Naposobulung HKBP Eben Ezer Ressort Parung

Naposobulung HKBP Eben Ezer Ressort Parung Punguan Naposobulung HKBP Eben Ezer berfungsi untuk meningkatkan tali persaudaraan antar naposobulung HKBP Eben Ezer.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9Yang benar saja? Say...
12/03/2019

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9

Yang benar saja? Saya sudah terlambat, tetapi tulisan di papan informasi jalan di depan saya mengandaskan harapan saya untuk tiba di kantor tepat waktu: “Ada Hambatan di Depan”.

Saya berharap segala sesuatu berjalan sesuai jadwal yang sudah saya susun, tetapi tidak memperkirakan adanya perbaikan jalan.

Dalam hal rohani, tak banyak dari kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang akan menghambat perjalanan kita atau memaksa kita mengubah rencana. Namun, kalau dipikir-pikir, saya jadi ingat betapa seringnya keadaan memaksa saya menata ulang rencana hidup saya—dalam hal besar maupun kecil. Hambatan akan selalu ada.

Dalam Amsal 16, Raja Salomo menulis tentang bagaimana rencana kita terkadang tidak sama dengan rencana Allah. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari menuliskan ayat 1 sebagai berikut: “Manusia boleh membuat rencana, tapi Allah yang memberi keputusan.” Salomo mengulangnya di ayat 9 (BIS), dengan berkata, “Manusia dapat membuat rencana, tetapi Allah yang menentukan jalan hidupnya.” Dengan kata lain, kita dapat membayangkan apa yang seharusnya terjadi, tetapi adakalanya Allah mempunyai jalan lain untuk kita jalani.

Bagaimana saya bisa melupakan kebenaran rohani itu? Saya menyusun rencana-rencana saya, tetapi bisa jadi lupa bertanya kepada Allah apa rencana-Nya bagi saya. Saya pun frustrasi ketika sesuatu menyela dan mengubah rencana saya.

Namun, daripada khawatir, kita dapat mengikuti nasihat Salomo dengan belajar mempercayai bahwa Allah menuntun kita, langkah demi langkah, sembari terus berdoa mencari wajah-Nya, menanti tuntunan-Nya, dan mengizinkan-Nya terus mengarahkan kita.—Adam Holz

Bagaimana biasanya reaksimu saat menghadapi penundaan dan perubahan rencana yang tidak terduga? Ketika merasa frustrasi, apa yang akan menolongmu berserah kepada Allah dan mempercayai Dia lebih lagi?

Ganti kekhawatiranmu dengan kepercayaan. Allah akan menuntun kamu.

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10Pada 18 Februari 1952, sebuah badai besar m...
10/03/2019

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10

Pada 18 Februari 1952, sebuah badai besar menghantam kapal tanker SS Pendleton hingga patah menjadi dua bagian sekitar 16 kilometer dari tepi pantai Massachusetts. Lebih dari 40 orang pelayar terjebak di buritan kapal yang perlahan tenggelam di tengah tiupan angin kencang dan terjangan ombak ganas.

Saat kabar tentang musibah itu sampai ke kantor Penjaga Pantai AS di Chatham, Massachusetts, Kepala Kelasi Bernie Webber pun menurunkan perahu penyelamat dengan 3 orang awak. Mereka berusaha menyelamatkan para anak buah kapal yang terjebak itu dalam keadaan yang hampir mustahil. Usaha mereka akhirnya berhasil menyelamatkan tiga puluh dua ABK. Tindakan mereka yang berani itu tercatat sebagai salah satu aksi penyelamatan terbesar sepanjang sejarah Penjaga Pantai AS, dan kisah mereka telah diangkat ke layar lebar dengan judul The Finest Hours yang rilis pada tahun 2016.

Di Lukas 19:10, Yesus menggambarkan misi penyelamatan-Nya demikian: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Salib dan kebangkitan menjadi ungkapan penyelamatan terbesar yang pernah ada, lewat penyerahan diri Yesus demi menanggung dosa kita dan memulihkan kembali hubungan semua orang yang percaya kepada-Nya dengan Allah Bapa. Selama 2.000 tahun, begitu banyak orang telah menerima tawaran hidup berkelimpahan di dunia dan hidup kekal bersama-Nya di surga. Mereka semua selamat!

Sebagai pengikut Yesus, kita mempunyai hak istimewa, dengan pertolongan Roh Kudus, untuk mengikuti Juruselamat kita dalam misi penyelamatan-Nya. Siapa orang dalam hidupmu yang membutuhkan kasih-Nya yang menyelamatkan? —Bill Crowder

Bagaimana cara Allah menyelamatkan kamu meninggalkan pengaruhnya bagimu? Apa yang dapat menolong kamu secara efektif membagikan rencana keselamatan-Nya kepada sesamamu?

Bapa, mampukan aku melihat dunia seperti cara-Mu melihat dunia dan terlibat dalam misi penyelamatan-Mu. Jadikan aku alat kasih karunia-Mu.

Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. —1 Raja-Raja 19:12Beberapa tahun lalu, pimpinan sebuah kampu...
07/03/2019

Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. —1 Raja-Raja 19:12

Beberapa tahun lalu, pimpinan sebuah kampus mengajak para mahasiswa untuk bergabung dalam kegiatan “mematikan gawai” pada suatu malam. Awalnya para mahasiswa merasa berat meninggalkan telepon genggam dan masuk ke kapel. Namun, mereka akhirnya bersedia dan selama satu jam, duduk diam dalam kebaktian yang diisi dengan musik dan doa. Sesudahnya, salah seorang mahasiswa menggambarkan pengalamannya itu sebagai “suatu kesempatan indah untuk menenangkan diri . . . untuk lepas dari segala kebisingan yang tidak perlu.”

Kadang kala memang sulit melepaskan diri dari “kebisingan yang tidak perlu.” Kebisingan dari luar maupun dari dalam diri kita bisa memekakkan telinga. Namun, ketika kita bersedia “mematikannya”, kita akan mulai memahami maksud sang pemazmur yang mengingatkan bahwa kita perlu berdiam diri untuk dapat mengenal Allah (Mzm. 46:11). Dalam 1 Raja-Raja 19, kita melihat bagaimana ketika Nabi Elia mencari Tuhan, ia tidak menemukan-Nya dalam keriuhan angin, gempa bumi, atau api (ay.9-13). Namun kemudian, Elia mendengar bisikan lembut Allah (ay.12).

Dalam suatu keramaian sudah pasti terjadi kebisingan. Saat keluarga dan teman-teman berkumpul bersama, di sanalah terjadi obrolan seru, makan-makan, senda gurau, dan kehangatan. Namun, saat kita membuka hati dalam keteduhan, kita mendapati bahwa waktu-waktu yang dilalui bersama Allah ternyata lebih indah dari semua itu. Seperti Elia, kita lebih mungkin bertemu Allah dalam keheningan. Adakalanya, jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh, kita juga bisa mendengar bisikan lembut dari-Nya. —Cindy Hess Kasper

Apa yang dapat menolong kamu mendekat kepada Allah dalam ketenangan dan kesendirian? Bagaimana kamu dapat secara teratur menyisihkan gawai maupun meneduhkan pikiranmu?

Dalam keheninganlah kita lebih mungkin mendengar bisikan lembut Allah.

Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! —Markus 10:28Pada tahun 1995, para investor pasar modal ...
06/03/2019

Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! —Markus 10:28

Pada tahun 1995, para investor pasar modal AS menerima rekor pengembalian tertinggi—rata-rata mendapatkan keuntungan sebesar 37,6 persen atas investasi mereka. Kemudian, di tahun 2008, para investor mengalami kerugian dalam jumlah yang hampir sama besarnya: negatif 37,0 persen. Tingkat keuntungan pada tahun-tahun di antaranya bervariasi besarnya, sehingga mereka yang menginvestasikan uangnya di pasar modal bertanya-tanya—terkadang dengan perasaan takut—bagaimana nasib investasi mereka.

Yesus meyakinkan para pengikut-Nya bahwa mereka akan mendapatkan hasil yang luar biasa apabila mereka menginvestasikan hidup mereka dalam Dia. Mereka “telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut [Dia]”—rumah, pekerjaan, status, dan keluarga untuk mempertaruhkan hidup mereka kepada Yesus (ay.28). Namun, para murid mulai merasa khawatir kalau-kalau investasi mereka akan sia-sia setelah melihat bagaimana seorang yang kaya raya tidak sanggup melepaskan diri dari hartanya yang sangat banyak. Namun, jawab Yesus, setiap orang yang rela berkorban bagi Dia “pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat . . . dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” (ay.30). Itu hasil yang sungguh jauh lebih baik daripada hasil investasi mana pun.

Kita tidak perlu mengkhawatirkan “tingkat suku bunga” dalam investasi spiritual kita—kepastian yang kita dapatkan dari Allah sungguh tidak terbandingkan. Tujuan investasi keuangan adalah untuk memperoleh keuntungan finansial sebesar-besarnya. Namun hasil investasi dalam Allah bukanlah berupa rupiah, melainkan sukacita yang datang dari pengenalan akan Dia, sekarang dan selamanya—dan dari membagikan sukacita itu kepada sesama! —Kirsten Holmberg

Apa yang dapat kamu “investasikan” dalam Tuhan hari ini—waktu, bakat, atau hartamu? Sukacita apa saja yang pernah kamu alami dalam hubungan dengan Yesus?

Hidup bagi Tuhan adalah investasi yang tidak pernah gagal.

Lalu mereka membuang undi . . . dan yang kena undi adalah Matias. —Kisah Para Rasul 1:26Seorang teman di Facebook mengum...
05/03/2019

Lalu mereka membuang undi . . . dan yang kena undi adalah Matias. —Kisah Para Rasul 1:26

Seorang teman di Facebook mengumumkan bahwa ia telah berhasil menyelesaikan sebuah proyek. Teman-teman yang lain mengucapkan selamat kepadanya, tetapi pengumumannya itu menusuk hati saya. Seharusnya saya yang menggarap proyek itu. Namun, saya dilewati, tanpa tahu apa alasannya.

Yusuf yang malang. Ia dilewati oleh Tuhan, dan ia tahu apa alasannya. Yusuf merupakan salah satu dari dua orang yang diusulkan untuk menggantikan Yudas. Para murid berdoa, “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini” (Kis. 1:24). Allah tidak memilih Yusuf. Dia pun menunjukkan keputusan-Nya kepada kelompok itu, ketika “yang kena undi adalah Matias” (ay.26).

Ketika para murid mengucapkan selamat kepada Matias, dalam hati saya bertanya-tanya tentang Yusuf. Bagaimana reaksi Yusuf terhadap penolakannya? Apakah ia merasa tertolak, mengasihani diri sendiri, dan menjauhkan diri dari orang? Ataukah ia tetap percaya pada Tuhan dan tetap mendukung pelayanan mereka dengan senang hati?

Saya tahu opsi mana yang terbaik. Saya pun tahu opsi mana yang sebenarnya ingin saya ambil. Sungguh memalukan! Kalau kalian tidak menginginkan saya, terserah. Lihat saja nanti, bisa apa kalian tanpa saya. Pilihan itu terasa lebih menyenangkan, tetapi itu sangat egois.

Yusuf tidak disebut-sebut lagi dalam Alkitab, sehingga kita tidak tahu reaksinya. Yang lebih relevan adalah respons kita saat tidak terpilih. Kiranya kita tetap mengingat bahwa Kerajaan Allah jauh lebih penting daripada kesuksesan kita, dan kiranya dengan senang hati kita melayani dalam peran apa pun yang Dia tentukan bagi kita. —Mike Wittmer

Bagaimana perasaan kamu ketika kamu tidak dipilih atau ditinggalkan? Bagaimana sikap kamu dapat menghalangimu melihat petunjuk Tuhan bagi hidupmu?

Bapa, asalkan aku bisa melayani di dalam Kerajaan-Mu, aku tidak mementingkan bagaimana caranya atau di mana tempatnya.

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu. —Mazmur 51:3Saya membaca kisah yang begitu menyentuh dalam sebuah art...
28/02/2019

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu. —Mazmur 51:3

Saya membaca kisah yang begitu menyentuh dalam sebuah artikel singkat di surat kabar. Setelah mengikuti program pembinaan iman tentang cara mempererat ikatan keluarga, sekelompok narapidana memperoleh kesempatan langka. Mereka diizinkan menerima kunjungan terbuka dari keluarga mereka. Ada sejumlah narapidana yang bertahun-tahun belum pernah bertemu dengan anak-anak mereka. Kali ini, mereka tidak hanya berbicara melalui pembatas kaca, melainkan boleh bersentuhan dan berpelukan dengan keluarga yang mereka kasihi. Air mata pun mengalir ketika hubungan dalam keluarga para narapidana itu bertambah erat dan mengalami pemulihan.

Bagi kebanyakan pembaca, artikel itu hanya cerita biasa. Namun, bagi keluarga-keluarga tersebut, kesempatan untuk saling berpelukan adalah peristiwa yang mengubahkan hidup—bagi sebagian yang lain, hal itu menjadi awal dari pengampunan dan rekonsiliasi.

Pengampunan dosa dan perdamaian yang Allah tawarkan melalui Anak-Nya sesungguhnya lebih dari sekadar fakta dalam iman Kristen. Rekonsiliasi yang diceritakan dalam artikel di atas mengingatkan kita bahwa pengorbanan Yesus merupakan kabar baik, tak hanya bagi dunia, tetapi juga bagi kamu dan saya secara pribadi.

Pada saat kita tertekan oleh rasa bersalah karena pelanggaran yang pernah kita lakukan, kabar baik itu menjadi suatu kepastian yang dapat kita andalkan. Fakta tentang belas kasihan Allah yang tak berkesudahan itu patut kita terima secara pribadi: karena Yesus telah mati bagi kita, kita boleh datang kepada Bapa dalam kondisi suci, “lebih putih dari salju” (Mzm. 51:9). Ketika kita sadar bahwa kita tak layak untuk diampuni, kita dapat berpegang pada satu hal yang selalu bisa diandalkan: kasih setia Allah dan belas kasihan-Nya (ay.3). —Leslie Koh

Bapa, ampuni aku jika aku pernah memandang remeh belas kasih dan cinta-Mu. Terima kasih atas berkat dan hak istimewa yang indah ini, sesuatu yang tak layak kuterima tetapi yang Engkau berikan secara cuma-cuma.

Pengampunan adalah kabar baik yang luar biasa bagi setiap orang!

Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan. —Amsal 23:12Dalam kunjungan ke kota N...
26/02/2019

Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan. —Amsal 23:12
Dalam kunjungan ke kota New York baru-baru ini, saya bersama istri ingin menikmati malam yang bersalju. Kami pun menyewa taksi untuk membawa kami ke sebuah restoran Kuba yang berjarak sekitar 5 km dari hotel. Setelah memasukkan alamat ke aplikasi pemesanan taksi, saya terbelalak melihat tarif untuk jarak sependek itu: Rp. 22.340.887. Setelah beberapa saat, saya baru sadar telah memasukkan alamat rumah kami yang jaraknya ratusan kilometer dari sana sebagai tujuan!
Dengan informasi yang salah, apa yang kamu kerjakan pasti akan berantakan. Itulah sebabnya Amsal mendorong kita untuk mengarahkan “perhatian [kita] kepada didikan, dan telinga [kita] kepada kata-kata pengetahuan”—yakni hikmat Allah (Ams. 23:12). Jika kita meminta nasihat dari orang bodoh dan bebal, yaitu mereka yang bersikap sok tahu dan mengabaikan Allah, kita pasti akan mendapat masalah. Mereka akan “meremehkan [kata-kata] yang bijak” dan bisa membuat kita tersesat dengan saran yang tidak bermanfaat, keliru, bahkan menipu (ay.9).
Karena itu, lebih baik kita mencondongkan “telinga [kita] kepada kata-kata pengetahuan” (ay.12). Bukalah hati untuk menerima petunjuk Allah yang memberi kemerdekaan, yakni firman-Nya yang penuh kejelasan dan pengharapan. Nasihat dari orang-orang yang mengenal Allah akan menolong kita untuk menerima dan menaati hikmat-Nya. Hikmat Allah takkan pernah menyesatkan, tetapi selalu menguatkan dan menuntun kita menuju keutuhan hidup di dalam Dia. —Winn Collier
Tuhan, condongkanlah telinga dan hatiku kepada hikmat. Tolong aku agar terbuka terhadap kebenaran-Mu dan menolak sikap yang bebal.
Hikmat orang bebal selalu membawa kita ke jalan buntu, tetapi hikmat Allah selalu memberikan jalan keluar.

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepad...
25/02/2019

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. —Lukas 24:30
Kedai kopi dekat rumah saya diberi nama Fika, kata dalam bahasa Swedia yang berarti beristirahat dengan menyantap roti dan segelas kopi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman-teman. Saya bukan orang Swedia, tetapi kata fika menggambarkan satu hal yang paling saya sukai tentang Yesus—sikap-Nya yang senang mengambil waktu untuk makan dan bergaul dengan orang lain.
Para pakar Alkitab berpendapat bahwa perjamuan makan Yesus bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa tujuan. Teolog Mark Glanville menyebutnya sebagai “hidangan kedua yang menyenangkan” dari pesta dan perayaan yang biasa dilakukan bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Di meja perjamuan-Nya, Yesus menjadi apa yang dikehendaki Allah dari bangsa Israel, yaitu “sumber sukacita, kemeriahan, dan keadilan bagi seluruh dunia.”
Lewat perjamuan yang dilayani Yesus, dari pemberian makan kepada 5.000 orang, Perjamuan Terakhir bersama para murid, hingga makan bersama dua murid setelah kebangkitan-Nya (Luk. 24:30)—kita diajak berhenti sejenak dari pergumulan kita dan berserah penuh kepada-Nya. Setelah kedua murid itu bersantap bersama Yesus, mereka baru menyadari bahwa Dialah Tuhan yang telah bangkit. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (ay.30-31).
Baru-baru ini, saat duduk bersama seorang teman di kedai kopi Fika sembari menikmati cokelat panas dan bolu gulung, kami pun berbincang-bincang tentang Yesus. DialahSang Roti Hidup. Kiranya kita menikmati perjamuan-Nya dan semakin mengenal Dia. —Patricia Raybon
Tuhan, terima kasih karena Engkau menyediakan waktu dan tempat bagi kami di meja perjamuan-Mu agar kami semakin mengenal-Mu.
Luangkanlah waktu untuk menikmati Sang Roti Hidup.

Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. —Mazmur...
24/02/2019

Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. —Mazmur 104:24
Hidup saya sering terasa padat dan sesak, bergerak dari satu kesibukan ke kesibukan lain dengan tergesa-gesa. Di tengah perjalanan, saya menerima telepon sembari memeriksa daftar pekerjaan yang tampaknya tak kunjung habis. Suatu hari Minggu, karena kelelahan, saya memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur gantung yang ada di halaman belakang rumah. Ponsel saya ada di dalam, begitu juga suami dan anak-anak. Semula saya berencana untuk rebah sejenak. Namun, dalam keheningan itu, saya mulai memperhatikan hal-hal yang membuat saya enggan beranjak. Saya bisa mendengar derit ayunan tempat tidur gantung, dengungan lebah di dekat bunga lavender, dan suara kepak burung di atas kepala. Langit berwarna biru cerah, awan berarak ditiup angin.
Air mata saya menetes tatkala menyadari semua yang telah Allah ciptakan. Ketika saya mengambil waktu untuk menyerap banyak hal menakjubkan yang bisa ditangkap oleh mata dan telinga, saya pun tergerak untuk menyembah Allah dalam ucapan syukur atas kuasa penciptaan-Nya. Penulis Mazmur 104 juga dibuat kagum oleh karya tangan Allah, dan ia berseru, “Bumi penuh dengan hasil karya-Mu”(ay.13 BIS).
Di tengah kehidupan yang serba cepat, saat-saat hening yang kita ambil dapat mengingatkan kita pada kuasa penciptaan Allah! Dia melingkupi kita dengan bukti kekuatan sekaligus kelembutan-Nya; Dia menciptakan gunung-gunung yang menjulang dan juga ranting-ranting pepohonan agar burung-burung dapat bertengger. “Semuanya Kaujadikan dengan bijaksana” (ay.24 bis). —Kirsten Holmberg
Tuhan, aku kagum pada ciptaan-Mu. Engkau menciptakan segala sesuatu dengan kuasa tak terbatas, dan kami diajak menikmati keindahannya di sekitar kami. Tolong aku untuk menyadari karya-Mu dan menyembah-Mu dalam keheningan.
Kita dilingkupi oleh karya ciptaan Allah yang Mahakuasa.

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. —Roma 13:12Ernest Hemingway pernah ditanya apakah ia bisa menulis sebuah kisa...
23/02/2019

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. —Roma 13:12
Ernest Hemingway pernah ditanya apakah ia bisa menulis sebuah kisah yang menyentuh hanya dengan enam kata. Tanggapannya: “Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai.” Kisah Hemingway itu sangat luar biasa karena kita didorong untuk memikirkan isi ceritanya. Kita pun bertanya-tanya, apakah sang bayi itu sehat sehingga ia tidak memerlukan sepatu itu? Ataukah ada kematian yang tragis—suatu peristiwa yang memerlukan kehadiran kasih dan penghiburan dari Allah?
Kisah-kisah yang terbaik adalah cerita yang memicu imajinasi kita. Jadi, tidaklah mengejutkan apabila kisah terbaik sepanjang sejarah—kisah Allah—akan membangkitkan kreativitas kita. Kisah Allah memiliki alur cerita utama: Dia menciptakan segala sesuatu; kita (manusia) jatuh ke dalam dosa; Yesus datang ke dunia, lalu mati dan bangkit kembali untuk menyelamatkan kita dari dosa; sekarang kita menantikan kedatangan-Nya kembali dan pemulihan atas segala sesuatu.
Setelah mengetahui apa yang telah terjadi di masa silam dan apa yang menanti di masa depan, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup saat ini? Jika Yesus sedang memulihkan seluruh ciptaan-Nya dari cengkeraman Iblis yang jahat, maka kita harus “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang” (Rm. 13:12). Hal itu mencakup tindakan kita untuk berpaling dari dosa dengan kuasa Allah dan memilih untuk sungguh-sungguh mengasihi Dia dan sesama (ay.8-10).
Cara kita berjuang bersama Yesus dalam melawan kejahatan tergantung pada karunia kita masing-masing dan kebutuhan yang ada di sekitar kita. Pakailah imajinasi dan lihatlah sekelilingmu. Carilah mereka yang terluka dan menderita, kemudian jadilah saluran kasih, keadilan, dan penghiburan Allah, dengan taat mengikuti tuntunan-Nya. —Mike Wittmer
Bapa, datanglah kerajaan-Mu di bumi dan dalam hidupku.
Jalani peranmu dalam kisah Allah dengan taat mengikuti tuntunan-Nya.

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenanga...
22/02/2019

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. —Yesaya 41:10
Pada suatu hari Minggu, saya menyaksikan seorang gadis cilik yang tampaknya belum berusia dua tahun berusaha menuruni tangga gereja. Ia sangat lucu, berani, dan mandiri. Satu demi satu anak tangga itu ditapakinya dengan penuh tekad, dan ia berhasil. Saya tersenyum saat memikirkan keberanian dan kemandiriannya. Anak itu tidak takut karena tahu bahwa ibunya yang penuh perhatian selalu mengawasi dan tangan ibunya selalu siap menolong. Hal itu sangat tepat menggambarkan kesiapan Allah untuk menolong anak-anak-Nya di tengah perjalanan hidup mereka yang diwarnai beragam ketidakpastian.
Bacaan Kitab Suci hari ini dua kali berbicara tentang “tangan”. Setelah memperingatkan umat Israel agar tidak takut dan bimbang, Tuhan berkata kepada mereka, “Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10). Anak-anak yang merasa takut dan cemas biasanya akan ditenangkan oleh kekuatan orangtuanya. Di sinilah kita melihat kuasa Allah. Kata “tangan” disebutkan sekali lagi tentang Tuhan yang bekerja untuk menjamin keselamatan umat kesayangan-Nya. “Sebab Aku ini, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu” (ay.13). Walau situasi hidup dan zaman telah berubah, Allah tidak pernah berubah. Kita tidak perlu putus asa karena Tuhan masih meyakinkan kita dengan janji-Nya untuk menopang kita (ay.10) dan dengan firman yang sangat kita rindukan, “Janganlah takut” (ay.10,13). —Arthur Jackson
Bapa, terima kasih karena Engkau selalu menjagaku.
Aku aman, karena tangan Allah selalu memegang tanganku!

Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. —Roma 12...
21/02/2019

Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. —Roma 12:1
Bibi buyut saya pernah memiliki pekerjaan yang bagus dalam bidang periklanan dan kerap bepergian antara kota Chicago dan New York. Namun, ia memilih untuk melepaskan karier itu demi kasihnya pada orangtuanya. Mereka tinggal di Minnesota dan perlu dirawat. Kedua saudaranya telah meninggal dengan tragis pada usia muda dan bibi buyut saya adalah satu-satunya anak yang masih hidup. Baginya, merawat orangtua merupakan perwujudan imannya.
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma menasihatkan orang Kristen untuk menjadi “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Ia berharap mereka akan menerapkan kasih Kristus yang rela berkorban kepada satu sama lain. Ia juga meminta mereka untuk tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya (ay.3). Ketika mereka mengalami perselisihan dan perpecahan, Paulus mengingatkan mereka untuk mengesampingkan keangkuhan mereka, sebab “kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; . . . kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (ay.5). Paulus rindu agar mereka saling menunjukkan kasih yang rela berkorban.
Setiap hari, kita mendapat kesempatan untuk melayani orang lain. Misalnya, kita dapat mempersilakan orang lain mendahului kita di jalur antrean, atau memberi diri merawat orang sakit, seperti yang dilakukan bibi buyut saya. Kita juga bisa berbagi pengalaman, saran, dan nasihat kepada orang lain. Kita menghormati Allah dengan mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah merendahkan diri dan mengorbankan nyawa-Mu agar aku dapat hidup. Kiranya aku takkan pernah melupakan anugerah dan kasih yang paling berharga tersebut.
Kita menyenangkan Allah dengan melayani orang lain demi nama-Nya.

Address

Kampung Cina, Tajurhalang
Bogor

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Naposobulung HKBP Eben Ezer Ressort Parung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share