GBI SHINE Jakarta

GBI SHINE Jakarta MENJADI GEREJA YANG MENGHIDUPI DAN MEMBERITAKAN INJIL YESUS KRISTUS SAMPAI KE UJUNG BUMI.

Ibadah Minggu pukul 10.00
Persekutuan Doa Rabu pukul 20.00
Persekutuan Doa Sabtu pukul 20.00

Link Zoom untuk PD & Pemuridan :
https://zoom.us/j/6957105512?pwd=RXF3dCs3UWlmbHJVS1drT3lHZWN1dz09

Link Zoom untuk Doa Pagi :
https://us02web.zoom.us/j/3353968144?pwd=YVEzNXpUeHNGNWdWYjdRbWJXcnhqQT09

15/09/2026

Bersabar

Hendaklah kamu selalu . . . sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. –Efesus 4:2

Efesus 4:1-6

Shiro Oguni pernah berkunjung ke rumah perawatan bagi para penderita demensia. Karena hatinya pilu melihat keadaan mereka yang terisolasi dari masyarakat, ia berusaha memikirkan cara yang lebih baik untuk memperlakukan mereka. Dengan kreativitas yang jenius, Oguni menciptakan suatu restoran yang unik bernama Restoran Salah Pesan, yang semua pelayannya bergumul dengan ingatan yang lemah. Dalam pekerjaan yang membutuhkan daya ingat yang kuat, setiap pelayan di sana justru menemui kesulitan untuk melakukannya. Bila dilihat dari perspektif bisnis secara umum, hasilnya memang buruk: 37 persen dari para tamu tidak menerima apa yang mereka pesan. Namun, tamu-tamu itu memang sudah memperkirakan dan memahami masalah tersebut. Mereka menerima permintaan maaf atas “kejutan” yang mereka dapatkan, lalu p**ang dengan gembira.

Rasul Paulus menulis, “Hendaklah kamu selalu . . . sabar” (Ef. 4:2), dan kita semua tahu bahwa itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Kesabaran menuntut kita untuk saling membantu, sebuah kata yang juga dapat berarti “menanggung,” “menahan” atau “menopang.” Dengan kata lain, diperlukan usaha untuk melakukannya. Jika usaha tersebut bersumber dari kasih Allah dan bukan dari kekuatan kita sendiri, bebannya akan menjadi lebih ringan dan membuat kita menjalani hidup yang penuh sukacita, kejutan, pengampunan, bahkan gelak tawa. Itulah kehidupan yang mungkin tidak memberikan apa yang Anda mau, tetapi yang akhirnya memberikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh kita semua, yaitu hidup yang “sesuai dengan kedudukan [kita] sebagai orang yang sudah dipanggil oleh Allah” (ay. 1 BIMK).

Renungkan dan Doakan
Siapakah orang-orang yang sering membuat Anda tidak sabar? Bagaimana Anda akan menunjukkan kesabaran kepada mereka minggu ini? (Bisa dimulai dengan mendoakan mereka.)

Tuhan Yesus, aku ingin memiliki kesabaran. Tolonglah aku yang sering tidak sabar.

Wawasan
Di awal suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus mengingatkan betapa Allah sangat mengasihi kita: “Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan . . . [dan] menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya” (Efesus 1:4-5). Sebagai tanggapan terhadap kasih yang tidak layak kita terima itu, kita dinasihati Paulus untuk “hidup sesuai dengan panggilan [kita] sebagai umat Allah” (4:1 TSI) serta menunjukkan kebajikan rohani yang serupa Kristus—kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih (ay. 2).

Dalam kerendahan hati, kita diajak untuk “menganggap yang lain lebih utama dari pada diri [kita] sendiri; dan [tidak] hanya memperhatikan kepentingan [kita] sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3-4). Dalam kelemahlembutan dan kesabaran, kita “sabar satu sama lain, dan saling mengampuni . . . [karena] Tuhan dengan senang hati mengampuni [kita]” (Kolose 3:13 BIMK). Karena “Allah tinggal di dalam kita dan kasih-Nya itu disempurnakan di dalam kita” (1 Yohanes 4:12 AYT), Dia akan memampukan kita menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain dengan kesabaran. –K.T. Sim

Dikutip dari odbm.org

13/08/2026

Kita Dipanggil Bukan untuk Menjadi Nyaman, tapi...

Oleh Aryanto Wijaya

Sejak tahun 2010, saya terbiasa menulis diari. Salah satu momen favorit saya adalah membandingkan catatan di tanggal yang sama dari tahun-tahun sebelumnya.

Saat membaca kembali catatan tanggal 31 Juli dari dua tahun berbeda—2012 dan 2017—saya menemukan dua suasana batin yang kontras. Pada 2012, sebagai lulusan SMA yang baru berangkat merantau untuk kuliah, saya dipenuhi haru dan harapan. Ada kepastian di sana: dalam empat tahun, saya tahu saya akan lulus.

Namun pada 2017, ketika merantau lagi ke kota lain untuk bekerja, saya justru merasa asing dan kesepian. Bukan karena tidak mengenali kotanya, melainkan karena saya tidak memegang peta masa depan. Saya tidak tahu seperti apa tantangan pekerjaan ini, harus bagaimana menghadapinya, dan sampai kapan akan berada di sana. Seluruh kehidupan rasanya berisi ketidakpastian.

Rasa asing dan disorientasi akibat melangkah ke dalam ketidakpastian bukanlah perasaan yang hanya dialami saya sendirian. Bila kita kembali ke Alkitab, saya menerka-nerka mungkin perasaan ini pun dialami oleh Abram ribuan tahun lalu, ketika ia diminta meninggalkan Ur-Kasdim, tanah kelahirannya.

Kejadian 12 mencatat awal panggilan ini. Kala itu, Abraham masih bernama Abram. Ia adalah anak Terah. Ur-Kasdim di masa itu adalah kawasan di wilayah Mesopotamia kuno (sekarang ada di area Irak bagian selatan). Ur bukanlah desa terpencil yang tertinggal, melainkan kota metropolitan yang maju, kaya, dan menjadi pusat peradaban serta perdagangan. Keluarga Abram pun hidup berkecukupan dengan kelompok kekerabatan yang kuat dan mapan.

Artinya, ketika Allah meminta Abram pergi, Abram tidak sedang melarikan diri dari kemiskinan atau penderitaan. Ia justru diminta meninggalkan seluruh kenyamanan, status sosial, dan jaminan keamanan keluarganya menuju tempat yang belum pasti.

Jika kita melihat alur cerita di Kitab Kejadian, panggilan ini muncul tepat setelah peristiwa Menara Babel (Kej. 11). Di Babel, manusia berkumpul demi ambisi egois: "...marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi. " (Kej. 11:4), yang akhirnya berujung pada kekacauan dan pencerai-beraian. Namun, di pasal selanjutnya, Allah membalikkan narasi itu. Ia memanggil satu orang dan berkata: "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kej. 12:2-3).

Allah tidak membiarkan dunia yang rusak oleh ambisi manusia begitu saja. Ia memulai proyek pemulihan-Nya melalui panggilan kepada Abram—bukan demi kebesaran pribadi Abram semata, melainkan agar ia menjadi saluran berkat bagi seluruh bangsa.

Dan, bagaimana respons Abram?

Di sinilah letak keindahannya. Pada Kejadian 12:1, Allah bersabda, "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Allah tidak memberikan peta detail, koordinat jelas, atau rencana lima tahun ke depan. Ia hanya memberikan satu perintah dan janji. Menariknya, Alkitab tidak mencatat Abram melakukan negosiasi atau pun protes. Kejadian 12:4 mencatat respons Abram dengan singkat: "Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya."

Di titik ini saya merenung. Mengapa Abram bisa sebegitu taatnya pada Tuhan yang memanggilnya tanpa instruksi yang detail?

Jawabannya bukan karena Abram nekat atau memiliki keberanian super. Penulis Kitab Ibrani di Perjanjian Baru memberi kita kuncinya: Abram melangkah karena iman (Ibr. 11:8). Iman bukanlah tindakan nekat tanpa dasar atau sekadar berpikir positif, melainkan kepercayaan pada Sosok yang Memanggil. Abram tidak diberikan instruksi detail, tetapi ia diberikan perintah dan janji dari Allah yang menampakkan diri kepadanya (Kej. 12:7).

Abram belajar bahwa dalam perjalanan bersama Tuhan, panduan utamanya bukanlah sebuah peta, melainkan Pribadi Tuhan itu sendiri. Ketika ia tidak tahu ke mana langkahnya akan bermuara, ia memilih bersandar pada Pribadi yang memanggilnya.

***

Perjalanan yang Abraham alami bukanlah perjalanan yang sama persis dengan saya, tetapi Allah yang memanggil Abram, adalah Allah yang sama, yang memanggil saya dan juga kita semua hari ini.

Diari yang saya tulis pada 2017 itu pun kini telah berlalu hampir satu dekade. Di kota perantauan yang sama, tempat saya merasa asing dan penuh ketidakpastian, Tuhan mengizinkan berbagai tantangan membentuk dan mendewasakan saya. Tuhan membukakan jalan untuk saya melanjutkan studi, memulihkan relasi keluarga, hingga mempercayakan kembali pelayanan bagi-Nya. Kota yang dulu terasa menakutkan ternyata menjadi ruang di mana Tuhan memproses kehidupan saya.

Saya tidak tahu ke mana Tuhan memanggil dan menempatkan kita hari ini atau esok. Entahkah tanggung jawab kita saat ini adalah sebagai warga negara Indonesia, seorang karyawan, mahasiswa, atau apa pun, cerita Abraham mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan kita meskipun kita mungkin merasa bingung atau kewalahan dengan tantangan yang ada.

Kita tidak sedang tersesat. Panggilan Tuhan sering kali memang tidak dirancang untuk membuat kita nyaman, melainkan untuk menjadikan kita saluran berkat bagi sesama (Kej. 12:2-3). Kita tidak butuh peta yang sempurna untuk melangkah. Kita hanya perlu bersandar pada Pribadi yang memanggil kita, agar kehadiran kita membawa dampak baik di mana pun kaki kita berpijak.

14/07/2026

Bila Keadaan Tidak Berubah, Masihkah Kita Tetap Berharap?

Oleh Dhimas Anugrah

Apa harga yang paling mahal yang pernah kita bayar untuk mengikut Kristus?

Pertanyaan itu membuat ingatan saya terbang kembali ke sebuah rumah kontrakan sederhana bertahun-tahun lalu. Di sana, seorang ibu mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya untuk mengikut Tuhan Yesus. Konsekuensinya tidak main-main. Dia harus kehilangan pernikahan yang selama ini menjadi tempatnya bergantung. Malam itu, dengan tangan yang masih gemetar, dia mengunci pintu dari dalam. Tak ada lagi sosok suaminya yang p**ang. Yang dia lihat hanyalah dua anaknya yang masih kecil, tidur lelap di atas kasur tipis. Hari esok pun bagaikan kabut tebal: uang untuk bayar kontrakan belum ada. Segala kemudahan dan kenyamanan di masa lalu ikut hilang. Namun, dia memilih untuk berharap pada Allah yang memegang hari esok.

Kisah ibu di atas yang tiba-tiba hidupnya berubah drastis memperlihatkan pada kita sisi sunyi dari sebuah kebajikan yang sering kita bicarakan namun sulit kita hidupi: pengharapan. Ketika keadaan mendesak kita untuk menyerah, dari mana datangnya kekuatan untuk tetap melangkah? Viktor Frankl, seorang psikiater Yahudi pernah mengalami masa-masa kelam di mana kesempatan untuk hidup rasanya hampir mustahil. Dia ditawan dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi N**i. Di tengah penyiksaan dan kengerian itu, Frankl menyaksikan fenomena unik: mereka yang mampu bertahan hidup bukanlah orang yang fisiknya paling kuat, melainkan mereka yang jiwanya masih merawat harapan. Frank yakin bahwa harapan memberi manusia kekuatan untuk terus melangkah, bahkan ketika hampir semua alasan untuk menyerah terasa lebih masuk akal.

Pengalaman putus asa atau hilang harapan tidak hanya dialami oleh mereka yang berada di tengah peperangan atau kehilangan besar. Hampir setiap orang pernah menghadapi masa ketika masa depan tampak tidak pasti, doa terasa belum dijawab, atau jalan keluar belum terlihat. Pada saat-saat seperti itulah muncul pertanyaan yang paling mendasar: apa sebenarnya arti berharap? Apakah berharap hanya berarti tetap berpikir positif bahwa keadaan akan membaik, atau adakah dasar yang lebih kukuh ketika kenyataan hidup justru bergerak ke arah yang sebaliknya?

Pengamatan Frankl menunjukkan betapa besar kuasa harapan dalam kehidupan manusia. Namun, Alkitab mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Jika harapan begitu penting bagi kehidupan manusia, dari manakah pengharapan yang sejati berasal? Apa yang membuat orang percaya tetap berharap ketika keadaan tidak berubah, doa belum terjawab, bahkan penderitaan terus berlangsung? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu melihat bagaimana Alkitab memahami pengharapan.

Salah satu potret terbaik untuk memahami pengharapan adalah dari kehidupan gereja mula-mula. Mereka hidup di bawah bayang-bayang tekanan, penolakan, dan penganiayaan berat. Secara manusia, mereka memiliki seribu satu alasan untuk menyerah pada ketakutan. Namun, sejarah mencatat hal yang sebaliknya: mereka justru menjadi saksi nyata tentang bagaimana pengharapan kepada Kristus bekerja aktif saat realitas hidup sama sekali tidak berpihak pada mereka.

Apa rahasia di balik keteguhan itu?

Pengalaman jemaat mula-mula ini sangat krusial karena mereka adalah generasi yang paling dekat dengan pelayanan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Pengharapan yang mereka hidupi bukanlah hasil spekulasi filsafat atau tradisi yang baru tumbuh belakangan, melainkan buah langsung dari kesaksian para saksi mata kebangkitan. Lewat keseharian mereka yang kontras—di mana mereka ditolak, dipenjara, bahkan kehilangan nyawa—kita dapat melihat bagaimana pengharapan yang diajarkan Kitab Suci itu mewujud nyata di dunia yang retak. Bagi mereka, berharap kepada Allah bukanlah mantra pelarian agar hidup otomatis menjadi lebih mudah, melainkan keberanian untuk memegang janji Allah di tengah penderitaan.

Keyakinan radikal ini bertumpu pada satu peristiwa yang mengubah arah sejarah, yaitu kebangkitan Yesus Kristus. Karena Yesus bangkit dan hidup, gereja mula-mula percaya bahwa dosa, penderitaan, dan kematian bukanlah akhir dari cerita mereka. Itulah mengapa Rasul Petrus menegaskan bahwa Allah "telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan" (1 Ptr. 1:3).

Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani untuk pengharapan —elpis—sama sekali tidak merujuk pada angan-angan kosong atau sekadar kata "mudah-mudahan". Elpis adalah keyakinan yang teguh dan pasti bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Karena itu, pengharapan Kristiani tidak dibangun di atas kemungkinan bahwa situasi besok akan membaik, melainkan di atas kepastian bahwa Allah telah bertindak melalui Kristus. Tidak heran jika penulis Ibrani menyebut pengharapan ini sebagai “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa” (Ibr. 6:19). Seperti sauh yang menjaga kapal tetap tegap menerjang badai, demikian p**a pengharapan menopang hati kita agar tidak karam saat diguncang berbagai pencobaan.

Inilah batas tegas yang membedakan pengharapan Kristiani dari optimisme biasa. Optimisme manusiawi bersandar pada situasi dan berkata, "Semoga keadaan segera membaik." Sebaliknya, pengharapan iman bersandar pada Pribadi Allah dan berani berkata, "Apa pun yang terjadi, Allah tetap setia menggenapi setiap janji-Nya" (Mzm. 25:10; 73:26; Hab. 3:17). Rasul Paulus bahkan menyebut Dia sebagai "Allah sumber pengharapan" (Rm. 15:13).

Gereja mula-mula mungkin tidak pernah tahu bagaimana akhir dari setiap persoalan mereka, tetapi mereka mengenal dengan intim Siapa yang memegang masa depan. Ketika dunia melihat salib sebagai lambang kekalahan yang memalukan, mereka melihat salib dan kubur yang kosong sebagai fajar dari ciptaan yang baru. Dari sanalah lahir kekuatan yang menopang orang percaya, dahulu hingga hari ini.

Pengharapan yang lahir dari kebangkitan Kristus ini tidak berhenti menjadi catatan sejarah masa lalu. Ia terus bergerak melintasi abad, membentuk cara hidup orang percaya dari generasi ke generasi. Pengharapan Kristen tidak hanya bertanya dari mana ia berasal, melainkan bagaimana ia mengubah cara kita menjalani hari ini.

Berabad-abad kemudian, realitas ini dihidupi oleh Jürgen Moltmann. Setelah mengalami kelamnya Perang Dunia II dan menjalani hari-hari sebagai tawanan perang, Moltmann menyadari satu hal krusial: manusia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa harapan. Melalui adikaryanya, Theology of Hope, ia menegaskan dalam Theology of Hope: "Christian faith lives from the raising of the crucified Christ, and strains after the promises of the universal future of Christ" (Moltmann, 1967, 16). Iman Kristen itu hidup dari kebangkitan Kristus yang disalibkan, dan bergerak maju menyambut masa depan yang dijanjikan-Nya.

Bagi Moltmann, kebangkitan Kristus bukanlah dogma kuno yang statis. Kebangkitan adalah fajar masa depan yang masuk ke masa kini, memberi kita kekuatan untuk tetap mengasihi ketika kasih tidak dibalas, tetap mengampuni saat hati terluka, tetap melayani meski tidak dihargai, dan tetap setia ketika hasilnya belum kelihatan.

Tetap Melangkah dalam Pengharapan

Pengharapan yang radikal seperti inilah yang sebenarnya menyelimuti rumah kontrakan sederhana yang saya ceritakan di awal.

Bertahun-tahun kemudian, keputusan iman dari ibu yang gemetar mengunci pintu malam itu menghasilkan buah yang tidak pernah dia bayangkan. Kedua anaknya bertumbuh dalam iman. Salah satunya menjadi seorang pendidik, dan anak yang satunya lagi... adalah saya, orang yang menulis artikel yang sedang Anda baca ini. Lebih dari itu, dua minggu sebelum ayah saya berp**ang, dia membuka hatinya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Kisah hidup ibu saya menjadi bukti nyata bagi saya bahwa pengharapan di dalam Kristus tidak menjanjikan hilangnya penderitaan dalam sekejap. Pengharapan itu bekerja dengan cara memberikan kekuatan untuk tetap melangkah di tengah badai, sampai Allah menyelesaikan karya-Nya yang indah.

Mungkin saat ini keadaan Anda belum berubah. Mungkin doa yang Anda panjatkan dengan derai air mata terasa belum mendapatkan jawaban. Namun, jangkar iman gereja mula-mula, ruang tawanan Moltmann, dan malam-malam sepi di rumah kontrakan ibu saya memberikan kita sekelumit bukti nyata bahwa pengharapan kita tidak pernah bersandar pada situasi, melainkan pada Kristus yang telah bangkit.

Karena Kristus hidup, kita selalu punya alasan untuk tetap melangkah, tetap setia, dan tetap berharap. Sebab, Dia yang memberikan janji adalah setia (Ibr. 10:23).

Dikutip dari

02/07/2026

Ketika Allah Menggenapi Janji dan Menggerakkan Hati

Pernahkah Anda merasa, seolah-olah Allah telah melupakan Anda? Mungkin Anda sudah lama terjebak di dalam situasi yang tidak menyenangkan, dan Allah belum juga menjawab doa-doa Anda.

Itulah yang mungkin dirasakan orang-orang Yahudi ketika mereka dibuang ke Babel, setelah Yerusalem dihancurkan pada tahun 586 SM. Banyak dari mereka merindukan kampung halamannya dan bertanya-tanya apakah masih bisa melihat lagi kota Yerusalem yang mereka sayangi. Mereka bersenandung, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion” (Mazmur 137:1). Namun, mereka yang sudah sering mendengar nubuatan para nabi pastilah mengetahui hal ini: bagaimana Allah berjanji bahwa setelah 70 tahun masa pembuangan, Dia akan membawa para buangan kembali ke Yerusalem. Nabi Yeremia berkata, “Beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini” (29:10; lihat juga 25:8-11). Bahkan sesungguhnya, sebelum masa pembuangan itu berakhir, Allah sudah mulai bekerja, seolah-olah Dia begitu berhasrat untuk menggenapi janji-Nya.

Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia. (Ezra 1:1)

Allah “menggerakkan hati” Koresh, raja Persia yang telah menaklukkan kerajaan Babel. Siapa yang menyangka bahwa Allah akan bekerja di dalam hati sang raja? Melalui Nabi Yesaya, Allah telah menubuatkan, sekitar 150 tahun sebelumnya, bagaimana Dia akan memakai Koresh untuk menggenapi kehendak-Nya (Yesaya 44:28–45:5).

Ketika semuanya terlihat sudah musnah, Allah membuka lembaran baru dengan tangan-Nya yang penuh kuasa, yang menunjukkan bahwa Dia masih mengingat—dan akan menggenapi—janji-janji-Nya.


Maka, sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi. Sang raja pagan mengeluarkan maklumat yang membebaskan orang-orang Yahudi di pembuangan untuk kembali ke Yerusalem, guna membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:2-4). Ia juga menyatakan bahwa kekuasaannya dikaruniakan oleh “Tuhan, Allah semesta langit” dan ia memiliki misi untuk membantu pembangunan Bait Allah di kota-Nya yang kudus (ay. 2).

Sekelompok kecil orang Yahudi (berjumlah 50.000 orang) akhirnya kembali ke kampung halaman—inilah kelompok sisa, seperti telah dinubuatkan Allah (Yesaya 10:22). Sebenarnya masih ada sekelompok kecil orang yang tinggal di Yerusalem itu sendiri. Mereka begitu miskin dan sangat menderita (lihat Yeremia 40:7; Ratapan 5:2-5,11-13). Koresh memerintahkan agar orang-orang tersebut dibantu dengan uang dan berbagai sarana untuk membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:4).

Ini adalah titik balik yang menakjubkan dalam sejarah bangsa Yahudi. Ketika semuanya terlihat sudah musnah, Allah membuka lembaran baru dengan tangan-Nya yang penuh kuasa, yang menunjukkan bahwa Dia masih mengingat—dan akan menggenapi—janji-janji-Nya.

Namun kemudian, orang-orang Yahudi menghadapi tugas yang rasanya terlalu besar untuk dikerjakan. Membangun kembali Bait Suci di suatu kota yang telah terbengkalai selama 50 tahun lebih? Tidak mungkin! Namun, sesungguhnya Allah memahami sulitnya tugas tersebut, dan Dia sudah memberikan faktor kunci yang akan memampukan mereka terus maju, yaitu dengan menggerakkan hati orang-orang. “Setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat p**ang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem” (ay. 5). Allah menggerakkan hati Koresh, hati para pemimpin orang Yahudi yang terbuang di Babel, dan hati orang-orang Yahudi itu sendiri.

Hati adalah yang pertama-tama harus digerakkan sebelum kaki kita mulai melangkah. Penting bagi Allah untuk berkarya terlebih dahulu di dalam hati kita jika kita ingin memulai dan menyelesaikan apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan. Alkitab versi FAYH menyatakan, “Allah membangkitkan kerinduan dalam hati” (ay. 5), dan ini menunjukkan bahwa kerinduan hati seseorang adalah karya agung Allah sendiri. Dialah yang “mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13). Tanpa gerakan Roh Kudus di dalam diri kita, tindakan kita tidak akan memiliki daya dan kekuatan rohani yang cukup. Hanya dengan panggilan Allah yang jelas kita mampu melakukan kehendak-Nya, betapa pun sulitnya keadaan yang dihadapi atau kekecewaan yang kita alami.

Tidak semua orang Yahudi bertindak, hanya mereka yang hatinya digerakkan oleh Allah. Setiap orang yang hatinya digerakkan oleh Allah bergabung dengan mereka yang kembali ke Yerusalem dalam mengerjakan misi mereka yang kudus. Pemberian dan persembahan sukarela yang diberikan kepada orang-orang buangan yang kembali menjadi tanda bahwa Allah menyertai mereka (Ezra 1:6).

Penting bagi Allah untuk berkarya terlebih dahulu di dalam hati kita jika kita ingin memulai dan menyelesaikan apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan.


Hal serupa juga terjadi ketika Allah memimpin umat-Nya keluar dari perbudakan di Mesir di bawah kepemimpinan Musa. Ketika bangsa Israel hendak berangkat, Allah membuat orang Mesir bermurah hati ketika mereka dimintai emas, perak, dan pakaian untuk perjalanan (Keluaran 12:35-36). Reaksi orang-orang Mesir yang tidak lazim itu pastilah menguatkan hati orang-orang Israel, yang akan melangkah memasuki masa depan yang penuh dengan misteri.

Allah mempunyai cara-Nya sendiri untuk berkarya di dalam diri kita dan menguatkan kita di sepanjang hidup ini. Mungkin Anda merasa Allah sedang menggerakkan hati Anda untuk sesuatu hal sekarang ini. Anda merasakan dorongan ilahi untuk pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu, atau memulai sebuah perjalanan baru. Percayalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan lakukan perintah-Nya. Dia akan menguatkan Anda dengan menyediakan apa yang diperlukan, dan itulah cara-Nya untuk menyatakan bahwa Dia menyertai Anda. “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1 Tesalonika 5:24).

Renungkan

Ingatlah suatu keadaan dalam hidup Anda ketika Anda merasa tidak berdaya. Bagaimana keadaan tersebut berubah, dan apa yang Anda pelajari tentang Allah dan janji-janji-Nya dari pengalaman tersebut?
Apa perbedaan antara hati yang digerakkan oleh Allah dan antusiasme dangkal yang ditimbulkan keinginan manusia? Manakah yang lebih diperlukan dalam kehidupan pribadi dan juga gereja lokal kita? Renungkan dan doakanlah.

Dikutip dari https://www.odbm.org/id/murid-kristus/ketika-allah-menggenapi-janji-dan-menggerakkan-hati

29/06/2026

MENDOAKAN PERTUMBUHAN

Baca : 1 Korintus 3:1-9
Ayat Pokok: Yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. –1 Korintus 3:7

BACA
Setelah Lam Wai Chan pindah dari tempat kelahirannya di Singapura untuk menggembalakan sebuah gereja di Jepang, ia sempat terkejut. Jumlah jemaatnya tidak sampai 20 orang. Di dalam negara yang terkenal sebagai “kuburan bagi pelayanan misi,” dengan hanya sekitar satu persen penduduknya yang beragama Kristen dan banyak gereja yang kosong, Lam merasa “seperti mengambil alih kemudi kapal yang hampir tenggelam.” Saat berseru kepada Allah, ia merasa menerima jawaban: Persembahkan kembali gerejamu kepada-Ku.

Alih-alih memperbarui ibadah atau musik gerejanya agar lebih menarik, Lam meminta jemaatnya untuk berdoa—bagi kebutuhan mereka, anggota keluarga, dan teman-teman mereka yang belum mengenal Yesus. Perlahan-lahan, anggota jemaatnya bertambah dua kali lipat.

Ketekunan doa mereka adalah contoh nyata yang alkitabiah untuk membangun komunitas di dalam Yesus. Pertama-tama, berdoalah. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga,” tulis Paulus, “tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp. 4:6). Demikianlah kita mempersembahkan pelayanan, jemaat, dan program gereja kita kembali kepada Allah. Kita dapat menanam benih dan menyiraminya, tetapi seperti dikatakan sang rasul, “Yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor. 3:7). Ia meminta orang-orang percaya di Korintus untuk berhenti berselisih paham tentang pemimpin jemaat mana yang harus mereka ikuti (ay. 3-6).

Paulus berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (ay. 11). Marilah kita mempersembahkan kembali gereja kita kepada Kristus dalam doa. Kemudian, nantikan dan lihatlah pertumbuhannya.

RENUNGKAN DAN DOAKAN
Tantangan apa yang menguji upaya Anda untuk membangun komunitas di dalam Kristus? Bagaimana Anda dapat mempersembahkan kembali upaya Anda itu kepada Allah?

Ya Allah, pakailah ketekunanku untuk membangun komunitas-Mu.

WAWASAN
Jemaat Korintus diusik oleh sikap partisan yang berpotensi memecah belah mereka. Setiap kelompok meninggikan pengajar favorit mereka masing-masing (1 Korintus 1:10-17). Paulus mengingatkan bahwa para pemimpin, termasuk dirinya, hanyalah hamba-hamba Allah yang ditugaskan-Nya secara khusus untuk membangun jemaat (3:5). Ia menegaskan bahwa Allah saja yang menumbuhkan jemaat (ay. 6-7). Tugas apa pun yang diberikan Allah tidak lebih penting daripada “Allah yang memberi pertumbuhan” (ay. 7).

Mereka yang dipercaya membangun umat Allah adalah “hamba-hamba Kristus,” dan setiap hamba harus “dapat dipercayai” (4:1-2). Sebagai “kawan sekerja Allah” (3:9), kita akan dimampukan Allah untuk setia membangun satu sama lain. Saat kita bertekun di dalam doa, Dia akan menumbuhkan jemaat-Nya dan memberi upah kepada hamba-hamba-Nya yang setia “menurut jerih payahnya” (ay. 8 BIMK). –K.T. Sim

Dikutip dari Santapan Rohani

04/06/2026

Siapa yang Bertanggung Jawab Mengajarkan Jalan Tuhan kepada Anak?

Oleh Patricia Batten

Pernahkah Anda merasa kesulitan mengajari anak Anda tentang Tuhan dan iman Kristen? Saya pernah, bahkan sering sekali.

Suatu pagi, saat anak saya yang berusia tiga tahun melangkah ke dapur dengan ogah-ogahan, saya langsung tahu ada yang salah, karena biasanya ia lincah dan banyak tingkah. Lalu, saya mendengarnya: ia sedang pilek.

Putra saya mendekat sambil mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. “Lihat, ma,” katanya. “Aku pilek.” Hidungnya kemerahan dan berkerak, juga mampat dan meler. “Mama mau dengar?” lanjutnya. (Ya, tentu saja. Ibu mana yang tidak mau mendengar suara hidung tersumbat?)

“Ya, nak,” saya membalasnya sambil berusaha mengumpulkan semangat. “Coba, seperti apa bunyinya.”

Anak saya kemudian mengangkat bahu hingga mendekati telinganya, seolah-olah ingin menghisap semua udara di dapur. Namun, musuhnya “Si Mampat” menghalangi usahanya. Hidungnya yang mampat melawan aliran udara yang masuk dan menolaknya. Pilek menang telak.

“Tuh, kan, hidungku mampat,” gumamnya.

Lalu, si bocah mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya lupakan: “Tuhan tidak dengar doaku tadi malam.”

“Oh, ya?” jawab saya.

“Ya, ma. Aku sudah minta Tuhan sembuhkan aku dari pilek. Tapi aku masih sakit. Tuhan tidak dengar doaku. Kenapa begitu, ya?”

Anak dengan p**i merah dan mata yang mengantuk ini, di usianya yang belum cukup untuk masuk TK, merasa kecewa kepada Tuhan, dan meminta jawaban dari saya. Saya pun hanya bisa mengeluh dan diam-diam protes kepada Allah: Mengapa tidak Engkau sembuhkan pileknya, Tuhan? Atau paling tidak meringankannya? Aku sedang berusaha mengajarinya tentang Engkau. Ia sudah berdoa kepada-Mu! Andai Engkau menyembuhkan pileknya, ia akan tahu Engkau itu benar ada dan mengasihinya. Ia juga akan memuji-Mu. Jadi sekarang, bagaimana aku harus menjawabnya?

Walau pernah bertahun-tahun belajar teologi secara formal, saya menyadari bahwa saya tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan jujur dari anak saya sendiri. Saya hanya bisa memberikan jawaban seadanya sebelum kemudian memikirkannya selama 48 jam. Saya merasa kalah. Apakah saya gagal mengajarkan iman kepadanya?

Perintah yang Menantang

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda menjawab pertanyaan jujur dengan seadanya (atau mempertanyakan jawaban Anda sendiri)? Pernahkah Anda berpikir jangan-jangan jawaban yang Anda berikan itu kurang tepat?

Sejak zaman Musa hidup, Allah sudah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan iman kepada anak-anak mereka.

Pada saat-saat seperti itu, mungkin Anda terpikir bahwa sebaiknya orang tua menyerahkan masalah pengajaran iman kepada para ahli agama—pendeta, pengkhotbah, pembina rohani, atau guru sekolah Minggu.

Akan tetapi, sejak zaman Musa hidup, Allah sudah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan iman kepada anak-anak mereka.

Sebelum umat Israel memasuki tanah perjanjian, Musa mengingatkan mereka pada perintah dan hukum Allah, dengan berkata: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7).

Ucapan Musa menegaskan bahwa orang tua bertanggung jawab atas pendidikan iman anak-anaknya. Mandat bagi para ibu dan ayah sudah jelas: Ajari anak-anak tentang Allah.

Saya membayangkan banyak ibu dan ayah merasakan beratnya tanggung jawab yang mereka emban. Mengajarkan perintah Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak? Bagaimana caranya?

Selain itu, kata-kata “mengajarkan berulang-ulang” menyiratkan ketajaman dan kedalaman. Bayangkanlah ini seperti mengukir Sepuluh Perintah Allah pada loh-loh batu. Pengajaran tersebut tidak akan membekas dalam semalam; tetapi perlu diulang-ulang, sedikit demi sedikit, untuk membentuk kesan yang mendalam dan tahan lama.

Kita tidak sedang mengukir daftar panjang aturan dan peraturan pada diri anak-anak kita, melainkan menanamkan kasih kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih karunia-Nya.

Sebagai orang tua Kristen di abad ke-21, kita mengemban tanggung jawab yang sama untuk meneruskan iman kepada anak-anak kita. Namun, ada beberapa perbedaan.

Pertama, orang tua masa kini hidup di bawah kasih karunia, bukan di bawah hukum Taurat. Kita tidak sedang mengukir daftar panjang aturan dan peraturan pada diri anak-anak kita, melainkan menanamkan kasih kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih karunia-Nya.

Kedua, kita tidak memikul tanggung jawab ini sendirian. Roh Kudus membimbing dan menguatkan kita di setiap langkah kita.

* * *

Ketika putra saya bertanya mengapa Tuhan tidak menjawab doanya dengan menyembuhkan pileknya, saya terdiam. Saya sempat kecewa pada diri saya sendiri. Saya berpikir, bagaimana bisa saya membesarkan anak-anak saya dalam iman jika menjawab pertanyaan mengenai pilek yang tidak sembuh-sembuh saja saya tidak mampu?

Lalu saya pun tersadar: putra saya telah berdoa sendiri kepada Allah! Anak berusia tiga tahun itu datang kepada Tuhan dalam doa dan meminta pertolongan-Nya. Dari mana ia belajar melakukan hal itu? Dari saya. Saya, orang tua yang tidak sempurna, tetapi yang telah diajar tentang Allah dan menyadari kebutuhan kami akan Dia.

Ketika Allah sungguh-sungguh hidup di dalam hati Anda, anak-anak akan belajar tentang Dia dari Anda.

Renungkan

Luangkan waktu untuk merenungkan Ulangan 6:20-25. Bagaimana cara Anda menerapkan instruksi-instruksi dalam perikop tersebut pada masa kini?
Bagaimana perasaan Anda tentang tanggung jawab untuk mengajari anak-anak Anda tentang Allah? Mintalah hikmat dari Allah dalam upaya Anda mengajarkan jalan Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak Anda.


Dikutip dan diadaptasi dari Seri Terang Ilahi, Membesarkan Anak yang Mengenal dan Mengasihi Tuhan oleh Patricia Batten, terbitan PT Duta Harapan Dunia

Address

Jalan Raden Saleh Raya No. 14D, RT. 10/RW. 1, Cikini, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Gedung Yayasan Kasih Bersaudara)
Central Jakarta
10330

Opening Hours

Monday 09:00 - 21:00
Tuesday 09:00 - 21:00
Wednesday 09:00 - 21:00
Thursday 09:00 - 21:00
Friday 09:00 - 21:00
Saturday 09:00 - 21:00
Sunday 09:00 - 21:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBI SHINE Jakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GBI SHINE Jakarta:

Shortcuts

Share