Goei king hok

Goei king hok Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Goei king hok, Catholic Church, Baranangsiang Indah P7/14, Bogor.

01/09/2024

Hari ini bulan Kitab Suci di mulai

Semoga banyak orang memiliki tokoh-tokoh panutan yg dikagumi dan mengikuti jejaknya

29/08/2024

10 Gadis, 5 bijaksana, 5 lainnya bodoh

Allah berkenan menganggap permohonan orang yang rendah hati dan cenderung menjawab mereka: “Tuhan sudah berpaling menden...
23/12/2022

Allah berkenan menganggap permohonan orang yang rendah hati dan cenderung menjawab mereka: “Tuhan sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang rendah hati, dan tidak memandang hina doa mereka” (Mzm 102:17). Tak peduli seberapa banyak orang sombong memanggil Allah, Allah tidak akan memberikan dia penghiburan rohani. St. Agustinus berkata: “Allah tidak akan datang, sekalipun kamu memanggilnya, bila kamu menyombongkan diri” (Enarr. In Ps. 74).

Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus Menghayati dan MendalamiInjil Yohanes11PengampunanYoh 8: 1-11Rasa bersalah itu seperti ...
01/09/2022

Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus
Menghayati dan Mendalami
Injil Yohanes

11
Pengampunan
Yoh 8: 1-11
Rasa bersalah itu seperti penghambat jalan:
menghalangi kita untuk maju di jalan iman dan kasih.
Yesus menyingkirkan penghambat ini dan mengatakan kepada kita:
”Saya tidak menghukum engkau.”
Sebagai orang-orang yang diampuni,
kita dipanggil untuk mengampuni dan membebaskan orang lain dari penjara rasa bersalah.

Perempuan yang tertangkap berbuat zina

Saya akan menceritakan kisah yang terdapat dalam Injil Yohanes:

Yesus sedang mengajar di Bait Suci. Tiba-tiba ada ribut-ribut, ketika sekelompok laki-laki bergerak menuju tempat di mana Yesus berdiri. Mereka menggelandang seorang perempuan kepada-Nya dan berkata:

“Rabi, perempuan ini tertangkap basah

ketika ia sedang berbuat zina.

Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita

untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.

Apakah pendapat-Mu?” ay 4-5

Mereka melakukan hal ini bukan karena mereka ingin menjaga hukum melainkan karena mereka ingin mencobai Yesus, untuk menodai kepercayaan orang kepada-Nya dan menghancurkan nama baik-Nya.

Tidak ada jalan yang lebih baik daripada membuat-Nya melawan diri-Nya sendiri.

Yesus sudah banyak berbicara mengenai pengampunan.

la sering kedapatan berada bersama-sama dengan orang-orang yang dianggap pendosa,

karena sebagaimana dikatakan-Nya, Ia datang untuk orang orang yang sakit,

dan bukan untuk orang-orang yang sehat.

Kalau Ia berkata bahwa perempuan ini harus diampuni, berarti Ia melawan hukum Musa.

Dari lain pihak, kalau Ia berkata bahwa hukum harus ditegakkan,

perempuan ini harus dilempari batu sampai mati.

Kalau demikian berarti ajaran-Nya mengenai pengampunan
Ia lawan sendiri. Kalau Yesus melawan diri-Nya sendiri atau melawan hukum,
pastilah Ia bukan Mesias.
Yesus diam.
Sambil membungkuk, Ia menulis dengan jari-Nya di tanah,
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menuntut jawaban:
“Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Yesus berdiri dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama-tama melemparkan batu kepada perempuan itu.” ay 7

Ia membungkuk lagi dan menulis di tanah. Laki-laki itu mulai pergi satu demi satu, mulai dari yang paling tua. Menurut tradisi, orang yang paling tua melemparkan batu yang pertama.

Tiga perkara

Dalam peristiwa ini ada tiga perkara:
perkara yang menyangkut perempuan:
haruskah ia dilempari batu?
perkara yang menyangkut Yesus:
mampukah orang-orang ini merusak kepercayaan orang kepada-Nya?
perkara yang menyangkut orang-orang itu:
mungkin mereka bertindak karena rasa bersalah.

Di balik semua perkara ini ada rasa takut.

Ada rasa takut dalam diri orang-orang yang datang kepada Yesus, mereka takut kepada Yesus dan ingin menyingkirkan-Nya. Tetapi apa yang mereka takutkan? Yesus mewartakan berita mengenai kasih, kedekatan dengan orang-orang miskin, dan relasi dengan Bapa-Nya. Yesus menarik semakin banyak orang yang mulai percaya bahwa Ia adalah Mesias. Apakah mereka takut kalau-kalau Yesus memulai suatu pemberontakan dan orang-orang Romawi akan menindas mereka?

Mungkinkah mereka takut akan cahaya dan kebenaran yang ada dalam diri Yesus,

takut jangan-jangan kejahatan di dalam hati mereka akan dibuka?

Apakah mereka takut karena Yesus dekat dengan orang-orang miskin dan orang-orang kecil di Israel yang mereka kuasai? Dengan berbagai cara, orang-orang ini mencerminkan rasa takut akan hal yang baru,

yang ada dalam diri kita semua.

Kita semua takut akan perubahan,

takut kehilangan kontrol dan kehilangan kekuasaan.

Kita mungkin saja takut akan tokoh-tokoh kenabian seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, atau Martin Luther King. Kita ingat akan ketakutan orang-orang kulit putih

di Afrika Selatan dan Amerika Serikat

ketika orang-orang kulit hitam mulai menuntut hak-hak mereka.

Kita lihat ketakutan orang-orang yang kaya dan memiliki tanah yang luas,

berhadapan dengan teriakan kenabian orang-orang yang tidak memiliki tanah.

Kita bisa merasa berat dan ketakutan kalau tokoh-tokoh
kenabian menyatakan egoisme dan kejahatan yang ada di dalam hati kita. Tokoh-tokoh itu menuntut keadilan bagi orang-orang yang tertindas.

Beberapa, seperti misalnya Dorothy Day

dan beberapa pejuang perdamaian,

dipenjara ketika mereka menuntut perdamaian

pada masa perang.

Dalam kisah Injil ini, perempuan yang tertangkap berbuat zina merasa takut dan panik.

Orang-orang berbicara mengenai melemparinya dengan batu, membunuhnya!

Ia sangat merasa bersalah, malu, dan takut akan kematian.
Apakah suami dan anak-anaknya tahu mengenai hal ini?
Dan di situ ada Yesus.

Tidak ada rasa takut dalam diri Yesus.

Ia tenang, namun mungkin amat terluka karena sikap orang orang itu dan karena mereka menyerang perempuan itu. Mengapa Yesus diam?

Yesus diam

Suatu pengadilan akan menghasilkan keputusan.

Keputusan akan mengakibatkan pemisahan.

Kalau kita mengadili seseorang,

kita merasa sebagai “orang yang baik”,

sedang yang lain adalah “orang jelek”,

kita lebih tinggi yang lain lebih rendah:

kita tahu yang lain tidak tahu.

Kita mendirikan tembok pemisah di antara kita.

Bukankah kita semua cenderung untuk mengadili orang lain, dengan melihat hal-hal negatif dalam diri mereka, dan bukan yang positif?

Namun sabda menjadi daging untuk berada dekat dengan kita semua.

Ia memanggil para murid-Nya untuk mencintai sebagaimana Ia mencintai:

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Janganlah menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi, janganlah kamu menghukum,

maka kamu pun tidak akan dihukum, ampunilah dan kamu akan diampuni.” Luk 6:36-37

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? ... Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu,

maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Mat 7:3.5

Orang-orang itu ingin agar Yesus mengadili perempuan itu,

tetapi Ia tidak bisa.

Jatidiri-Nya sebagai sabda yang menjadi daging

adalah untuk mencintai — mencintai semua orang — untuk berada dekat dengan mereka,

untuk menyatakan kepada mereka

bahwa mereka berarti dan agung.

Ia datang tidak untuk menghukum orang,

melainkan untuk menyelamatkan mereka, membebaskan mereka, dan menuntun mereka kepada kasih. Yesus diam.

Ia mencintai perempuan yang penuh ketakutan ini:

Ia juga mencintai orang-orang yang juga penuh dengan ketakutan itu:

ketakutan yang menutupi keagungan mereka sebagai manusia

dan sebagai anak-anak Bapa.
Rahasia kasih Yesus

Sekarang kita menyentuh inti misteri kasih Allah dan Allah Sang Kasih.

Dalam perumpamaan mengenai Anak Hilang, dikisahkan bahwa bapa menantikan dengan penuh kasih anaknya,

yang telah meninggalkan rumah bapanya dan menghabiskan bagian warisannya untuk bersenang-senang

dengan perempuan dan foya-foya. bdk. Luk 15:11

Ketika bapa itu melihat anaknya p**ang merana dan lapar,

ia lari menyambutnya dan memeluknya.

Tidak ada kritik.
Tidak ada hukuman.

Bahkan tidak ada satu kata pun yang menyalahkan.

Hanya rangkulan hangat dan ciuman.

Bapa bergembira karena anaknya sudah kembali.

Bapa menyatakan kepada anaknya siapa dia:

jati dirinya adalah yang dikasihi.

Ia mencintai anaknya dan rindu untuk hidup bersama dia. Ia tidak tahan dengan perpisahan.

Itulah sebabnya ia mengadakan pesta besar untuk merayakan kembalinya anaknya.

Allah tidak menciptakan kita untuk mendorong kita masuk ke tempat hukuman.

Allah mengetahui kelemahan kita dan kekerasan hati kita. Allah mengetahui bahwa kita dilahirkan dengan membawa kekosongan dan kegelapan dalam hati kita.

Ia mengetahui kemampuan kita untuk memisahkan diri dari-Nya.

Yang dikehendaki oleh Allah dari kita adalah agar kita membuka hati kita bagi kasih-Nya yang menyembuhkan dan bagi persahabatan dengan Dia.

Allah kita adalah Allah kehidupan, kasih, dan persekutuan,

Ia menghendaki agar kita tegak berdiri sebagai umat yang memancarkan bela rasa dan keadilan. Allah tidak berkata, “Kalau kamu berubah, Aku akan mencintaimu.” Kita mengalami bahwa Allah mencintai kita, dan karena itu kita berubah dan ingin menanggapi cinta-Nya. Yesus dan perempuan Ketika orang-orang itu sudah pergi, Yesus berada sendirian dengan perempuan itu. Ia berdiri dan bertanya kepada perempuan itu (dan kita bisa membayangkan perubahan nada dalam kata kataNya) :

“Hai perempuan, di manakah mereka?

Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

Jawabannya: “Tidak ada Tuhan.”

Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau.

Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Yoh 8:10-11
Kata-kata Yesus lembut dan penuh pengertian. Ia mulai dengan pertanyaan yang sederhana agar dapat masuk ke dalam relasi dengannya dan mengundang dia untuk berkomunikasi dengan diri-Nya. Lalu Yesus menegaskan bahwa Ia pun tidak menghukum dia. Apakah itu berarti bahwa Yesus tidak memandang perzinaan sebagai hal yang salah? Tidak! Yang dikehendaki oleh Yesus adalah membebaskan orang, agar mereka mengubah jalan hidup mereka, dan menemukan nilai sejati mereka sebagai manusia dan sebagai anak-anak Allah.

Yesus tidak menghendaki perempuan itu terjerat

dalam rasa bersalah,

namun mengakui bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah, dan mengalami bahwa dia diampuni

agar ia bisa bebas dari salah.

Lalu perempuan itu bisa pergi dengan merdeka karena tahu bahwa dirinya adalah pribadi yang berharga, dipanggil untuk mencintai Allah, suaminya, anak-anaknya, dan tetangga tetangganya dan untuk memberikan hidup kepada orang lain. Sebagai pribadi yang sudah berubah,

ia berdiri dan menjadi dirinya sendiri,

karena ia mengalami bahwa Yesus mencintainya. Dibebaskan dari rasa bersalah

Sekarang ini banyak orang yang dibelenggu oleh rasa bersalah, seperti perempuan itu.

Saya dapat melihat dalam diri saya sendiri

rasa takut dianggap jelek,

atau dianggap telah melakukan sesuatu yang salah,

rasa takut ditolak, dibenamkan ke jurang kesepian. Kebutuhan kita yang paling besar

adalah merasa bahwa diri kita berarti,

pantas dan mampu melakukan hal-hal yang baik.

Beberapa tahun yang lalu kami menerima Daniel dalam komunitas kami.

Ia mengalami hidup yang amat menyakitkan pada waktu bayi. Orang tuanya tidak menghendaki dia.

la pergi dan hidup bersama dengan kakek dan neneknya, tetapi mereka tidak bisa mendidiknya.

Ia ditempatkan di dalam dua keluarga,

tetapi cara ini pun tidak berhasil.

Akhirnya, ia ditempatkan Rumah Sakit Jiwa. Ia selalu dianggap sebagai pengganggu. Tidak seorang pun menghendaki dia.

Dalam komunitas kami, ia sering lari dari kenyataan dengan menyembunyikan kecemasan dan dirinya

di balik khayalan-khayalannya.

Ia telah mendirikan tembok-tembok tebal di sekeliling harinya yang menghalangi dia untuk menjadi dirinya sendiri.

Ia merasa bersalah karena dia ada,

karena tidak seorang pun menghendaki dia seperti adanya.

Keadaan Daniel sangat berat,

namun kebanyakan dari antara kita kadang-kadang mengalami

perasaan tidak dikehendaki pada waktu kita anak-anak: kita merasa ditolak.

Mungkin ketika kita mempunyai adik,

kita kehilangan tempat kita.

Mungkin ketika orang tua kita sedang merasa tidak enak, tertekan, mereka meneriaki kita secara tidak adil.

Hati seorang anak amat mudah merasa disakiti.

Rasa sakit itu akan menjadi luka:

“Kalau saya tidak dicintai, itu karena saya tidak pantas dicintai. Kalau saya tidak pantas dicintai, pastilah saya tidak baik.”

Oleh karena itu, anak-anak membangun tembok

di sekeliling hatinya,

untuk melindungi dirinya dari perasaan yang menyakitkan ini. Perasaan bersalah atau malu,

sebagaimana sering dikatakan oleh ahli psikologi,

ditanamkan ke dalam hati anak-anak oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Mereka ini menghendaki agar anak-anak berlaku sesuai dengan

keinginan mereka.

Bentuk perasaan bersalah seperti ini mempengaruhi inti pribag: kita.

Biasanya kata “bersalah” digunakan kalau kita secara sadar melakukan sesuatu yang tidak benar.

Kita bisa merasa bersalah karena kita mencuri, menipu, atau menyakiti orang lain.

Ada rasa bersalah, tetapi juga ada sesuatu yang obyektif:

kita telah mencuri.

Inilah yang kita sebut kesalahan moral.

Dua bentuk rasa bersalah — malu dan kesalahan moral — berkaitan satu sama lain.

Kita semua merasa bersalah karena kita tidak mencintai orang sebagaimana seharusnya.

Dalam diri kita semua ada rasa takut, marah, dan cinta diri yang begitu besar,

dan kita tidak selalu tahu apa yang bisa muncul dari luka batin dan kerapuhan kita,

dari perasaan bahwa diri kita tidak baik:

kita juga tidak selalu tahu apa yang sebenarnya merupakan kesalahan kita sendiri.

Orang yang sudah berhasil dibuat merasa

bahwa dirinya tidak baik,

akan cenderung melakukan tindakan-tindakan yang jelek. Mereka tidak tahu betapa baik sebenarnya pribadi mereka. Bagaimana kita bisa dibebaskan dari dua bentuk rasa bersalah yang dapat melumpuhkan kita dan menghalangi kita untuk melihat keagungan dasar pribadi kita,

kemampuan kita untuk memberikan hidup dan melakukan hal-hal yang baik?

Apakah dosa itu?

Dosa adalah tindakan yang kita lakukan dengan sadar.

Dosa adalah tidak menaati perintah kasih yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Namun dalam Injil Yohanes, dosa adalah terutama menolak untuk menerima Yesus dan mempercayakan diri kepada-Nya. Dosa berarti tetap keras kepala dan buta meskipun telah melihat tanda-tanda

dan mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan untuk menyatakan bahwa Ia diutus oleh Allah.

Dosa berarti membelakangi Dia, menolak untuk berubah dan membuka hati bagi orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian, dosa adalah tembok yang kita dirikan di sekeliling budi dan hati kita

yang menghalangi kita untuk membuka diri kepada Yesus, kepada orang lain dan kepada diri pribadi kita sendiri yang paling dalam.

Tembok dosa ini semakin kuat kalau kita dengan sadar menolak untuk disembuhkan,

dan bahkan berusaha untuk menyingkirkan Yesus.

Dengan demikian, dosa berarti tertutup pada diri sendiri dan dalam kelompoknya.

Dosa mendatangkan konflik, penindasan,

dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.

Dosa membawa orang menuju kematian.

Kita semua adalah perempuan dan orang-orang itu Perempuan yang tertangkap berzina

yang dikisahkan dalam Injil,

melambangkan diri kita semua,

kalau kita menjauhkan diri dari Allah

dan menolak anugerah Allah yang berupa hidup dan kasih,

kalau kita menyakiti orang lain dan diri kita senditi. Dalam bahasa Kitab Suci, zina melambangkan semua dusa, yaitu kalau kita menjauhkan diri dari Dia yang mencintai dan memanggil kita untuk hidup dalam kemerdekaan batin yang baru. Yesus berkata kepada kita masing-masing, seperti yang Ia katakan kepada perempuan itu:

Aku pun tidak menghukum engkau.

Pergilah dan jangan berbuar dosa lagi mulai dari sekarang.” Inti pewartaan Yesus adalah pengampunan Sabda menjadi daging tidak untuk memberi balasan dan hadiah kepada orang atas segala perbuatan baik yang telah mereka lakukan selama hidup mereka, melainkan untuk membawa orang keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kematian menuju kehidupan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,

sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,

melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia

bukan untuk menghakimi dunia

melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yoh 3:16-17 Sebutan Allah yang diwahyukan oleh Yesus adalah Bela rasa, Belas kasih, Pengampunan, Kebaikan, Kelembutan, Cahaya, dan Kebenaran. Ia tidak datang untuk menghakimi dan menghukum, tetapi untuk menyatakan kepada masing-masing pribadi betapa mereka itu mulia dan luhur

dan dapat menjadi mulia dan luhur.

Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “mengampuni”

juga berarti membebaskan,

membawa orang keluar dari bahaya masuk ke dalam hidup. Pembebasan ini mengandaikan penerimaan oleh pihak kita. Allah adalah Kasih dan rindu untuk memberikan diri dalam kasih.

Kasih tidak pernah dipaksakan, kasih ditawarkan.

Yesus mengundang, Ia tidak merampas kemerdekaan kita. Kita dipanggil untuk membuka pintu hati kita.

Mengapa kita menolak kasih?

Bagaimana mungkin kita dapat memilih kematian

dan bukan hidup,

rasa tertekan dan bukan penyembuhan,

penjara dan bukan kemerdekaan?

Tidak ada jawaban yang mudah.

Ini berkaitan dengan rahasia kebebasan setiap pribadi manusia. Bagi orang tertentu, tampaknya memang tidak mungkin. Mereka tidak mengenal Yesus sebagai penyembuh dan pembebas.

Orang-orang yang hanya mengenal cinta yang posesif, tidak bisa percaya bahwa ada yang disebut cinta yang memerdekakan.

Orang lain ingin tetap tinggal dalam keadaan tertekan karena sudah belajar hidup

di dalam keadaan itu dan merasa mapan di dalamnya. Yang lain lagi yakin bahwa satu-satunya nilai adalah keberhasilan:

agar dapat diakui, mereka harus menang:

mereka harus kuat seperti Allah.

Bagi mereka ini, menjadi lemah berarti jelek.

Bagi yang lain, lebih baik tidak berpikir secara pribadi, melainkan mengerjakan saja apa yang disuruhkan

kepada mereka,

berpegang pada kebiasaan atau budaya dan sebagainya.

Cara pengajaran dan penghayatan hidup Kristiani selama berabad-abad,

bahkan sampai sekarang, sering kali telah mengaburkan pesan Yesus yang menyembuhkan dan memerdekakan.

Pergulatan batin juga dapat menghalangi kita untuk membuka hati kita kepada kasih Yesus yang mengampuni dan menyembuhkan:

pergulatan antara keinginan dan kebutuhan

untuk membuktikan bahwa diri kita berarti dengan penerimaan, rasa rendah hati bahwa kita membutuhkan Yesus, kasih-Nya, dan bantuan-Nya.

Kita dapar takut akan kehilangan sesuatu, kekayaan, kesenangan, atau kekuasaan kalau kita menerima Yesus. Dalam diri kita tersembunyi suatu keinginan

untuk menunjukkan bahwa kita adalah “allah”,

bukan bahwa kita membutuhkan Allah.

Kita juga bisa merasa takut untuk mengakui kekacauan

dan kejahatan yang ada dalam diri kita, sehingga kita menyembunyikannya di balik tembok-tembok hati

dan ingatan kita.

Kita lebih berusaha untuk menunjukkan bahwa kita berarti, bukannya menerima bahwa kita tetap dicintai kendari diri kita begitu kacau.

Kita masing-masing mengalami pergulatan untuk membiarkan kasih Yesus

yang menyembuhkan, masuk ke dalam kegelapan hari kita dan membebaskan kita.

Setelah diampuni, kita dipanggil untuk menyampuni,

Kita juga seperti orang-orang yang menghakimi

dan menghukum perempuan yang tertangkap basah bersina, Penting diperhatikan bahwa Yesus pun tidak menghukum mereka.

Sebaliknya, Ia memanggil mereka tidak sekadar menjadi penonton atau pendakwa,

melainkan untuk menyadari kedosaan mereka, untuk berkembang dalam kebenaran

dan untuk menjadi semakin sadar akan apa yang mereka lakukan dan akan diri mereka sendiri.

Yesus berkata kepada mereka:

“Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Ini adalah kata-kata yang memancarkan kebenaran, cahaya, kesatuan, dan damai.

Hanya kebenaran yang dapat menghadapi kekuasaan,

kalau seseorang berada pada pihak yang lemah.

Tentulah semua diam setelah kata-kata Yesus ini diucapkan. Itulah saat rahmat dan kebenaran.

Mungkin secercah cahaya telah masuk ke dalam hati orangorang itu,

perubahan telah mulai terjadi.

Selanjutnya, setelah sadar akan dosa mereka sendiri dan kebutuhan mereka akan pengampunan, sebagian dari mereka mungkin telah mulai berjalan menuju kemerdekaan barin. Mereka tidak mendesak agar perempuan itu dilempari batu, atau agar nama Yesus dirusak.

Sebaliknya mereka pergi satu demi satu.

Pengadilan sudah selesai, perempuan itu bebas.

Kalau kita menghakimi atau menuduh orang,

apakah itu bukan karena kita tidak mampu menerima kebenaran mengenai kerapuhan kita sendiri dan mengampuni diri kita sendiri?

Kita memproyeksikan pada orang lain hal-hal yang kita tolak untuk kita lihat dalam diri kita sendiri.

Kita menuduh, menghakimi, dan menghukum orang lain, karena tanpa sadar kita menghakimi diri kita sendiri.

Kalau kita menghukum orang lain,

kita juga menempatkan diri kita di depan pengadilan.

Kita semua mempunyai kesulitan untuk menerima

bahwa kita bersalah telah melukai orang lain

dan bahwa kita egois,

oleh karena itu kita menolak aturan dan menyatakan bahwa kita dapat melakukan hal-hal yang kita senang lakukan selama kita tidak tertangkap.

Kita membuat pembenaran terhadap diri kita

dan tindakan-tindakan kita.

Namun Yesus memanggil kita untuk menghadapi kebenaran, tidak untuk menghakimi dan menghukum,

untuk menerima bahwa kita egois, memikirkan diri sendiri tidak mampu untuk berbagi dan mencintai setulus

seperti seharusnya.

Ia mamanggil kita untuk mengampuni diri kita sendiri dan mohon ampun

atas semua luka yang telah kita sebabkan dalam diri orang lain, atas karya kasih dan keadilan yang kita lalaikan:

atas ketidakpedulian kita terhadap orang-orang yang lemah dan rapuh.

Ketika kita sadar akan pengampunan Allah,

kira belajar untuk mengampuni orang lain.

Ketika kira masuk ke dalam persatuan yang baru dan lebih dalam dengan Allah,

kita merasakan bahwa jati diri kita yang terdalam,

diri kira yang sejati mulai muncul.

Kita mulai mencintai orang lain seperti Allah mencintai mereka,

Kalau Allah mengampuni kita dengan segala macam kotoran dan kekacauan

yang ada dalam diri kita, kita juga dapat mengampuni orang lain dengan segala macam kotoran dan kekacauan yang ada dalam diri mereka.

Tembok yang memisahkan kita dari orang lain mulai runtuh. Namun, mengampuni adalah suatu perjuangan

yang sungguh berat.

Rasa marah dan ingin membalas dapat masih ada

di dalam diri kita.

Kita membutuhkan kekuatan baru dari Allah

untuk memberikan kepada kita daya untuk mengampuni

dan dengan demikian menjadi pribadi-pribadi pembawa damai.

Seluruh injil Yesus termuat dalam kata-kata doa Bapa Kami:

Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.

Namun pengampunan bukanlah satu peristiwa sesaat,

ketika kita menjumpai orang yang telah menyakiti kita dan memeluknya erat-erat.

Pengampunan adalah suatu proses.

Bergerak dari rasa benci menuju penerimaan dan kasih adalah Suatu perjalanan panjang.

Juga kalau kita sudah sangas dilukai,

kita dapat berkembang dalam pengampunan.

Beberapa tahun yang lalu saya berbicara dengan seorang perempuan di Rwanda.

Tujuh puluh lima anggota keluarganya dibunuh.

Ia berkata, “Saya menyimpan rasa benci yang amat mendalam dalam hati saya,

sementara semua orang berbicara mengenai rekonsiliasi!” Saya bertanya kepadanya, apakah ia ingin membunuh orang orang yang telah membunuh anggota keluarganya.

Ia menjawab, “Tidak. Sudah terlalu banyak orang yang dibunuh!”

Saya berkata kepadanya, “Tahukah Anda bahwa langkah pertama dalam proses pengampunan adalah ketetapan untuk tidak membalas? Anda berada di jalan menuju pengampunan.” Saya pernah mendengar kisah seorang perempuan yang dijebloskan ke dalam penjara

karena kesaksian palsu seorang laki-laki.

Ia tidak mengenal Yesus,

tetapi secara tetap menemui seorang biarawati

untuk minta dukungan.

Pada suatu hari,

Ia berjumpa dengan Yesus dan menemukan pesan Injil.

Ini adalah perwahyuan baginya.

Suster itu bertanya kepadanya

apakah ia dapat mempertimbangkan untuk mengampuni lelaki yang telah memberikan kesaksian palsu itu.

Ia menjawab, “Tidak. Ia sudah terlalu banyak melukai saya.” Ja menambahkan, “Tetapi saya berdoa baginya setiap hari, agar ja dibebaskan dari segala yang jahat dalam dirinya.”

Langkah kedua dalam proses pengampunan adalah berdoa bagi orang-orang yang secara sadar atau tidak sadar telah melukai diri kita.

Langkah yang lain adalah menyadari siapakah pribadi yang telah melukai kita,

bagaimana ia menjadi seperti itu.

Ketakutan seperti apakah yang ada dalam diri mereka? Apakah sebab-sebabnya?

Mereka juga telah dilukai.

Pelan-pelan kita mulai memahami mereka.

Yesus datang untuk membebaskan kita dengan daya Roh Kudus-Nya

agar perlahan-lahan kita dapat masuk ke dalam proses pengampunan.

Ia menyatakan seluruh cita-cita kemanusiaan,

di mana rantai kekerasan dipatahkan dan tembok-tembok pemisah diruntuhkan,

dan di mana kita dibebaskan agar dapat mencintai seperti Allah mencintai.

Victor Hugo, seorang penulis novel, menggambarkan pengampunan sebagai berikut:

Allah adalah wadah parfum yang amat besar

yang terus menerus membasuh kaki makhluk,

Ja menuangkan parfum itu melalui seluruh pori-pori diri-Nya dan mengosongkan diri-Nya melalui kasih.

Karya-Nya adalah mengampuni.

Pengampunan adalah inti setiap relasi. Pengampunan adalah hakikat kasih.

Pengampunan adalah mengasihi orang sebagaimana adanya,

dan menyatakan kepada mereka keindahan pribadi mereka, yang tersembunyi di balik tembok-tembok

yang telah mereka dirikan di sekeliling hati mereka. Pengampunan adalah kekuatan baru yang datang dari Allah. Pengampunan adalah jalan menuju damai.

Paus Yohanes Paulus II mengatakan,

“Tidak ada damai tanpa keadilan,

dan tidak ada keadilan tanpa pengampunan.”

MASIH TENTANG KERENDAHAN HATI Kerendahan hati itu seperti kemurnian : sekecil apapun ia ternoda, maka ia menjadi tidak m...
28/08/2022

MASIH TENTANG KERENDAHAN HATI
Kerendahan hati itu seperti kemurnian :
sekecil apapun ia ternoda, maka ia menjadi tidak murni.
Kemurnian dirusak bukan hanya oleh perbuatan tercela, tapi juga oleh pikiran atau perkataan yang tidak sopan.
Dan kerendahan hati begitu rapuh sehingga ia mudah dinodai oleh cinta akan pujian, oleh perkataan atau pikiran yang meninggikan diri,
oleh kesombongan atau cinta-diri.

Ia yang sungguh mencintai kemurnian tidak hanya dengan tekun mengenyahkan semua khayalan yang tidak murni,
tapi melakukannya dengan rasa takut dan benci;
dan dengan cara yang sama, ia yang mencintai kerendahan hati,
ia jauh dari bersenang dalam pujian dan kehormatan,
ia tidak menyukainya, dan bukannya lari dari penghinaan,
ia malah menyambutnya.

Betapa banyak yang aku temukan untuk merendahkan diriku, karena aku melihat bahwa aku tidak memiliki cinta yang nyata akan kerendahan hati!
Apa akibatnya?
Seseorang tidak menghormati keutamaan yang tidak ia cintai,
dan seseorang hanya memiliki secuil keinginan untuk memperoleh keutamaan yang tidak ia hargai dan cintai;
dan bila demikian halnya, celakalah aku!
Bila aku tidak memiliki cinta atau penghargaan akan kerendahan hati,
itu karena aku tidak tahu betapa berharganya keutamaan itu dalam dirinya, dan betapa perlunya itu bagiku.
Tapi, ya Allahku, hembuskanlah atasku perkataan-Mu yang mahakuasa: “Jadilah terang” (Kej 1:3),
sehingga aku diterangi dan belajar mengenal keutamaan penting ini yang mana Engkau menghendaki agar aku mencintainya.
Dan dengan pertolongan-Mu aku akan mencintai dan menjaganya dengan cemburu,
bila aku memiliki terang untuk memahaminya.

Tenggelam ke Dalam Misteri YesusMenghayati dan MendalamiInjil Yohanes3Berjumpa dengan Yesus pertama kaliYoh 1:35-51Yesus...
04/08/2022

Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus
Menghayati dan Mendalami
Injil Yohanes
3
Berjumpa dengan Yesus pertama kali
Yoh 1:35-51
Yesus menarik beberapa orang yang mulai berjalan bersama-Nya dalam perjalanan iman dan pembaruan.
Banyak orang muda pada zaman sekarang ini mencari model-model otentik yang membuka hati dan budi mereka terhadap visi baru dan bersama mereka menapaki jalan iman dan pembaruan.
Apa yang kamu cari?
Yohanes Pembaptis sedang bersama-sama dengan dua muridnya. Sambil memandang Yesus, ia berkata:
“Lihatlah Anak Domba Allah.” ay. 36
Ketika mendengar seruan kenabian ini, kedua murid itu meninggalkan dia dan mulai mengikuti Sang Anak Domba Allah.
Bukan Yesus yang memanggil kedua orang ini untuk mengikuti diri-Nya,
Yohanes-lah yang menuntun mereka kepada Yesus.
Dan melalui Yohanes, Bapa-lah yang menarik hati
kedua orang ini untuk menjumpai Yesus.
Selanjutnya Yesus akan menegaskan hal ini, ketika Ia berkata:
“Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang
yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.
Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka
kepada-Ku ...” Yoh 17:6
Kita mulai menyaksikan rencana Allah yang sedang terlaksana. Yesus akan menghimpun sekelompok inti orang di sekitar diri-Nya.
Mereka akan meneruskan karya-Nya sesudah Ia tidak ada lagi di dunia ini.
Yesus akan mengajar hanya dalam waktu singkat,
sekitar tiga tahun, di wilayah yang kecil.
Namun pesan-Nya adalah untuk seluruh dunia
dan segala waktu.
Yang penting bagi-Nya adalah membentuk hati beberapa murid, yang akan pergi ke seluruh dunia,
sebagai peziarah-peziarah sederhana,
untuk mewartakan dan meneruskan pesan kasih dan pengampunan-Nya.
Murid-murid ini akan meruntuhkan tembok-tembok
yang memisahkan orang dan budaya satu dari yang lain,
dan dengan demikian membawa damai.
Banyak orang muda zaman sekarang,
seperti murid-murid Yesus yang pertama,
kecewa terhadap masyarakat kita yang kaya.
Mereka mencari suatu cita-cita,
suatu visi yang dapat memberi makna kepada hidup mereka. Mereka mencari, tetapi apa yang mereka temukan?
Suatu dunia, di mana keberhasilan dalam hal materi
telah menjadi hal yang paling penting dalam hidup.
Banyak yang berusaha untuk menghindar dari persaingan dan permusuhan, keserakahan dan korupsi yang mereka lihat dan dengar di mana-mana.
Mereka sering kali terkejut melihat bagaimana dunia kita yang indah dan rentan ini diperlakukan dan tertekan oleh konflik konflik bersenjata yang terus terjadi.
Beberapa jatuh ke dalam dunia obat bius,
mencari pengalaman yang untuk beberapa saat membebaskan mereka dari masyarakat kita yang terstruktur kaku.
Mereka berharap dapat dibebaskan dari rasa sakit karena keputusasaan, untuk mencicipi “yang tak terbatas”,
dan melupakan kerasnya dunia kita ini.
Banyak yang menunggu dan mengharapkan dapat bertemu dengan pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh menjalankan apa yang mereka katakan.
Mereka mencari model-model dan saksi-saksi yang autentik yang akan membimbing mereka keluar dari jalan kesusahan,
putus asa, dan kematian menuju jalan pengharapan dan kehidupan.
Di situ mereka berharap dapat menghayati pengalaman akan Allah yang sejati.
Mereka rindu untuk menemukan suatu tempat di dunia inj, di mana mereka dapat memberi dan menerima hidup baru bersama dengan yang lain, sambil berjuang untuk keadilan dan perdamaian.
Yesus Anak Domba, menoleh dan memandang kedua murid pertama ini dan bertanya:
“Apa yang kamu cari?” Yoh 1:38
Inilah kata-kata pertama Yesus dalam Injil ini.
Mungkin itu p**a kata-kata pertama Yesus bagi masing-masing dari antara kita.
Yesus tidak ingin memaksakan suatu gagasan, ajaran, atau ideologi kepada kita.
Ia mengharapkan orang mengikuti-Nya dan jalan kasih-Nya dengan bebas.
Ia mengajak untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan menjadi sadar akan harapan-harapan kita yang paling mendasar.
Apa yang sebenarnya kita harapkan untuk hidup kita? Apa yang kita cari?
Apakah kita siap untuk percaya kepada diri kita sendiri dan menetapkan pilihan-pilihan yang jelas?
Dengan mengajukan pertanyaan ini Yesus masuk ke dalam relasi, ke dalam dialog dengan kedua orang itu. Pelan-pelan Ia akan memasukkan mereka ke dalam misteri yang lebih dalam dan menunjukkan kepada mereka bagaimana
mereka harus menghayati hidup mereka. Ia juga akan melakukan hal ini dengan kita.
Semuanya mulai dengan relasi pribadi dengan Yesus.
Kedua orang itu, mungkin karena terkejut, karena tidak tahu secara jelas apa yang mereka harapkan, bertanya kepada Yesus:
“Rabbi, (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” ay. 38
Mereka tidak mencari pendapat atau teori.
Mereka tidak hanya ingin menjadi murid.
Mereka ingin masuk ke dalam hubungan pribadi dengan Yesus, untuk berada bersama Dia, untuk tinggal bersama-Nya.
Mereka ingin membiarkan diri mereka disentuh oleh hidupNya dan oleh seluruh pribadi dan semua yang ada pada-Nya.
Mereka ingin menjadi murid-murid-Nya, atau pengikut-Nya.
Yesus berkata, “Datanglah dan lihatlah.”
Kata “datanglah” keluar dari mulut Yesus,
dan mengalir sepanjang seluruh Injil yang ditulis
oleh murid yang terkasih.
Yesus tidak mendesakkan atau memaksakan sesuatu
kepada siapa pun.
Dengan lembut Ia mengundang masing-masing dari antara kita untuk melangkah maju.
Ia berkata, “datanglah”, “datanglah dan lihatlah”,
datang dan menghidupi pengalaman kasih, penyembuhan, dan kemerdekaan batin yang baru.
Kedua orang itu mengikuti Yesus, melihat di mana Ia tinggal dan memilih untuk tinggal bersama Dia.
Kata Yunani meenern, yang berarti "Tinggal",
mempunyai peran yang khusus dalam Injil Yohanes dan dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada murid-muridnya.
la menggunakannya enampuluh tiga kali!
Kita sudah berjumpa dengan kata ini ketika Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa ia melihat Roh turun dari langit dan 'tinggal” di atas-Nya.
Yohanes menggunakan kata ini dalam arti "tinggal" di suatu tempat tertentu: lebih daripada itu, ia menggunakannya dalam arti persahabatan, yaitu ketika kita “tinggal” dalam pribadi orang lain.
“Tinggal satu dalam yang lain', berarti persahabatan yang langgeng dan mendalam.
Persahabatan itu adalah relasi yang amat pribadi, dinamis dari dua pribadi yang tinggal saru dalam yang lain.
Oleh karena itu, kalau penginjil mengatakan,
Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama Dia. ay 39
ini mempunyai arti yang istimewa.
Yang dimaksudkan tentu saja adalah tempat — dalam arti biasa - di mana Yesus tinggal.
Namun ada arti lain yang akan kita temukan secara lebih jelas kemudian,
yaitu bahwa tempat tinggal Yesus yang sesungguhnya adalah dalam Bapa.
la tinggal di hadirat Bapa.
Kata kata dan peristiwa peristiwa dalam Injil Ini sering kali mempunyai makna simbolis,
Misalnya, penginjil menunjuk waktu tertentu:
waktu itu pukul empat sore.
Penginjil mau menunjukkan bahwa Yesus berakar pada tempat dan waktu tertentu, merupakan bagian dari sejarah.
Mungkin baginya itu adalah saat dan waktu yang tidak pernah akan ia lupakan saat ia berjumpa dengan Yesus
untuk pertama kalinya.
Dikatakan bahwa salah satu dari dua orang itu adalah Andreas, saudara Simon Petrus.
Orang yang kedua tidak jelas:
mungkin dia adalah Yohanes sendiri.
Kalau kita tidak diberi tahu nama dari murid ini,
mungkin itu berarti bahwa masing-masing dari kita dapat mengidentifikasi diri dengan murid yang tidak disebut namanya itu.
Untuk mengikuti Yesus dan tinggal bersama-Nya, masing-masing kita diajak untuk menyingkirkan usaha mencari kekuasaan, kekayaan, dan nama yang cenderung didesakkan oleh budaya kita.
Sesudah tinggal bersama Yesus, Andreas pergi dan menemukan saudaranya Simon.
Ia berkata kepadanya:
“Kami telah menemukan Mesias.” ay. 41
Mesias berarti “Yang Terurapi”, “Kristus”.
Sebelum tinggal bersama Yesus,
kedua murid itu menyebut Yesus “Rabbi”.
Sekarang Andreas memanggilnya “Yang Terurapi”, yang dipilih oleh Allah untuk membawa kebebasan bagi bangsa.
Apa yang terjadi selama mereka tinggal bersama dengan Yeng yang menyebabkan Andreas menyebur-Nya “Mesias”? Apakah mereka berdoa bersama?
Apakah Yesus berbicara mengenai visi-Nya dan kasih Bapa: Bagaimana Ia menyatakan kepada mereka bahwa Ia adalah Mesias?
Ini tetap menjadi rahasia mereka.
Kita semua mempunyai rahasia kita,
rahasia berjumpa dengan Allah, dengan kebenaran, dengan orang lain, saat puncak yang telah menyentuh dan membuka hari kita bagi Allah.
Namun saya dapat membayangkan, bahwa kedua orang ini, ketika mereka “tinggal” bersama Yesus,
diliputi oleh damai batin yang agung.
Kehadiran Yesus, kasih-Nya bagi mereka,
sabda kebenaran dan kasih-Nya,
mendatangkan bagi mereka kegembiraan batin yang baru, pengalaman merdeka, dan memunculkan harapan serta kreativitas baru dalam diri mereka.
Pastilah mereka mengalami campuran rasa pesona dan kasih di hadirat-Nya
yang dalam kadar tertentu mengubah atau membarui mereka
Saya mengalami sesuatu yang mirip dengan Pastor Thomas Philippe, seorang imam Dominikan yang bersama saya memulai komunitas l'Arche.
Ketika saya meninggalkan Angkatan Laut pada tahun 1950, saya datang ke suatu komunitas kecil yang ia dirikan
di dekat Paris.
Kehadirannya mengubah hidup saya
— atau lebih baik memberi orientasi baru bagi hidup saya. Dengan kehadirannya, Pastor Thomas rasanya memancarkan kehadiran Allah yang memenuhi diri saya dengan damai dan keheningan batin dan memunculkan hidup baru dari dalam diri saya. Dengan cepat saya tahu bahwa saya dipanggil untuk menjadi muridnya, atau anak rohaninya. Karena relasi kami inilah beberapa tahun kemudian komunitas I'Arche mulai. Andreas yang penuh dengan rasa kagum dan kasih, pergi dan menjumpai Simon saudaranya dan membawanya kepada Yesus. Yesus berkata kepadanya:
“Engkau Simon, anak Yohanes,
engkau akan dinamakan Keras (artinya: Petrus).” ay. 42
Kalau Allah mengubah nama seseorang, sebagaimana Ia lakukan terhadap Abram yang menjadi Abraham, atau Sarai istrinya yang menjadi Sarah, atau Yakub yang menjadi Israel, perubahan ini mempunyai arti istimewa.
Simon dipanggil untuk menjadi batu karang iman dan kekuatan. Di atas batu karang ini rumah Allah akan dibangun. Dalam Injil Matius, Yesus berbicara mengenai rumah yang didirikan di atas batu karang yang tidak hancur meskipun dilanda angin kencang dan banjir. Suatu jemaat orang beriman memerlukan batu karang iman. Sebagaimana didoakan oleh pemazmur:
Ya Tuhan ... jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku: sebab Engkau-lah bukit batuku dan pertahananku. Mzm 73:3
Sekarang Simon adalah “Petrus”, “Batu karang”.
Suatu perutusan akan diberikan kepadanya.
Perutusan ini akan menjadi lebih jelas kemudian. Bukankah suatu jati diri yang baru muncul dalam diri kita, kalau kita menghayati relasi yang mendalam dan pribadi dengan Yesus dan dengan cara yang baru menemukan kita ini dipanggil untuk menjadi siapa?
Hari berikutnya, Yesus pergi ke Galilea dengan ketiga murid baru itu.
Di sana Ia menjumpai Filipus,
yang berasal dari kota yang sama seperti Andreas dan Petrus. Nama kota itu Betsaida, yang berarti “rumah para nelayan”. Yesus berkata kepadanya:
“Ikutlah Aku.” ay 43
Lalu Filipus pergi dan menemui Natanael dan berkata kepadanya:
“Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa
dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi,
yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” ay 45
Filipus dan Natanael, keduanya dari Galilea, dengan jelas mengenal keluarga Yesus di Nazaret, suatu desa yang tidak mempunyai nama baik. Natanael menjawab dengan mengolok:
"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” ay 46
Filipus yang disentuh oleh Yesus dan juga oleh kedua kawannya Petrus dan Andreas, tidak berusaha untuk membuktikan sesuatu. Ia hanya berkata:
“Datanglah dan lihatlah”
maksudnya , “Datanglah dan lihatlah sendiri. Datanglah dan rasakan pengalaman yang sudah saya rasakan sendiri.” Ketika Natanael mendekat, Yesus berkata kepadanya:
“Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
Natanael bertanya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?”
“Sebelum Filipus memanggil engkau,
Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” ay. 47-48

Natanael terhenyak dan terkejut:
bagaimana mungkin Yesus telah melihat dirinya di bawah pohon ara?
Apa yang sedang ia lakukan dan katakan pada saat itu? Tentulah sesuatu yang penting.
Berdoa? Rindu untuk melihat Mesias? Membuat janji khusus kepada Allah kalau ia menemukan Mesias?
Bagaimanapun juga, kata-kata Yesus memunculkan seruan iman dan pujian dari Natanael:
“Rabbi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”
Yesus berkata kepadanya:
“Apakah karena Aku berkata kepadamu,
Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu” “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu,
engkau akan melihat langit terbuka
dan malaikat-malaikat Allah
naik turun kepada Anak Manusia.” ay. 50-51

Kita diingatkan akan Bapa Yakub, anak Ishak, putra terkasih Abraham.
Yakub bermimpi, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu Kej 28:12.13
Ketika Yakub bangun dari tidurnya, ia berkata:
“Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Kej 28:16
Lalu ia menambahkan:
Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga.” Kej 28:17
Seruan umat manusia yang diucapkan oleh Nabi Yesaya menjadi kenyataan:
Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, Yes 64:1
Sabda telah menjadi daging: langit telah terbuka dan Allah telah turun untuk berjalan bersama kita
sebagai peziarah
Ya, Ia adalah Anak Allah, sebagaimana diserukan oleh Natanael.
namun Ia juga amat manusiawi, ringkih, dan lemah,
Ia adalah Anak Allah yang datang untuk membawa kita ke dalam visi baru mengenai kemanusiaan.
Kata-kata Yesus kepada Natanael ini mungkin terdengar aneh bagi kita ketika mendengarnya untuk pertama kali. Namun Kata-kata itu penuh makna, mengingatkan kira kembali
akan Yakub dan para nabi.
Kata-kata itu menyatakan segala-galanya
mengenai bagaimana sabda turun dari langit, menjadi daging, dan akan kembali kepada Bapa bersama dengan semua saudari dan saudara warga umat manusia.
Ya, Natanael akan melihat hal-hal yang lebih besar: pembebasan terakhir umat manusia
ketika kita melihat dan masuk ke dalam surga kasih.
Surga ini sudah dibuka bagi kita.
Kita sudah menemukan gerbangnya, yaitu Yesus.
Lima orang yang pertama
Marilah kita kembali kepada lima orang
yang dipanggil oleh Yesus.
Pertama-tama mereka adalah sahabat,
mereka berasal dari tempat yang sama.
Melalui persahabatan mereka, mereka saling menarik dan memanggil untuk datang kepada Yesus.
Persahabatan adalah suatu realitas manusiawi yang bermakna dalam, merupakan kekayaan setiap orang dan dasar komunitas, ketika orang dengan harapan dan visi yang sama mencari makna hidup mereka.
Bersahabat berarti saling membantu,
saling mendukung kalau yang satu atau yang lain berada dalam kesulitan, bekerja dan berjuang bersama,
bergerak maju bersama-sama menuju hal-hal yang baru. Persahabatan adalah kesetiaan.
Aristoteles mengatakan,
tanpa sahabat tidak ada orang yang ingin hidup.
Cicero mengatakan bahwa persahabatan adalah seperti matahari yang memberikan kehangatan dan terang kepada kita.
Yesus, sabda yang menjadi daging,
tahu pentingnya persahabatan.
Persahabatan merupakan bagian inti dari pesan-pesan-Nya, Ia ingin menjadi sabahat bagi kita masing-masing
agar kita menjadi sahabat-sahabat Allah.
la memanggil kita masing-masing untuk mengikuti-Nya. Masing-masing adalah istimewa, masing-masing adalah khusus, Panggilan itu bukan panggilan kolektif.
Yesus tidak mencari suara seperti seorang politikus dalam pemilihan umum.
la memanggil kita masing-masing untuk mengikuti-Nya dan menjadi murid-Nya.
Apa yang istimewa dalam diri kelima orang ini?
Mengapa mereka itu begitu penting pada awal Injil ini? Ketika kita masuk ke dalam Injil Yohanes kita akan berjumpa dengan murid-murid lain yang tampaknya lebih dekat di hati Yesus dan yang mengenal-Nya lebih baik
daripada kelima orang ini, yang bertengkar sendiri
karena semua ingin menjadi yang terpenting.
Misalnya, ada Marta, Maria, dan Lazarus dari Betania,
dan tentu saja ada Maria dan Yusuf, keluarga Yesus.
Mengapa kita diperkenalkan dengan kelima orang ini begitu awal dalam Injil?
Pada awal mereka adalah lima,
selanjutnya mereka akan menjadi dua belas.
Mereka adalah orang-orang yang akan diutus oleh Yesus untuk pergi menuju keempat penjuru dunia untuk mewartakan dan menyatakan kehadiran dan kasih-Nya.
Mereka akan menjadi gembala yang memelihara dan memimpin kawanan orang-orang percaya,
dan untuk memberi makan mereka dengan sabda
dan kehadiran Yesus.
Murid-murid yang lain akan dipanggil untuk hidup bersama Yesus dalam komunitas, sebagaimana dialami oleh Maria dan Yusuf, untuk mengalami kecemasan dan kegembiraan hidup berkomunitas, untuk mengalami komunitas sebagai tempat doa dan ibadah, tempat yang terbuka untuk menerima dan menjamu khususnya mereka yang lemah dan membutuhkan, tempat untuk berbagi dan menerima sabda Allah,
tempat untuk merayakan dan berkembang
dalam pengampunan.
Kelima orang terpilih ini akan mempunyai peran khusus, sebagai pemimpin sekaligus pelayan Gereja yang sedang berkembang, dan dengan demikian mereka akan menjalankan kekuasaan tertentu.
Mereka akan dipanggil untuk memimpin, memelihara, memberi makan umat Allah,
dan untuk melanjutkan perutusan Yesus ke seluruh dunia. Mereka tidak dengan sendirinya lebih dekat dengan Yesus karena perutusan mereka.
Hanya satu dari antara mereka yang akan tetap tinggal dengan Yesus di salib.
Dia adalah Maria dari Magdala, bukan Petrus,
yang akan sebagai yang pertama melihat Yesus bangkit. Semua murid Yesus dipanggil untuk menghidupi pesan-pesan-Nya.
Masing-masing mempunyai tugas khusus,
entah tersembunyi entah kelihatan,
masing-masing dipanggil untuk bersama Yesus secara khusus, sesuai dengan panggilannya sendiri-sendiri.
Mengikuti Yesus
Injil ini mulai dengan dua murid yang mengikuti Yesus, dan berakhir dengan kisah Yesus yang mengatakan kepada Petrus, “Ikutlah Aku.”
Mereka dipanggil untuk belajar dari Dia,
untuk pelan-pelan menemukan siapakah Dia itu, visi kasih. Nya, dan siapakah mereka itu.
Mereka tidak selalu tahu ke mana Ia memimpin mereka, tetapi mereka percaya kepada-Nya dan berjalan bersama-Nya, Kita juga dipanggil untuk mengikuti Yesus, hari demi hari, tanpa selalu tahu ke mana Ia akan membawa kita,
tetapi dengan percaya kepada-Nya,
kita berusaha menjadi seperti Dia.
Dalam bahasa Yunani kata “mengikuti” tidak hanya berarti “berjalan pada tapak-tapak kaki” seorang guru,
tetapi juga berarti “menyertai”, “berada bersama”.
Untuk sementara kelima orang ini dipanggil
untuk menjadi murid-murid Yesus,
nantinya Yesus akan memanggil mereka “sahabat-sahabat. Para nabi Israel dipilih oleh Allah dan segera diutus. Panggilan mereka adalah untuk diutus.
Tugas mereka sudah jelas sejak awal.
Tidaklah demikian halnya dengan lima orang ini. Pertama-tama Yesus ingin membentuk hati, budi dan sikapsikap mereka
agar mereka menjadi pemimpin dan pelayan yang baik. Namun kita tahu kesulitan dan bahaya bagi kita yang memegang tanggung jawab apa pun. Kita dapat terperangkap oleh nafsu kita akan kekuasaan rohani sambil berusaha untuk melindungi diri kita sendiri.
Dengan mudah kita lupa akan bela rasa
dan kerendahan hati Yesus.
Itulah sebabnya, sebelum mengutus orang-orang ini,
Yesus menghendaki agar mereka ada bersama Dia,
agar mereka tinggal bersama Dia dan menjadi sahabat-sahabatNya, sehingga mereka tidak terlalu menyampaikan suatu teologi atau ajaran, melainkan memperkenalkan pribadi Yesus. Pribadi yang mereka cintai.
Dengan pribadi itu mereka mempunyai relasi yang hidup: pribadi yang mengubah dan membarui hidup mereka.
Yesus melewatkan waktu sekitar tiga puluh tahun menghidupi kabar gembira di Nazaret bersama Maria dan Yusuf
sebelum mewartakannya.
Kita juga dipanggil untuk hidup dan berada bersama Yesus sebelum berbicara mengenai Dia.
Bagaimana kita dapat berbicara mengenai Dia
kalau kita tidak mengenal-Nya secara pribadi.
Berkembang menjadi semakin matang
Menurut bagian Injil Yohanes ini,
Yesus mengumpulkan kelompok kecil di sekitar diri-Nya. Inilah awal perjalanan mereka bersama Yesus.
Perjalanan itu diawali dengan semangat: mereka telah menemukan Mesias,
“Dia yang akan datang” untuk membebaskan bangsa mereka.
Semangat ini berkembang sejalan dengan karya-karya agung yang dikerjakan oleh Yesus.
Mereka semakin percaya kepada-Nya.
Dia adalah sungguh-sungguh Mesias.
Banyak di antara kita mengalami semangat ini,
ketika kita mulai mengikuti Yesus dalam komunitas dan
bersama sahabat sahabat.
Kita memberikan diri kuta pada suatu cita-cita.
Kita mengagumi pemimpin kita, dan kira ingin scperti Mereka Inilah masa kanak kanak dalam perjalanan rohani kita. Sesudah itu kita akan mengalami semua yang jelek dalam komunitas kita, dalam Gereja, dan dalam diri kita.
Kita akan menghadapi konflik dan perlawanan.
Kita akan melihat
bahwa tidaklah mudah hidup dengan cita-cita itu.
Kita harus berjuang untuk setia, berlaku benar, dan merdeka, dan menyadi pemimpin sekaligus pelayan seperti Yesus. Kuta harus berkembang dari masa kanak-kanak dan remaja dalam hidup rohani menuju kematangan rohani
dan menemukan kehadiran Allah dalam pahitnya kenyataan hidup. Sesudah itu, ketika kita menjadi tua,
kita akan mengalami kelemahan jasmani
atau bahkan kegagalan.
Seperti Yesus, dan bersama Yesus, kita akan dipanggil untuk masuk ke dalam lembah derita, kegagalan, dan penolakan serta ke dalam komunikasi baru dengan Allah.
Kita akan menemukan kelemahan dan kebodohan Allah.
Bagi para murid pertama, perjalanan baru mulai. Demikian juga kita dipanggil untuk memulai perjalanan iman bersama Yesus.

Address

Baranangsiang Indah P7/14
Bogor
16143

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Goei king hok posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share