu seolah berkata, "Jangan terpaku pada kehilanganmu hari ini, karena Dia yang naik ini adalah Dia yang sama yang akan menuntaskan segala sesuatu."

Inilah yang menjadikan momen kenaikan Tuhan Yesus begitu krusial tak hanya bagi pemahaman iman kita, tapi juga bagi cara kita menghadapi kehidupan kita saat ini. Mengapa? Karena Tuhan Yesus naik ke surga sebagai Allah sejati sekaligus manusia seutuhnya. Ini berarti, ada jejak akan kemanusiaan kita di surga. Segala rasa lelah, sesak napas karena cemas, dan air mata kita bukan hal yang asing bagi-Nya. Dia naik untuk menjadi Pengantara yang mengerti setiap jengkal kerapuhan kita.

Inilah yang membuat para murid bisa pulang dengan sukacita meski Yesus secara fisik tidak ada lagi di samping mereka. Mereka tidak lagi mengandalkan kehadiran yang terlihat, tetapi mengandalkan janji kehadiran-Nya yang lebih dalam melalui Roh Kudus. Mereka menyadari bahwa di tengah dunia yang belum pulih ini, mereka tidak dibiarkan sebagai yatim piatu emosional. Ada Penolong yang menetap, dan ada Raja yang mendoakan mereka di takhta-Nya (Roma 8:34; Ibrani 7:25).

Dikutip dari https://www.odbm.org/id/artikel/dia-naik-untuk-mendekap-lelahmu-bahkan-lebih-dari-itu

12/05/2026

MENUNGGU PANEN

Baca: Galatia 6:7-10
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9

Pada tahun 1962, Joanne Shetler dan Anne Fetzer menempuh perjalanan yang berat dengan bus dan berjalan kaki menuju daerah pegunungan terjal di Filipina demi memberitakan Injil kepada penduduk yang belum pernah mendengar tentang Tuhan Yesus.

Selama lima tahun, mereka menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat, tetapi penduduk desa Balangao tidak menerima pesan yang mereka beritakan. Meski demikian, mereka ikut membangun landasan pesawat sederhana supaya pasokan baru bisa diterbangkan masuk ke daerah tersebut. Suatu hari, mendaratlah sebuah pesawat, yang disebut penduduk lokal sebagai “keajaiban dari dunia lain.” Sang pilot kemudian membawa seorang perempuan desa yang hamil dan sakit parah ke suatu klinik yang jauh. Ketika pesawat itu kembali bersama perempuan yang sudah sembuh dan bayinya yang sehat, penduduk desa itu mulai bertanya tentang “Allah” yang pernah mereka dengar. Tidak lama kemudian, desa tersebut memiliki sebuah gereja yang dipenuhi orang-orang yang percaya kepada Kristus.

Setiap dari kita yang membagikan kabar baik tentang Yesus pernah merasa patah semangat ketika orang-orang tampak tidak mau menerimanya. Rasul Paulus memahami hal ini. Setelah menjelaskan kepada jemaat di Galatia tentang pentingnya menabur dan menuai Injil, ia menyadari bahwa sang penabur bisa menjadi lelah. Karena itu, ia mendorong mereka agar tidak “jemu-jemu berbuat baik” (Gal. 6:9).

Lima tahun pertama masa pelayanan Joanne dan Anne pasti membuat mereka kecil hati. Namun, mereka setia menabur, dan akhirnya menuai hasilnya. Demikian juga kita: janganlah menjadi “lemah” (ay.9), karena berita keselamatan pasti akan “menuai hidup yang kekal” (ay.8). —Dave Branon

WAWASAN
Dalam Galatia 6:7-10, Paulus menegaskan tema tabur-tuai, yaitu bagaimana setiap pilihan membawa konsekuensi nyata. Hidup yang dipimpin oleh “daging” (kecenderungan manusiawi untuk mengandalkan diri sendiri dan mengejar kepuasan pribadi; lihat 5:16-21) pasti berujung dengan “kebinasaan.” Sebaliknya, hidup yang dipimpin oleh Roh Kristus akan menghasilkan “hidup yang kekal” (6:8) dan “menuai” hasil yang berlimpah (ay. 9).

Prinsip ini memberi kekuatan dan ketekunan bagi orang percaya, terutama saat mereka berusaha “[melayani] seorang akan yang lain oleh kasih” (5:13). Setiap perbuatan yang dipimpin oleh Roh sangatlah berarti. Terkadang, upaya membagikan Injil dan hidup seperti Kristus bisa terasa melelahkan, dan hasilnya tidak langsung terlihat. Namun, orang percaya dapat meyakini bahwa kesaksian mereka tentang kasih Yesus, lewat perkataan maupun gaya hidup mereka, akan menghasilkan buah yang bersifat kekal. Monica La Rose

Mengapa adakalanya kamu menjadi jemu dalam memberitakan Injil? Pengharapan pasti apa yang terus kamu pegang?

Ya Allah, mampukanlah aku tetap bertahan dan setia menabur ketika orang-orang yang kukasihi tampaknya tidak tertarik pada Injil.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/menunggu-panen/

DIGERAKKAN OLEH IMANBaca: Matius 15:21-28Yesus . . . berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu se...
05/05/2026

DIGERAKKAN OLEH IMAN

Baca: Matius 15:21-28
Yesus . . . berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” —Matius 15:28

J.D. menyaksikan banyak hal menakjubkan dalam perjalanannya ke beberapa negara Afrika. Pesan singkat yang dikirimnya dari Zambia Timur memperlihatkan foto para wanita beriman yang memaparkan rencana penginjilan mereka untuk tiga tahun mendatang. “Itu salah satu pemaparan strategi paling berkesan yang pernah saya dengar. Alih-alih memakai papan tulis, mereka menggambar di tanah. Rencana yang mereka bagikan tidak dibuat di atas kertas yang rapi, melainkan pada kertas kusut seukuran poster yang dipegang oleh dua orang. Sungguh luar biasa!”

Para wanita itu menunjukkan jenis iman yang dipuji Tuhan Yesus. Matius 15:21-28 mencatat contoh serupa. Karena kondisi anak perempuannya, seorang ibu datang kepada Yesus: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita” (ay.22). Yesus menjawabnya, “Hai ibu, besar imanmu” (ay.28). Iman wanita itu bertolak belakang dengan ketidakpercayaan para pemimpin Yahudi yang hatinya jauh dari Allah (ay.8). Walaupun Kristus mengakui garis keturunan orang Yahudi secara lahiriah dari Abraham, pujian-Nya justru diberikan kepada wanita non-Yahudi yang memiliki iman seperti Abraham.

Apa yang mendorong kamu datang kepada Yesus hari ini? Apakah itu kebutuhan pribadi, keluarga, atau komunitas? Apa pun alasannya, datanglah kepada-Nya, meski dengan langkah tertatih. Sebab yang terpenting bukanlah besar-kecilnya iman, melainkan objek iman itu: Yesus, dan hanya Yesus.

—Arthur Jackson

WAWASAN
Pertemuan Yesus dengan perempuan Kanaan sering membingungkan para ahli Alkitab. Perlakuan Yesus tampak tidak lazim: mengapa Dia begitu keras terhadap perempuan yang sedang terluka? Mungkin cara Yesus berinteraksi dengannya lebih ditujukan kepada murid-murid-Nya, agar mereka menyadari kerasnya hati mereka sendiri–karena mereka berkali-kali mendesak Yesus untuk mengusir perempuan itu (Matius 15:23).

Dengan berinteraksi di depan para murid, Yesus memberi mereka contoh yang indah tentang kebesaran iman (ay. 28). Hal itu dilakukan-Nya dengan menyembuhkan anak perempuan itu karena iman sang ibu kepada-Nya. Kisah ini menjadi semakin bermakna karena terjadi setelah perdebatan antara Yesus dan para pemimpin agama, kalangan yang Dia sebut terlalu kaku dalam beragama dan jauh dari hati Allah (ay. 1-14).

Saat ini, dengan memusatkan perhatian pada Yesus, kita dapat menyerahkan seluruh kekhawatiran kita kepada-Nya. Bill Crowder

Bagaimana kamu menggambarkan kondisi iman kamu saat ini? Bagaimana kepercayaan kamu kepada Yesus dapat diteguhkan kembali?

Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk bertumbuh dalam iman dengan percaya bahwa Engkau menyediakan semua yang kuperlukan.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/digerakkan-oleh-iman/

01/05/2026

PERTAHANAN YANG KOKOH

Baca: 1 Petrus 5:8-11
Sadarlah dan berjaga-jagalah! —1 Petrus 5:8

Tim basket cucu kami yang duduk di kelas tujuh berusaha keras mencetak angka di lapangan. Mereka begitu bersemangat menyerang. Namun, setiap kali berhasil mencetak angka, pelatih segera mendesak mereka kembali ke area pertahanan untuk menjaga lawan—sesuatu yang sering kali enggan mereka lakukan. Semua ingin mencetak angka, tetapi tampaknya tidak ada yang mau bekerja keras untuk bertahan.

Menurut pelatih, kunci permainannya adalah mengantisipasi pergerakan lawan. Mencegat operan atau tembakan akan menggagalkan upaya lawan mencetak angka dan membantu tim meraih kemenangan.

Strategi bertahan yang mengantisipasi pergerakan lawan juga dapat menolong kita dalam kehidupan rohani. Siapakah lawan kita? Surat Petrus mengingatkan orang percaya: “Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr. 5:8). Karena itu, “sadarlah dan berjaga-jagalah!” tulis Petrus. Ya, kita dipanggil untuk melawan musuh rohani kita dengan “iman yang teguh” (ay.9).

Menerapkan sikap yang aktif bertahan akan menolong kita sebagai orang percaya untuk hidup lebih efektif dan berbuah bagi kerajaan-Nya. Lalu, saat kita mengalami kemunduran rohani, Allah sumber kasih karunia “akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan” kita (ay.10). Dialah yang menegakkan kita dan membangun pertahanan kita yang kokoh di dalam-Nya.

—Patricia Raybon

Dalam hal apa kamu pernah mengalami kejatuhan dan gagal bertahan secara rohani? Bagaimana kamu dapat lebih sadar dan berjaga-jaga?

Ketika aku lengah secara rohani, ingatkanlah aku, ya Allah, akan perlindungan-Mu atas hidupku.

WAWASAN
Orang percaya dinasihati, “Lawanlah Iblis! Berdirilah teguh dalam iman” (1 Petrus 5:9 AYT). Yesus pun berkata kepada para murid, “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius 10:22; 24:13; Markus 13:13). Rasul Paulus mengingatkan, “Hendaklah kalian waspada dan teguh dalam hidupmu sebagai orang Kristen. Bertindaklah dengan berani dan jadilah kuat” (1 Korintus 16:13 BIMK). Ia juga menegaskan bahwa Allah saja yang memampukan kita tetap berdiri dalam Kristus melalui iman (2 Korintus 1:21,24).

Kita dapat menjadi kuat dalam peperangan melawan Iblis dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Efesus 6:13). Kita juga memiliki Roh Kudus di dalam kita yang menguatkan dan memimpin kita (Roma 8:26). Strategi pertahanan terbaik dalam menghadapi godaan adalah dengan membaca Alkitab, berdoa, dan meminta pertolongan Allah. Alyson Kieda

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/pertahanan-yang-kokoh/

25/04/2026

MELAYANI SEPERTI KRISTUS

Baca: Filipi 2:3-8
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. —Filipi 2:5

Saat mengunjungi seorang rekan yang dirawat di rumah sakit, saya terkesan dengan tindakan seorang dokter muda yang hadir bersama rekan-rekan dokter muda lainnya. Mereka sedang mendengarkan penjelasan seorang dokter senior tentang kondisi pasien. Tiba-tiba, rekan saya dengan cemas berkata bahwa ia perlu ke kamar mandi, tetapi kesulitan untuk bangun. Ia bahkan tidak sanggup menunggu perawat untuk datang membantunya.

Di tengah situasi panik itu, dokter muda tadi segera mengambil pispot dari rak dan membantu si pasien. Ketika akhirnya perawat tiba, ia terkejut mendapati pasien sudah ditolong. Dokter senior pun dengan bangga memuji tindakan sigap dokter muda itu.

Yesus tidak memegang erat-erat keilahian-Nya dan menolak menolong umat manusia. Meski “dalam rupa Allah, [Dia] tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Flp. 2:6). Datang sebagai manusia, Kristus rela menjadi korban penghapus dosa kita dengan mempersembahkan diri-Nya. Dia melihat bahwa kita membutuhkan pertolongan dan keselamatan, jadi Dia merendahkan diri dengan menyerahkan nyawa-Nya (ay.8). Paulus menulis, “[Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (ay.7).

Dalam hubungan dengan orang lain, kita pun dipanggil untuk meneladan sikap Yesus dan kerelaan-Nya untuk berkorban. Dengan pertolongan-Nya, marilah kita rela melayani sesama, apa pun caranya, bahkan sekalipun itu dianggap rendah di mata manusia. —Katara Patton

WAWASAN
Ada sejumlah perdebatan tentang makna Filipi 2:7, yang menyatakan bahwa Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Kata “mengosongkan” berasal dari bahasa Yunani kenoo, yang menjadi dasar dari apa yang dikenal sebagai teori kenosis. Jika Kristus “mengosongkan diri-Nya sendiri” (atau “membuat diri-Nya tidak memiliki apa-apa” AYT), apakah yang sebenarnya dikosongkan dari diri-Nya?

Sebagian berpendapat bahwa Dia melepaskan ketuhanan atau sifat ilahi-Nya. Namun, jika demikian, pengorbanan-Nya di salib takkan memiliki kuasa. Kolose 2:9 menegaskan, “Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Jadi, yang Yesus kosongkan atau lepaskan adalah hak untuk memilih cara hidup dan menerapkan sifat-sifat ilahi-Nya. Sebaliknya, Dia memilih untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak Bapa dan “mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:7).

Saat ini, kita dapat mengikuti teladan kerendahan hati-Nya, dengan melayani sesama dalam kerelaan berkorban bagi mereka. Bill Crowder

Bagaimana kamu dapat mencerminkan sikap dan cara hidup Yesus? Seperti apa pelayanan yang dapat kamu lakukan dengan rela bagi seseorang hari ini?

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau telah merendahkan diri-Mu hingga mati demi dosaku. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat melayani sesama dengan hati yang rela.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/04/melayani-seperti-kristus/

20/04/2026

TERHILANG, TETAPI KINI DITEMUKAN

Baca: Lukas 15:8-10
Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. —Lukas 15:9

Bertahun-tahun lalu, saat saya berkunjung ke kawasan Amazon di Ekuador bersama ayah saya, kami menaiki perahu menuju sebuah desa kecil untuk menikmati pemandangan dan mengenali kehidupan penduduk di sana. Ayah saya membelikan saya sejumlah perhiasan hasil kerajinan tangan, termasuk sepasang anting. Anting-anting itu hanya saya kenakan pada acara-acara khusus, seperti ketika saya mengunjungi saudara perempuan saya untuk merayakan ulang tahun saya. Namun, sepulang dari sana, saya panik ketika menyadari salah satu anting itu hilang. Saya sampai mencarinya ke mana-mana.

Memang itu hanya sebuah anting, tetapi untuk mendapat gantinya saya harus menempuh perjalanan jauh kembali ke hutan Amazon. Yang luar biasanya, ketika saudara perempuan saya kembali ke restoran tempat kami merayakan ulang tahun, ia berhasil menemukan anting saya di kotak barang hilang. Alangkah gembiranya saya mendengar kabar itu!

Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang perempuan yang kehilangan sekeping dirhamnya. Ia tidak berhenti mencari sampai dirham yang berharga itu ditemukan. “Tidakkah ia akan mencarinya dengan menyalakan lampu dan menyapu setiap sudut rumahnya sampai ia menemukannya?” tanya Yesus (Luk. 15:8 fayh). Lalu, ketika dirham itu ditemukannya, ia sangat bersukacita (ay.9).

Perumpamaan ini diceritakan Yesus untuk menunjukkan betapa berharganya kita di mata Allah. Yesus “datang untuk mencari dan menyelamatkan” kita yang terhilang (Luk. 19:10). Meski kita pernah terhilang, seisi surga bersukacita ketika kita ditemukan. —Nancy Gavilanes

WAWASAN
Kasih Allah bagi kita tercatat di seluruh Alkitab. Yohanes 3:16-17 menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dia “mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Kebesaran kasih Allah kepada kita dibuktikan-Nya dengan “mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10; lihat juga 3:1). Kita memang pantas dihukum, tetapi karena belas kasih-Nya, Allah “menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita” (Efesus 2:5; lihat Roma 5:8). Ketika kita meninggalkan dosa dan beriman kepada Yesus, surga pun bersukacita (Lukas 15:10). Alyson Kieda

Bagaimana perasaan kamu saat mengetahui bahwa kamu berharga di mata Allah? Apa yang kamu rasakan saat menyadari bahwa surga bersukacita saat kita ditemukan kembali?

Ya Allah, terima kasih karena Engkau tidak pernah berhenti mencariku.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/04/terhilang-tetapi-kini-ditemukan/

Aman dalam Tangan AllahBaca: Yesaya 41:8-14Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau . . . Aku akan memegang engkau de...
09/04/2026

Aman dalam Tangan Allah

Baca: Yesaya 41:8-14
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau . . . Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. —Yesaya 41:10

Saat wahana di taman hiburan yang saya tumpangi bergerak makin tinggi, saya berusaha menutup mata dan mengabaikan suara berderit yang terdengar. Namun, saat wahana itu berhenti sejenak, saya melakukan kesalahan dengan membuka mata, dan rasa takut langsung menyergap ketika melihat kendaraan yang kami tumpangi akan segera meluncur ke bawah. Saya kembali menutup mata dan berteriak-teriak di sepanjang perjalanan yang menurun. Kenangan masa kecil itu masih membekas dan membuat saya merinding sampai sekarang.

Dalam hidup, adakalanya kita merasa seolah-olah terjatuh semakin dalam tanpa ada yang menangkap kita. Namun, ketika hidup terasa kacau dan berjalan di luar kendali, kita mendapat penghiburan dengan menyadari bahwa Allah selalu menyertai kita. Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Allah berdiam dalam diri kita oleh Roh-Nya yang kudus. Kita dapat berbicara kepada-Nya dan dipimpin oleh firman-Nya.

Allah ingin meyakinkan bangsa Israel bahwa Dia akan “menangkap” mereka bahkan ketika mereka jatuh ke dalam pemberontakan. Melalui Nabi Yesaya, Dia berkata, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10). Allah ingin mereka tahu bahwa Dia akan memampukan mereka melewati pencobaan (ay.13). Tentulah bangsa Israel begitu terhibur saat mengetahui bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka, sekalipun mereka masih hidup sebagai tawanan di negeri asing.

Saat hidup kita terasa berjalan di luar kendali, kiranya kita dikuatkan dengan menyadari bahwa Allah hadir untuk menolong kita. Kita aman terlindung dalam tangan-Nya yang penuh kasih dan kuasa. —Nancy Gavilanes

WAWASAN
Sebagian besar Perjanjian Lama mengontraskan dewa-dewa palsu yang disembah bangsa-bangsa lain dengan Yahweh, satu-satunya Allah sejati yang disembah Israel. Inilah yang disampaikan dalam nubuatan Nabi Yesaya di sini. Dalam Yesaya 40, Allah bertanya, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (ay. 18), dan menyatakan bahwa para penyembah berhala “tukang yang ahli untuk membuat patung yang tak mudah goyang” (ay. 20 BIMK).

Ketika Allah berkata kepada umat-Nya, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu” (41:10), Dia menegaskan perbedaan diri-Nya dengan berhala yang memerlukan bantuan tukang “supaya tidak goyang” (ay. 7 BIMK). Meski umat-Nya menghadapi banyak tantangan, Dia berjanji akan menyelamatkan mereka: “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ‘Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau'” (ay. 13). Ketika kita diuji, Dia akan menolong kita. Kita aman di dalam tangan-Nya. Tim Gustafson

Tantangan apa yang sedang kamu hadapi hari ini? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa Allah selalu menyertai kamu?

Ya Allah, terima kasih, karena aku aman terlindung dalam tangan-Mu.

Dikutip dari

SANTAPAN ROHANI. Jumat, 10 April 2026. Baca: Yesaya 41:8-14 Saat wahana di taman hiburan yang saya tumpangi bergerak makin tinggi, saya berusaha menutup mata dan mengabaikan suara berderit yang terdengar. Namun, saat wahana itu be...

KUASA KEBANGKITANBaca: Markus 16:1-8Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ad...
04/04/2026

KUASA KEBANGKITAN

Baca: Markus 16:1-8
Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. —Markus 16:6

Tagihan listrik rumah Loretta mencapai 100 dolar, jauh lebih tinggi dari biasanya. “Tuhan pasti akan menyediakan uangnya,” ucap Loretta kepada putranya. Lalu, pada hari itu juga, ia menerima pesan singkat dari adiknya: “Kak, kamu selalu mendukungku dan aku ingin berterima kasih. Coba lihat, aku mengirimkan sesuatu kepadamu lewat pos.” Sore itu, Loretta menerima kartu hadiah, persis senilai 100 dolar. Sebagian orang mungkin menyebutnya kebetulan, tetapi bagi Loretta, itu sebuah mukjizat. Ia selalu berharap kepada Allah yang hidup untuk menyediakan kebutuhannya.

Cara pandang Loretta menggemakan pelajaran yang dapat kita terima dari kisah kebangkitan Tuhan Yesus. Setelah hari Sabat, tiga perempuan membeli rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus dalam kubur-Nya. Namun, saat berjalan ke kubur pagi itu, yang mereka harapkan bukanlah mukjizat, melainkan masalah: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” (Mrk. 16:1-3).

Pertanyaan para perempuan itu sarat dengan keraguan yang bercampur rasa ingin tahu, meski mereka—termasuk Maria Magdalena—sudah lama menyertai Yesus dan pernah menyaksikan kuasa-Nya. Pagi itu, semua dari mereka mencari Yesus yang telah mati.

Namun, mereka justru mendengar pernyataan: “Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini” (ay.6). Pernyataan ini menegaskan apa yang dapat kita harapkan dari Yesus yang hidup: kuasa kebangkitan-Nya yang ajaib. Dia sungguh hidup. Saat kita menghadapi “batu-batu besar” yang ingin kita gulingkan, Dia akan hadir dan menolong kita. Dia tidak lagi ada di kubur. Dia sungguh telah bangkit!

—Patricia Raybon

WAWASAN
Ada tiga wanita yang disebut dalam kisah kebangkitan Yesus menurut Injil Markus: “Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome” (Markus 16:1). Mereka datang membawa rempah-rempah untuk mengurapi tubuh Yesus, sambil bertanya dengan wajar, “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” (ay. 3). Namun, pertanyaan itu tak lagi relevan, karena ternyata batu itu sudah terguling. Markus mencatat bahwa mereka semakin kebingungan dan diliputi ketakutan (ay. 8). Lukas menambahkan, “Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus” (Lukas 24:8). Matius menulis dengan lebih rinci, “Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (Matius 28:8).

Ketiga kisah ini terasa sahih karena mencerminkan reaksi manusiawi yang wajar ketika dihadapkan pada kebenaran agung bahwa Yesus telah bangkit. Kini, ketika kita menghadapi masalah yang perlu diatasi, kuasa yang menggulingkan batu itu juga tersedia bagi kita. Tim Gustafson

Pernahkah kamu menyaksikan Allah bekerja dengan cara yang ajaib? Bagi kamu, apa artinya hidup dalam kuasa kebangkitan Tuhan Yesus?

Tuhan Yesus, Engkau sungguh hidup. Pada-Mu ada kuasa kebangkitan yang kami perlukan!

Dikutip dari

SANTAPAN ROHANI. Minggu, 5 April 2026. Baca: Markus 16:1-8 Tagihan listrik rumah Loretta mencapai 100 dolar, jauh lebih tinggi dari biasanya. “Tuhan pasti akan menyediakan uangnya,” ucap Loretta kepada putranya. Lalu, pada ha...

Address

Jalan Raden Saleh Raya No. 14D, RT. 10/RW. 1, Cikini, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Gedung Yayasan Kasih Bersaudara)
Central Jakarta
10330

Opening Hours

Monday 09:00 - 21:00
Tuesday 09:00 - 21:00
Wednesday 09:00 - 21:00
Thursday 09:00 - 21:00
Friday 09:00 - 21:00
Saturday 09:00 - 21:00
Sunday 09:00 - 21:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBI SHINE Jakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GBI SHINE Jakarta:

Share