Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Renungan Harian Kristen 1 Menit, Khotbah Kristen, Gambar Tuhan Yesus, Kesaksian Kristen, Tuhan Yesus.

1 Tesalonika 4:7-8 (TB)  Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu...
07/10/2024

1 Tesalonika 4:7-8 (TB) Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.
Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

https://alkitab.app/v/f1d7ef7d0cd1

02/12/2023

Damai Sejahtera Penuh Sukacita di Hati kurang dari 1 Menit !

Kelahiran Yesus Kristus
Matius 1:18-25 (TB)

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" — yang berarti: Allah menyertai kita.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

01/12/2023

Damai Sejahtera Penuh Sukacita di Hati kurang dari 1 Menit !

Silsilah Yesus Kristus.
Matius 1:1-17 (TB)

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.

Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,

Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,

Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,

Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,

Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,

Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,

Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,

Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,

Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.

Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,

Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,

Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,

Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,

Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

23/08/2023

Tafsiran Alkitab JERUSALEM, Matius 7:6 Hal yang kudus yang berharga

Ialah daging kudus, makanan yang dikuduskan oleh karena dipersembahkan dalam Bait Allah, bdk Ima 22:14; Kel 22:30. Demikianpun orang tidak boleh menyampaikan suatu ajaran yang berharga dan suci kepada orang yang tidak mampu menerimanya dengan semestinya, yang malahan dapat menyalahgunakannya. Tidak dikatakan siapa orang-orang itu: orang Yahudi yang bermusuhan? atau orang kafir (bdk Mat 15:26)?

19/08/2023

Tafsiran Alkitab Matthew Henry, Matius 7:1-5 Hal menghakimi

Pasal ini melanjutkan dan menyimpulkan khotbah Kristus di bukit, yang berisi tuntunan untuk dipraktikkan, agar segala perilaku kita benar, baik terhadap Allah maupun manusia; sebab rancangan iman Kristen adalah untuk menjadikan manusia itu baik, baik dalam segala hal. Dalam pasal ini kita melihat:

I. Beberapa aturan mengenai hal mengecam dan menegur (ay. 1-6).

II. Dorongan agar kita berdoa kepada Allah untuk hal-hal yang kita perlukan (ay. 7-11).

III. Pentingnya ketegasan dalam segala sesuatu yang kita perbuat (ay. 12-14).

IV. Peringatan yang diberikan kepada kita agar berjaga-jaga terhadap nabi-nabi palsu (ay. 15-20).

V. Kesimp**an dari seluruh khotbah, yang menunjukkan pentingnya ketaatan mutlak pada perintah-perintah Kristus, yang tanpanya kita tidak dapat berharap bisa berbahagia (ay. 21-27).

VI. Kesan para pendengar terhadap ajaran Kristus (ay. 28-29).

Menghakimi dengan Adil dan Bijak (7:1-6)

Di sini Juruselamat kita mengajarkan bagaimana kita harus menjaga perilaku kita berkenaan dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Ungkapan-ungkapan-Nya ini sepertinya dimaksudkan sebagai teguran bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, yang sangat kaku dan keras, sok berkuasa dan angkuh, ketika mengutuk orang-orang lain, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan congkak yang s**a membenarkan diri. Di sini kita melihat:

I. Peringatan agar jangan menghakimi (ay. 1-2). Ada orang-orang yang memang bertugas menghakimi -- misalnya para hakim dan hamba Tuhan. Kristus, meskipun tidak memperlakukan diri-Nya sendiri sebagai Hakim, datang bukan untuk menghapus tugas para hakim dan hamba Tuhan itu untuk menghakimi, sebab oleh Dialah para raja memerintah. Tetapi larangan untuk menghakimi ini ditujukan kepada perorangan secara pribadi, kepada murid-murid-Nya, yang kelak akan duduk di atas takhta dan menghakimi, walaupun belum sekarang. Kita perhatikan lagi:
Larangannya; Jangan menghakimi. Kita harus menghakimi diri kita sendiri, dan menghakimi perbuatan sendiri, tetapi tidak boleh menghakimi saudara kita, tidak boleh bersikap sok berkuasa atas orang lain, karena kita sendiri juga tidak ingin mereka bersikap demikian terhadap kita. Pedoman yang kita pegang adalah tunduklah seorang kepada yang lain. Janganlah banyak orang mau menjadi guru (Yak. 3:1). Janganlah kita duduk di kursi penghakiman dan menjadikan perkataan kita sebagai hukum bagi semua orang. Janganlah kita menghakimi saudara kita, artinya, kita tidak boleh memfitnah dia; begitulah yang dijelaskan dalam Yakobus 4:11. Janganlah kita tidak mengindahkan dia, atau menghina dia (Rm. 14:10). Janganlah kita menghakimi dengan gegabah, atau menjatuhkan penghakiman seperti itu kepada saudara kita tanpa dasar, hanya karena rasa dengki dan watak buruk kita. Janganlah kita menjelek-jelekkan orang lain, atau menduga-duga hal-hal yang menyakitkan hati hanya berdasarkan perkataan dan perbuatan mereka, karena ini berat untuk ditahan. Janganlah kita menghakimi tanpa belas kasihan dan tidak kenal ampun, atau dengan semangat membalas dendam dan dengan keinginan untuk mencelakakan. Janganlah kita menilai keadaan orang hanya berdasarkan satu perbuatannya, atau menilai siapa mereka berdasarkan pendapat pribadi kita sendiri mengenai diri mereka, sebab kita ini cenderung bersikap berat sebelah. Janganlah kita menghakimi hati orang lain ataupun niat-niat mereka, sebab Allah-lah yang mempunyai hak istimewa untuk menguji hati, dan kita tidak boleh menduduki takhta-Nya. Janganlah juga kita menghakimi nasib kekal mereka, atau menyebut mereka munafik, terkutuk, dan buangan, karena hal-hal ini berada di luar batas kita. Apakah hak kita untuk menghakimi hamba orang lain sedemikian rupa? Nasihati dia, dan bantulah dia, tetapi janganlah menghakiminya.
Alasan yang memperkuat larangan ini. Supaya kamu tidak dihakimi. Ini menunjukkan:

(1) Bahwa bila kita menyangka kita boleh menghakimi orang lain, maka kita juga harus siap untuk dihakimi. Orang yang merampas kekuasaan akan diperhadapkan pada pengadilan. Dia akan diadili orang, dan biasanya orang yang paling s**a mengecam akan dikecam dengan paling keras. Tiap orang akan melemparinya dengan batu. Orang yang, seperti Ismael, tangan dan mulutnya melawan setiap orang, akan mengalami hal yang sama juga seperti Ismael, tangan dan mulut tiap-tiap orang akan melawan dia (Kej. 16:12). Demikian p**a, orang yang tidak menunjukkan belas kasihan untuk nama baik orang lain juga tidak akan mendapat belas kasihan untuk nama baiknya sendiri. Namun, ini belumlah seberapa. Mereka akan dihakimi Allah, dan dari-Nya mereka akan mendapat penghakiman menurut ukuran yang lebih berat (Yak. 3:1). Kedua belah pihak harus menghadap Dia (Rm. 14:10), dan seperti halnya Dia akan membebaskan orang rendah hati yang menderita, maka Dia juga akan menolak pencemooh yang angkuh, dan akan menghukumnya dengan setimpal.

(2) Bahwa bila kita tidak berlebihan dan berbelas kasihan dalam menegur orang lain, dan menolak menghakimi mereka, dan lebih s**a menghakimi diri sendiri, maka kita tidak akan dihakimi oleh Tuhan. Seperti halnya Allah akan mengampuni orang-orang yang mengampuni saudara mereka, demikian juga Dia tidak akan menghakimi orang-orang yang tidak menghakimi saudara mereka. Orang yang murah hatinya akan beroleh kemurahan. Kemurahan hati adalah bukti akan kerendahan hati, kasih, dan rasa hormat kepada Allah, dan akan diakui serta diberi upah yang sepadan oleh-Nya (Rm. 14:10).

Penghakiman atas orang-orang yang menghakimi orang lain itu sesuai dengan hukum pembalasan. Dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi (ay. 2). Allah yang adil, dalam penghakiman-penghakiman-Nya, sering kali memperhatikan hukum proporsi, yaitu menjatuhkan keputusan secara adil berdasarkan bobot dari perbuatan orang, seperti dalam kisah Adoni-Bezek (Hak. 1:7; lihat juga Why. 13:10; 18:6). Dengan demikian, Dia akan dibenarkan dan ditinggikan dalam penghakiman-penghakiman-Nya, dan semua makhluk akan terdiam di hadapan-Nya. Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Dengan cara ini, mungkin di dunia ini orang bisa menyadari dosanya menurut hukuman yang mereka terima. Biarlah hal ini mencegah kita bersikap kejam dalam berurusan dengan saudara kita. Apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri? (Ayb. 31:14). Apa jadinya kita bila Allah juga bersikap tegas dan kejam dalam menghakimi kita persis seperti cara kita menghakimi saudara-saudara kita; bila Dia juga menimbang kita dengan ukuran yang sama? Bersiap-siaplah untuk menghadapi hal yang sama, jika kita berbuat keterlaluan dalam menunjukkan kesalahan-kesalahan saudara-saudara kita. Dalam hal ini, seperti juga dalam hal-hal lainnya, perlakuan kasar terhadap orang lain akan berbalik menimpa mereka sendiri.

II. Beberapa peringatan mengenai tindakan menegur. Karena kita tidak boleh menghakimi orang lain, yang merupakan dosa besar, ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh menegur orang lain. Menegur adalah sebuah kewajiban besar yang dapat menjadi sarana untuk menyelamatkan jiwa orang itu dari maut, dan juga untuk menyelamatkan jiwa kita dari tindakan ikut ambil bagian dalam dosa orang yang ditegur itu. Sekarang perhatikanlah di sini:
Tidak semua orang pantas memberikan teguran. Mereka yang bersalah atas kesalahan-kesalahan yang sama yang mereka tuduhkan kepada orang lain, atau atas kesalahan-kesalahan yang lebih buruk lagi, akan mempermalukan diri mereka sendiri, dan tidak mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan kepada orang yang mereka tegur (ay. 3-5). Berikut ini kita melihat,

(1) Teguran telak bagi orang-orang yang s**a mengecam, yang bertengkar dengan saudaranya karena kesalahan-kesalahan kecil, sementara mereka sendiri melakukan kesalahan-kesalahan besar. Bagi orang-orang yang cepat melihat selumbar di mata saudaranya, namun tidak menyadari balok di dalam mata mereka sendiri, terlebih lagi, bahkan sangat ingin mengeluarkan selumbar itu dari matanya, padahal mereka tidak pantas melakukannya karena mereka sendiri boleh dikatakan buta. Perhatikanlah:

[1] Ada bermacam-macam tingkatan dalam dosa. Sebagian dosa hanya sebesar selumbar, yang lain sebesar balok. Sebagian sebesar nyamuk, dan yang lain sebesar unta. Akan tetapi, ini tidaklah berarti bahwa ada yang dinamakan dosa kecil, sebab Allah menentang dosa sekecil apa pun. Sebab, bila dosa itu dikatakan sebesar selumbar, (atau serpihan, untuk lebih tepatnya), toh ia ada di mata. Sedangkan, bila sebesar nyamuk, ia ada di tenggorokan. Dan keduanya sama-sama menimbulkan rasa pedih dan sangat berbahaya, dan kita tidak akan merasa nyaman atau sehat sebelum keduanya dikeluarkan.

[2] Dosa-dosa kita sendiri haruslah tampak lebih besar di mata kita dibandingkan dengan dosa-dosa yang sama yang dilakukan orang lain. Kasih mengajarkan kita untuk menyebutnya selumbar di mata saudara kita, sedangkan pertobatan murni dan dukacita kudus akan mengajar kita untuk menyebutnya balok di mata kita sendiri. Dosa-dosa orang lain harus diperingan, sedangkan dosa-dosa kita sendiri harus diperberat.

[3] Banyak orang yang memiliki balok di mata mereka, namun mereka tidak mengacuhkannya. Mereka ditindih kesalahan dan kuasa dosa-dosa yang sangat besar, namun mereka tidak meyadarinya, malah membenarkan diri mereka sendiri, seolah-olah mereka tidak perlu bertobat atau memperbarui diri. Sungguh aneh bahwa orang dapat berada dalam keadaan yang begitu berdosa dan menyedihkan, namun tidak menyadarinya, seperti orang yang memiliki balok di matanya, namun tidak mengindahkannya. Ilah dunia ini begitu piawai membutakan pikiran mereka, sehingga sekalipun demikian, mereka bisa berkata dengan penuh keyakinan, kami melihat.

[4] Biasanya memang begitu, orang yang paling berdosa dan yang tidak menyadarinya sama sekali, sangat lancang dan bebas dalam menghakimi dan mengecam orang lain. Orang-orang Farisi, yang luar biasa angkuh dalam membenarkan diri mereka sendiri, paling keras dalam mengutuk orang lain. Mereka sangat kejam dalam mengecam murid-murid Kristus karena makan dengan tangan yang tidak dibasuh, suatu tindakan yang hampir tidak sebesar selumbar, sementara mereka sendiri mendorong orang untuk tidak menghormati orangtua sendiri, suatu dosa yang sebesar balok. Kesombongan dan sikap tidak mengenal belas kasihan adalah balok-balok yang umum dijumpai di dalam mata orang-orang yang sok kritis dan manis dalam mengecam orang lain. Bahkan, ada banyak orang yang mempunyai dosa tersembunyi dan tidak merasa malu untuk menghukum orang lain yang ketahuan melakukan dosa yang sama. Cogita tecum, fortasse vitium de quo quereris, si te diligenter excusseris, in sinu invenies; inique publico irasceris crimini tuo -- Renungkanlah, boleh jadi kesalahan yang kaukeluhkan itu, setelah diteliti dengan sungguh-sungguh, ternyata terdapat juga di dalam dirimu sendiri; dan pastilah tidak pantas untuk memperlihatkan kemarahan di depan umum terhadap kejahatanmu sendiri (Seneca, de Beneficiis). Begitu p**a,

[5] Bersikap kejam atas kesalahan orang lain dan bersikap lunak atas kesalahan diri sendiri merupakan suatu tanda kemunafikan. Hai orang Munafik (ay. 5). Apa pun yang pura-pura diperbuat oleh orang semacam itu, sudah pasti bahwa dia bukanlah musuh bagi dosa (sebab seandainya demikian, dia juga akan menjadi musuh bagi dosanya sendiri), dan oleh karena itu, orang demikian tidak layak mendapat pujian. Malah sebaliknya, ia sebenarnya merupakan musuh bagi saudaranya, dan oleh sebab itu patut dipersalahkan. Kemurahan hati rohani yang seperti ini harus diawali di rumah. "Bagaimana bisa engkau berkata, bagaimana mungkin tanpa malu engkau bisa berkata, kepada saudaramu, marilah aku bantu memperbarui dirimu, padahal engkau sendiri tidak peduli untuk memperbarui dirimu sendiri? Hatimu sendiri akan mencela engkau atas kemustahilan ini. Engkau hanya akan mendatangkan aib dan bersiaplah untuk menerima perkataan orang, perbuatan jahat membetulkan dosa: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri." I præ, sequar -- Berjalanlah di depan, aku akan mengikuti (bdk. Rm. 2:21).

[6] Dengan menimbang-nimbang kesalahan sendiri, kita akan terhindar dari sikap mengecam orang dengan sewenang-wenang, namun janganlah itu menghindarkan kita dari memberi teguran yang ramah kepada orang lain dan dari memberi penghakiman dengan tulus dan murah hati. "Karena itu pimpinlah orang ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri (Gal. 6:1). Apa jadinya engkau dulu, apa jadinya engkau sekarang, dan apa jadinya engkau kelak, seandainya Allah membiarkan dirimu begitu saja?"

(2) Berikut ini adalah kaidah yang baik bagi para pengecam (ay. 5). Gunakanlah cara yang benar, keluarkanlah dahulu balok dari matamu. Keburukan kita sendiri sama sekali tidak boleh dijadikan dalih untuk tidak menegur orang lain. Jika kita berpikir bahwa keadaan kita yang seperti itu membuat kita tidak layak untuk memberikan teguran kepada orang lain, maka ini justru akan semakin memperburuk keburukan kita sendiri. Kita tidak boleh berkata, "Aku mempunyai balok di mataku, dan oleh sebab itu aku tidak mau membantu saudaraku mengeluarkan selumbar dari matanya." Pelanggaran seseorang memang tidak akan pernah bisa dipakai sebagai alat pembelaannya, dan karena itulah, aku harus memperbarui diriku terlebih dulu, supaya dengan demikian aku dapat membantu memperbarui saudaraku, dan dapat membuat diriku layak untuk menegurnya. Perhatikanlah, orang-orang yang menyalahkan orang lain dengan sendirinya harus bebas dari kesalahan dan layak secara hukum. Orang-orang yang menegur di pintu gerbang, yakni yang layak menegur karena jabatan mereka, seperti para hakim dan hamba Tuhan, harus memperhatikan betul bagaimana mereka harus hidup dan harus benar dalam perilaku mereka: seorang penatua jemaat haruslah mempunyai nama baik (1Tim. 3:2, 7). Alat pemadam lilin di ruang mahakudus harus terbuat dari emas murni.
Tidak semua orang pantas ditegur. Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing (ay. 6). Hal ini dapat dipandang sebagai:

(1) Kaidah bagi para murid dalam memberitakan Injil. Bukan berarti bahwa mereka tidak boleh memberitakannya kepada orang-orang yang jahat dan cemar (Kristus sendiri memberitakan Injil kepada para pemungut cukai dan orang berdosa), melainkan bahwa ini merujuk kepada orang-orang yang tetap keras kepala, meskipun Injil telah diberitakan kepada mereka; kepada orang-orang yang menghujatnya, dan menganiaya para pemberitanya. Murid-murid janganlah berlama-lama di antara orang-orang semacam itu, sebab ini hanya akan membuang tenaga dengan sia-sia, melainkan berpaling saja kepada orang lain (Kis. 13:41); begitulah menurut Dr. Whitby. Atau,

(2) Kaidah bagi semua orang dalam memberikan teguran. Semangat kita dalam melawan dosa harus dituntun dengan kebijaksanaan, dan janganlah kita ke sana kemari memberikan berbagai petunjuk, nasihat, dan teguran, apalagi penghiburan, kepada para pengecam yang sudah keras hatinya, karena semuanya ini tidak akan ada gunanya bagi mereka, malah sebaliknya hanya akan membuat mereka marah dan berang terhadap kita. Lemparkanlah sebuah mutiara kepada babi, maka babi itu akan marah karenanya, seolah-olah engkau telah melemparinya dengan batu. Teguran akan disebut cemoohan (Luk. 11:45; Yer. 6:10). Oleh sebab itu, janganlah memberikan barang yang kudus kepada anjing dan babi (binatang-binatang haram). Perhatikanlah:

[1] Nasihat dan teguran yang baik adalah barang yang kudus, sebuah mutiara: keduanya adalah perintah-perintah Allah, sangat berharga. Seperti cincin emas dan hiasan kencana, demikian jugalah teguran orang bijak (Ams. 25:12); teguran yang bijak adalah seperti minyak (Mzm. 141:5); laksana pohon kehidupan (Ams. 3:18).

[2] Di antara angkatan yang jahat, ada sebagian yang sudah sebegitu jahatnya sehingga mereka dipandang seperti anjing dan babi. Perilaku keji mereka sudah sangat terkenal dan kurang ajar. Mereka telah begitu lama berdiri di jalan orang berdosa, sehingga sekarang sudah duduk dalam kump**an pencemooh. Mereka terang-terangan membenci dan muak terhadap pengajaran, dan senantiasa menentangnya. Sebegitu jahatnya mereka sampai tidak mungkin untuk disembuhkan dan diperbaiki lagi. Mereka berbalik seperti anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi kembali ke kubangannya (2Ptr. 2:22).

[3] Teguran untuk mengajar percuma saja diberikan kepada orang-orang semacam itu, dan hanya mendatangkan cemohan dan kejahatan kepada si penegur seperti yang bisa diperkirakan akan dilakukan oleh anjing dan babi. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain bahwa mereka akan menginjak-injak teguran itu, sambil memaki-maki dan mengamuk, sebab mereka tidak sabar jika dikendalikan dan dilawan. Setelah itu mereka akan berbalik dan mengoyak orang yang menegur mereka; mengoyak nama baik mereka dengan caci maki, membalas perkataan yang menyembuhkan dengan perkataan yang melukai, mengoyak mereka dengan penganiayaan. Herodes mengoyak Yohanes Pembaptis karena kesetiaannya. Lihatlah di sini buktinya bagaimana manusia bersikap seperti anjing dan babi. Orang-orang yang bisa dipandang demikian adalah mereka yang membenci teguran dan para penegur, dan menyerang orang yang dengan maksud baik terhadap jiwa-jiwa mereka menunjukkan kepada mereka dosa dan bahayanya. Orang-orang ini berdosa melawan obat penawarnya. Siapakah yang akan menyembuhkan dan menolong orang-orang yang tidak mau disembuhkan dan ditolong? Sudah jelaslah bahwa Allah berketetapan untuk membinasakan orang-orang semacam itu (2Taw. 25:16). Kaidah ini dapat diterapkan juga pada ketetapan-ketetapan Injil yang sifatnya memeteraikan, yang tidak boleh diberikan secara sembarangan kepada orang yang jelas-jelas jahat dan cemar, supaya barang-barang yang kudus tidak dipandang hina, dan supaya dengan demikian orang-orang yang najis menjadi semakin keras hati. Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. Namun demikian, kita harus sangat berhati-hati dalam mengutuk orang sebagai anjing dan babi, dan tidak boleh melakukannya sebelum menguji segala sesuatunya terlebih dulu, dengan bukti-bukti yang lengkap. Banyak orang yang terhilang karena dianggap demikian, padahal, seandainya sarana-sarana yang benar dipergunakan, ada kemungkinan mereka bisa diselamatkan. Seperti halnya kita harus berhati-hati dalam menyebut orang baik sebagai jahat, dengan menghakimi semua orang percaya sebagai munafik, demikian p**a kita harus berhati-hati dalam menyebut orang jahat sebagai tidak tertolong lagi, dengan menilai semua orang jahat sebagai anjing dan babi.

[4] Yesus Tuhan kita sangat lembut dalam memperhatikan keselamatan umat-Nya. Ia tidak mau begitu saja memperhadapkan mereka dengan kebengisan orang-orang yang akan berbalik mengoyak mereka. Janganlah mereka menjadi keterlaluan saleh, sehingga membinasakan diri mereka sendiri. Kristus menjadikan hukum perlindungan diri sebagai salah satu hukum-Nya sendiri, dan berhargalah darah umat-Nya di mata-Nya.

18/08/2023

Tafsiran Alkitab Matthew Henry, Matius 6:25-34 Hal kekuatiran

Nyaris tidak ada satu pun dosa yang diperingatkan Yesus Tuhan kita kepada murid-murid-Nya dengan lebih panjang lebar dan lebih sungguh-sungguh, atau yang untuknya Ia mempersenjatai mereka dengan penjelasan-penjelasan yang lebih beragam, daripada dosa mengkhawatirkan kebutuhan-kebutuhan hidup yang membuat gelisah, bingung, dan waswas. Sikap seperti ini merupakan pertanda buruk bahwa baik harta maupun hati berada di bumi, dan oleh sebab itu Ia sangat menekankan masalah ini. Berikut ini kita melihat:

I. Larangan yang ditetapkan. Tuhan Yesus memberikan nasihat dan perintah agar kita jangan khawatir tentang hal-hal di dunia ini. Aku berkata kepadamu. Dia mengatakannya sebagai seorang Pemberi Hukum dan Yang Berdaulat atas hati kita; Dia mengatakannya sebagai Penghibur dan Penolong yang menyukakan hati kita. Apakah yang dikatakan-Nya itu? Inilah yang dikatakan-Nya, dan siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar: "Janganlah kuatir akan hidupmu, janganlah kuatir p**a akan tubuhmu" (ay. 25), "Janganlah kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan?" (ay. 31), dan lagi (ay. 34), "Janganlah kamu kuatir, mē merimnate -- Janganlah kamu cemas." Sama seperti terhadap kemunafikan, demikian p**a terhadap kekhawatiran tentang kepentingan-kepentingan duniawi ini, peringatannya diulang sampai tiga kali, namun ini bukanlah pengulangan yang bertele-tele sebab ajaran demi ajaran, dan perkataan demi perkataan harus terus disampaikan, untuk mencapai tujuan yang sama, dan semua itu harus dapat mencukupi. Ini adalah dosa yang begitu merintangi kita. Hal ini menunjukkan betapa menyenangkannya bagi Kristus, dan betapa pentingnya bagi kita, bahwa kita harus hidup tanpa kekhawatiran. Tuhan Yesus memerintahkan berulang kali kepada murid-murid-Nya agar mereka tidak membagi-membagi perhatian mereka dan menyiksa pikiran mereka dengan kekhawatiran akan hal-hal dunia ini. Memang ada kekhawatiran berkenaan dengan hal-hal dalam kehidupan ini, yang bukan saja diperbolehkan, melainkan juga bahkan diwajibkan, seperti yang dipuji dalam perilaku perempuan yang saleh (Ams. 27:23). Kata "kekhawatiran" ini digunakan berkenaan dengan kepedulian Paulus akan keadaan jemaat-jemaat, dan kepedulian Timotius akan keadaan jiwa-jiwa (2Kor. 11:28; Flp. 2:20).

Namun, kekhawatiran yang dilarang di sini adalah:
Kekhawatiran yang membuat gelisah dan menyiksa, yang membuat pikiran kacau-balau dan membuatnya tergantung di awang-awang, yang mengganggu s**acita di dalam Allah, dan mengaburkan pengharapan kita di dalam-Nya, yang mengganggu tidur, dan menghalangi kita untuk menikmati diri kita sendiri, teman-teman kita, dan semua yang sudah diberikan Allah kepada kita.
Kekhawatiran yang membuat ragu-ragu dan tidak percaya. Allah telah berjanji untuk menyediakan bagi umat kepunyaan-Nya segala hal yang diperlukan bagi kehidupan dan kesalehan, yakni bagi kehidupan sekarang ini; Ia menyediakan makanan dan pakaian, bukan yang lezat dan mewah, melainkan yang diperlukan. Ia tidak pernah berkata, "Mereka akan dijamu dengan pesta pora," melainkan, "Sesungguhnya mereka akan diberi makan." Nah, kekhawatiran yang berlebihan akan masa depan, dan ketakutan akan kekurangan bahan-bahan persediaan yang dibutuhkan, bersumber dari ketidakpercayaan akan janji-janji ini, dan akan hikmat serta kebaikan pemeliharaan ilahi; inilah letak kejahatan kekhawatiran itu. Mengenai makanan untuk saat ini, kita boleh dan harus menggunakan cara yang halal untuk memperolehnya, supaya kita tidak mencobai Allah. Kita harus rajin bekerja, bijaksana dalam menyesuaikan pengeluaran kita dengan apa yang kita miliki, dan kita harus berdoa untuk diberi makanan hari demi hari. Jika semua usaha kita tidak berhasil, kita boleh dan bahkan harus meminta bantuan dari orang-orang yang mampu memberikannya. Orang yang berkata, "Mengemis aku malu" (Luk. 16:3), sama sekali bukanlah orang yang baik; ia sama seperti orang yang ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja (Luk. 16:21). Tetapi untuk masa depan, kita harus menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, dan janganlah cemas, sebab dengan bersikap demikian sepertinya kita iri terhadap Allah, yang tahu bagaimana memberikan apa yang kita inginkan sementara kita tidak tahu bagaimana mendapatkannya. Biarlah jiwa kita berdiam dengan tenteram di dalam Dia! Ketidakkhawatiran yang menyenangkan ini sama dengan tidur nyenyak yang diberikan Allah kepada orang yang dikasihi-Nya, berlawanan dengan orang dunia yang terus sibuk bekerja (Mzm. 127:2). Perhatikanlah peringatan-peringatan yang diberikan di sini:

(1) Janganlah kuatir akan hidupmu. Hidup adalah hal yang paling menuntut keprihatinan kita di dunia ini. Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya, namun demikian, janganlah kita mengkhawatirkannya.

[1] Jangan khawatir akan keberlangsungannya. Serahkanlah kepada Allah untuk memperpanjang atau memperpendeknya sesuai kehendak-Nya. Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, ada dalam tangan yang baik.

[2] Jangan khawatir akan kenyamanan hidup ini. Serahkanlah kepada Allah untuk membuatnya pahit atau manis sesuai kehendak-Nya. Kita tidak boleh cemas, bahkan untuk hal yang sangat diperlukan untuk menopang hidup ini, yaitu makanan dan pakaian. Allah telah menjanjikan hal-hal ini, dan oleh sebab itu kita boleh mengharapkannya dengan lebih yakin lagi. Janganlah berkata, "Apakah yang akan kami makan?" Ini perkataan orang yang sedang kebingungan dan nyaris putus asa, padahal, meskipun banyak orang baik yang hanya mempunyai sedikit makanan untuk hari-hari ke depan, cuma sedikit orang yang tidak mempunyai makanan yang dibutuhkan pada saat ini.

(2) Janganlah kamu kuatir akan hari besok, akan masa yang akan datang. Janganlah cemas akan masa depan, bagaimana engkau akan hidup tahun depan, atau ketika engkau sudah tua, atau apa yang akan kautinggalkan nanti. Sama seperti kita tidak boleh bermegah akan hari esok, begitu p**a kita tidak boleh kuatir akan hari esok, atau apa yang bakal terjadi nanti.

II. Alasan-alasan dan penjelasan-penjelasan untuk memperkuat larangan ini. Kita mungkin berpikir bahwa perintah Kristus saja sebenarnya sudah cukup untuk mencegah kita melakukan dosa yang bodoh ini, yang membuat kita gelisah dan waswas, yang sama sekali tidak menenteramkan jiwa kita, dan yang sangat memprihatinkan. Namun demikian, untuk menunjukkan betapa besarnya perhatian Kristus akan hal ini, dan betapa senangnya Ia terhadap orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya, perintah itu didukung dengan penjelasan-penjelasan yang sangat kuat. Jika saja kita dituntun oleh akal sehat, tentu kita akan terlepas dari duri-duri yang menusuk ini. Untuk membebaskan kita dari pikiran-pikiran yang cemas dan untuk membuangnya jauh-jauh, Kristus di sini menawarkan kepada kita pikiran-pikiran yang menghibur, agar kita dipenuhi dengannya. Sungguh bermanfaat untuk menyerang hati kita sendiri, untuk beradu pendapat tentang segala kekhawatirannya yang membuat gelisah, dan untuk membuat kita merasa malu karena memiliki kekhawatiran-kekhawatiran semacam itu. Kekhawatiran ini mungkin dapat dilemahkan dengan akal budi, namun hanya dengan iman yang hiduplah kekhawatiran itu dapat diatasi. Karena itu pikirkanlah:
Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (ay. 25). Benar, tidak diragukan lagi. Begitulah yang dikatakan Dia yang memiliki akal budi untuk memahami nilai yang sejati dari hal-hal yang ada sekarang ini, sebab Dialah yang menciptakan semua itu, Dialah yang menopangnya, dan menopang kita dengannya, dan hal ini terbukti dengan sendirinya. Perhatikanlah:

(1) Hidup kita merupakan berkat yang lebih besar daripada sandang pangan kita. Memang benar bahwa hidup tidak dapat bertahan tanpa nafkah, tetapi makanan dan pakaian yang di sini dipandang tidak lebih tinggi nilainya daripada hidup dan tubuh itu sendiri hanyalah merupakan hiasan dan kesenangan saja; dan karena hal-hal inilah kita cenderung menjadi cemas. Makanan dan pakaian diperlukan untuk hidup, tetapi tujuan dari hidup itu sendiri lebih mulia dan lebih istimewa daripada sarananya. Makanan yang paling lezat dan pakaian yang paling mewah berasal dari bumi, tetapi hidup berasal dari nafas Allah. Hidup adalah terang manusia. Makanan hanyalah minyak yang menyalakan terang itu, sehingga dengan demikian perbedaan antara orang kaya dan orang miskin sangat tidak berarti, karena dalam hal-hal yang terpenting mereka berdiri setingkat, dan hanya berbeda dalam hal-hal yang kurang penting.

(2) Ini merupakan suatu dorongan bagi kita untuk memercayai Allah dalam hal makanan dan pakaian, sehingga kita bisa terlepas dari segala kekhawatiran yang membingungkan tentangnya. Allah telah memberi kita hidup, dan juga memberi kita tubuh. Ini merupakan suatu tindakan kekuasaan, tindakan kebaikan, yang dilakukan tanpa kekhawatiran kita. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh Dia yang sanggup melakukan itu semua? Apa yang tidak akan dilakukan-Nya? Jika kita memerhatikan jiwa dan kehidupan kekal kita, yang lebih penting daripada tubuh dan kehidupannya, maka kita dapat berserah kepada Allah untuk menyediakan makanan dan pakaian bagi kita, yang kurang penting sifatnya. Allah telah memelihara kehidupan kita sampai saat ini, dan kalau pun adakalanya hanya dengan denyut nadi dan air, namun itu sudah cukup untuk memenuhi tujuan. Dia telah melindungi kita dan membuat kita tetap hidup. Dia yang melindungi kita dari segala kejahatan yang menganga di hadapan kita, Dia juga akan melengkapi kita dengan segala hal baik yang kita butuhkan. Seandainya Dia memang ingin membunuh kita dan membiarkan kita mati kelaparan, Dia tidak akan sesering itu memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk menjagai kita.
Pandanglah burung-burung di langit, dan perhatikanlah bunga bakung di ladang. Ini adalah penjelasan yang diambil dari contoh pemeliharaan Allah yang biasa terhadap makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lebih rendah, dan kebergantungan mereka, sesuai kemampuan masing-masing, pada pemeliharaan itu. Sungguh rendah tempat yang dihuni manusia yang jatuh kini, sampai-sampai ia harus belajar dari burung-burung di udara, dan burung-burung harus mengajari mereka! (Ayb. 12:7-8).

(1) Pandanglah burung-burung, dan belajarlah untuk percaya kepada Allah dalam hal makanan (ay. 26), dan janganlah membuat dirimu gelisah dengan memikirkan apa yang hendak kamu makan.

[1] Amatilah pemeliharaan Allah terhadap burung-burung itu. Pandanglah mereka, dan belajarlah dari mereka. Ada berbagai macam burung, jumlahnya sangat banyak, dan sebagian dari antaranya sangat rakus, namun semuanya diberi makan, dan diberi makan dengan makanan yang cocok bagi mereka. Jarang ada yang mati kelaparan, bahkan di musim dingin, jadi pasti tersedia banyak makanan bagi burung-burung itu sepanjang tahun. Karena burung hanya sedikit memberikan manfaat bagi manusia, jadi manusia pun kurang memerhatikan makhluk ini. Manusia sering memakan burung, tetapi jarang memberinya makan. Namun demikian burung-burung diberi makan, entah bagaimana, dan sebagian di antaranya bahkan diberi sangat banyak makanan pada musim yang paling keras, dan Bapamu yang di sorgalah yang memberi mereka makan. Ia kenal segala burung liar di udara lebih baik daripada engkau mengenal yang jinak di pintu lumbungmu (Mzm. 50:11). Tidak seekor pun burung pipit dapat hinggap di tanah untuk mematuk sebutir jagung, kecuali karena pemeliharaan Allah, yang menjangkau hingga makhluk-makhluk yang paling rendah sekalipun. Namun yang khusus diamati di sini adalah bahwa burung-burung itu diberi makan tanpa harus peduli atau bekerja sendiri. Burung-burung itu tidak menabur dan tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal ke dalam lumbung. Semut dan lebah memang melakukannya, dan karena itu kedua jenis serangga ini dijadikan teladan kebijaksanaan dan ketekunan bagi kita. Tetapi burung-burung di udara tidak berbuat seperti itu, mereka tidak menyimpan bekal untuk hari depan, namun demikian, setiap hari, segera setelah hari itu tiba, makanan telah disediakan bagi mereka, dan mata mereka memandang Allah, Sang Pengurus rumah yang agung dan baik itu, yang menyediakan makanan bagi segala yang hidup.

[2] Biarlah hal ini mendorongmu untuk percaya kepada Allah. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Ya, tentu saja. Perhatikanlah, para ahli waris sorga jauh lebih berharga daripada burung-burung di langit. Para ahli waris itu adalah ciptaan yang lebih mulia dan unggul, dan dengan iman, mereka akan terbang membubung lebih tinggi. Mereka memiliki sifat dan didikan yang lebih baik, dan lebih berhikmat melebihi burung di udara (Ayb. 35:11). Meskipun anak-anak dunia ini, yang tidak mengetahui hukum TUHAN, tidak sebijaksana burung ranggung, burung layang-layang, dan burung bangau (Yer. 8:7), engkau lebih berharga dan lebih dekat dengan Allah, sekalipun burung-burung itu terbang di langit yang luas dan bebas. Dialah Tuan dan Tuhanmu, Pemilik dan Majikanmu; dan yang lebih terutama lagi, Dia adalah Bapamu, dan di mata-Nya kamu jauh melebihi burung-burung itu. Kamu adalah anak-anak-Nya, anak sulung-Nya. Nah, Dia yang memberi makan burung-burung-Nya tentu tidak akan membiarkan bayi-bayi-Nya mati kelaparan. Burung-burung itu percaya kepada pemeliharaan Bapamu, dan tidakkah kamu mau memercayainya juga? Dengan ketergantungan itu, mereka tidak mengkhawatirkan hari esok, dan karena itu, mereka menjalani hidup yang paling gembira dari antara semua makhluk lain, mereka bersiul dari antara daun-daunan (Mzm. 104:12), dan dengan sekuat tenaga mereka memuji Pencipta mereka. Jika kita, dengan iman, sanggup untuk tidak mencemaskan hari esok seperti burung-burung itu, maka pasti kita akan bernyanyi dengan riang gembira seperti mereka. Karena kekhawatiran duniawilah yang merusak kegembiraan kita, meredupkan s**acita kita, dan membungkam puji-pujian kita, dan banyak hal-hal lainnya.

(2) Pandanglah bunga bakung, dan belajarlah untuk percaya kepada Allah dalam hal pakaian. Ini adalah kekhawatiran kita yang lain, apakah yang akan kita pakai, untuk kesopanan, untuk penutup tubuh, untuk perlindungan, dan untuk penghangat badan, dan, bagi banyak orang, untuk harga diri dan perhiasan agar mereka tampak hebat dan menarik. Mereka begitu peduli dengan semarak dan ragam busana mereka, sehingga mereka sering mengkhawatirkan hal ini hampir sama seringnya dengan mengkhawatirkan makanan sehari-hari. Nah, untuk melepaskan diri dari kekhawatiran semacam ini, marilah kita memerhatikan bunga bakung di ladang, bukan sekadar memandangnya (setiap mata akan senang melakukannya), melainkan memerhatikannya. Perhatikanlah, ada begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari apa yang kita lihat sehari-hari, asal kita mau memerhatikannya baik-baik (Ams. 6:6; 24:32).

[1] Perhatikanlah betapa ringkihnya bunga bakung itu, ia adalah rumput di padang. Bunga bakung, meskipun dapat dibedakan karena warnanya, tetap saja hanya rumput. Demikianlah seluruh umat manusia adalah seperti rumput, meskipun sebagian di antaranya dalam anugerah tubuh dan pikiran sama seperti bunga bakung, sangat dikagumi, tetap saja mereka rumput, rumput di padang dalam hakikatnya dan dalam sifatnya. Mereka berdiri setara dengan sesama mereka yang lain. Umur hidup manusia, sepanjang-panjangnya, hanyalah seperti rumput, seperti bunga rumput (1Ptr. 1:24). Rumput yang hari ini ada, besok dibuang ke dalam api. Dalam waktu singkat, tempat yang mengenal kita, akan tidak mengenal kita lagi. Kuburan adalah tungku perapian yang ke dalamnya kita akan dibuang, dan yang di dalamnya kita akan hancur seperti rumput di dalam api (Mzm. 49:15). Hal ini menunjukkan alasan mengapa kita tidak boleh mengkhawatirkan hari esok, apa yang akan kita pakai, sebab boleh jadi, pada hari esok kita harus mengenakan pakaian kematian kita.

[2] Perhatikanlah betapa bebasnya bunga bakung dari kekhawatiran. Ia tidak bekerja seperti manusia, untuk mendapatkan pakaian, atau seperti seorang hamba, untuk mendapatkan seragamnya. Ia juga tidak memintal, seperti kaum perempuan, untuk membuat pakaian. Ini bukan lalu berarti bahwa dengan demikian kita boleh lalai, atau ceroboh dalam menjalankan pekerjaan yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Istri yang cakap dipuji karena tangannya ditaruhnya pada jentera lalu membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya (Ams. 31:19, 24). Kemalasan itu mencobai Allah, bukannya memercayai-Nya. Sebaliknya, Dia yang menyediakan kebutuhan bagi makhluk-makhluk yang lebih rendah, tanpa mereka harus bekerja, pasti akan terlebih lagi menyediakan kebutuhan bagi kita, dengan memberkati jerih payah kita, yang telah dibuat-Nya sebagai kewajiban bagi kita. Dan jika kita karena sakit tidak mampu bekerja dan memintal, Allah pasti sanggup melengkapi kita dengan apa yang kita perlukan.

[3] Perhatikanlah betapa cantik dan betapa indahnya bunga-bunga bakung itu, bagaimana bunga-bunga ini tumbuh, dan dari mana tumbuhnya. Akar bunga bakung atau bunga tulip, sama seperti akar-akar umbi yang lain, pada musim dingin lenyap dan terkubur di bawah tanah. Namun demikian, saat musim semi tiba, akar itu muncul kembali, dan tumbuh dalam waktu yang singkat. Karena itulah dijanjikan kepada umat Israel Allah bahwa mereka akan tumbuh seperti bunga bakung (Hos. 14:6). Perhatikanlah seperti apa akar itu bertumbuh. Dalam beberapa minggu, dari dalam tanah yang gelap itu, akar itu tumbuh menjadi bunga dengan warna-warni yang begitu ceria, sehingga bahkan Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Pakaian Salomo sangatlah indah dan megah. Dia yang memiliki harta yang istimewa dari para raja dan penguasa, dan yang dengan cermat menampilkan kemegahan dan keperkasaannya, pasti memiliki pakaian-pakaian yang paling mewah, yang terbaik buatannya, dari semua pakaian yang bisa diperoleh, terutama saat dia tampil dalam kemuliaannya pada hari-hari penting. Namun demikian, seindah apa pun dia berpakaian, keindahannya masih kalah jauh daripada bunga-bunga bakung; setaman bunga tulip lebih cemerlang daripadanya. Oleh sebab itu, marilah kita mendambakan hikmat Salomo, yang tidak terkalahkan oleh siapa pun (hikmat untuk melakukan kewajiban kita di tempat kita berada), daripada kemuliaan Salomo, yang dikalahkan oleh bunga-bunga bakung. Pengetahuan dan anugerahlah yang menyempurnakan manusia, bukan keindahan, apalagi pakaian yang bagus-bagus. Nah, di sini dikatakan bahwa demikianlah Allah mendandani rumput di ladang. Perhatikanlah, semua keindahan dan keunggulan ciptaan mengalir dari Allah, Sumber dan Mata Air dari semuanya itu. Dialah yang memberikan tenaga kepada kuda dan keindahan kepada bunga bakung. Setiap makhluk, termasuk kita semua, ada sesuai dengan maksud Allah dalam menciptakannya.

[4] Perhatikanlah betapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari semuanya ini (ay. 30).

Pertama, mengenai pakaian yang indah. Hal ini mengajar kita untuk tidak mengkhawatirkannya sama sekali, untuk tidak mendambakannya, ataupun membanggakannya, untuk tidak membuat pakaian yang indah-indah sebagai perhiasan kita, sebab setelah bersusah payah mencemaskan semuanya ini pun, kita masih kalah jauh dari bunga-bunga bakung. Kita tidak dapat berpakaian seindah bunga-bunga itu, jadi mengapa kita berusaha menyainginya? Keindahan bunga-bunga bakung akan segera lenyap, begitu p**a dengan keindahan kita. Keindahan bunga-bunga itu akan pudar -- hari ini ada dan besok dibuang, seperti sampah, ke dalam tungku perapian. Pakaian-pakaian yang kita banggakan akan lapuk, kemilaunya akan segera hilang, warnanya akan memudar, bentuknya akan ketinggalan zaman, atau sebentar lagi kainnya sendiri akan menjadi usang. Demikianlah manusia dengan segala kemegahannya (Yes. 40:6-7), terutama orang kaya (Yak. 1:10), di tengah-tengah usahanya ia akan lenyap.

Kedua, mengenai pakaian yang diperlukan. Hal ini mengajar kita untuk menyerahkannya kepada Allah -- Jehovah Jireh. Percayakanlah kepada Dia, yang mendandani bunga-bunga bakung, untuk menyediakan bagimu apa yang hendak kamu pakai. Jika rumput saja Ia dandani dengan pakaian yang begitu indah, maka terlebih lagi Ia akan menyediakan pakaian yang pantas bagi anak-anak-Nya sendiri. Pakaian yang akan menghangatkan mereka, bukan hanya ketika Ia mendiamkan bumi dengan panasnya angin selatan, melainkan juga ketika Ia mengguncangnya dengan angin utara (Ayb. 37:17). Ia akan terlebih lagi mendandanimu, sebab kamu adalah ciptaan yang lebih mulia dan yang lebih unggul. Jadi, bila Ia mendandani rumput yang singkat umurnya dengan sedemikian rupa, terlebih lagi Ia akan mendandani engkau yang diciptakan untuk hidup yang kekal. Bahkan anak-anak Ninewe lebih disayangi-Nya daripada pohon jarak (Yun. 4:10-11), terlebih lagi putra-putra Sion, yang terikat perjanjian dengan Allah. Perhatikanlah sebutan apa yang diberikan-Nya kepada mereka (ay. 30), "Hai orang yang kurang percaya." Hal ini bisa dipandang:
Sebagai dorongan untuk mempunyai iman yang sejati, meski lemah sekalipun. Iman memberi kita hak untuk mendapat pemeliharaan ilahi dan janji atas persediaan yang cukup. Iman yang besar akan dipuji dan akan menghasilkan perkara-perkara besar, tetapi iman yang kecil pun tidak akan ditolak, karena bahkan iman seperti ini dapat menghasilkan makanan dan pakaian. Orang percaya yang sehat akan dipelihara, meskipun mereka tidak kuat dalam iman. Bayi dalam keluarga diberi makanan dan pakaian, sama seperti anak-anak yang sudah dewasa, bahkan dengan perhatian khusus dan penuh kelembutan. Janganlah berkata, aku cuma anak kecil, cuma pohon kering (Yes. 56:3, 5), sebab meskipun sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikanmu. Atau,
Ucapan itu lebih merupakan teguran terhadap iman yang lemah, meskipun iman itu benar (14:31). Hal ini menunjukkan apa yang mendasari semua kecemasan dan kekhawatiran kita. Ini semua karena lemahnya iman kita dan sisa-sisa ketidakpercayaan yang tinggal dalam diri kita. Kalau saja kita memiliki iman yang lebih besar, kita tentu akan mempunyai kekhawatiran yang lebih sedikit.
Siapakah di antara kamu, yang paling berhikmat dan yang paling kuat, yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (ay. 27, KJV: pada tingginya). Ukuran sehasta menunjukkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah perawakan, sedangkan umur sepanjang-panjangnya hanyalah sejengkal (Mzm. 39:6). Mari kita perhatikan:

(1) Kita tidak berada dalam keadaan perawakan kita sekarang dengan kekhawatiran dan kecemasan kita sendiri, melainkan dengan pemeliharaan Allah. Seorang bayi yang tadinya hanya sejengkal panjangnya kini telah tumbuh menjadi seorang pria setinggi satu meter delapan puluh, dan bagaimanakah hasta demi hasta telah ditambahkan pada perawakannya itu? Ini tidak terjadi karena perkiraan atau penemuannya sendiri. Ia tumbuh tanpa mengetahui bagaimana terjadinya, tetapi ini terjadi oleh kuasa dan kebaikan Allah. Nah, Ia yang telah menciptakan tubuh kita, dan menciptakannya dalam suatu ukuran tertentu, pasti juga akan mengurus dan menyediakan kebutuhannya. Perhatikanlah, Allah patut diberi penghargaan dan rasa syukur atas bertambahnya kekuatan dan perawakan tubuh kita. Ia bisa diandalkan untuk memenuhi semua hal yang kita perlukan, sebab Ia telah menyatakan bahwa Ia peduli terhadap tubuh kita. Masa pertumbuhan adalah masa tanpa kekhawatiran dan kecemasan, namun demikian, kita tetap bertumbuh. Jadi, bukankah Dia yang telah membesarkan kita sampai seperti ini juga akan menyediakan kebutuhan kita setelah kini kita dewasa?

(2) Kita tidak dapat mengubah perawakan kita, itu pun jika kita mau. Betapa bodoh dan konyolnya jika seseorang yang mempunyai perawakan pendek merisaukan dirinya sendiri sehingga ia sulit tidur dan terus memusingkan masalah itu, dan senantiasa memikirkan bagaimana ia bisa tumbuh satu hasta lebih tinggi lagi, padahal sebenarnya ia tahu bahwa ia tidak dapat mencapainya, dan oleh karena itu lebih baik bila ia puas dan menerima dirinya sebagaimana adanya! Ukuran tubuh kita tidak semuanya sama, namun perbedaan dalam perawakan antara yang satu dengan yang lain tidaklah penting atau sangat berpengaruh. Jika seseorang dengan perawakan kecil berharap untuk setinggi orang lain dan mendapati bahwa ini tidak ada gunanya, maka sebaiknya dia melakukan yang terbaik dengan keadaannya itu. Nah, sama seperti apa yang harus kita lakukan terhadap perawakan kita, demikian p**a kita harus berbuat terhadap harta duniawi kita.

[1] Janganlah kita mendambakan kelimpahan kekayaan dunia ini, sama seperti kita tidak boleh mendambakan sehasta lebih tinggi pada tubuh kita, yang merupakan ukuran yang sangat besar bagi tinggi badan manusia. Cukuplah bila tubuh kita bertumbuh satu senti demi satu senti. Pertumbuhan sekaligus sebanyak itu justru hanya akan menyusahkan dan membebani orang.

[2] Kita harus menerima keadaan kita, sama seperti kita harus menerima perawakan kita. Kita harus menggunakan kesempatan yang ada dalam keadaan kita, sehingga apa yang sulit dapat menjadi sesuatu yang baik. Apa yang tidak dapat diperbaiki harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita tidak dapat mengubah apa yang diberikan Allah dalam pemeliharaan-Nya, dan oleh karena itu kita harus menerimanya tanpa membantah, menyesuaikan diri dengannya, dan melepaskan diri sedapat mungkin dari segala sesuatu yang menyusahkan, seperti Zakheus yang melawan ketidaknyamanan perawakannya dengan cara memanjat pohon.
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (ay. 32). Kekhawatiran akan hal-hal duniawi merupakan dosa bangsa yang tidak mengenal Allah dan sangat tidak Kristiani. Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah mencari semua itu, sebab mereka tidak mengenal hal-hal yang lebih baik. Mereka mendambakan dunia ini, sebab mereka adalah orang asing bagi dunia yang lebih baik. Mereka mencari hal-hal ini dengan rasa khawatir dan cemas, sebab mereka hidup tanpa Allah di dalam dunia dan tidak memahami pemeliharaan-Nya. Mereka takut dan menyembah ilah-ilah mereka, tetapi mereka tidak tahu apakah bisa memercayai berhala-berhala itu untuk menolong mereka dan menyediakan kebutuhan mereka, dan karena itu, mereka menjadi sangat khawatir. Tetapi sungguh memalukan bila ini dilakukan oleh orang-orang Kristen, yang membangun di atas dasar-dasar yang lebih mulia, orang Kristen yang memeluk agama yang mengajari mereka bahwa bukan saja ada pemeliharaan Allah, melainkan juga ada janji-janji-Nya untuk memberikan hidup yang sejahtera di dunia sekarang ini. Oleh sebab itu, mereka diajar untuk percaya kepada Allah saja dan membenci dunia, karena ada alasan-alasan yang benar untuk ini. Sungguh memalukan bila mereka berjalan seperti bangsa yang tidak mengenal Allah, dan memenuhi pikiran serta hati mereka dengan berbagai kekhawatiran ini.
Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu, hal-hal yang perlu ini, yaitu makanan dan pakaian. Dia lebih mengetahui keperluan-keperluan kita daripada kita sendiri. Meskipun Ia berada di sorga dan anak-anak-Nya di bumi, Ia memerhatikan apa yang sedang diperlukan oleh orang-orang yang paling kecil dan miskin dari antara mereka (Why. 2:9), "Aku tahu kemiskinanmu." Pikirkan itu, jika ada seorang sahabat yang sedemikian baiknya seperti ini, yang mengetahui kebutuhan dan kes**aranmu, maka pasti engkau akan merasa lega. Begitulah, Allahmu tahu semua ini, dan Dia adalah Bapamu yang mengasihi dan menyayangimu, Ia siap menolongmu. Bapamu yang di sorga memiliki segala persediaan di sana untuk memenuhi segala kebutuhanmu. Oleh sebab itu, buanglah semua kekhawatiran dan kecemasanmu itu, dan datanglah kepada Bapamu. Katakanlah kepada-Nya bahwa Dia tentu saja tahu bahwa kamu memerlukan ini dan itu. Dia bertanya kepadamu, "Hai, anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" (Yoh. 21:5). Katakanlah kepada-Nya apakah kamu mempunyainya atau tidak. Meskipun Ia tahu keperluan-keperluan kita, Ia ingin mengetahuinya dari mulut kita sendiri, dan setelah kita menyampaikan semua keperluan kita kepada-Nya, marilah kita dengan s**acita berserah diri kepada hikmat, kuasa, dan kebaikan-Nya untuk menyediakan segala keperluan kita. Oleh sebab itu, kita harus melepaskan diri dari beban kekhawatiran, dengan menyerahkannya kepada Allah, sebab Ialah yang memelihara kita (1Ptr. 5:7). Jadi mengapa bersusah-susah? Jika Ia peduli terhadap kita, mengapa kita harus khawatir?
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (ay. 33). Ini merupakan bantahan berganda melawan dosa kekhawatiran. Janganlah khawatir akan hidupmu, hidup tubuhmu, sebab

(1) Ada hal-hal yang lebih penting dan yang lebih baik untuk kaupikirkan, yaitu hidup jiwamu dan kebahagiaan kekalmu. Itulah satu hal yang perlu (Luk. 10:42), yang harus terus kaupikirkan, dan yang pada umumnya diabaikan hati orang yang sudah dipenuhi oleh pikiran-pikiran duniawi. Seandainya saja kita lebih ingin menyenangkan hati Allah dan mengerjakan keselamatan kita, kita tentunya tidak akan begitu cemas ingin menyenangkan diri kita sendiri dan mengusahakan harta kekayaan di dunia. Kekhawatiran akan jiwa kita adalah obat yang paling manjur untuk menyembuhkan kekhawatiran akan dunia ini.

(2) Engkau memiliki cara yang lebih pasti, lebih mudah, lebih aman, dan lebih ringkas untuk memperoleh keperluan-keperluan hidup ini daripada terus meributkan, mencemaskan, dan menggerutu tentang keperluan-keperluan itu. Cara itu adalah dengan mencari dahulu Kerajaan Allah, dan menjadikan agama sebagai usahamu. Janganlah berkata bahwa ini adalah cara untuk mati kelaparan. Tidak, ini adalah cara untuk diberi persediaan dengan baik, sekalipun di dunia ini. Perhatikanlah di sini:

[1] Kewajiban besar yang disyaratkan. Ini merupakan keseluruhan dan inti dari seluruh kewajiban kita: "Carilah dahulu Kerajaan Allah, jadikanlah agama sebagai hal yang sangat engkau pikirkan dan utamakan." Kewajiban kita adalah mencari, merindukan, mengejar, dan mengarah kepada hal-hal ini. Kata "mencari" di sini mencakup banyak kesepakatan dalam kovenan baru yang menguntungkan kita. Meskipun kita belum berhasil, melainkan dalam banyak hal selalu gagal dan kekurangan, namun jika kita mencari dengan sungguh-sungguh (jika kita benar-benar peduli dan berusaha keras), maka kita akan diterima. Sekarang perhatikanlah,

pertama, hal yang harus dicari: Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kita harus ingat bahwa sorga adalah tujuan akhir kita dan kekudusan adalah jalannya. "Carilah penghiburan yang berasal dari kerajaan anugerah dan kemuliaannya sebagai satu-satunya yang membawa kebahagiaan bagimu. Arahkanlah tujuanmu ke Kerajaan Sorga, berjuanglah untuk menggapainya, bertekunlah sampai hatimu yakin, dan teguhkanlah hatimu supaya kamu tidak gagal. Carilah kemuliaan, kehormatan, dan kekekalan ini. Pilihlah sorga dan berkat-berkat sorgawi melebihi dunia dan kesenangan-kesenangan duniawi." Kehidupan beragama kita tidak akan ada gunanya bila kita tidak menghasilkan sorga darinya. Kemudian, dengan kebahagiaan dari Kerajaan ini, carilah kebenarannya, yaitu kebenaran Allah, kebenaran yang dikehendaki-Nya untuk dikerjakan dalam diri kita, dan dikerjakan oleh kita dengan sedemikian rupa supaya kebenaran kita itu melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kita harus mengejar perdamaian dan kekudusan (Ibr. 12:14).

Kedua, urutannya. Carilah dahulu Kerajaan Allah. Biarlah kekhawatiran akan jiwamu dan akan dunia yang akan datang menggantikan semua kekhawatiran lainnya, dan biarlah semua perkara dalam kehidupan ini ditempatkan di bawah perkara-perkara mengenai kehidupan yang akan datang. Kita harus lebih mencari perkara-perkara Kristus daripada perkara-perkara kita sendiri; dan apabila keduanya bersaing, kita harus ingat yang mana yang harus kita dahulukan. "Carilah dahulu hal-hal ini, yang pertama-tama dalam setiap hari-harimu. Biarlah pagi masa mudamu dipersembahkan kepada Allah. Hikmat harus dicari sejak dini; dini hari adalah waktu yang baik untuk memulai hidup saleh. Carilah hal yang terutama setiap hari, biarlah pada waktu pertama kali kita terjaga, pikiran-pikiran kita tertuju kepada Allah." Biarlah ini menjadi prinsip hidup kita yang utama, yaitu melakukan apa yang paling diperlukan terlebih dulu, dan biarlah Dia Yang Pertama mendapatkan yang pertama p**a.

[2] Janji mulia ditambahkan; semuanya itu, kebutuhan-kebutuhan hidup yang perlu, akan ditambahkan kepadamu, akan diberikan dengan berlimpah. Demikianlah yang diberikan sebagai tambahan. Engkau akan mendapatkan apa yang kaucari, Kerajaan Allah dan kebenarannya, sebab tidak pernah ada orang yang mencarinya dengan sia-sia jika dia mencari dengan sungguh. Di samping itu, engkau akan mendapatkan makanan dan pakaian, dengan berlebih, seperti orang yang membeli barang mendapatkan kertas dan tali pembungkusnya sekaligus. Ibadah itu mengandung janji untuk hidup sekarang ini (1Tim. 4:8). Salomo meminta hikmat, dan dia mendapatkannya disertai dengan hal-hal lain yang ditambahkan kepadanya (2Taw. 1:11-12). Oh, sungguh perubahan yang sangat indah yang akan terjadi dalam hati dan hidup kita kalau kita percaya dengan teguh akan kebenaran ini, bahwa cara terbaik agar kita menjadi sejahtera di dunia ini adalah dengan menekuni perkara-perkara dunia lain! Dengan demikian, kita mengawali pekerjaan kita dengan benar bila kita mengawalinya dengan Allah. Jika kita bertekun sampai kita memiliki Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka untuk segala hal lainnya dari kehidupan ini, biarlah Jehovah-Jireh -- Tuhan akan menyediakan sebanyak yang dianggap-Nya baik bagi kita, dan kita tidak akan menginginkan yang lebih dari itu lagi. Kalau kita sudah memercayai-Nya untuk bagian warisan kita pada akhir hidup kita nanti, bukankah kita juga akan memercayai-Nya untuk bagian piala kita sementara kita sekarang berjalan menuju warisan itu? Umat Israel Allah bukan saja dibawa masuk ke Kanaan pada akhirnya, melainkan juga kebutuhan-kebutuhan mereka ditanggung selama melewati padang gurun. Oh, kiranya kita lebih memikirkan perkara-perkara yang tidak kelihatan, yang kekal, dan kiranya kita semakin tidak merasa khawatir dan haruslah kita semakin tidak khawatir, mengenai hal-hal yang kelihatan, yang hanya sementara saja! Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barang-barangmu (Kej. 45:20, 23).
Hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (ay. 34). Janganlah kita merisaukan secara berlebihan kejadian-kejadian yang akan datang, sebab setiap hari membawa beban kekhawatiran dan kesedihannya sendiri. Pandanglah sekitar kita, dan jangan biarkan rasa takut meraup pertolongan yang ditawarkan oleh anugerah dan akal budi; kalau kita melakukan ini, kita akan memperoleh kekuatan dan persediaan yang diperlukan. Jadi, di sini kita diberi tahu:

(1) Bahwa kekhawatiran akan hari esok tidaklah perlu, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kalau kebutuhan dan masalah selalu baru setiap hari, maka demikian p**a halnya dengan pertolongan dan penyediaan; rahmat selalu baru tiap pagi (Rat. 3:22-23). Orang-orang kudus memiliki seorang Sahabat yang menjadi Penolong bagi mereka setiap pagi, Dia menyediakan keperluan mereka, baru setiap hari (Yes. 33:2), sesuai dengan peraturan, yakni setiap hari menurut yang ditetapkan untuk hari itu (Ezr. 3:4). Dengan demikian, Ia menjaga agar umat-Nya senantiasa bergantung pada-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita biarkan kekuatan hari esok untuk melakukan pekerjaan hari esok dan memikul beban hari esok. Hari esok, dan segala perkara di dalamnya, akan disediakan tanpa sepengetahuan kita, jadi untuk apa kita begitu mencemaskan apa yang telah diurus dengan demikian bijaksana? Ini bukan berarti kita tidak boleh membuat suatu rencana dan persiapan untuk masa depan. Tidak, kita hanya mau menghindari kecemasan yang menggelisahkan dan bayang-bayang akan segala kesulitan dan musibah yang mungkin tidak akan pernah terjadi, atau kalaupun terjadi, kita dapat menanggungnya dengan mudah dan keburukan yang ditimbulkannya dapat dihindari. Ini hanya berarti bahwa kita harus memikirkan kewajiban saat ini, dan menyerahkan segala peristiwanya kepada Allah; lakukanlah apa yang harus dikerjakan untuk hari ini pada hari ini, dan biarkan hari esok dengan pekerjaannya sendiri pada hari esok.

(2) Kekhawatiran akan hari esok merupakan salah satu dari berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan (1Tim. 6:9). Banyak orang kaya terjerat di dalamnya dan menderita karena mereka menyiksa diri mereka sendiri dengan berbagai duka ini. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Hari ini sudah mempunyai cukup banyak masalah yang menyertainya, kita tidak perlu menumpuk beban-beban dengan memikir-mikirkan masalah kita atau menambahkan berbagai kesusahan dari kejahatan hari esok ke dalam hari ini. Kita tidak tahu kesusahan-kesusahan apa yang bakal kita alami besok, tetapi apa pun kesusahan itu, masih ada cukup banyak waktu nanti untuk memikirkannya saat itu benar-benar terjadi. Betapa bodohnya kalau kita mau memikul masalah itu pada hari ini dengan segala kekhawatiran dan ketakutan mengenainya, padahal itu bukan merupakan masalah hari ini. Bukankah masalah itu tidak akan menjadi ringan sekalipun kita terus memikirkannya pada hari ini? Janganlah kita menarik semuanya sekaligus ke atas kita, kalau hal-hal itu telah diatur oleh Pemeliharaan Allah untuk dipikul bagian demi bagian. Dengan demikian, kesimp**an dari semuanya ini adalah bahwa Tuhan Yesus menghendaki dan memerintahkan murid-murid-Nya untuk tidak menyiksa diri mereka sendiri, atau membuat perjalanan mereka di dunia ini menjadi lebih gelap dan lebih sengsara dengan mencemaskan berbagai masalah yang melebihi apa yang dikehendaki Allah dalam masalah itu sendiri. Melalui doa kita setiap hari, kita dapat memperoleh kekuatan untuk menopang kita dalam mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari, dan untuk mempersenjatai kita melawan godaan-godaan yang menyertainya, dan jangan biarkan hal-hal ini menggoyahkan kita.

Address

Kota Harapan Indah
Bekasi
17131

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Renungan Harian Kristen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share