16/07/2018
Q(uestion) & A(nswer) About Khushushi 2
Q: KENAPA dalam prosesi khushushi, shalawat yang dipilih untuk dibaca adalah shalawat ummiyah (Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa 'alaa -aalihii washahbihi wasallim)?.
A: DIDAWUHKAN dalam sebuah dawuh bahwa semua pintu (untuk menuju ke hadiratNya) tertutup kecuali melalui Rasulullah SAW terlebih dahulu. Caranya tentu saja adalah dengan (banyak) membaca shalawat kepada Beliau. Dalam pengajian yang lain (Sowanan Terakhir), secara implisit Beliau RA juga pernah dawuh bahwa seseorang tidak akan bisa makrifat kepada Allah SWT sebelum ia makrifat terlebih dahulu kepada Nabi Muhammad SAW. Karena biar bagaimanapun dan sehebat apa pun kualitas spiritual seseorang yang sedang menempuh jalan sufistik, muara atau ujung dari perjalanan spiritualnya tersebut harus melewati serta melalui (jalur) Rasulullah SAW sebagai kekasih Allah SWT yang paling kinasih.
Sudah banyak tulisan atau ceramah yang membahas keutamaan dari membaca shalawat. Jadi dalam tulisan ini, kiranya hal tersebut tak perlu lagi untuk diperpanjang. Yang agak sedikit mengusik rasa penasaran mungkin memang terletak pada pemilihan dari shalawat ummiyah itu sendiri sebagai –sebut saja— ‘official’ shalawat atau shalawat ‘resmi’ yang dipakai dalam majlis khushushi. Padahal sebagaimana kita tahu, sebenarnya banyak sekali redaksi-redaksi shalawat yang secara isi atau makna maupun fadlilahnya (secara khusus) sangat luar biasa dan dicetuskan oleh para ulama yang juga tak kalah luar biasanya. Beberapa literatur kitab yang mengulas tentang shalawat juga menyebutkan bahwa shalawat yang paling afdlal bukan shalawat ummiyyah ini, namun shalawat Ibrahimiyah yang selalu kita baca saat tahiyat akhir dalam shalat. Tapi kenapa pilihan itu kemudian tetap ‘jatuh’ pada shalawat ummiyyah?.
Dalam pengajian yang lain, ketika membahas gelar Nabi SAW yang Ummiy ini, Yai Rori RA secara tak langsung juga pernah menyinggungnya. Disampaikan di sana bahwa dari sekian banyak gelar yang bagus-bagus dan kesemuanya disematkan kepada Nabi SAW, gelar “Al Ummiy” ini mungkin salah satu gelar yang sifatnya –sebut saja— ‘anomali’, minimal jika dibandingkan dengan gelar Beliau lainnya seperti “Al Amin”, “Shiddiq”, “Fathanah” dan yang semisal dengannya. Kalau seandainya kita boleh mengklasifikasikan gelar-gelar tersebut menjadi dua, kiri dan kanan, maka gelar seperti “Al Amin” (dapat dipercaya), “Shiddiq” (jujur), “Fathanah” (cerdas) dan yang semisalnya tentulah akan masuk ke klasifikasi “gelar kanan”. Sedangkan gelar “Al Ummiy” yang (menurut salah satu pendapat) dimaknai sebagai “buta huruf”, tentu masuk ke dalam klasifikasi “gelar kiri”. Dan dalam konsep maqamat di dunia tasawuf pun, ada yang namanya maqam khauf dan raja-. Terang saja gelar “Al Ummiy” tersebut masuk ke dalam kategori maqam khauf.
Itu artinya, dengan membaca shalawat ummiyah tersebut, selama khushushi –karena mulai awal khushushi sampai akhir, kita memang terus merepetisi dan mengulangi membaca shalawat ummiyah--, kita (seolah memang) disetting untuk lebih banyak berada pada maqam khauf daripada raja-. Jadi, dengan mengulang-ulang shalawat ummiyyah yang kasarannya ngomong ‘hina’ tersebut –sebab “Al ummiy” salah satunya bermakna “buta huruf”--, diharapkan perasaan-perasaan (dalam maqam) khauf seperti rendah diri, rendah hati, iftiqaar (sangat butuh kepadaNya), inkisaar (perasaan hancur-lebur tak berdaya dan merasa serba kurang dalam diri), serta idlthiraar (mepet-kepepet) bisa lebih mudah terbangun serta terkondisikan. Istilah anak muda zaman sekarang, agar chemistrynya mudah didapat.
Dan ketika seorang hamba sudah merasa hina, papa, bukan siapa-siapa, merasa mepet dan kepepet, serta berbagai ekspresi ketidak berdayaan lainnya, maka peluang doanya akan didengar serta dikabulkan oleh Allah SWT yang Maha Perkasa akan semakin besar. Seperti firmanNya dalam QS. An Naml: 62, “Amman yujiibul mudltharra idzaa da’aah”. (Atau, siapakah yang mengabulkan doa seorang yang kepepet (idlthiraar) apabila ia berdoa kepadaNya?). Wallahu a'lam.