10/03/2019
PUASA MENGHAYATI SENGSARA YESUS KRISTUS
ISTILAH PUASA
Puasa dalam bahasa Ibrani disebut ‘tzum' (baca: sum), sebanding dengan kata ‘shoum’ (baca: saum) dalam bahasa Arab. Sedangkan, dalam bahasa Yunani ‘nesteia' (baca: nistia). Kata sum (Puasa) ini sering digabungkan dengan kata 'innah nefesy' (merendahkan diri); Imamat 16: 29, 31, 23: 27-32, Bilangan 29: 7; Yesaya 58: 3, Mazmur 35: 13. Kata ‘sum' (Puasa) secara sederhana diartikan sebagai tidak makan roti dan tidak minum air saja (Keluaran 34: 28). Selanjutnya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Puasa diartikan meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan).
PUASA oleh YESUS KRISTUS
Pencobaan di Padang Gurun (Matius 4: 1-11; Markus 1: 12-13 & Lukas 4: 1-13)
Dalam kesaksian Alkitab, berita Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), beberapa teladan puasa dilaksanakan oleh para Nabi dan Raja dengan cara dan tujuan (pergumulan) masing-masing. Namun, dalam rangka penghayatan menjalani minggu-minggu Sengsara, maka teladan Puasa (makna dan cara berpuasa) yang diajarkan Yesus Kristus menjadi fokus pemahaman bersama untuk dihayati dan dilaksanakan. Tertulis dalam Injil Matius, Markus dan Lukas, Yesus yang penuh oleh Roh Kudus, dipimpin atau dibawa ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Di sana ia tinggal selama 40 hari dan empat puluh malam, tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Injil Matius menegaskan bahwa Yesus di padang gurun itu berpuasa (Matius 4: 2). Ketika Yesus lapar setelah berpuasa 40 hari, si pencoba, yakni Iblis, datang dan mencobai Yesus. Ada tiga bentuk pencobaan Iblis kepada Yesus, yaitu tentang menyuruh batu menjadi roti, tentang menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah dan tentang kerajaan dunia dan kemegahannya (kuasa, kehormatan dan harta dunia). Tiga bentuk pencobaan tersebut berhasil ditolak oleh Yesus. Dengan kata lain, Yesus berhasil menunaikan Puasa selama 40 hari dengan baik.
Mengapa Yesus berhasil?
Pertama, Yesus dipimpin dan dibawa oleh Roh Kudus. Ia dapat menjalankan Puasanya dengan baik, tidak makan apa-apa selama 40 hari, karena Roh memimpin dan membawa Dia (Markus 1: 12; Matius 4: 1). Roh Kudus memberi kekuatan spiritual, yakni kesiapan untuk menjalankan tugas kehambaan dalam pelayanan bagi dunia, dan kekuatan fisik, yakni ketahanan tubuh untuk menahan lapar, tidak makan apa-apa. Maka, hal penting pertama dalam berpuasa, berilah diri kita dipimpin dan dibawa oleh Roh Kudus.
Kedua, Yesus adalah Anak Allah (Matius 4: 3, 6; Lukas 4: 3, 9). Terikatnya hubungan antara Yesus dengan Bapa-NYA, membuat Ia tegas meyakini bahwa apa yang ada dalam dunia ini, adalah milik Bapa-NYA. Dengan begitu, tawaran atau godaan Iblis, tentang soal konsumtif (makan dan minum), soal bahaya maut (keselamatan diri) dan soal kemegahan dunia (kuasa, harta dan takhta), bagi Yesus, adalah tawaran dunia yang tidak kekal dan sesungguhnya tidak membawa keselamatan bagi diri-NYA dan bagi dunia ini. Maka, hal penting kedua dalam berpuasa, ialah terikatnya hidup percaya kita kepada Bapa Sorgawi melalui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Kehidupan yang mengutamakan keintiman dengan Bapa Sorgawi, yakni merenungkan dan memberlakukan Firman-NYA, tidak kuatir atau takut soal hidup dan mati dan teladan hidup bersahaja, yakni berkecukupan dan bersyukur senantiasa di dalam TUHAN.
HAL BERPUASA (Matius 6: 16-18)
Yesus mengajarkan tentang cara berpuasa. Ayat 16a, “Janganlah muram mukamu seperti orang munafik, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa”. Maksudnya, dalam berpuasa, tampilan fisik kita jangan terlihat seperti orang yang sementara dalam kesusahan atau pergumulan yang berat. Ekspresi muka muram, yaitu muka yang tidak berseri dan tidak kelihatan bergembira. Bagian ayat selanjutnya: Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi (Ayat 17-18a).
Lalu bagaimana seharusnya kita berpuasa?
Pertama, berpuasalah dalam ekspresi yang tetap berseri dan bergembira, meskipun dalam pokok pergumulan doa dan harus menahan nafsu makan dan minum.
Kedua, berpuasalah dalam keadaan tubuh secara fisik yang tetap terawat, bugar dan sehat.
Ketiga, berpuasa adalah Ibadah Pribadi. Artinya, mempererat keintiman pribadi kita dengan Bapa Sorgawi. Hati kita dan Hati Bapa menyatu. Pribadi kita dan pribadi Bapa, dan tidak menyertakan pribadi atau orang lain. Diri kita berserah kepada-NYA. Hanya kepada Bapa, dalam penyerahan diri melalui Ibadah: menyanyi, membaca Firman TUHAN, bergumul dalam doa, menahan lapar dan minum, serta menahan hawa nafsu (pengendalian diri dan keinginan daging), kita mengungkap segenap pergumulan dan pencapaian kita dalam Puasa kepada TUHAN. Antara kita dengan Bapa. Benar-benar tersembunyi.
Maka bagian penutup bacaan ini tertulis: Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (ayat 18). Apa balasan Bapa? Pergumulan dan pencapaian yang kita harapkan melalui Puasa yang kita jalankan, akan dijawab oleh-NYA dalam kehendak-NYA dan waktu-NYA.
PUASA DIAKONAL
Dalam gereja kita, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), penghayatan untuk menjalani Minggu-Minggu Sengsara Yesus Kristus, selama enam minggu biasanya ditandai dengan program Puasa Diakonal. Program ini ialah aksi nyata dari setiap anggota keluarga dalam pelayanan GMIM, selama minggu-minggu Sengsara, memberikan bagian atau menyisihkan materi berupa uang yang dikumpulkan setiap hari atau setiap minggu, yang nantinya secara bersama-sama dalam kesatuan Kolom, dikumpulkan oleh Pelayan Khusus, selanjutnya dikumpulkan utuh sebagai satu Jemaat, yang diperuntukkan sebagai aksi berbagi (berdiakonia) kepada mereka yang membutuhkan (berkekurangan), yaitu kepada Janda, Duda, Orang-orang Miskin dan bantuan Pendidikan kepada anggota jemaat yang kurang mampu. Dan, untuk aksi Puasa Diakonal, adalah suatu upaya mulia dalam mewujudnyatakan pencapaian iman dalam Puasa Pribadi yang kita jalankan masing-masing.
MARILAH BERPUASA: PRIBADI DAN DIAKONAL
Menjalani minggu-minggu Sengsara Yesus Kristus, maka berpuasa adalah tindakan iman yang tepat kita laksanakan, karena berpuasa adalah beribadah. Puasa yang dimaksud ialah, Puasa Pribadi dan Puasa Diakonal. Tujuan Puasa Pribadi, adalah seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus sangat tepat untuk dipraktekkan dalam menghayati minggu-minggu Sengsara, yaitu sebagai persiapan diri untuk menjalankan tugas pelayanan kehambaan dan kesaksian bagi dunia, yang dimulai dari kehidupan pribadi, keluarga dan sesama. Bersamaan dengan itu, sebagai langkah tindak lanjut atas Puasa Pribadi yang kita lakukan, maka Puasa Diakonal menjadi kelanjutan untuk menyatakan buah-buah iman kita saat memustuskan menjalankan Puasa sebagai penghayatan menjalani minggu-minggu Sengsara.
Adapun langkah-langkah Puasa Pribadi dan Puasa Diakonal yang akan dilaksanakan ialah:
Kita dapat menentukan rentang waktu, yaitu: Puasa Pribadi selama 40 Hari, selama 6 Minggu Sengsara (lebih atau kurang 42 Hari), selama satu bulan penuh (30-31 Hari), 1 Minggu (7 hari) atau selama 1 Hari (disesuaikan dengan program Jemaat, KPDP).
Lamanya jam Puasa Pribadi adalah 12 jam atau 6 Jam. Dibuka pada jam 6 pagi, ditutup pada jam 6 sore (12 Jam) atau dibuka jam 6 pagi, ditutup jam 12 siang (6 Jam).
Dalam menjalankan Puasa Pribadi, pertama, berilah diri kita dipimpin oleh Roh Kudus. Kedua, membuka dan menutup Puasa Pribadi adalah dengan beribadah, berdoa, menyanyi dan membaca Alkitab dengan memfokuskan pada pembentukan spritualitas diri sesuai tema-tema bacaan Yesus Kristus dalam penderitaan menjalani derita Salib.
Merenungkan dan memberlakukan Firman-NYA, tidak kuatir atau takut soal hidup dan mati, dan teladan hidup bersahaja, yakni berkecukupan dan bersyukur di dalam TUHAN.
Bersamaan dengan menjalankan Puasa Pribadi, kita juga menjalankan Puasa Diakonal. Pelaksanaan Puasa Diakonal adalah komitmen pribadi (dan atau keluarga) untuk menyisihkan berkat materi (uang atau bahan) untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan tetapi berkekurangan. Puasa Diakonal adalah komitmen iman dari hidup pribadi yang diperuntukkan membantu sesama sebagai satu tubuh Kristus dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat.
Akhirnya, marilah kita berpuasa. Dengan tekad yang kuat dan tulus, semoga melalui Ibadah Puasa yang kita jalani, maka penghayatan minggu-minggu Sengsara Yesus Kristus akan semakin memperteguh hidup beriman kita, demi bersaksi, bersekutu dan melayani bagi kemuliaan TUHAN ALLAH!
(Diolah dari berbagai sumber)