20/06/2023
Wisuda
Secara makna adalah upacara pelantikan yang merupakan upacara sakral dari perjuangan yang keras, s**a dan duka selama kuliah serta perjuangan menempuh pendidikan yang tak mudah di bangku perkuliahan.
Prosesi pemindahan kuncir dari kiri ke kanan merupakan simbol selesainya pembelajaran materi teori, dan berkembanganya inovasi, kreativitas, dunia baru untuk menerapkan teori (otak kiri ke otak kanan) (IAIN Palangkaraya).
WIsuda juga dimaknai sebagai puncak studi panjang yang melelahkan dan membutuhkan kesabaran. Wisuda merupakan pembuka kepada perjuangan selanjutnya dalam mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
Apakah anak PAUD memerlukannya (wisuda)?
Jawabannya "TIDAK"
Nilai-nilai dari wisuda nampaknya belum cocok dan pas untuk jenjang pendidikan PAUD yang berfokus pada perkembangan sensori, motorik, dan sedikit kognitif.
Fase pra-operasional perlu dimaknai sebagai fase di mana anak-anak s**a menjadi pusat perhatian, pemahaman simbol sederhana, dan pemahaman konkrit atau jelas. Perkembangan simbol sederhana semisal: Anak-anak lebih merasa bangga, lebih ceria, lebih memahami saat kelulusan menggunakan seragam kebanggaan mereka yang penuh warna, selera anak dan familiar dimakanai sebagai identitas sekolah. Dibandingkan menggunakan toga yang bentuknya sederhana, selera orang dewasa, mereka tidak familiar, sehingga anak-anak usia perkembangan 4-6 tahun sulit memahami maksud dari toga tersebut. (kan jadi useless kan, udah bayar mahal misalnya). Pakai toga itu yang paham ya guru dan orangtuanya saja, toh kita juga merasa bangga melihat foto wisuda PAUD sewaktu kita sudah dewasa, pas masih PAUD apakah bisa memahaminya?
Sebaiknya tidak perlu menggunakan toga, pemindahan kuncir, sambutan-sambutan terlalu panjang, apalagi ada motivasi (penyampaian dengan nada serius). Lebih baik mereka mendengarkan motivasi dari pencerita anak yang lebih masuk dan mudah dipahami anak, perayaan dengan ceria banyak tampilan, gerakan, warna, suara dan sebagainya. Hal tersebut akan lebih dimaknai dan mudah diterima oleh anak. Maka bentuk apresiasi anak atas usahanya di sekolah lebih mengena karena diseseuaikan tahapan perkembangan mereka, bukan menggunakan upacaya perayaan yang ja