21/05/2023
Innalillahi Wa Innailaihi Roojiun.... KH Azizi Hasbulloh, Syuhada Ahlil Jannah
Beliau Yai Azizi Hasbulloh memang belum pernah menjadi wali kelas (Mustahiq) di pondok agung Lirboyo. Tapi, yang mengenal dan istifadhah ilmu padanya mungkin melebihi yang pernah jadi mustahiq.
Sangat banyak yang belajar privat, ngaji bersama, bahkan pengagumnya. Sebab beliau memang sehebat itu dalam mengurai fiqh dan ushulnya. "Kitab Lubbul Ushul. Mungkin beliau setengah hafal" kata saya waktu mengisahkan beliau di hadapan santri ma'had ali semester tiga Lirboyo. "Pokok. Kalau sampeyan ingin 'mengalahkan' beliau, jangan pakai argumen akal-akalan. Cukup ibarat sharih. Beliau akan setuju. Sesimpel itu. Sebab tidak satu atau dua kali saya melihat ketangguhannya di keroyok puluhan atau bahkan ratusan peserta Bahtsul Masaail. Yang tadinya ingin menjatuhkan beliau, jadinya seperti seminar; ada yang tanya. Beliau menjawab".
Saya yakin banyak yang punya kisah indah dengan beliau. Dan di antara yang banyak itu. Saya salah satunya. Kisah ini sering saya katakan di hadapan para santri:
"Di antara banyak guru. Saya punya salah satu guru istimewa. Beliau benar-benar dari nol. Namanya Kyai Azizi Hasbulloh. Asal Urek-urek Malang, sekarang berdomisili di Selopuro Blitar. Pernah suatu ketika beliau berkisah kepada saya dan kawan-kawan di sela-sela privat kitab Fathul Qarib: 'Aku dulu mondok hampir tidak membawa bekal. Uang hanya cukup perjalanan ke Lirboyo sekali jalan. Sampai ke Lirboyo, uang tinggal 50 rupiah. Tapi alhamdulillah. Waktu itu. Ada tahlilan keluarga Mbah Yai Mahrus Ali selama empat puluh hari. Jadi untuk makan. Agak tenang. Walau sehari satu kali. Lumayan masih bisa hidup empat puluh hari haha. Lalu aku sowan Mbah Yai Idris untuk ikut ndalem beliau. Ya. Sampai sekarang. Makanya ketika beliau menawariku istri. Aku jawab: Nyawa saya milik Panjenengan, Yai. Saya manut'".
Dikatakan sangat dekat. Tidak! Tapi kalau jauh. Tidak juga. Sebab hampir setiap acara Bahstul Masaail Penutupan Lirboyo, FMPP, NU wilayah JATIM saya bertemu dan mencucup tangan beliau. "Hizbulloh ya?" sapanya. "Njih, Yai" jawabku singkat.
Selain itu. Kenangan tak kan terlupa hingga kiamat adalah waktu saya kursus privat Fathul Qarib seminggu tiga kali kepada beliau. Sebab waktunya mulai jam 11 malam lebih sedikit, selesai kadang adzan subuh! (Padahal setiap bakda maktubah beliau mengursus santri berbeda dengan fan berbeda; ada yang nahwu, ada yang balaghah, ada yang ushul fiqh, bahkan tafsirpun beliau terima).
Kenapa kok kenangan tak terlupakan? Sebab kami beberapa orang yang berangkat kesana membawa kopi. Rata-rata waktu sampai disana beliau ketiduran karena capek aktifitas seharian. Tidak salam. Cukup kami sandingkan kopi itu di samping beliau. Tak lama kemudian. Karena aroma kopi. Beliau bangun. "Lho?! Sudah datang?". Setelah itu. Beliau bangun. Kadang ke kamar mandi dulu. Kadang tidak. Lalu. "Alfaatihah". Diskusi berjalan asyik hingga tembus adzan subuh!
Tidak itu saja. Kamar beliau tepat disamping tempat pembuangan sampah terbesar Lirboyo. Jadi, tau sendiri kan baunya? Sedap-sedap gimana gitu 😃 Daann yang paling asyik, di bawah kamar adalah kandang kambing! Pernah ada kawan yang memasukkan tangan di sela-sela lantai kamar yang terbuat dari bambu. "Adawww" pekiknya. Ternyata dia di gigit kambing 😃
***
Beberapa hari lalu. Waktu akan mendatangi acara Bahtsul Masaail di PBNU. Mobil beliau kecelakaan di arah tol Cipali. Banyak gawagis dan kawan langsung mengondisikan keadaan. Setelah melewati pasang surut masa kritis. Hari ini. Beliau di panggil Gusti Allah ta'ala. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Alfaatihah.
Waktu kritis. Kata teman yang mengawal. Beliau sering berdzikir Allah dan istighfar. Lalu sesekali menanyakan bagaimana hasil Bahtsul Masailnya. Ketika di hibur jangan memikirkan hal itu. Jawabnya: Karena NU lah ladang berjuangku!
Selamat jalan. Ilalliqa' fil akhirah, Guruku. 😭🙏🏼
Copas Status Gus Robert Azmi