26/09/2021
Nasehat seorang Ibu kepada Imam Malik bin Anas Bin Malik
قال مطرف ، قال مالك : قلت لأمي أذهب فأكتب العلم ؟ فقالت تعال فالبس ثياب العلم . فألبستني ثيابا مشمرة ووضعت الطويلة على رأسي وعممتني فوقها . ثم قالت : اذهب فاكتب الآن . وقال رحمه الله : كانت أمي تعممني وتقول لي اذهب إلى ربيعة فتعلم من أدبه قبل علمه .
Mutharrif berkata, Imam Malik berkata, “Aku berpamitan pada Ibuku untuk pergi mencari dan mencatat ilmu. Ibu berkata, “kemarilah Nak, (1) Kenakanlah pakaian yang pantas bagi seorang penuntut ilmu." Kemudian ibu mengenakanku pakaian yang baik, juga memakaikan peci di kepalaku, dan memasangkan turban, lalu beliau berkata, “Nah, (2) Sekarang pergilah kepada gurumu Rabi'ah untuk menuntut ilmu. Tapi ingat Nak, (3) Belajarlah dahulu akhlak darinya sebelum kau menyerap ilmunya."
Sebuah nasihat yang tak keluar kecuali dari lembutnya hati seorang ibu yang mendambakan kesuksesan pendidikan anaknya. Sebuah nasihat yang begitu membekas di hati Imam Malik kecil. Sedikitnya ada tiga hal penting yang bisa kita teladani dari percakapan antara ibu dan calon Imam Besar dunia Islam ini :
1) Pertama, bagaimana seorang Ibu yang solihah memberi gambaran kepada putranya tercinta akan keagungan dan kemuliaan sebuah majlis ilmu. Seorang penuntut ilmu hendaknya memakai pakaiannya yang terbaik saat menghadiri majlis ilmu. Penampilan seseorang dalam satu acara berbanding lurus dengan seberapa penting acara tersebut bagi dirinya. Semakin penting suatu acara bagi seseorang, semakin besar juga usahanya untuk tampil sebaik mungkin. Ibunda Imam Malik sedang mengarahkan puteranya bahwa majlis ilmu adalah tempat penting dan terhormat sehingga sudah selayaknya kita berpenampilan sebaik mungkin ketika mendatamginya.
2) Kedua, orang tua hendaknya mengarahkan dan menyiapkan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Hal ini terlihat saat Sang Ibu memilihkan guru terbaik bagi Imam Malik kecil. Adalah Syaikh Rabiah yang masyhur kedalaman ilmunya dalam bidang fikih, dipilihnya agar mengasuh Imam Malik dan mendidiknya. Sang Ibu tahu belaka bahwa kualitas guru sangat memengaruhi kualitas anak didiknya, sehingga menyiapkan guru terbaik untuk sang buah hati adalah sama halnya menyiapkan kesuksesan untuk masa depannya.
3) Ketiga, buah dari menuntut ilmu. Sebuah ilmu tak akan bermakna apa-apa tanpa dihiasi akhlak yang mulia. Sebagaimana budi yang luhur tak akan muncul dari sesesorang yang tidak berpengetahuan unggul. Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang saling menghiasi dan melengkapi. Jika seseorang hanya memiliki satu bagian saja darinya, maka ia seperti seorang pincang yang berjalan dengan sebelah kakinya.