15/12/2025
Rijalul Ansor: Disiplin Batin, Tertib Struktur, Tegak Khidmah
Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Waringinjaya Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Kedungwaringin telah melaksanakan kegiatan Rijalul Ansor pada Sabtu malam, 14 Desember 2025, bertempat di Masjid Jamiโe Ar-Raudhoh, Perum Taman Permata Indah, Desa Waringinjaya, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi.
Kegiatan ini merupakan ikhtiar spiritual dan ideologis kader Ansor dalam merawat tradisi ke-NU-an, menguatkan akidah Ahlussunnah wal Jamaโah, serta meneguhkan komitmen kebangsaan.
Acara ini dihadiri oleh jajaran PRNU Waringinjaya, Mustasyar MWC NU Kecamatan Kedungwaringin, Ketua MUI Kecamatan Kedungwaringin, serta badan otonom NU dan warga Nahdlatul Ulama. Turut hadir p**a pengurus RW dan para Ketua RT se-Perumahan Taman Permata Indah. Kehadiran unsur struktural NU dan masyarakat ini menegaskan bahwa Rijalul Ansor bukan hanya milik kader, melainkan ruang kebersamaan umat.
Rijalul Ansor bukan sekadar majelis dzikir, tetapi ruang kaderisasi batin dan peneguhan disiplin organisasi. Di forum inilah kader diingatkan bahwa perjuangan Ansor tidak lahir dari kenyamanan, melainkan melalui proses Tekan โ Tahan โ Jawab yang dijalani secara sadar dan tertib.
Tekan adalah realitas perjuangan. Ansor hidup dalam tekanan zaman, dinamika internal, dan tantangan kebangsaan. Tekanan ini menuntut kader untuk berpikir jernih, membaca situasi, serta tetap berada dalam satu garis komando organisasi.
Tahan adalah watak kader. Menahan diri berarti teguh dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaโah, patuh pada aturan dan keputusan organisasi, serta menjaga adab perjuangan. Pada fase ini, kader ditempa untuk menundukkan ego pribadi demi kepentingan jamโiyah.
Jawab adalah tanggung jawab kader. Jawaban tidak diwujudkan melalui gerakan sendiri-sendiri, melainkan melalui kerja kolektif yang terstruktur dan terkoordinasi: pengamanan umat, khidmah sosial, dakwah yang meneduhkan, serta penjagaan keutuhan NKRI.
Kader Ansor harus memahami bahwa disiplin struktural adalah napas organisasi. Tanpa disiplin, militansi kehilangan arah; tanpa struktur, semangat berubah menjadi kegaduhan. Karena itu, Ansor mendidik kader agar kuat secara batin, tertib secara struktur, dan jelas dalam garis perjuangan.
Tekanan menempa karakter,
ketaatan menjaga arah,
dan struktur memastikan khidmah berjalan.
Rijalul Ansor ini menjadi pengingat bahwa kesetiaan pada jamโiyah dan struktur merupakan bagian dari ibadah serta wujud tanggung jawab kader terhadap Nahdlatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
๐ข NU kuat karena tradisi, Ansor tegak karena disiplin.