Dakwah Bogor

Dakwah Bogor Lembaga keagamaan masyarakat bogor

Kisah suhaibah, ibu susu Rasulullah Saw...
31/01/2026

Kisah suhaibah, ibu susu Rasulullah Saw...

Suaibah, seorang wanita budak sahaya Abu lahab yang dimerdekakan oleh Abu Lahab karena memiliki keinginan untuk menyusui Rosulullah. Hingga abu lahab sendiri...

Pesan menggugah untuk pengemban dakwah...
31/01/2026

Pesan menggugah untuk pengemban dakwah...

Adakalanya dalam perjuangan dakwah kita lelah, tapi ingatlah syurga yang telah dijanjikan....

19/07/2025

*MENGGUGAT SEKULARISME!*

Oleh: *Al-Faqir Arief B. Iskandar*
*_Khadim Ma'had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah Bogor)_*

*DI ANTARA* arus besar yang paling merusak umat Islam dewasa ini adalah Sekularisme. Sekularisme adalah _paham yang memisahkan agama dari kehidupan, khususnya dari urusan negara dan politik._

Sekularisme tidak lahir dari rahim Islam, melainkan dari sejarah gelap peradaban Barat. Ironisnya, setelah Barat mengalami “pencerahan” dalam versi mereka, mereka justru menyebarkan Sekularisme ke Dunia Islam melalui imperialisme (penjajahan).

Artikel ini mengupas akar historis Sekularisme, bahayanya terhadap umat Islam, serta bagaimana Islam secara tegas menolak Sekularisme dalam segala bentuknya.

*Apa Itu Sekularisme?*

Secara etimologis, kata _secular_ berasal dari bahasa Latin, yaitu _saeculum_, yang berarti “duniawi” atau “urusan dunia saat ini.”

Adapun secara terminologis, Sekularisme adalah _paham yang memisahkan agama dari kehidupan, terutama dari urusan kenegaraan dan politik._

Dalam definisi klasik Barat dinyatakan: _“Secularism is the belief that religion should not enter into the functions of the state, especially into public education.”_ *_(Oxford Advanced Learner’s Dictionary)._*

Dengan kata lain, Sekularisme mengklaim bahwa agama hanya sah diamalkan dalam ruang pribadi dan ibadah ritual semata. Adapun sistem kenegaraan/pemerintahan, hukum dan sistem sosial-politik harus bebas dari ajaran agama.

*Asal-Usul Sekularisme: Lahir dari Sejarah Gelap Barat*

Sekularisme lahir dari sejarah Barat yang traumatik akibat dominasi gereja Katolik pada Abad Pertengahan. Kala itu Gereja tidak hanya berperan dalam spiritualitas, tetapi juga mengontrol politik, ilmu pengetahuan, hingga kehidupan sosial. Kebobrokan dan korupsi Gereja memicu revolusi pemikiran yang dikenal sebagai _The Enlightenment_ atau _Zaman Pencerahan_ pada abad ke-17–18. Para filsuf seperti Voltaire, Rousseau dan John Locke menentang dominasi agama terhadap negara dan mendorong lahirnya negara sekuler. Ketiga filsuf ini p**a yang kemudian menyerukan sistem demokrasi yang berpusat pada kehendak dan kedaulatan rakyat, sekaligus menjauhkan peran agama dari kehidupan politik dan negara.

Menurut Dr. Tareq Suwaidan dalam bukunya, _Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah,_ Sekularisme adalah reaksi khas terhadap otoritarianisme Gereja, dan karena itu ia merupakan produk lokal Eropa. Ia menyatakan:

*العلمانية ظهرت نتيجة فشل الكنيسة المسيحية في إدارة الحياة... ولذلك لا يمكن أبداً أن تُعتبر حلاً عالمياً*
_Sekularisme muncul sebagai akibat kegagalan Gereja Kristen (di Barat) dalam mengatur kehidupan...Karena itu Sekularisme selamanya tidak bisa dianggap sebagai solusi yang bersifat global (bisa diterapkan di seluruh dunia)_ *(Suwaidan, _Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah,_ hlm. 143).*

Artinya, Sekularisme adalah hasil dari krisis internal Eropa. Ia tidak bisa diterapkan secara universal. Apalagi di Dunia Islam yang memiliki sistem tersendiri yang justru bersumber dari wahyu Tuhan (Allah SWT).

*Barat Mengekspor Sekularisme ke Dunia Islam melalui Penjajahan*

Setelah Barat menemukan “formula baru” berupa Sekularisme, mereka mulai mengekspor paham ini ke Dunia Islam melalui kolonialisme dan imperialisme. Penjajah seperti Inggris, Prancis dan Belanda tidak hanya mengeruk kekayaan alam negeri Muslim, tetapi juga menghancurkan sistem pemerintahan Islam. Mereka kemudian mengganti sistem pemerintahan Islam (Khilafah Islam) dengan sistem pemerintahan sekuler ala Barat, terutama sistem pemerintahan demokrasi yang mewujud baik dalam bentuk negara republik ataupun yang lain.

Contoh paling telak dan paling dramatis adalah penghapusan Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 oleh Mustafa Kemal Atatürk. Ia mendirikan negara Turki modern berbasis sistem demokrasi sekuler, meniru Prancis. Sejak itu hukum-hukum syariah Islam dihapus dan diganti dengan hukum-hukum sipil Swiss. Kalender Hijriyah diganti dengan Kalender Masehi. Bahkan Bahasa Arab dilarang dalam khutbah dan azan, lalu diganti dengan bahasa Turki. Sekularisasi yang dipelopori oleh Mustafa Kemal pun berhasil dan sukses besar. Sejak itu Turki (Khilafah Utsmaniyah) berubah menjadi negara sekuler sampai sekarang. Dari Turki p**a Sekularisme bermula dan kemudian menyebar luas di seluruh Dunia Islam, termasuk Indonesia.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, _Nizhaam al-Islaam,_ menulis:

*إنَّ الكافر المستعمر بعدما هدم دولة الإسلام، عمل على إبعاد الإسلام عن الحياة، فأوجد فكرة فصل الدين عن الدولة*
_Penjajah kafir setelah menghancurkan Negara Islam, bekerja keras menjauhkan Islam dari kehidupan, lalu menciptakan ide pemisahan agama dari negara_ *(An-Nabhani, _Nizhaam al-Islaam,_ hlm. 15).*

*Islam Menolak Sekularisme*

Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik. Islam adalah agama yang menyeluruh dan mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pemerintahan, ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Allah SWT berfirman:

*أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ*
_Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?_ *(QS al-Ma’idah [5]: 50).*

Ayat ini menegaskan bahwa hukum Allah harus berlaku dalam semua urusan manusia, termasuk dalam urusan politik dan hukum negara.

Dalam Islam, konsep _Al-Islam Diin wa Dawlah_ (Islam adalah agama dan negara) merupakan bagian dari warisan ulama klasik. Al-Imam al-Mawardi (w. 450 H) dalam kitabnya, _Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah,_ menyatakan:

*الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا*
_Imamah (Khilafah) itu ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia_ *(Al-Mawardi, _Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah,_ hlm. 5).*

Ini adalah bukti nyata bahwa politik adalah bagian integral dari ajaran Islam. Karena itu memisahkan agama (Islam) dari politik dan kenegaraan adalah bentuk penyimpangan besar.

*Politik Wajib Diatur oleh Agama*

Dalam Islam, politik adalah ibadah, yakni sarana menegakkan keadilan, menyalurkan kekuasaan sesuai syariah dan menjamin kemaslahatan bagi umat. Politik bukan arena kotor sebagaimana diklaim oleh kaum sekuler.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah kepala negara di Madinah, yang menerapkan hukum Islam dalam semua aspek kehidupan. Beliau memimpin peperangan, mengangkat para gubernur, mengatur anggaran Baitul Mal dan mengirim utusan (duta) ke para raja dan.para penguasa pada masanya. Peran ini kemudian diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka; mulai Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah . Sayang , Khilafah Utsmaniyah dihancurkan pada tahun 1924 oleh kekuatan kafir penjajah, yakni Inggris, melalui kaki tangannya, yaitu Mustafa Kemal Attaturk.

Namun demikian, ketiadaan Khilafah--yang diatur oleh hukum-hukum syariah Islam--saat ini tidak mungkin bisa menggugurkan apalagi menghilangkan fakta bahwa para ulama dulu secara tegas menyatakan bahwa kekuasaan tidak boleh dipisahkan dari agama. Imam al-Ghazali _rahimahulLaah,_ misalnya, tegas menyatakan dalam kitabnya, _Al-Iqtishaad fii al-I‘tiqaad:_

*الدين أسٌّ، والسلطان حارس، وما لا أسّ له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع*
_Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak punya fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak punya penjaga akan hilang_ *(Al-Ghazali, _Al-Iqtishaad fii al-I‘tiqaad,_ hlm. 199).*

Tanpa kekuasaan yang tunduk pada agama, masyarakat akan terseret pada kekacauan hukum buatan manusia. Itulah yang sesungguhnya terjadi saat ini. Hukum dibuat demi menguntungkan segelintir orang (oligarki) dan merugikan masyarakat kebanyakan. Tidak aneh jika hasilnya pun ketidakadilan yang kasatmata. Namun, semua itu legal karena memang dilegalkan oleh negara melalui undang-undang. Contoh kecil, di negeri ini, seperti yang dinyatakan oleh Menteri ATR Nusron Wahid, sekitar 60 juta hektare lahan yang bersertifikat dikuasai hanya oleh 60 keluarga. Pada saat yang sama, puluhan juta rakyat tidak memiliki lahan sama sekali.

*Wajib Kembali pada Islam secara _Kaaffah_*

Sekularisme bukan solusi, melainkan bagian dari krisis. Sebabnya, Sekularisme lahir dari rahim peradaban Barat yang bermasalah, yang kemudian diekspor ke Dunia Islam sebagai senjata pemecah-belah umat Islam.

Sejak awal, dari dulu hingga kini, Islam menolak sekularisme karena bertentangan dengan hakikat Islam sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Kini, saatnya kaum Muslim menggugat Sekularisme dan kembali kepada Islam secara _kaaffah'_. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT:

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً*
_Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaaffah)_ *(QS al-Baqarah [2]: 208).*

Imam al-Wahidi, saat menjelaskan tafsir ayat di atas dalam kitabnya, _Al-Wajiiz fii Tafsir al-Kitaab al-'Aziiz,_ menyatakan:

*يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السِّّلْمِ﴾ أي: في الإسلام. ﴿كافةً﴾ أي: جميعاً، أي: في جميع شرائعه.*
Kalimat "_Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian fii as-silmi"_, yakni _fii al-Islaam_ (ke dalam Islam). _Kaafat[an],_ artinya secara keseluruhan, yaitu mencakup semua syariah Islam *(Al-Wahidi, _Al-Wajiiz fii Tafsir al-Kitaab al-'Aziiz,_ 2/150).*

*Penutup*

Alhasil, Sekularisme, jika itu malah disebarkan oleh para tokoh, apalagi tokoh Islam, tentu menyimpan bahaya terselubung. Contohnya saat Menteri Agama baru-baru ini menyatakan bahwa agama tidak perlu dicampuradukkan dengan urusan politik. Sebabnya, sebagaimana yang dijadikan alasan oleh Pak Menag, agama itu hubungan vertikal dengan Tuhan (Lihat: _Sindonews.com,_ 13 Juli 2025).

Pernyataan Pak Menag ini tentu akan dipersepsi oleh sebagian orang bahwa agama (Islam) tidak perlu mengatur urusan politik. Padahal jelas, sebagaimana telah dijelaskan di atas, agama--dalam hal ini Islam--mengatur tidak hanya hubungan vertikal dengan Allah SWT. Islam pun sekaligus mengatur hubungan horizontal antar sesama manusia. Termasuk tentu saja urusan politik, pemerintahan dan kenegaraan. Inilah yang secara tegas dijelaskan oleh Imam al-Mawardi dan Imam al-Ghazali di atas serta para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah lainnya.

_Wa maa tawfiiqi Illaa bilLaahi_. *[]*

*Daftar Rujukan*

1. _Oxford Advanced Learner’s Dictionary_. Entry: _"Secularism"_.

2. Dr. Tareq Suwaidan, _Al-Hadharah al-Islamiyyah._

3. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, _Nizhaam al-Islaam._

4. Imam al-Mawardi, _Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah._

5. Imam al-Ghazali, _Al-Iqtishaad fi al-I‘tiqaad._

13/07/2025

HAKIKAT POLITIK

Oleh: Al-Faqir Arief B. Iskandar
(Khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah Bogor)

DALAM Islam, istilah politik (siyaasah) sesungguhnya bersandar pada nilai-nilai ideologis dan spiritual yang kental. Kata siyaasah (politik) setidaknya diambil dari Hadis Nabi Muhammad saw. berikut:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ...
Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, ia diganti oleh nabi yang lain. Sungguh, tidak ada nabi setelah aku. Yang akan ada adalah para khalifah…_ (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis di atas ada kata _“tasuusu-hum”_. Kata ini berasal dari kata: _saa-sa/ya-suu-su/si-yaa-sat[an]_. Dari sini diambil kata _“siyaasah”_ (politik).

Berkaitan dengan hadis di atas, Syaikh Badruddin al-‘Aini al-Hanafi menyatakan:

*قوله "تسوسهم الأنبياء" عليهم الصلاة والسلام أي تتولى أمورهم كما تفعل الأمراء والولاة بالرعية. والسياسة: القيام على الشيء بما يصلحه، وذلك لأنهم كانوا إذا أظهروا الفساد بعث الله نبيا يزيل الفساد عنهم ويقيم لهم أمرهم ويزيل ما غيروا من حكم التوراة... قوله "لا نبي بعدي" يعني لا يجيء بعدي نبي فيفعل ما يفعلون. قوله "خلفاء" جمع خليفة...*
_Sabda Nabi saw. "Tasuu-hum” — semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka — maksudnya adalah: para nabi mengurus urusan umat sebagaimana para pemimpin dan penguasa mengurus rakyatnya. Kata as-siyaasah (politik/pengurusan) berarti menunaikan tanggung jawab atas sesuatu dengan cara yang bisa memperbaiki sesuatu tersebut. Hal ini karena dulu, setiap kali mereka menampakkan kerusakan, Allah SWT mengutus seorang nabi yang menghilangkan kerusakan tersebut dari mereka, menegakkan urusan mereka, dan menghapus apa yang telah mereka ubah dari hukum Taurat...Sabda beliau "Laa nabiyya ba’dii” maksudnya adalah: tidak akan datang lagi seorang nabi setelah diriku yang akan melakukan apa yang para nabi sebelumnya lakukan. Sabda beliau "Khulafaa’" adalah bentuk jamak dari kata khaliifah..._ (Lihat: Badruddiin al-‘Aini al-Hanafi, _‘Umdah al-Qaari,_ 23/454).

Dengan demikian _politik_ bukanlah -- seperti dalam sistem demokrasi sekuler — _seni merebut dan mempertahankan kekuasaan_. Akan tetapi, berdasarkan hadis di atas, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, politik _(siyaasah)_ — dalam Islam —hakikatnya adalah: _ri'aayah syu'uun al-ummah bi syar'ilLaah_ (pengurusan dan pelayanan urusan umat berdasarkan tuntunan syariah Allah SWT).

Karena itu penguasa atau pemimpin dalam Islam bukanlah raja yang bertakhta dengan hak istimewa. Dia hanyalah seorang hamba yang dibebani amanah yang jauh lebih berat dibandingkan dengan rakyat biasa. Rasulullah saw. bersabda:

*الإِمَامُ رَاعٍ وَ هُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ*
_Imam/Khalifah (Kepala Negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban (di akhirat) atas rakyat yang dia urus_ *(HR al-Bukhari dan Muslim).*

Dalam Islam, menjadi penguasa atau pemimpin adalah beban akhirat. Bukan sebuah kehormatan dunia. Karena itu kepemimpinan dalam Islam bukan jalan kemewahan, tetapi jalan ibadah dan pelayanan. Ini sesuai dengan sabda Nabi saw.:

*سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ*
_Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka_ *(HR Abu Nu‘aim dalam _Hilyah al-Awliyaa’_, 10/117).*

Hadis ini bukan retorika, tetapi prinsip agung dalam sistem kepemimpinan Islam. Seorang pemimpin yang benar-benar memahami tugasnya akan melihat rakyat bukan sebagai objek kekuasaan; tetapi sebagai amanah dari Allah yang wajib dipelihara dengan cinta, keadilan dan pengorbanan. Itulah karakter dasar kepemimpinan dalam Islam: melayani umat dengan kasih sayang dan keadilan.

Amanah dan adil adalah inti dari siyaasah (politik) Islam (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 58). Dalam banyak tempat, Allah SWT bahkan menggandengkan keadilan dengan ketakwaan. Pemimpin yang adil tidak akan menzalimi rakyatnya. Sebabnya, dia sadar bahwa setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT kelak. Dia akan selalu mengingat sabda Rasulullah saw.:

*مَا مِنْ رَاعٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ*
_Tidaklah seorang pemimpin yang diberi amanah oleh Allah, lalu dia meninggal dalam keadaan mencederai rakyatnya, kecuali Allah haramkan bagi dirinya surga_ *(HR al-Bukhari dan Muslim).*

Rasulullah saw. sendiri adalah seorang kepala negara yang selalu hadir di hati umat (rakyat)-nya karena beliau amat mencintai dan menyayangi mereka.

Demikian p**a Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Ketika diangkat sebagai khalifah, beliau langsung menyatakan, _"Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian. Padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Karena itu jika aku benar, bantulah aku. Jika aku salah, luruskanlah aku."_ *(Lihat: Ath-Thabari, _Taariikh ath-Thabari_, 2/245)*.

Kata-kata ini menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan _privilege._ Beliau memimpin dengan kerendahan hati dan cinta kepada umat. Bahkan ketika sakit menjelang wafatnya, beliau masih memikirkan nasib kaum rakyatnya, bukan dirinya.

Demikian p**a Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Beliau adalah simbol keadilan. Ketika seorang warga Mesir mengadukan kezaliman anak gubernur Mesir, Khalifah Umar memanggil keduanya ke Madinah. Lalu beliau mempersilakan rakyat jelata itu membalas cambukan kepada anak gubernur di hadapan publik. Khalifah Umar ra. berkata kepada gubernur itu, _"Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?"_ *(Lihat: Adz-Dzahabi, _Siyar A‘lam an-Nubalaa’_, 2/514)*.

Ketika rakyat kelaparan pada masa paceklik, Khalifah Umar tak mau makan sampai rakyatnya betul-betul kenyang. Beliau berkata, _“Bagaimana mungkin aku merasa kenyang, sementara rakyatku lapar?”_ *(Lihat: Ibn Sa‘d, _Tabaqaat al-Kubraa_, 3/312)*.

Beliau pun pernah menggendong sendiri karung gandum ke rumah seorang janda yang kelaparan. Ketika ajudannya menawarkan bantuan, beliau menjawab, _“Apakah engkau yang akan memikul dosaku kelak pada Hari Kiamat?”_ *(Ibn al-Jauzi, _Manaaqib ‘Umar_, hlm. 149).*

Keteladanan juga ditunjukkan oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan ra. Pada masa kekeringan, beliau pernah membeli—dari uang pribadinya—Sumur Raumah dari orang Yahudi untuk diberikan kepada umat Muslim secara gratis.

Keteladanan juga ditunjukkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Khalifah Ali adalah lambang kecerdasan dan keberanian, tetapi juga kelembutan hati. Beliau pun dikenal sebagai sosok pemimpin yang s**a hidup zuhud. Pakaian dan makanannya sangat sederhana. Padahal, kalau mau, beliau bisa hidup mewah.

Berikutnya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah salah satu sosok pemimpin teladan yang paling menggetarkan hati. Sesaat setelah dilantik sebagai khalifah, beliau menangis dan berkata, _“Duhai Allah, Engkau telah membebani diriku perkara yang besar. Jika Engkau tidak menolong diriku maka binasalah aku dan umat ini.”_

Beliau adalah khalifah yang sangat takut terhadap hisab Allah. Selama menjabat, beliau menolak semua harta negara. Istrinya, Fathimah binti Abdul Malik, bersaksi, _“Demi Allah, ia tak pernah menyentuh satu dirham pun dari Baitul Mal. Setiap malamnya diisi dengan tangis dalam sujud.”_

Beliau biasa memadamkan lampu minyak negara saat membicarakan urusan pribadi/keluarga. Beliau memandang urusan pribadi/keluarga tidak boleh menggunakan fasilitas publik *(Lihat: Ibnu Katsir, _Al-Bidaayah wa an-Nihaayah_, 9/199)*.

Beliau hanya menjabat dua tahun. Namun, dalam waktu singkat, rakyatnya makmur dan hidup sejahtera. Bahkan dikatakan bahwa pada zamannya tak ditemukan lagi orang miskin yang layak menerima zakat *(Lihat: Ibn Katsir, _Al-Bidaayah wa an-Nihaayah_, 9/199)*.

Demikianlah para penguasa Muslim dulu. Mereka benar-benar memahami dan mempraktikan dengan baik hakikat politik (siyaasah) Islam, yakni: mengurus dan melayani rakyat berdasarkan tuntutan syariah Allah SWT.

Alhasil, wahai para penguasa dan para pemimpin! Jadikanlah kekuasaan kalian sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT dan pelayanan kepada rakyat kalian. Bukan sebagai puncak nafsu dunia dan ketundukan pada godaan setan. Ingatlah! Kelak, di Akhirat, yang paling berat hisabnya adalah para penguasa dan para pemimpin seperti kalian! Saat demikian, kekuasaan yang kalian usahakan dan kalian pertahankan mati-matian—tanpa kalian peduli halal dan haram—benar-benar akan berbuah penyesalan yang amat dalam!

_Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah_. *[]*

12/07/2025

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم : إِنٌَ اللّهَ يُحِبُّ الْمِلْحِيْنَ فِى الدُّعَاءِ
Dan telah bersabda Nabi SAW : "Allah s**a kepada orang yang membiasakan do'a."

Perubahan untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki hanyalah dengan kembali kepada Islam. Mengambil Islam sebagai jalan hidup ...
26/09/2023

Perubahan untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki hanyalah dengan kembali kepada Islam. Mengambil Islam sebagai jalan hidup dan solusi atas setiap problem kehidupan yang dihadapi, serta hidup dalam naungan syariat-Nya

Ust Hayyan Hidayat
Ulama dari Majenang
-----


-----

Follow:
🌍 https://www.shautululama.co
📌 Telegram https://t.me/shautululama
📸 IG : https://www.instagram.com/shautululama
🅿️ FB: https://www.facebook.com/shautululama
🌟Twitter:https:https://twitter.com/shautululama
https://www.youtube.com/

LIKE, SHARE, COMMENT, DAN FOLLOW






💦  Keyakinan Menentukan Perbuatan Kita Dan Perbuatan Menentukan Hasil, Tetapi Pertama Kali Kita Harus Yakin._______MTQ B...
26/09/2023

💦

Keyakinan Menentukan Perbuatan Kita Dan Perbuatan Menentukan Hasil, Tetapi Pertama Kali Kita Harus Yakin.
_______
MTQ BARON

Komisi Ombudsman menyebutkan laporan masyarakat tentang agraria mencapai 1.612 laporan sepanjang 2021. Pada tahun 2022, ...
26/09/2023

Komisi Ombudsman menyebutkan laporan masyarakat tentang agraria mencapai 1.612 laporan sepanjang 2021.

Pada tahun 2022, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional saat itu membeberkan jumlah tanah sengketa yang terdaftar sudah hampir 90 juta bidang tanah, sementara yang berkonflik mencapai 8.000 kasus.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mendata sepanjang delapan tahun kepemimpinan Jokowi ada 2.710 konflik agraria di seluruh Indonesia dan tidak ada solusi nyata untuk itu.

Like share follow






Rempang termasuk jalur One Belt One Road (OBOR) nya oligarki. OBOR digunakan oleh oligarki untuk membuat jalur ekonomi d...
26/09/2023

Rempang termasuk jalur One Belt One Road (OBOR) nya oligarki. OBOR digunakan oleh oligarki untuk membuat jalur ekonomi dan investasi demi keuntungan yang besar namun mengorbankan hak rakyat. (Ustadz Asep Syaripudin)




Follow :
Follow :
Follow :

Ini hari ada kecenderungan negera itu dikendalikan Perusahaan swastaBukti bahwa negeri ini dikendalikan oleh private sec...
26/09/2023

Ini hari ada kecenderungan negera itu dikendalikan Perusahaan swasta

Bukti bahwa negeri ini dikendalikan oleh private sector atau perusahaan-perusahaan besar swasta adalah lahirnya Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba).

Kekayaan alam berupa batu bara harusnya milik rakyat yang dikelolah oleh negara untuk kesejahteraan rakyat.

Ustaz Ismail Yusanto
[Cendekiawan Muslim]

BACA SELENGKAPNYA >>> https://www.tintasiyasi.com/2023/09/uiy-ada-kecenderungan-negara.html

Address

Bogor

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dakwah Bogor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Dakwah Bogor:

Share