Sharing Parenting Islam

Sharing Parenting Islam Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sharing Parenting Islam, Religious organisation, Bekasi.

SALAH SATU SUDUT SURGADipanggilnya umi Fatma. Isteri dari seorang buruh bangunan. Tinggal dirumah kontrakan yang ia sewa...
14/11/2018

SALAH SATU SUDUT SURGA

Dipanggilnya umi Fatma. Isteri dari seorang buruh bangunan. Tinggal dirumah kontrakan yang ia sewa 500rb/bulan. Dibelakang rumah kontrakannya ada tanah ukuran 4m2 = 2m×2m yang ia tanami cabai, dan beberapa sayuran.

Tidak banyak yg tahu kalo umi Fatma seorang hafidzah. Ia memiliki 5 orang anak dan sekarang sedang mengandung anak yg ke-6. Sudah banyak bidan yg menyuruhnya STOP hamil, gunakan kontrasepsi ! Namun bagi umi Fatma anak adalah Rizki, dan rizki tidak boleh di stop. Adalah kebanggaan, Allah berkenan menganugerahi amanah anak-anak yang banyak.

Di rumahnya tidak ada tv, tidak ada kulkas dan tidak ada kipas angin. Saat saya mendatangi rumahnya, banyaaaakkk makanan yang ia suguhkan. Dari kue kering, bolu (kue basah), sampai bakso ikan pun keluar.

Anak-anaknyapun sehat-sehat. Tidak ada tanda-tanda anak kurang gizi. Anak pertamanya berusia 16 th sudah hafidz, Anak ke-2 usia 13 th hafal 15 juz, sedang dibimbing oleh kakaknya, anak ke-3 usia 9 th hafal 5 juz, anak ke -4 & ke-5 kembar usia 7th sudah qatam Al-Quran.

WOW !!! Saya terperangah mendengar ceritanya. Tidak ada suara tv dari rumah itu. Setiap hari sambil menunggu adzan terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran bersahut-sahutan.

"Alhamdulillah, Allah sangat sayang pada kami mba Iren. Abinya p**ang kerja 1 minggu sekali, bawa uang banyak 500rb. Kami tiap hari bisa makan seperti ini" Ujarnya sambil tangannya menunjuk ke arah hidangan yang ia hidangkan untukku.

Lagi-lagi aku terperangah ! 500rb ?! 1 minggu sekali ?! Artinya dalam 1 bulan kurang lebih penghasilannya 2jt. Itupun masih dikurangi bayar kontrakan perbulan. Dan ia bilang banyak ? Subhanallah....!!! Serasa ditampar wajahku.... maluuuu rasanya.

Aku tersenyum kecut, tenggorakanku tercekat. Silahkan berhitung dengan logikanya Robert.T.Kiyosaki yang katanya pakar bisnis. Bisakah ia menjelaskan ini semua dengan logikanya ? Sementara banyak diantara kita yang sering melontarkan kata-kata :

"500rb mah sekarang dapet apaan ?!!!"

Allahu akbar....!!! Bagaimana dg 2jt/bulan mereka hidup berkecukupan ?

"Abinya selalu puasa sunah."
" Apa kuat umi ? Kerjaan abi kan berat ?"
"Pekerjaan itu sudah abi lakoni sejak kelas 4 SD. Puasa sunah pun sudah dilakoni sejak abi mulai sekolah. Jadi udah biasa dan ga berat lagi mba Iren. Kami teman mengaji dari kecil. Kami berdua lulusan SMP. Alhamdulillah lulus SD abi sudah hafidz. Saya malah telat, lulus SMP baru hafidzah."

"Umi, mohon maaf. Setiap hari kalo umi belanja rata-rata habis berapa ?" Karena penasaran, akhirnya kepoku keluar juga.

Umi Fatma tersenyum. Sebelum akhirnya menjawab:

"Kalo dapat pertanyaan ini saya bingung jawabnya mbak. Saya jarang belanja. Bahkan pernah 1 bulan penuh saya ga belanja. Karena tiap hari adaaa aja yang nganterin makanan, entah itu makanan mentah atau makanan mateng. Seperto baso ikan ini, kemarin ada yg ngasih ikan & telur. Kebetulan masih ada tepung, akhirnya saya buat bolu dan baso. Masih bisa berbagi sama tetangga dan bisa untuk menjamu tamu. Saya mah, dikasih kesempatan bisa berbagi sama tetangga dan menjamu tamu tiap hari, udah bersyukur mbak."

Umi Fatma.... dirimu memang bukan manusia kebanyakan. Dirimu bukan orang rata-rata. Perhatikan tutur kata yang terucap dari bibirnya. Tidak ada 1pun pemberian Allah yang ia kecilkan.

Saat orang kebanyakan berkata : "Yah walaupun hanya buruh bangunan dan tiap minggu cuma bawa uang 500rb, saya sih udah bersyukur bisa makan tiap hari. Yang penting adaa aja buat jajan anak-anak."

Perhatikan kata-kata yang keluar dari wanita sholeha itu : "Suami saya buruh bangunan mbak. Alhamdulillah tiap minggu abinya p**ang bawa uang banyak 500rb. Saya sih bersyukur banget mba kalo tiap hari dikasih kesempatan berbagi dengan tetangga dan menjamu tamu."

Terlihatkah bedanya ? Rata-rata orang bersyukur "just lips service" tapi umi Fatma bersyukur dengan kesungguhannya.

Salah satu keluarga sakinah, yang Allah perkenankan menempati salah satu sudut Surga didunia, yang tidak akan tampak oleh mata-mata nanar penghamba riba dan para pemburu harta dunia..

LAKUKANLAH SELAGI ADA KESEMPATANPada kamu yang malam tadi berdebat dengan istri. Merasa lelah mendengar keluhannya yang ...
31/10/2018

LAKUKANLAH SELAGI ADA KESEMPATAN

Pada kamu yang malam tadi berdebat dengan istri. Merasa lelah mendengar keluhannya yang tak henti. Membawa kesal itu dalam tidurmu, sehingga emosi belum reda pagi ini..

Berpelukanlah sebelum pamit berangkat kerja nanti.

Karena bisa jadi,
Inilah waktumu melihatnya terakhir kali..

Pada kamu yang akhir akhir ini merasa hidup berat sekali. Kelelahan mengurus rumah sendiri, tumpuk setrikaan tanpa henti, kepusingan mengatur tagihan yang datang bertubi. Lalu diam diam, kau rutuki karir suamimu yang tidak juga naik posisi...

Sambutlah ia ketika p**ang nanti.

Katakan betapa bersyukurnya memiliki suami yang senantiasa bekerja keras dan menjaga kehalalan gaji. Ucapkan terimakasih dengan tulus hati.

Kau tidak pernah tahu,
Bisa jadi untuk melakukannya esok, kau tak lagi punya waktu..

Pada kamu yang hari ini merasa pusing mendengar berisiknya anak di rumah. Padahal sep**ang dari kantor mata rasanya hanya ingin terpejam dan badan butuh rebah. Lalu diam diam, kau simpan itu menjadi emosi marah..

Tersenyumlah lebar buat mereka hari ini.
Saat hendak pergi, dan saat nanti p**ang kembali.

Luangkan waktu untuk menatap wajah mungil itu yang bercerita riang tentang hari harinya padamu. Dengarkan intonasi suaranya. Rekam baik baik binar mata dan ekspresi mereka.

Karena sungguh bukan sebuah ketidakmungkinan,
Besok lusa tak ada lagi kesempatan..

**

Kebersamaan menahun seringkali membuat kita lebih mudah mendeteksi kekurangan, daripada menemukan kebaikan.

Lebih lancar memberi kritik, daripada memberi apresiasi.

Lebih cenderung mengeluh. Dan lupa mensyukuri satu sama lain.

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kebersamaan ini akan berhenti. Bisa jadi hari ini. Bisa jadi besok. Bisa jadi sebentar lagi.

Hargai setiap momen yang kita punya saat ini.

Minta maaf selagi bisa.

Berterimakasih selagi masih ada waktu.

Bercanda, berbincang, tertawa..., selagi kesempatan masih ada.

Berpelukanlah.

Selagi hangat tubuhnya masih bisa dirasa.

**

Deep condolence untuk seluruh awak dan penumpang Lion Air JT610..

Yang diantaranya ada seorang Ayah, yang pagi kemarin baru saja pamit bekerja setelah menghabiskan weekendnya untuk mengunjungi anak istri yang tinggal di Jakarta. Melepas rindu setelah sepekan tak bertemu.

Ada juga seorang Ibu yang semalam masih bercanda dengan putri kesayangannya. Menemaninya tidur. Lalu paginya berangkat untuk dinas luar kota. Bekerja. Menjemput pahala.

Dan ada p**a seorang lelaki yang baru menikah dua hari. Kemarin pagi mengecup istrinya di bandara. Mesra. Sembari meminta doa. Sebelum terbang mencari nafkah pertamanya.

***

Kita betul betul gak pernah tau.

Bisa jadi salam yang kita berikan hari ini, adalah salam terakhir buat orang orang tercinta.

Lakukanlah selagi bisa..

Memasukkan anak sekolah:Untuk anak atau ibu?Iya, saya paham. 10 menit keheningan terkadang sangat diperlukan seorang ibu...
19/07/2018

Memasukkan anak sekolah:
Untuk anak atau ibu?

Iya, saya paham. 10 menit keheningan terkadang sangat diperlukan seorang ibu,untuk tetap waras. Apalagi mereka yang mempunyai dua balita dibawah satu atap. Rangkaian pekerjaan yang sudah tersusun rapi di otak, detik ketika kita bangun pagi, seakan sudah menjadi otomatis tersedia. Satu menyambung dengan yang lainnya, hingga tak terasa, sudah waktunya mentari tenggelam lagi. Bahkan, setelah malampun tiba, masih ada sederet dua benda tersisa yang mesti diselesaikan, sebelum akhirnya tubuh mendapatkan haknya untuk baring dan kaki untuk selonjoran.

Iya saya paham.

Hanya saja, berangkat dari kepenatan harian yang sudah menahun, membuat seorang ibu seakan-akan merasa punya alasan, kenapa buah hatinya mesti segera disekolahkan.

Sudah bosan di rumah
Biar belajar bergaul
Menstimulus berbicara
Belajar sharing dan bermain bersama
Anaknya sudah minta
dll, dll...

Sebetulnya, jika ditanya, terutama pada ibu yang menyekolahkan anaknya diusia 3th atau sebelum 5th, jauh kedalam hatinya, sebetulnya alasan mengapa ia menyekolahkan sang buah hati, adalah untuk sekedar merasakan sedikit kenyamanan di rumah. Berkurangnya satu anak untuk beberapa jam, memang mampu mengurangi beban stress yang cukup lumayan. Namun, ia juga tahu, hal itu salah. Karena sang anak belum perlu untuk sekolah, apalagi dengan semua alasan yang tertera diatas. Akhirnya anakpun disekolahkan.

Semua riang..
Untuk dua-tiga hari pertama. Apalagi pas mencoba seragam tk, ada haru sesak dalam dada 'ah, sudah besar ternyata'.
Uang dikumpulkan, pendaftaran dibayarkan. Dimulailah hari pertama.

Oke oke saja..enjoy anaknya, hingga tiba di hari ketiga. Anak sudah mulai bosan sekolah, mulai menolak berangkat pagi-pagi. Menangis dan berulah. Ibu panik..kenyamanan yang sudah tergambar didepan mata, seakan lenyap pufff.. menguap begitu saja.

Uang sekolah yang sudah dibayarkan, harapan bahwa sang anak akan menikmati dan betah sekolah sebagaimana janjinya, berubah drastis 360•. Ibu kaget, panik..bingung .. dan tidak jarang marah.
Lalu mulailah sang ibu frustasi, bagaimana menghadapi semua ini?

Sebetulnya, malam setelah kejadian, jika sang ibu mau menelaah kembali hatinya, ia akan menemukan, bahwa memasukkan anaknya sekolah bukan untuk sang anak, namun untuk sedikit kenyamanan pribadinya.

Wina Risman

Foto from: http://www.momonganak.org/

Dilema ayah zaman sekarang.Coba tanya suami masing-masing, atau anda yang bergelar ayah: dulu waktu kecil main apa? Gund...
18/07/2018

Dilema ayah zaman sekarang.

Coba tanya suami masing-masing, atau anda yang bergelar ayah: dulu waktu kecil main apa? Gundu? Sepeda? Layang-layang? atau bola dilapangan luas?. Jam berapa disuruh p**ang? Maghrib kan?Ditemenin main ngak sama ayahnya?
Pasti ngak. Kalaupun ada ayah dan para suami yang cerita kecilnya berbeda dengan diatas, ngak banyaklah. Rata rata anak laki-laki jaman kemaren mah, puas main daaan... tidak ditemani oleh ayahnya.

Lalu, apa yang terjadi dengan zaman sekarang? Anak-anak tidak lagi bisa bermain bebas diluar ( kalaupun ada, sangat sedikit jumlahnya ), karena ancaman penculikan, narkoba, pornogafi dan sexual predator dan lain-lainnya. Bahkan ada anak yang sudahlah hanya bermain di beranda rumahnya pun, hampir diculik juga. Jadi? Anak terkerangkeng didalam rumah, sibuk dengan urusan sekolah dan berbagai macam les untuk mengisi harinya. Dijauhkan semaksimal mungkin dari layar dan gadget, dan diperhatikan? minimal! Karena orang tua sibuk juga. Sibuk bekerja, mengurus rumah tangga, antar jemput sekolah, menyediakan makanan dan membersihkan rumah. Lalu, pendampingan bermain atau ngobrol ringan? Bagi sebagian orang, bahkan harus di schedulekan, minimal 3 jam sehari, dari jam sekian sampai jam sekian.

Dilemanya dimana?

Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya hanya bisa melihat dari sisi sebelah saya saja, dan begitulah fairnya. Saya yang sudah disibukkan dengan segala macam urusan rumah tangga yang tidak pernah habis-habisnya, sehari-hari hanya bisa mengharapkan, jika weekend datang, atau ada waktu luang, ayah ajaklah anak anak bermain. Bukan saja supaya saya bs nafas sejenak, tapi cukup untuk bisa bekerja dengan tenang tanpa mendenGar tangisan atau rengekkan, meleraikan yang berantem, mengatur waktu nonton dan mandi, de-el-el de-el-el.

Saya pengen, bisa nyuci piring dengan hening. Lipat baju sambil nonton berita, bersihkan meja lalu minum teh. Menurut saya juga, anak anak ini juga sudah kebanyakan mendapat 'peran emak' dan masih SANGAT kurang mendapat 'peran ayah' walau saya tahu suami sudah berusaha maksimal. Karena hampir 24 jam 'nempel'nya ke saya terus. Oleh sebab itu, jika dtg weekend atau libur, atau juga menjelang waktu menidurkan anak, saya secara serius menyemengati sang ayah untuk gantian.

Terutama jika weekend, ajarin main sepeda kek, main bola.. lari di lapangan, betulin mobil de el el dll.

Saya lupa!

Bahwa generasi suami saya, tidak bermain dengan ayahnya. Mereka adalah generasi yang sibuk dengan permainan fisik. Sangat terbatas 'bersentuhan' dengan figur ayah. Ayah dimata mereka, adalah yang mencari nafkah, berangkat pagi, p**ang sore.
Buka kaus kaki, ganti baju, baca koran dan ngopi. Gitulah kurang lebih.

Lalu, darimana sekarang mereka diharuskan bisa menjadi ayah yang menemani anak bermain? Role modelnya ngak pernah ada! Ngak ada siapa untuk ditiru! Yang ada bebelan istrinya yang terkadang tidak sanggup untuk tidak membandingkan saking keselnya 🙃.

Oleh sebab itu, artikel ini sekedar mengingatkan.. untuk para ibu/istri, bersabarlah dalam mengajak suami untuk ikut serta dan pro aktif menemani anak bermain. Sadarlah, bukan suatu yang mudah memulai sesuatu yang tidak ada contohnya. Ibaratnya, kalau kita mau bikin lemari, tapi ngak ada buku instruksi atau video di yutub, pasti akan repot sekali..
Bersabarlah dan terus semangati. Walau susah, coba cari jalan positif untuk menyemangati, misalnya, ajak beli bola di toko olahraga sambil dating nonton berdua, jumat malam. Jadi sabtu paginya, tinggal diingetin..'jadi ajak anak main bola ngak hari ini?'. 😀

Untuk para ayah: saya tahu ini tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Zaman sudah berubah, anak-anak tidak lagi bisa bermain bebas di luar tanpa pengawasan. Mereka memerlukan waktumu, bimbinganmu, pendampinganmu dalam mengisi waktunya. Mengertilah bahwa istri sudah cukup penuh waktunya untuk mengurus urusan rumah tangga sehari-harinya. Memang tidak mudah, tapi bisa dimulai dan dicoba. Walau tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Jadilah ayah yang kelak meninggalkan kenangan manis, ketika mereka beranjak jauh dari rumah. Ini cuma sebentar, pasti berlalu. Percayalah. Dan ketika waktu itu habis, engkau boleh kembali ke layar handphonemu, memainkan game mu, kumpul dengan teman -teman atau sekedar melanjutkan hobi yang sudah lama ditinggalkan.

Time is running fast. Hold each other's hand. Feel each other pain. Syurga tidak murah, tapi bukan tidak mungkin.
Bukankah menjadi suatu impian kita untuk masuk ke dalam syurga-NYA, disambut oleh seorang ayah yang terbaik walaupun ia tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya; baginda mulia Rasulullah saw.

Doa kami untuk para ayah; teruslah berjuang untuk dekat dengan sang buah hati, walau terkadang ada jarak yang susah untuk dilampaui. Percayalah, bahwa anak -anak zaman ini, teramat sangat membutuhkanmu menemani mereka agar mampu tumbuh menjadi insan madani.

Pesan untuk para ibu: sabar ya bu! 😊Semua perlu waktu, tidak semudah membalikkan telapak tangan atau memasang kancing baju 👕👚👘

Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Wina Risman

Foto from: https://media.iyaa.com/article/2015/06/3411363_8613.html

04/04/2018

Perasaan yang terabaikan

“Diaaam !.. diam mama bilang! Cengeng banget sih gak berenti berenti nangis dari tadi.. Kalau mama sudah gak sabar nanti mama pukul kamu! “
“Tau kenapa mama gak s**a sama kamu?, kalau nagis lama, dibilangin gak denger, gak kayak adikmu!, faham,,?” Ujar bu Tini pada anaknya yang sulung berusia 5.5 tahun sambil mendorong kepala anaknya…
Terkesan familiar ?
Bukan hanya bu Tini tapi banyak ibu ibu lain sering sekali merasa tak mampu mengendalikan emosinya menghadapi anak anaknya, tanpa tahu mengapa mereka merasakan seperti itu. Umumnya bila sudah marah panjang lebar bahkan melengkapinya dengan nolak kepala seperti yang dilakukan bu Tini, ada juga dengan mencubit bahkan memukul, mereka umumnya menyesal bahkan gak jarang menangis dikamar tidur nya. Apalagi kalau sudah malam, semua sudah tenang dan dia mengamati atau memandangi anaknya yang p**as tertidur dan nampak benar keluguan dan kepolosannya..
“Ya Allah kenapa aku marahi dan pukuli anakku ya Allaaah”, keluhnya sambil menciumi anaknya sementara air mata terus berurai. Penyesalan tak pernah datang diawal….

Beginilah jadinya bila tak ada persiapan.
Umumnya, jarang sekali ayah dan ibu memiliki kesiapan atau dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi orang tua. Kalau dulu, ketika beban pelajaran belum seberat sekarang dan jam belajar belum lagi diatas 8 jam sehari, anak anak masih punya kesempatan untuk bersama dengan anggota keluarga dirumah. Sehingga kalau tidak terlibat dalam membantu kakak atu tantenya yang punya anak kecil, anak anak masih dimintai tolong untuk membantu mengasuh atau menolong adiknya.
Tapi situasi kini jauh berubah. Anak anak sekolah pada usia yang lebih dini, mata pelajaran yang padat, jam belajar yg panjang dan tugas sejibun. Pulang, lelah jiwa raga. Main games, nonton TV, kerjakan tugas lalu tidur. Jarang ada kesempatan untuk dialog dan bercengkrama dalam keluarga. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja p**a dan p**ang selalu lebih telat dari waktu anak tiba dirumah. Bayangkan !

Tiba tiba tak terasa anak sudah lulus sekolah menengah, mahasiswa atau sudah jadi sarjana dan waktu menikahpun tiba. Dari mana ada persiapan menjadi suami istri, apalagi ibu dan ayah?. Tahu tahu punya anak saja. Karena kurang pengetahuan, sengaja atau kesundulan: ada dua balita dalam keluarga . Huih!
Apa yang paling hilang dari pengasuhan seperti yang diuraikan diatas adalah kesempatan untuk mendengarkan perasaan anak. Andainya saja orang tua tahu, bagaimana pentingnya perasaan itu perlu didengarkan, mereka akan berjuang untuk punya waktu dan berdialog dan membicarakan soal “rasa “ dengan anaknya .

Bisakah anda bayangkan, apa jadinya dengan anak bu Tini diatas yang sejak usia balita ibunya s**a berteriak, marah, memerintah (Diam!), mencap (Cengeng banget), mengancam (mama pukul nanti), menyalahkan ( Gak s**a sama kamu, gak denger), membandingkan ( gak kayak adikmu)??..
Apakah cara pengasuhan seperti ini, memungkinkan bagi orang tuanya untuk menunjukkan perhatian dan memperdulikan perasaan anak nya?. Kemana anak ini akan membawa atau mengadukan derita rasa atau jiwanya kalau orang tuanya terus menerus menggunakan cara pengasuhan serupa ?
Itukan baru sekali!, biasanya berapa kali dalam sehari? dan sudah berapa lama ..? Itu anak siapa ya?

Jadi bagaimana ya kalau nanti dia jadi ibu atau ayah p**a?.Bila orang tuanya terbiasa kalau marah seperti itu, tidakkah anak ini akan mengulang semua apa yang dia terima ini dengan OTOMATIS terhadap anaknya p**a nanti ?.
Berkata seorang ahli : “Hati hati mengasuh anakmu. Perbaiki pola pengasuhanmu sebelum anakmu baligh. Karena engkau sedang salah mengasuh cucumu!”.

Bagaimana mungkin ?

Bagaimana mungkin merubah cara mengasuh, kalau kita :
1.Tidak menyadari bahwa pola asuh yang kita lakukan adalah pengulangan otomatis dari apa yang diterima dulu dan belum mampu memutus mata rantainya .
2.Tidak mengenali pola asuh yang bagaimana yang terjadi dengan pasangan kita, mengapa dia s**a bersikap dan memiliki cara pengasuhan bahkan cara berfikir yang berbeda dengan kita?. Mengenali dan menyesuaikan diri dengan semua perbedaan itu tidaklah mudah, biasanya memerlukan waktu 5- 10 tahun. Tergantung bisa didialogkan dan mau mencari pertolongan ahli atau tidak, bisa dicari titik temu atau tidak. Sementara anak nambah terus…Marah sama pasangan- anak yang jadi korban iya kan ?
3.Apalagi kalau pernikahan itu sudah bermasalah dari awal, tidak disetujui kedua belah pihak, atau hanya sebelah saja, ada kesalahan dilakukan sebelum perkawinan yang menimbukan penolakan dari salah satu keluarga atau anggotanya.
4.Tidak mengerti sama sekali tahapan perkembangan dan tugas perkembangan anak : Usia sekian anak harusnya sudah mampu melakukan apa dan bagaimana merangsangnya.
5.Tidak faham bahwa bahwa otak anak ketika lahir belum bersambungan dengan sempurna, sehingga kemampuannya terbatas, dan banyak hal mereka belum mengerti. Begitu sambungan mencapai trilliunan pada usia 2.5 tahun, anak mulai belajar menunjukkan dirinya. Tapi ketidak fahaman membuat orang tua mematahkan semangat anak dan tidak memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dengan sering menjadi :ayah atau mama “sini” : Sini mama bantuin, Sini ayah tolongin…
6.Begitu anak sudah 4 tahun bisa berpura dan berkhayal dikomentari : Bohong, mengada ada dll. Atau bila mereka memberikan pendapatnya orangtua mengatakan “dia sudah bisa membantah dan tidak patuh lagi “. Hoalllah…kasiannya tuh anak!
7.Orang tua tidak tahu bahwa :
Pusat perasaan diotak, berkembang lebih dulu dari pusat kognitifnya. Karena terburu buru ingin anak jadi pintar dan masuk sekolah, usia dini sudah dileskan Calistung, usia 6 tahun masuk SD. Kadang kadang ini dilakukan karena dirumah sudah ada 2-3 adiknya !.
8.BKKBN dan Kelompok Neurosaince Terapan pernah menyarankan agar dihindari sedapat mungkin untuk ada dua balita dalam keluarga, karena sangat mengkonsumsi jiwa, pikiran dan tenaga ibu. Apalagi kalau kedua oang tua bekerja dan anak di “subkontrakkan” kepada orang lain. Bayangkan apa jadinya dengan anak itu? .
Jika anak saja tidak mendapatkan kesempatan untuk didengarkan perasaannya apalagilah ibunya?

Mengapa fungsi berfikir ibu jadi terganggu?

Bagaimana tidak, kalau ibu mengalami semua 8 masalah diatas?.
Seorang ahli mengatakan bahwa bila seseorang sedang secara fisik sangat lelah, maka emosi mudah naik, sehingga bagian berfikir diotaknya menjadi sempit dan fungsi berfikir terganggu. Kelakuan didominasi oleh emosi. Kesadaran dan penyesalan akan muncul belakangan setelah emosi reda, letih berkurang .

Katherine Ellison, dalam bukunya The Mommy Brain menceritakan hasil risetnya bertahun tahun, bahwa ibu yang baru melahirkan itu normal bila dua bulan pertama mengalami apa yang disebutnya : “Amnesia keibuan, atau pikun kehamilan”. Hal ini terjadi oleh karena kekacauan kimiawi saat hamil dan melahirkan ditambah dengan rasa sakit, kekurangan tidur dan keharusan untuk belajar banyak hal sekaligus tentang mengurus, bayi, diri sendiri dan tetap memperhatikan lingkungan. Bila anda lengah sekejap saja, bia menimbulkan akibat yang sanga mengerikan . Allison mengemukakan juga bahwa di Inggris keadaan ini disebut sebagai : Otak Bubur, di Australia : “Otak Plasenta” dan “Otak mami” di Jepang . Bayangkanlah kalau di bulan ketiga ibu ini sudah hamil lagi…

Jadi untuk membantu bagaimana agar ibu “Tidak emosian” dalam mengasuh anak anaknya, semua orang disekitarnya, terutama para ayah dan orang tua hendaknya mengerti akan 8 hal yang umumnya dihadapi oleh seorang ibu berikut “amnesia atau pikun keibuan” diatas dan jangan abaikan perasaannya .
Diatas segalanya, ibu itu sendiri harus mampu mengenali dirinya dan berupaya memahami sepenuhnya serta berdamai dengan masa lalunya dengan memaafkan semua yang terjadi.Selain itu ia harus berusaha mengerti apa yang terjadi dengan pasangannya dan orang disekitarnya.Jangan karena tak mau berdamai dengan sejarah hidup, kesal dengan orang sekitar :suami dan anggota keluarga, anak yang dijadikan korban.
Anak tertekan, tak dimengerti dan tak didengarkan perasaannya adalah bencana di hari tua dan akhirat anda..

Dari risetnya tentang otak para ibu, Allison menunjukkan bahwa dengan menjadi ibu anda menjadi lebih pintar dan cerdas dari apa yang kita fikirkan!.Ada lima sifat otak yang dirangsang oleh bayi anda: Persepsi, Efisiensi,Daya tahan,Motivasi,dan Kecerdasan emosi..
Jadi apalagi dear ? : manfaatkan Mommy Brain anda.
Selamat berjuang untuk menyelesaikan urusan dengan diri sendiri sebelum anda menyelesaikan urusan anak dan keluarga anda. Putuskan mata rantai itu.
Mulailah dengan belajar mendengarkan dan menerima perasaan anak anda…
Selamat Berbahagia ..
Luv u all
love
Bekasi 18 Desember 2015
Elly Risman



Silahkan dishare bila dirasa bermanfaat.

09/03/2018

Ketika si tengah sedang bosan dengan rutinitas harian. Antara sekolah, p**ang, mandi, pe-er, main, makan dan lain sebagainya... ia berhenti. Lalu, memakai celemek kecilnya dan langsung melibatkan dirinya di dapur bersama saya.

Kaget?

Iyalah, orang lagi asik-asik masak, pengen cepet-cepet karena abis itu mau bersihin dapur dan peralatan masak, rapihin meja, mandi, sholat.. dan segerembeng benda lainnya yang sudah terdaftar di otak sebelum tidur nanti.

'Haduh' ucap saya dalam hati.
'Boleh saya bantu mama?' tanya anak lelaki kecilku yang berusia 8 th itu. Saya tersenyum, dan berusaha mengangguk pelan, 'boleh' jawab saya berusaha kelihatan ikhlas dan senang.

Lalu sayapun mengarahkan, bagaimana ia bisa mencelupkan potongan ayam ke dalam telur lalu membalutnya dengan tepung sampai rata, dan mengajarinya untuk berani berjibaku menghadapi minyak yang sudah mulai memanas.

'Jangan dilempar, di letakkan perlahan saja ditepi, dan biarkan ia jatuh perlahan kedalam minyak. Minyak, kita yang atur dia, bukan kita yang takut padanya' jelas saya padanya.

'Oke mom' jawabnya singkat.

Akhirnya, ia berhasil menyajikan ayam asam manis buatannya, buat makan malam keluarga malam itu. Bangganyaaa.. minta ampun!

Di lain waktu, di tengah kebosenannya belajar, ia tiba-tiba mandek mungkin karena capek, lalu ia menghampiriku yang sedang asyik menyelesaikan satu bakul setrikaan. "Ma, boleh gantian?" tanyanya singkat.

Aku mengangkat wajah, setengah ternganga, melihat tumpukan baju, dan tersenyum.. 'silahkan'. Ia pun mengambil beberapa lembar bajunya, dan menyetrikanya ala kadarnya.. dengan hati yang riang! ❤️

Mengajarkan ketrampilan hidup, tidak melulu harus dialokasikan waktu. Terkadang, jika mood anak lagi tumbuh, walau itu menganggu 'sistim' harian yang sudah bertahun-tahun terstruktur rapi, mengalahlah. Bukankah ini yang kita inginkan? Anak laki dan perempuan yang cakap akan ketrampilan hidup, memasak, mencuci, menyeterika, membersihkan kamar mandi, mengepel lantai dlsb, diantara kesibukan akademik dan pelajaran untuk menjadi manusia super hebat lainnya.

Terkadang, mereka perlu dilatih juga menjadi manusia, toh mereka akan menjadi anggota masyarakat, suami/istri, ayah dan ibu, dan kelak.. semua ketrampilan itu walau kebanyakan dengan waktu akan digantikan oleh mesin, tetap akan berguna, satu atau lain caranya. Minimal, time managementnya.

Kala ketertarikan itu datang, walau terkadang tidak tepat waktu , bersabarlah.. give ways. Kasih kesempatan.. karena mungkin itulah 'golden moment' nya untuk mereka belajar.. dengan gembira!

Bukankah apa yang dikerjakan dengan gembira, akan lebih lama teringatnya? Meninggalkan 'jejak' yang positif di otaknya.

Dibandingkan dengan ketika kita sudah mempersiapkan waktu dan tempatnya, sementara mood mereka ngak ada, dan yang ada akhirnya tarik ulur, marah dan kecewa.

Jadi, jika balita anda menawarkan untuk mencuci piringnya, ajari ia bagaimana caranya. Jika ia sedikit bermain-main hingga menghabiskan setengah botol sabun cuci piring, biarlah. Jika lantai jadi becek sedikit, sudahlah. Jika si abang menawarkan menyikat kamar mandi, bergembiralah. Ajari ia bagaimana caranya, ikhlaskan jika satu botol pencuci kamar mandi habis kali ini. Walaupun lantai kamar mandinya jadinya lebih licin dari sebelumnya. Belajar kan proses. Bukankah semua pendidikan ada pengorbanannya?.

Practice makes perfect.

Jika dibiarkan ia melatih dirinya berkali-kali, Insha Allah setahun dua, ia akan sepintar ibunya. Siapa yang untung sekarang? Punya tukang cuci piring handal, kamar mandi yang bersih, baju yang terserika rapi? Anak-anak yang mencintai apa yang dikerjakannya?

Latih mereka ketika mereka gembira.. sebelum mereka berubah be-te, dan kelak kau akan membutuhkan bantuannya.

Yang pasti, jika mereka terlatih, senang, dan rajin dengan pekerjaan rumahnya..10-15 tahun kedepan, akan ada seorang istri/suami yang akan sangat berbahagia, menikah dengan buah hati anda!

Insha Allah..

Apa yang lebih baik daripada rukun, akrab dan disayang sama menantu? eaaaa...

Menjelang akhir Februari 2018,

Wina Risman.

Wahai para suami... ==================Pada dasarnya seorang istri ga nuntut macem2. Yang ia harapkan sesungguhnya dr sua...
01/03/2018

Wahai para suami...
==================

Pada dasarnya seorang istri ga nuntut macem2. Yang ia harapkan sesungguhnya dr suami itu bukan tas yang bagus ( kl ada ya alhamdulillah 😆)
Bukan baju yang mahal (sesekali ya harus) 😀
Bukan rumah yang megah ( kl bisa ya sekalian)
Bukan perhiasan yang mewah (1 set aja udah cukup ga usah banyak2) 😁

Tapi kalau emang ga bisa, ada hal yang lebih membahagiakan dari itu
Ciumlah keningnya saat ia bangun tidur, lakukan saja meskipun kamu ga ingin atau sedikit mual Peluklah ia dari belakang ketika ia memasakkan makanan untukmu dan anak2mu. Ga usah lama2, 1 menit juga udah bikin istri klepek2. Lakukan saja meskipun kamu harus sambil menutup hidung
Bawakan ia martabak saat kamu p**ang dr kantor, bilang "ini ayah beliin buat mamah" meskipun kamu beli rasa keju kes**aanmu bukan rasa coklat kes**aannya
Kirimlah WA "mau dibeliin apa mah?" Meskipun istrimu minta Pizza tp ujung2nya tetep kamu bilang, "beli gorengan aja ya,"
Tlplah sekali2 dan bilang, "kangen" dan habis itu gpp langsung tutup kl kamu sayang kuota.
Gandenglah tangannya ketika di mall, meskipun aslinya tujuanmu biar istrimu ga belanja macem2 😀.

Kalau lg di rumah, cobalah bilang, "mama langsingan deh," meskipun aslinya kebalikannya. Tenang aja, dia ga akan minta gendong kok. Karena aslinya dia jg nyadar diri.
Bisa juga, "mama mau ayah anter nyalon?" Meskipun karena biar kamu bebas nonton bola dan ujung2nya istrimu bayar sendiri 😁
Bilanglah I Love You sesekali. Istrimu pasti megap2 meskipun ia tau kamu gombal. Tapi beneran, dia pasti seneng!

Asli pak, istri jaman now banyak yang mandiri. Kadang mereka bisa cari uang sendiri, mereka hanya berharap ada yang membuat hatinya berbunga2 meskipun tak perlu bilang, "jangan rindu, berat, biar aku saja," ga perluuuu.
Mereka hanya perlu merasa dicintai. Merasa selalu cantik. Merasa selalu terbaik. Di mata suaminya.

Wahai para suami, jangan biarkan ada satu laki2 manapun yang relevan hadir sebagai pahlawan menggantikan posisimu. Memenuhi harapan2 istrimu.

Karena jika kamu tak melakukannya, istrimu akan merindukannya dan ada banyak lelaki di luar sana yang mau bertekuk lutut mengisi ruang rindu itu dengan senang hati.




Sumber : Dinii Fitriyah

Ngelmu.psikologi🌺Kalah Suara....🤔🤔Terdengar familiar? Apakah ini terjadi di rumah tangga anda? Entahlah itu pada pasanga...
16/11/2017

Ngelmu.psikologi
🌺Kalah Suara....🤔🤔

Terdengar familiar? Apakah ini terjadi di rumah tangga anda? Entahlah itu pada pasangan? atau juga pada anak.

Banyak kita lihat fenomena orang tua kalah suara dengan anaknya disekitar kita saat ini. Kalah suara yang akan dibahas disini adalah keadaan dimana kita tidak bisa melawan apa kata lawan bicara kita dan atau menyerah atau mengalah.

Banyak orang tua yang kalah suara terkadang hanya untuk ketenangan jiwa yang sesaat. 'Kasih ajalah dari pada nangis', "udahlah beliin aja mainannya", "biarin aja dia pergi sama temen-temennya" dll dll. Banyak juga yang melakukan ini karena ngak mau ambil pusing. Terutama ayah. Karena mereka p**ang kerja sudah capek, lalu ngak tahan dengar rengekan atau tangisan yang lebay, lalu keluarlah 'titah-titah' seperti yang saya sebutkan diatas.

Sayangnya, ketika orang tua melakukan ini pertama kali, ia tidak sadar kebebasan dan kekuatan apa yang sedang ia serah terimakan pada sang anak. Itu seakan-akan mengatakan 'oke ini bolehlah'.

Lantas, jika lain kali anak meminta hal itu lagi? Orang tua akan melarang, karena hakikatnya hal tsb mmg tidak boleh. Lalu mulailah si anak bertingkah, orang tua naik emosi. Sebetulnya, ini salah siapa???

Bisakah kita sejenak keluar dari diri sendiri, dan melihat kejadian ini secara subjektif?

Yang dulu ngalah dan ngasih siapa?
Alasan dulu boleh sekarang ngak apa?
Lalu, kenapa jadi anak yang salah, ketika ia mengulangi keinginannya kali ini?

Ayoo..

Ada juga, orang tua yang kalah suara ketika berdebat dengan anak. Apalagi anak zaman sekarang, pinter keminter. Semua adaaaa aja alasan dan jawabannya. Apalagi kalau urusannya membela kepentingan dan keinginannya, udah deh.

Lalu, kenapa orang tua bisa sampai kalah suara?

Lah, pertanyaan saya, selama ini kemana dan ngapain aja?

Bagaimanakah sistim komunikasi dengan anak selama ini?

Awalnya, kalah suara disebabkan oleh hal-hal yang mengizinkan 'sementara'. Dari situ berkembang ke jarangnya anak diajak bicara dari hati ke hati; dijelaskan apa dan mengapa sesuatu itu tidak dibolehkan.

Lalu, ini point pentingnya: CONSISTENCY AND CONTINUITY ( Konsisten dan berterusan).

Jangan ngalah! Memang susah, yaa namanya juga membesarkan manusia. Insha Allah, dengan waktu kita akan lihat hasilnya.

Jika saya terkadang mengeluh kepada ibu saya tentang kelakuan anak saya, ibu saya lantas bertanya 'sekarang, umur si A berapa?'. '7 tahun' jawab saya. Lalu ibu saya akan berkata ' dia baru 7 tahun aja, kamu sudah ngalah dan mau diatur-aturnya, gimana nanti kalau dia 17? 27??'.

Saya terdiam, 'betul juga' batin saya. Lalu saya berfikir: iya juga ya, saya kan ibunya, kalau bukan saya yang mendidik, mengarahkan, mendisiplinkan anak saya, siapa lagi?. Lalu saya mulai mengatur strategi, tegas dan jelas. Bahasa pelatihannya :
'Disiplin dengan kasih sayang' 😊

Semua ada aturannya. Aturan diperjelas apa dan kenapa nya. Konsisten dan berterusan. Respek harus ditumbuhkan. Ada adab bicara dan tidak setuju pada orang tua. Orang tua harus ditekankan bahwa ia dihormati setelah Allah dan rasulnya. Tapi, jangan hanya minta untuk dihargai, bersikaplah sehingga layak untuk dihargai dan dihormati.

Kalau bukan saya, siapa?
Kalau bukan sekarang, kapan?

Wallahu a'lam bis shawab

Wina Risman(ananda elly risman)
26 Sept 2017

Address

Bekasi
17510

Telephone

0896-0301-5008

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sharing Parenting Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share