17/05/2026
AKAR YANG DALAM
Baca: Yeremia 17:5-8
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan. —Yeremia 17:7
Douglas Kent, seorang arsitek lanskap, menelusuri lingkungan Los Angeles yang hangus setelah dilanda kebakaran dahsyat tahun 2025. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: ada pohon-pohon yang tetap hidup dan menghijau, tepat di samping mobil-mobil yang meleleh dan bangunan yang terbakar. Banyak di antaranya bahkan berdaun lebat, berbuah banyak, serta memiliki batang dan cabang yang kuat. Bagaimana bisa?
Setelah melewati dua kali musim dingin dengan curah hujan yang tinggi, akar pohon-pohon itu telah menembus kedalaman tanah untuk menyerap air, lalu menyalurkannya ke seluruh dahan dan daun. Inilah yang membuat pohon-pohon itu mampu bertahan saat kebakaran terjadi. “Saya belajar,” kata Kent, “bahwa jika berakar dengan dalam, kita dapat bertahan hidup.”
Di tengah tekanan hidup yang melanda, iman kita dapat mengalami hal serupa. Ketika akar rohani kita menancap kuat dalam Kristus dan kasih-Nya, kita menjadi “seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:8).
Nabi Yeremia, yang selalu berbicara dengan blak-blakan, memperingatkan bahwa mereka yang “mengandalkan kekuatannya sendiri” itu “terkutuk” (ay.5). Orang itu “akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik.” Sebaliknya, “ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk” (ay.5-6). Alangkah jauh lebih baik untuk mengandalkan Allah! Dengan aliran kasih-Nya yang memelihara kita, kita dapat bertahan, bahkan bertumbuh di masa-masa sulit, sambil menghasilkan buah rohani yang berkenan bagi-Nya. —Patricia Raybon
WAWASAN
Yeremia memperingatkan bangsa Yehuda yang tidak mau bertobat dan menyembah berhala bahwa Allah akan membuang mereka ke Babel karena ketidaksetiaan mereka (Yeremia 25:8-11). Meski demikian, Allah dengan sabar terus mengingatkan mereka untuk bertobat sebelum terlambat (35:15), dan Dia juga menjanjikan pemulihan serta berkat setelah hukuman itu tuntas (31:23-28).
Dalam pasal 17, Yeremia membedakan kutuk bagi orang fasik dengan berkat bagi orang benar (ay. 5-8). Dengan gaya bahasa yang mirip Mazmur 1:1-3, sang nabi berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN . . . Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air” (Yeremia 17:7-8). Sebaliknya, terkutuklah mereka yang “hatinya berpaling dari Allah . . . tanpa harapan untuk masa depan” (ay. 5-6 FAYH).
Tema kutuk dan berkat ini juga sejalan dengan konsekuensi perjanjian yang dijabarkan dalam Ulangan 28. Di tengah berbagai kesulitan, Yeremia mengingatkan bahwa keamanan, kestabilan, kesetiaan, dan buah kehidupan kita didasarkan pada iman kepada Allah, bukan kepada manusia. K.T. Sim
Sedalam apa akar kamu tertancap dalam Kristus? Bagaimana kamu dapat mempercayai-Nya di tengah kesulitan hidup yang melanda?
Ya Allah, saat dunia di sekelilingku seakan terbakar, ingatkanlah aku untuk tetap percaya kepada-Mu.
Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/akar-yang-dalam-2/