01/06/2026
Hari Lahir Pancasila: Negeri yang Aman Dimulai dari Hati yang Beriman
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman'." (QS. Ibrahim: 35)
Di antara doa-doa besar yang diabadikan dalam Al-Qur'an, terdapat satu doa yang sangat relevan untuk direnungkan oleh setiap bangsa dan generasi, yakni doa Nabi Ibrahim a.s. bagi sebuah negeri. Menariknya, ketika memohon kepada Allah SWT, Nabi Ibrahim tidak terlebih dahulu meminta kekayaan, kemakmuran, atau melimpahnya sumber daya alam.
Yang pertama beliau mohonkan adalah keamanan.
Hal ini menunjukkan bahwa keamanan merupakan fondasi utama bagi kehidupan manusia. Tanpa keamanan, berbagai aspek kehidupan tidak akan berjalan dengan baik. Ibadah kehilangan kekhusyukannya karena rasa takut.
Pendidikan sulit berkembang karena ketidakstabilan. Perekonomian terhambat akibat ketidakpastian. Bahkan hubungan sosial dan persaudaraan dapat dengan mudah retak ketika rasa aman hilang dari sebuah masyarakat.
Pada momentum Hari Lahir Pancasila, doa Nabi Ibrahim tersebut menjadi pengingat yang sangat penting bagi kita semua. Indonesia adalah karunia besar dari Allah SWT.
Sebuah negeri yang dianugerahi kekayaan alam melimpah, bentangan wilayah yang luas, serta keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama yang luar biasa. Di tengah keberagaman itu, bangsa Indonesia tetap berdiri kokoh karena memiliki fondasi persatuan yang dirumuskan para pendiri bangsa dalam nilai-nilai Pancasila.
Pancasila bukan sekadar dasar negara yang tertulis dalam dokumen kenegaraan. Ia adalah panduan moral dan nilai bersama yang menjaga agar keberagaman tidak berubah menjadi perpecahan. Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling membenci, melainkan kekuatan yang harus dirawat dalam semangat persaudaraan dan gotong royong.
Namun, tantangan bangsa hari ini tidak selalu datang dari luar. Ancaman yang lebih berbahaya justru sering muncul dari dalam diri kita sendiri. Ketika kejujuran mulai luntur, ketika kepedulian terhadap sesama melemah, ketika fitnah dan kebencian lebih mudah disebarkan daripada kebaikan, saat itulah fondasi keamanan sosial mulai terkikis.
Di era digital saat ini, seseorang dapat menyebarkan informasi hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar membawa manfaat. Tidak sedikit yang justru memperkeruh suasana, menebar prasangka, memecah belah persaudaraan, dan mengikis kepercayaan antarsesama anak bangsa. Karena itu, menjaga negeri tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan atau para pemimpin negara, tetapi juga oleh setiap warga negara melalui sikap dan perilakunya sehari-hari.
Negeri yang aman tidak hanya dibangun oleh undang-undang, regulasi, atau kekuatan fisik. Negeri yang aman lahir dari hati-hati yang bertakwa kepada Allah SWT. Ketika seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhannya, ia akan berusaha menjaga lisannya, mengendalikan emosinya, menghormati orang lain, serta menjauhi perbuatan yang merugikan sesama.
Dari pribadi-pribadi yang baik akan lahir keluarga yang baik. Dari keluarga yang baik akan tumbuh masyarakat yang baik. Dan dari masyarakat yang baik akan terbangun bangsa yang kuat dan damai. Inilah mata rantai yang tidak boleh terputus.
Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila sejatinya bukan hanya mengenang sejarah lahirnya dasar negara pada 1 Juni. Lebih dari itu, momentum ini mengajak kita untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi ruh bangsa Indonesia: ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Pembangunan fisik memang penting. Jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, dan berbagai infrastruktur lainnya merupakan bagian dari kemajuan bangsa. Namun pembangunan karakter jauh lebih penting. Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak bangsa runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena hilangnya moral, kejujuran, dan persatuan di antara warganya.
Hari ini Indonesia membutuhkan lebih banyak pribadi yang menghadirkan ketenangan daripada kegaduhan, lebih banyak yang membangun daripada merusak, lebih banyak yang merangkul daripada memecah belah. Sebab keamanan sejati tidak hanya lahir dari kuatnya sistem, tetapi juga dari kuatnya nilai-nilai kebaikan dalam hati setiap anak bangsa.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Indonesia dari segala bentuk perpecahan, menguatkan persaudaraan di antara rakyatnya, serta menjadikan negeri ini sebagai negeri yang aman, damai, adil, dan penuh keberkahan. Dan semoga kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang turut menghadirkan kedamaian melalui iman, akhlak mulia, dan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
PC IMM Jakarta Selatan