Masjid At. Taufiq

Masjid At. Taufiq Dengan Merasakan makna Spritual dua kalimat syahadat dan istigfar yang ama mendalam sebagai langkah untuk mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.
(637)

22/12/2012

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
”Sesungguhnya aku benar-benar bercanda dan aku tidak mengatakan kecuali dengan perkataan yang haq”
(At Thabarani, dengan sanad hasan menurut Al Hafidz Al Haitsami)

Dari hadits di atas Imam Al Munawi menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bercanda meski beliau seorang rasul Allah, hingga Ibnu Uyaiman berpendapat bahwa bercanda merupakan bagian dari sunnah. Sedangkan canda Rasulullah sendiri tidak ada unsur bathil dan berlebihan.

Diantara canda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam termasuk perkataan beliau terhadap seorang wanita,
”Suamimu yang ada warna putih di matanya”, juga perkataan beliau kepada seorang wanita tua,” Tidak masuk surga orang yang tua”, serta pernyataan kepada yang lain,
”Kami benar-benar mengangkutmu di atas anak onta”.

Imam Al Mawardi sendiri menjelaskan bahwa bercanda sendiri memiliki dampak positif, yakni untuk mengakrabkan pertemanan dan menghibur lawan berbicara, dan ini tidak terwujud kecuali dengan perkataan yang baik dan tidak berlebihan. Sedangkan bercanda secara berlebihan akan menghilangkan wibawa, sebagaimana disampaikan oleh Raghib Al Asfahani.

Meski dianjurkan bercanda namun Ibnu Arabi menjelaskan bahwa menjadikan dien sebagai bahan gurauan adalah perkara yang dilarang karena itu bentuk dari kebodohan, sebagaimana yang dikabarkan Allah Ta’ala yang artinya,
”Seungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi betina. Mereka pun mengatakan,’Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?’ Berkatalah Musa Alaihissalam ,’Sesungguhnya aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk golongan orang-orang yang bodoh’”.
(Al Baqarah: 67) (lihat, Faidh Al Qadir, 3/18,19)

03/11/2012

HADIRILAH TABLIGH AKBAR PENGGALANGAN DANA AKBAR. INDONESIA PEDULI SURIAH
Siapkan harta2 terbaik antum semua Mari peduli duka saudara2 kita di Suriah
JAZAAKUMULLOOH KHOIRON KATSIIRON

Tempat Masjid AL AZHAR KEBAYORAN
Jl. Jakrta Slatan CP : Abu Hibban 085718814806

Hari, tgl: Ahad, 4 - Nopember - 2012
Waktu: Bada Zuhur - Ashar (12.00-15.00 WIB)

Pembicara :
1. Ust Abdul Wahid Alwi (DDI)
2. Ust Farid Ahmad Uqbah
3. Ust Bachtiar Nashir (MIUMI)
4. Abdul Kareem Thoohaa (Yaman)
5. Ust Abu Jibriel Abdurrahman
6. Ust Ferry Nur
7. Ust Angga Dimas (HASI)
8. Kyai dan Para Habaib

Tolong bantu sebarkan. Syukron

Hardiansyah (Ketua Panitia Tabligh Akbar + Penggalangan Dana). Organized by : Forum Peduli Suriah (FPS) : DDII, Al Islam, KISPA, HASI, AQL, MMI, JAT, Sahabat Suriah, Media-Media Islam dan Ormas Islam lainnya.

MENGUPAH JAGAL DENGAN DAGING QURBAN.Bukhari rahimahullah membuat bab dengan judul ‘Tidak boleh memberikan bagian hewan k...
12/10/2012

MENGUPAH JAGAL DENGAN DAGING QURBAN.

Bukhari rahimahullah membuat bab dengan judul ‘Tidak boleh memberikan bagian hewan kurban kepada jagal barang sedikitpun’. Di dalam bab ini beliau membawakan hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi penyembelihan onta kurban beliau dan beliau berpesan kepadaku untuk tidak memberikan upah atas penyembelihannya barang sedikitpun.’ (HR. Bukhari [1716]).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari teks riwayat yang dibawakan oleh Bukhari tersebut, “Zahir hadits ini menunjukkan tidak boleh memberikan upah kepada jagal (penyembelih kurban) sama sekali. Namun maksud sebenarnya adalah tidak boleh memberikan bagian hewan kurban kepada jagal barang sedikitpun sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim [No 1317 dari Ali, lihat Sahih Muslim cet. Darul Kutub Ilmiyah, hal. 489. Pent].” Kemudian, Ibnu Hajar juga menerangkan bahwa maksud hadits ini ialah tidak boleh memberikan bagian dari hewan kurban kepada jagal sebagai pengganti upahnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Nasa’i, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Dan (aku) sama sekali tidak boleh memberikan bagian dari hewan kurban sebagai upah atas penyembelihannya.” (lihat Fath Al-Bari, 3/630).

Dalam bahasa Arab, upah untuk jagal yang diambil dari bagian hewan yang disembelih disebut Juzarah (dengan huruf jim didhommah) sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir. Akar kata juzarah pada asalnya bermakna bagian-bagian ujung dari tubuh onta yaitu; kepala, kedua tangan dan kedua kakinya, karena dahulu para tukang jagal biasa mengambilnya sebagai upah atas pekerjaan mereka. Sedangkan perbuatan menyembelih hewan disebut dengan jizarah (dengan huruf jim dikasrah) (lihat Fath Al-Bari, 3/630).

Dalam teks yang lain, Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib diperintahkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan onta kurbannya, dan Nabi memerintahkannya untuk, “Membagikan seluruh bagian tubuh onta; baik itu dagingnya, kulitnya, maupun pelana [yang menempel di punggung] nya dan tidak boleh memberikan upah penyembelihan atasnya (dari bagian hewan tersebut, pent).” (HR. Bukhari [1717]).

Ibnu Khuzaimah rahimahullah mengatakan bahwa maksud ucapan ‘membagikan semua bagiannya’ adalah untuk diberikan kepada orang-orang miskin kecuali sebagian daging kurban yang diperintahkan untuk dimakan oleh pemiliknya. Beliau juga menjelaskan bahwa maksud larangan tersebut ialah tidak boleh memberikan bagian hewan kurban untuk dijadikan sebagai upah atas pekerjaannya (lihat Fath Al-Bari, 3/631).

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada ulama yang memberikan keringanan bolehnya memberikan upah untuk jagal dengan bagian dari hewan kurban kecuali Hasan Al-Bashri dan Abdullah bin Ubaid bin Umair.” Hadits ini juga dijadikan dalil oleh Al-Qurthubi untuk menyatakan tidak bolehnya menjual kulit (hewan kurban). Beliau berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa kulit hewan kurban dan pelananya tidak boleh diperjualbelikan, karena penyebutannya disertakan dengan daging [sebagaimana dalam teks; Ali diperintahkan untuk membagi daging dan kulit serta pelananya, pent] dan ia memiliki ketetapan hukum yang sama [yaitu harus dibagikan, pent].” Namun, sebagian ulama ada juga yang membolehkan menjual kulit hewan kurban seperti Al-Auza’i, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur, dan ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’iyah. Namun, pendapat mereka tertolak berdasarkan sebuah hadits yang marfu’ (sampai kepada Nabi) melalui penuturan Qatadah bin Nu’man, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memperjualbelikan daging kurban! Bagikan, makanlah sebagian, dan manfaatkanlah kulit-kulitnya namun jangan diperjualbelikan. Apabila kalian memberikan makan (bersedekah) dari dagingnya maka makanlah (sebagiannya) jika kalian mau.” (HR. Ahmad) (lihat Fath Al-Bari, 3/631).

Ulama lain yang berpendapat tidak bolehnya memberikan upah kepada jagal dengan bagian hewan kurban -baik daging ataupun kulitnya- adalah Al-Baihaqi rahimahullah sebagaimana dalam Sunannya beliau membuat bab dengan judul ‘Penyebutan keterangan bahwa jagal tidak boleh diberi upah dari bagian hewan kurban barang sedikitpun’ kemudian beliau menyebutkan hadits Ali sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas. Di tempat yang lain beliau juga membuat bab dengan judul ‘Tidak boleh memberikan daging kurban maupun kulitnya kepada jagal sebagai upah atas pekerjaannya’, kemudian beliau menyebutkan hadits yang sama (lihat Sunan Al-Baihaqi, Hadits no. 4022 dan 10021. Islamspirit.com).

Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan ‘Tidak boleh memberikan bagian hewan kurban untuk upah bagi jagal’. Beliau berdalil dengan hadits riwayat Bukhari dan Muslim di atas dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Hikmah tidak diperbolehkan mengupah jagal dari bagian hewan kurban itu menurut beliau adalah karena mengupah dengan bagian hewan kurban itu sama artinya dengan menjual bagian hewan tersebut, padahal menjual daging atau kulit hewan kurban adalah perbuatan yang dilarang. Ash-Shan’ani juga mengatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual kulit hewan kurban kecuali Abu Hanifah (lihat Subulus Salam, 7/340-341. Cet. Dar Ibnul Jauzi).

Lalu bagaimana kita menghargai jerih payah jagal? Hal ini telah dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami -sohibul qurban- akan mengupahnya dari harta kami sendiri.” (HR. Muslim [1317]). Maka seyogyanya bagi sohibul qurban untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk mengupah penyembelih kurban.

Namun, mungkin masih tersisa satu pertanyaan; bolehkah jagal atau panitia kurban (selain jagal) menikmati daging hasil sembelihan tersebut? Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali -semoga Allah menjaganya- mengatakan, “…Bahkan dibolehkan bagi penyembelih untuk mendapatkan sebagian daging kurban karena yang dilarang adalah mengambil sebagian daging qurban sebagai ganti upah menyembelihnya, karena penyembelih termasuk yang berhak menerima daging qurban.” (Berqurban bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, artikel Majalah Al-Furqon, edisi 5 tahun ke-7 hal. 37). Di antara dalil yang mendukung pendapat ini -sejauh yang kami ketahui- adalah ayat (yang artinya), “Maka makanlah sebagian dagingnya dan berilah makan kepada orang yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta-minta…” (QS. Al-Hajj : 36).

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Adapun apabila upahnya sudah dibayarkan secara penuh kemudian (bagian hewan kurban itu) disedekahkan kepadanya karena dia termasuk orang miskin -sebagaimana halnya bersedekah kepada orang-orang miskin yang lain- maka hal itu tidak mengapa.” Sebagian ulama mengatakan bahwa memberikan daging kurban kepada jagal sebagai sedekah atau hadiah -dan memberi makan dengan daging kurban termasuk di dalamnya- atau sebagai tambahan atas hak (upah)nya maka berdasarkan analogi hal itu diperbolehkan (lihat Fath Al-Bari, 3/631).

Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah mengatakan, “Penyembelih kurban tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas penyembelihannya dengan kesepakatan para imam. Yang diperbolehkan adalah memberikan daging/bagian hewan kurban kepadanya sebagai hadiah untuknya -apabila dia tergolong kaya- atau dalam rangka bersedekah (kepadanya) jika dia tergolong miskin. Apalagi jika dia sangat menginginkannya karena dia lah orang yang langsung turun tangan mengurusi penyembelihannya, dengan ini maka keumuman hadits tersebut menjadi terkhususkan.” (Taudhihul Ahkam, 7/92-93).

Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz Namanya Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, khalifah Bani Umaiyah, gelarannya Abu Hafs dan dian...
20/09/2012

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Namanya Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, khalifah Bani Umaiyah, gelarannya Abu Hafs dan dianggap sebagai Khalifah Ar-rashidin kelima sesudah Saiyidina Ali. Beliau dilahirkan di Mesir di sebuah kampung yang bernama Hulwan pada tahun 61H (dalam satu riwayat yang lain tahun 63H), ketika ayahnya bertugas menjadi penguasa di tempat tersebut. Ibunya ialah Ummu A sim binti A sim ;cucu Saiyidina Umar Al- Khattab.

ISYARAT KEROHANIAN MENGENAI KEPEMIMPINANNYA

Imam Tarmizi meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa khalifah Umar Al-Khattab berkata : "Dari kalangan zuriatku akan ada seorang lelaki ;berparut di wajahnya. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan." Ternyata isyarat in terjadi kepada Sayidina Umar bin Abdul Aziz, sewaktu kecil beliau telah dilukai seekor binatang tepat di dahinya. Bapaknya menyapu darah yang mengalir di kepalanya lantas berkata, "Kalau engkau lah lelaki berparut di dahi yang diisyaratkan itu, niscaya engkaulah orang yang bahagia."

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. Di zaman pemerintahan Khalifah Al- Walid beliau dilantik menjadi gubernur Madinah dan pada tahun 99H beliau resmi menjadi khalifah sesudah wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abd, Malik.

CIRI-CIRI TAJDIDNYA DAN SUASANA DI ZAMANNYA

Di zaman itu imperium Islam makin meluas, kerajaan banyak mengutus misi-misi ketenteraan untuk membuka negara Afrika, Khurasan dan lain-lain. Mayoritas umat Islam adalah baik karena mereka masih berada dalam lingkungan tiga kurun yang dijanjikan, namun Bani Umaiyah yang memerintah waktu itu memang terkenal dengan kehidupan mereka yang bermewah-mewah dan banyak melanggar perintah Allah.

Sistem kekhalifahan Bani Umaiyah mengikuti budaya para raja (monarki) dimana sistem itu bertentangan dengan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mengamalkan sistem Syura. Karena itulah Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengembalikan sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin. Pada hari pelantikannya Sayidina Umar bin Abdul Aziz naik ke atas mimbar masjid Umawi di Damsyik lalu mengistiharkan peletakan jabatannya dan tidak akan memerintah melainkan jika dilantik secara syura. Ketika beliau turun dari mimbar, orang banyak membaiahnya dan melantiknya sekali lagi menjadi khalifah berdasarkan sistem syura.

MENEGAKKAN KEADILAN

Beliau menegakkan keadilan di dalam pemerintahannya. Penguasa-penguasa yang zalim dipecat dan digantikan dengan orang yang lebih layak untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Yahya Al-Ghassani menceritakan : Seorang gubernur menulis surat kepada beliau :

Wahai amirul mukminin, negeri kami ini telah rusak, alangkah baiknya jika tuan memberi jalan untuk memulihkan negeri kami. Khalifah Umar menjawab surat itu dengan berkata, Apabila engkau membaca suratku ini hendaklah engkau memagari negerimu dengan keadilan dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezaliman. Sesungguhnya itulah pemulihannya, wassalam.......

SANGAT MEMBELA KESEJAHTERAAN RAKYAT

Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya sehingga mereka merasa tercukupi segala keperluannya. Pernah terjadi di zamannya seorang lelaki membawa harta yang begitu besar jumlahnya kemudian ingin membagikan kepada yang memerlukan, namun tidak ada seorang pun yang datang untuk mengambil harta itu karena mereka telah tercukupi keperluannya.

Sebelum menjadi khalifah Saiyidina Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang hidup mewah dari harta yang halal. Namun begitu dilantik menjadi khalifah segala harta bendanya diserahkan kepada baitul mal, beliau begitu serius menjalankan amanah Allah hingga tidak ada waktu lagi untuk hal-hal lain. Isterinya meriwayatkan bahwa setiap kali beliau p**ang ke rumah malam hari, beliau akan duduk di tempat sembahyang menangis dan berdoa hingga tertidur. Apabila beliau terjaga beliau menangis dan berdoa lagi dan begitulah seterusnya hingga subuh.

KEBERKATAN PIMPINANNYA

Malik bin Dinar (seorang ulama salaf yang terkenal) menceritakan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz naik menjadi khalifah para penggembala kambing di lembah dan kampung menjadi tertanya-tanya, siapakah gerangan lelaki soleh yang menjadi khalifah ini? Keadilannya menahan srigala dari menerkam kambing-kambing kami.

Pernah terjadi di zamannya Panglima Qutaibah bin Muslim ditugaskan memimpin misi membuka kota Samarkand yang masih Nasrani pada waktu itu. Qutaibah telah melaksanakan tugasnya dengan langsung menyerang Samarkand tanpa memberi tiga pilihan (masuk Islam, membayar jizyah atau perang) terlebih dahulu kepada penduduknya.

Pendeta-pendeta Samarkand tidak puas hati lalu mengutus surat melaporkan hal itu kepada khalifah Umar dan menuntut Qutaibah beserta tentaranya keluar dari Samarkand, karena mereka menaklukkannya tanpa mengikuti syariat. Khalifah mengakui perkara itu lantas mengarahkan agar tentaranya keluar dari Samarkand tanpa syarat. Tentara-tentara beliau pun patuh dan masyarakat Samarkand yang menyaksikan hal itu begitu terkesan dengan keadilan Islam hingga mereka beramai-ramai mengucapkan 2 kalimah syahadat. Dengan berkat kepemimpinannya juga zamannya merupakan zaman keemasan umat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah.

KEDUDUKANNYA DI SISI PARA ULAMA

Umar bin Abdul Aziz bukan saja seorang pemimpin yang ditunjuk oleh Allah bahkan beliau juga seorang ulama yang ulung di zamannya. Disebutkan bahwa para alim ulama di zamannya hanyalah bertaraf murid-muridnya. Setiap malam beliau akan berkumpul dengan ahli-ahli fiqih untuk bermuzakarah.

Beliau wafat tahun 101H dalam usia 39 tahun, pemerintahannya yang penuh berkat itu hanya berlangsung 2 tahun. Ketika wafatnya khalifah, Musa bin AÕrun berkata, Pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz kambing kami digembala bersama-sama dengan serigala. Namun pada satu malam seekor serigala telah menerkam kambing kami. Tidak lain pasti lelaki soleh ini (Umar bin Abdul Aziz) telah wafat. Dan memang mereka mendapatkan beliau wafat pada malam tersebut.

Bismillahirr Rahmanirr Rahim.Untukmu wahai pemuda, tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya. Terutama. Karena yang akan menjadi...
17/09/2012

Bismillahirr Rahmanirr Rahim.

Untukmu wahai pemuda, tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya. Terutama. Karena yang akan menjadi bekalmu dalam membimbing Rumah Tangga nanti adalah ilmu.

Engkau akan menjadi penuntun. Akan menjadi tauladan dan akan menjadi ayah dari anak-anakmu.....

Tuntutlah ilmu untuk bekalmu kelak..........
Karena wanita membutuhkan seorang imam yg baik dan berilmu,
Tentunya yg memahami ilmu agama dan ilmu Dunia,
Ilmu itu yang sangat memuliakan wanita. (khususnya JANDA)

Dan jika kamu memahami Ilmu maka kamu akan memuliakan wanita....... (khususnya JANDA)

16/09/2012

Kami sering kali diberikan nasehat oleh ahli-ahli da’wah untuk selalu bertafakur dan berpikir. Karena jika tanpa hal itu, maka langkah-langkah yang dilakukan menjadi bentuk kebiasaan atau adat saja. Untuk hal ini, musyawarah yang sering dilakukan, apakah musyawarah dengan ahli keluarga di rumah, apakah musyawarah harian di masjid sendiri, apakah itu di malam musyawarah mingguan, dan seterusnya, ternyata pikir dan kerisauan terus dapat terjaga dan tumbuh dengan baik. Musyawarah telah memberikan pikir yang terus tumbuh tidak hanya di kalangan khusus tertentu, bahkan kaum muslimin yang yang sering dianggap rendah oleh kebanyakan manusia, dan kami sendiri mendapatkan pengaruh ini bukan dari seorang ulama atau ustadz tetapi dari seorang pedagang biasa dan juga pengasuh becak yang mempunyai pikir dan kerisauan. Oleh karena itu kami memahami betul dengan pentingnya memperbanyak tafakkur dan juga berpikir.

Tafakkur dan juga berpikir inilah yang kami pergunakan untuk lebih memahami usaha da’wah ini dan tentunya dengan penggunakan pendekatan yang beragam: kami perlu terus untuk dapat berhubungan dengan teman-teman kami dan juga ahli-ahli da’wah yang sudah lama; kami perlu banyak mencari sumber-sumber yang baik dan beragam yang telah ditulis para Ulama, tidak hanya dari para ulama yang telah lama terlibat dalam usaha da’wah ini; kami perlu menjaga silaturahmi dengan para ustadz dan ulama, meskipun tidak ada hubungannya dengan usaha da’wah ini; dan keempat kami perlu menggunakan pendekatan yang berasal dari keilmuan umum yang kami pelajari dari waktu-ke-waktu, pendekatan keempat ini dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan oleh kami sebelumnya, tetapi Salman Al-Farisi RA telah membuktikannya ketika memberikan kerangka masukan kepada Rasulullah SAW dalam perjuangan khandaq. Itulah yang menjadikan kami juga menggunakan pendekatan keempat yang mungkin tidak umum.

Untuk kepentingan hal ini, kami sampaikan beberapa ayat al-quran untuk memberikan kepentingannya untuk selalu bertafakkur dan juga berpikir. Dan kami tidak berikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang bersangkutan, karena banyak lagi ulama-ulama yang sangat faqih dengan hal ini. Tetapi kami mengajak bersama-sama bertafakkur dan berpikir terhadap hal-hal yang unik terjadi di dalamnya, sehingga kita dapat mengetahui bahwa Allah swt memberikan karunia kepada kita satu perangkat yang sangat penting yaitu kemampuan untuk berpikir. Oleh karena itu kita sebagai kaum muslimin hendaknya untuk memanfaatkan kemampuan itu untuk bertafakkur dan berpikir terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kita sendiri. Jangan sampai kita tidak memanfaatkannya dengan baik, akhirnya kita sendiri, kaum muslimin, mengalami kesusahan dan juga penderitaan. Bertafakkur dan berpikir tidak hanya untuk memikirkan penciptaan alam semesta ini, ternyata lebih luas dari itu.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS Ali Imran:103)

Kisah sejarah kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA, dimana hampir terjadi pertempuran yang sangat hebat di antara kaum muslimin, antara Aus dan Khazraj. Oleh karena itu dengan karunia kemampuan untuk bertafakkur dan berpikir inilah kita dapat memperoleh hikmah di balik kisah itu. Dan Allah swt merekam kejadian itu di dalam beberapa ayat dalam Surat Ali Imran, agar kita semua mendapatkan petunjuk atau juga arahan yang benar. Sehingga hal itu tidak terjadi lagi di kemudian hari, atau juga akan lebih waspada terhadap hal-hal yang dapat mendorong kearah pertingkaian di antara kaum muslimin itu sendiri. Kita dapat mempelajari Ali Imran: 103 dari beberapa tafsir yang telah menjelaskan dengan sangat baik dan sistematik.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran:190)

Allah swt memberikan penegasan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi, begitupun juga dengan pergantian siang dan malam, terdapat pelajaran-pelajaran yang berharga bagi orang yang selalu berpikir.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS Al-Baqarah: 197)

Allah swt mengajak kaum muslimin untuk menggunakan pikirannya dan juga akalnya ketika mengerjakan amal ibadah, seperti haji. Haji, sebagai rukun islam kelima, merupakan amal ibadah yang memerlukan kesiapan yang tidak sedikit. Bahkan jumlah kaum muslimin yang mengerjakannya bukan lagi 2.000 orang atau 10.000 orang, tetapi sudah sangat banyak sekali, bisa sampai 3 juta orang lebih. Disinilah Allah swt mengingatkan kita untuk menggunakan akal yang telah dikarunikanNya. Dan kita bisa bayangkan apa yang kira-kira terjadi ketika berkumpul sebanyak itu, ada yang muda dan tua, ada yang besar dan kecil, ada laki-laki dan perempuan, ada dari berbagai negara dan suku.

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 100)

Tidak ada di antara kita yang tidak berkinginan untuk mendapatkan keberuntungan atau kesuksesan. Oleh karena itu Allah swt mengajak orang-orang yang mempunyai pikiran (akal) untuk selalu memperhatikan antara yang baik dan buruk dalam kehidupan kita. Dan ternyata sekarang ini apa-apa yang tidak baik di sisi Allah swt lebih banyak memberikan pengaruh kepada kita, kaum muslimin, dan bahkan memberikan daya tarik yang luar biasa. Disinilah kita perlu mempunyai pikiran kenapa hal itu terjadi dan bagaimana memberikan jawabannya. Kita dapat mengamati apa-apa yang terjadi di lingkungan kita sendiri, apakah itu di kantor, apakah itu di pasar, apakah di halte bus, apakah itu terminal.

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (QS Ar-Ra’d:19)

“Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS Thaahaa: 120)

Sejarah telah banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga kepada kita semua, bagaimana kisah di jaman Nabi Musa As, bagaimana kisah di jaman Nabi Luth As, bagaimana kisah di jaman Syuaib As, begitupun juga bagaimana kisah di jaman Nabi Nuh As. Ha-hal itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang berakal dan berpikir. Oleh karena itu kaum muslimin dengan berbagai kejadian-kejadian seperti saat ini, seharusnya mendapatkan pelajaran yang berharga dari perjalanan ummat sebelumnya. Dan untuk mendapatkan pelajaran tersebut, kecuali kaum muslimin sendiri mau menggunakan pikiran dan akalnya untuk memahami itu.

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44)

Allah swt mengajak kita untuk berpikir dan merenung terhadap diri kita sendiri. Kita selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada yang lain, tetapi kita sendiri sering melupakan dengan hal-hal itu. Sehingga jika kita sering memberikan pelajaran atau da’wah kepada kaum muslimin yang lain, kita harus juga mengetahui bahwa pelajaran-pelajaran itu juga untuk diri kita sendiri, oleh karena itu kita dituntut juga untuk selalu meningkatkan amal sholeh dari apa yang kita sampaikan kepada kaum yang lainnya. Sehingga jika kita melupakannya, Allah swt mengingatkannya apakah kita tidak berpikir tentang hal itu.

Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran mendorong dan mendidik kita untuk selalu bertafakkur dan juga berpikir ini, begitupun juga yang ada dalam ucapan-ucapan Rasulullah SAW sendiri. Hanya saja kami ingin menyampaikan satu ayat At-Taubah:128 yang menurut kami inilah yang telah hilang dalam diri kita kaum muslimin dalam hal bertafakkur dan berpikir. Kita kurang risau terhadap kaum muslimin atau juga bahkan dengan kehidupan manusia yang sedang terjadi saat ini. Silahkan dalami, renungilah, dan bertanyalah kepada para ulama atau ustadz apa maksud ayat itu, sehingga kita benar-benar bisa memahaminya dengan baik, dan akhirnya mendorong kita bersama-sama berkerja untuk kebaikan kaum muslimin di seluruh alam ini, yang mana kita sangat sedikit untuk kaum muslimin, termasuk kami yang lemah ini.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmi”
(QS At-Taubah:128

16/09/2012

Kepada kaum muslimin
di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia

Rasulullah SAW banyak sekali memberikan dorongan untuk semua ummat Islam mempunyai kebiasaan yang baik, dan menjauhi kebiasaan yang buruk.

Hanya saja untuk membangun perilaku yang akhirnya menjadi kebiasaan itu cukup banyak diajarkan oleh Al-Islam. 4 kebiasaan yang perlu dibangun ini merupakan kebiasaan yang akan memberikan kebiasaan baik lainnya ke dalam kehidupan kita.

Para shahabat RA banyak bisa mengkhatamkan al-quran dalam 7 hari, bahkan ada yang 3 hari, dan menurut kisah Imam syafi’i Rah khusus di bulan ramadhan bisa khatam / setiap hari.

Itu menunjukan kebiasaan yang baik dalam kehidupan para Shahabat Ra, yaitu kebiasaan membaca. Berbeda dengan kaum muslimin sekarang ini, kebiasaan membaca sangatlah kurang meskipun dalil-dalil al-quran dan as-sunnahnya sama dengan para shahabat.

16/09/2012

Indahnya mengikuti para Shahabat RA dengan baik, karena memang para Shahabat RA sebagai contoh generasi yang telah dibina oleh Rasulullah SAW. Generasi ini telah mendapatkan Ridho Allah swt dan Rasulullah SAW. SIAPAPUN kita, DARIMANAPUN kita, APAPUN TINGKATAN kita sangat dituntut untuk dapat meniru generasi para Shahabat RA.

Para Shahabat RA tidak semua hafidz quran, tidak semua hafidz hadist ribuan, TETAPI para Shahabat RA mempunyai keinginan dan terus dipegangnya untuk Ta’at kepada Allah swt dan Rasulullah SAW.

Abu Bakar RA tidak perlu banyak Ilmu untuk MULAI BERDA’WAH, setelah masuk Islam besoknya telah mengajak 5 orang untuk masuk Islam di depan Rasulullah SAW. Ummar RA baru juga masuk Islam, tetapi sudah berani mengetuk rumah musuh Ummat Islam saat itu, yaitu Abu Jahal. Untuk memberitahukan keislamanannya.

Ali RA juga masih kecil sudah menjadi DALIL DA”WAH ketika Abu Dzar RA yang belum masuk ingin bertemu Da’wah. Begitu juga Amar Bin Yasir RA belum banyak hafalan quran dan hadist, karena memang baru masuk Islam. Telah memberikan penjelasan kepada kedua orangtuanya ketika patung sembahan orangtuanya hancur, dan MENGAJAK ISlam.

ILMU, AMAL dan DA’WAH di jaman para shahabat RA bukan dahulu ILMU ditumpuk dahulu, tetapi CUKUP dengan jelas dan yakin meskipun sedikit sekali, maka para Shahabat RA sudah bisa menerjuni apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, mereka para shahabat RA beramal dan berda’wah. MESKIPUN baru masuk Islam dan tidak banyak Ilmunya.

Apakah kita ingin seperti para Shahabat RA yang sudah mendapatkan janji Allah swt dan Rasulullah SAW? Maka ikutilah dan tirulah para Shahabat RA sesuai dengan kemampuan kita.

Kitab Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf Rah, ataupun kisah-kisah para Shahabat, Maulana Dzakaria Rah, yang ditulis Ulama tentunya memberikan pandangan dan pemahaman kita terhadap kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.

Ataupun kita membaca kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah, ataupun Fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah, dapat memberikan semangat dorongan untuk beramal dan berda’wah.

Tetantunya semua itu dalam rangka kita sendiri MELAKUKAN ISHLAH diri kita dan kaum muslimin di manapun berada. Dan dengan ini menjadi asbab hidayah di seluruh alam, dan boleh jadi banyak manusia lainnya masuk ke dalam agama yang mulia, Al-Islam.

Meskipun kita baru mengetahuii dan menyakininya satu ayat ataupun hadist Rasulullah SAW ataupun potongan hadist Rasulullah SAW, maka tetap kita perlu menyampaikan satu ayat, satu hadist ataupun potongan hadist itu. KARENA itulah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, (Ballighu ‘anni walau ayat) (HR Bukhari), dan itu p**a dilakukan para Shahabat RA.

Maka kalau ada yang mengatakan bahwa HANYA SALAFI yang berada di jalan manhajnya para Shahabat RA, maka tentunya hal itu KELIRU BESAR. KARENA semua orang bisa mengikuti para Shahabat RA sesuai dengan kemampuan dan tingkatannya, dan kita juga bisa kalau memang kita mau untuk melakukan ISHLAH (memperbaiki diri) dan mengikuti para Shahabat RA.
Insya Allah.............

Address

Jln. Paledang
Bogor
16122

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid At. Taufiq posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category