Pura Agung Tirta Bhuana, Bekasi

Pura Agung Tirta Bhuana, Bekasi Jl. Jatiluhur Raya I Kalimalang, Bekasi 17145
(1)

Bhagavad Gita IX. 22 :अनन्याश्चिन्तयन्तो मां ये जनाः पर्युपासते।तेषां नित्याभियुक्तानां योगक्षेमं वहाम्यहम्।।“Ananyas ci...
21/07/2024

Bhagavad Gita IX. 22 :

अनन्याश्चिन्तयन्तो मां ये जनाः पर्युपासते।
तेषां नित्याभियुक्तानां योगक्षेमं वहाम्यहम्।।

“Ananyas cintayanto mam
ye janah paryupasate
tesham nityabhiyuktanam
yoga-ksemam vahamyaham“

"Tetapi, mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja, kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu, akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga apa yang sudah dimilikinya"

"There are those who, excluding all else, think of Me and worship Me, aspiring after eternal union with Me. Their prosperity and welfare

Pujawali PATB ke 57
03/06/2023

Pujawali PATB ke 57

Melasti merupakan upacara yadnya yang dalam agama Hindu bertujuan untuk mensucikan diri baik lahir maupun batin. Upacara...
01/03/2022

Melasti merupakan upacara yadnya yang dalam agama Hindu bertujuan untuk mensucikan diri baik lahir maupun batin. Upacara ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali dalam rangkaian dari Hari Raya Nyepi di Bali.

Melasti dalam Lontar Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala yang dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuno menyebutkan bahwa Melasti meningkatkan Sraddha dan Bhakti untuk pada Dewata menifestasi Tuhan Yang Maha Esa untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa serta mencegah kerusakan alam.

Dari kutipan lontar tersebut, Melasti memiliki tujuan bagi kehidupan. Diantaranya adalahh sebagai berikut.

Ngiring prewatek dewata
Artinya adalah upacara Melasti didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Hal ini bertujuan untuk mengikuti tuntunan pra dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan begitu maka manusia akan memiliki kekuatan suci saat hidup di dunia. Para dewa disimbolikan hadir mengelilingi desa, sarana pretima dengan segalan abon-abon Ida Bhatara.

Anganyutaken laraning jagat
Artinya adalah menghanyutkan penderitaan masyarakat. Sehingga upacara Melasti bertujuan untuk memotivasi umat dalam menghilangkan berbagai macam penyakit sosial seperti kesenjangan antar kelompok, permusuhan, wabah penyakit, dan lain sebagainya. Dengan begitu penyakit sosial diharapkan dapat dihilangkan dari umat.

Papa kelesa
Artinya adalah Melasti memiliki tujuan untuk menuntun umat untuk menghilangkan kemapanan secara individual. Terdapat lima keleas yang dapat membuat orang papa yakni kegelapan atau mabuk, egois atau mementingkan diri sendiri, pengumbaran hawa nafsu, pemarah atau mendendam, dan raa takut tanpa sebab. Kelima kelesa tersebut harus dihilangkan untuk membuat seseoarang tidak menderita.

Letuhing bhuwana
Artinya adalah alam kotor. Upacara Melasti memiliki tujuan untuk meningkatkan umat Hindu untuk melestarikan alam lingkungan atau dengan bahasa lain adalah menghilangkan sifat manusia yang dapat merusak alam lingkungan. Di Bali hal ini menjadi tradisi yang harus dijaga untuk menjaga alam.

Ngamet saringing amerta ring telenging segara
Artinya adalah mengambil sari-sari kehidupan di tengah lautan. Tujuan Melasti adalah mewuhudkan ritual sakral untuk membangun kehidupan spiritual untuk hidup yang lebih seimbang lahir dan batin.

27/10/2021

Di dalam Bṛhaspati Nitasara, dikatakan:

lālayet pañcavarṣāṇi daśa-varṣāṇi tāḍayet | prāpte tu ṣoḍaśe varṣe putre mitravad-ācaret ||
—"Selama 5 tahun pertama anak harus dimanjakan dan dilayani, selama 10 tahun berikutnya mendisiplinkan mereka (tāḍana—secara harfiah berarti memukul, seorang anak perempuan tidak akan pernah bisa dipukul dengan cara apa pun!). Pada usia 16 tahun dan seterusnya orang tua memperlakukan mereka sebagai teman."

lālane bahavo doṣās tāḍane bahavo guṇāḥ | ataś chātraśca putraśca tāḍayen na tu lālayet ||
—"Memanjakan memiliki banyak kekurangan dan banyak manfaat dari memukulnya sewaktu-waktu (untuk memberi pelajaran), oleh karena itu siswa atau anak laki-laki harus didisiplinkan dan tidak memanjakannya."

______________________________.

Gautama di sisi lain tidak menganjurkan pemukulan:–

Gautama Dharmaśāstra (2.42-44).—"Sebagai suatu peraturan ia tidak boleh dihukum secara fisik. Jika tidak ada jalan lain yang memungkinkan ia dapat dihukum dengan tali atau ranting kayu. Jika guru atau orang tua memukulnya dengan benda lain, ia harus dihukum, dihukum oleh pengadilan."

______________________________

Kami tidak menganjurkan atau dengan cara apapun mendukung pukulan fisik atau kekerasan — kami hanya mengungkapkan apa yang dikatakan oleh Śāstra. Sebagaimana diketahui aturan-aturan Dharmaśāstra diatas berkaitan dengan situasi keadaan zaman saat itu. Mengenai Agama Hindu, Hindu tidak saklek mengenai relevansi terhadap perubahan zaman dan nilai-nilai moral yang direvisi di setiap zaman.

Mānava-Dharmaśāstra (4.176) dan Yajñāvalkya-Dharmaśāstra (1.156) sama-sama menyatakan:
—"Seseorang harus berusaha untuk mempraktekkan dharma melalui pikiran, ucapan, dan tindakan. Tetapi dharma yang tidak berkontribusi pada perkembangan manusia dan dibenci oleh dunia harus ditinggalkan."

Credit caption:

Ajaran puncak Bhagavad-gitā adalah bahwa sebaiknya orang berserah diri kepada Tuhan. Tuhan berjanji untuk segera menguru...
01/07/2020

Ajaran puncak Bhagavad-gitā adalah bahwa sebaiknya orang berserah diri kepada Tuhan. Tuhan berjanji untuk segera mengurus jiwa yang telah berserah diri seperti itu. Seorang penyembah murni adalah insan yang senantiasa berserah diri kepada Tuhan, seperti halnya seorang anak berserah diri kepada ayah dan ibunya atau seekor hewan berserah diri kepada tuannya.
Berserah diri berarti memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita dari segala kondisi yang berbahaya. Langkah pertama dalam penyerahan diri adalah bahwa kita hendaknya menerima apa pun yang mendukung bhakti. Kemudian kita hendaknya menolak apa pun yang tidak mendukung bhakti. Tingkatan selanjutnya adalah keyakinan kuat bahwa dalam situasi apa pun Tuhan akan melindungi kita dan memelihara kita.
Sesungguhnya, Tuhan telah memberikan perlindungan dan pemeliharaan bagi semua orang. Itu adalah kenyataan. Tetapi dalam pengaruh māyā (ilusi) kita berpikir bahwa kita sedang melindungi diri kita sendiri, atau bahwa kitalah yang sedang menyediakan makanan bagi diri kita sendiri.
Demikian di dunia material ini Tuhan telah mengatur pemeliharaan kita, tapi juga hujuman bagi kita. Jika seseorang melakukan dosa ini maka datang tamparan. Jika seseorang melakukan dosa itu maka datang tendangan. Hal ini berlangsung di bawah judul 3 jenis penderitaan rutin (tri-tāpa-yantraṇā):
- penderitaan oleh badan atau pikiran;
- penderitaan oleh oleh makhluk hidup lain;
- penderitaan oleh bencana alam di bawah kendali Tuhan dan dewatā.
Begitu seseorang berserah diri kepada Tuhan, Dia akan merawat kita secara pribadi. Seperti janji-Nya di dalam Bhagavad-gītā (18.66), "Aku akan menjagamu. Aku akan menyelamatkanmu dari segala reaksi doṣa. Jangan khawatir." Kṛṣṇa bersabda, "Janganlah ragu." Janganlah berpikir, "Oh, saya telah melakukan begitu banyak doṣa. Bagaimana Kṛṣṇa menyelamatkan diri saya?" Tidak, Kṛṣṇa Mahahebat. Tuhan mampu menyelamatkan Anda. Kewajiban kita adalah berserah diri kepada-Nya dan mengabdikan hidup kita dalam pelayanan kepada-Nya tanpa syarat. Maka tidak diragukan lagi Tuhan akan menyelamatkan Anda.
Literasi: Karma Keadilan Tertinggi, Bhagavad-gītā.
Source: https://www.instagram.com/p/CCGBjMiJi40/?igshid=18sv7ttla5btt

13/12/2019
03/10/2019

यत्तु प्रत्युपकारार्थं फलमुद्दिश्य वा पुन: |
दीयते च परिक्लिष्टं तद्दानं राजसं स्मृतम् ||

अदेशकाले यद्दानमपात्रेभ्यश्च दीयते |
असत्कृतमवज्ञातं तत्तामसमुदाहृतम् ||

yat tu pratyupakārārthaṁ phalam uddiśhya vā punaḥ
dīyate cha parikliṣhṭaṁ tad dānaṁ rājasaṁ smṛitam

adeśha-kāle yad dānam apātrebhyaśh cha dīyate
asat-kṛitam avajñātaṁ tat tāmasam udāhṛitam
(Bhagavad Gita: Bab 17, Sloka 21 - 22)

Pemberian hadiah atau berdarma secara tidak tulus dengan tujuan untuk mendapatkan suatu imbalan atau mendapat pengakuan supaya menjadi terkenal disebut rajasika.

Berdarma atau memberi hadiah tanpa ketulusan niat dengan rasa kesal karena terpaksa, dan bisa menimbulkan kemalasan, ketergantungan dari orang yang kita berikan punia, maka itu disebut tamasika, nilainya adalah minus.

Yang dikendalikan akan hancur, yang mengendalikan akan terikat. Biarkanlah semua apa adanya, karena baik dan buruk bukan...
07/03/2019

Yang dikendalikan akan hancur, yang mengendalikan akan terikat. Biarkanlah semua apa adanya, karena baik dan buruk bukan pilihan, yang ada hanya keheningan dan kehampaan, karena itulah kesejatian.

Rahajeng Nyanggre Rahina Nyepi Tahun Baru Caka 1941

Bakti Sosial dalam rangka Pujawali Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi
28/09/2018

Bakti Sosial dalam rangka Pujawali Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi

🌺 DAKSINA Lambang Alam Stana Hyang Widhi 🌺Dalam kitab Yajur Weda ###X, 1, disebutkan bahwa stana Hyang Widhi Wasa adalah...
28/03/2018

🌺 DAKSINA Lambang Alam Stana Hyang Widhi 🌺

Dalam kitab Yajur Weda ###X, 1, disebutkan bahwa stana Hyang Widhi Wasa adalah Alam Semesta atau Bhuwana Agung. Hyang Widhi berada pada alam bergerak maupun yang tidak bergerak. Tidak ada bagian dari Bhuwana Agung ini tanpa kehadiran Hyang Widhi.
Daksina sebagai lambang Bhuwana stana Hyang Widhi Wasa nampak dalam bahan-bahan yang membentuk Daksina tersebut.
UNSUR-UNSUR yang membentuk Daksina :
1. BEBEDOGAN
Dibuat dari daun janur yang sudah hijau yang bentuknya bulat panjang serta ada batas pinggirnya pada bagian atasnya.
Bebedogan ini lambang Pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.
2. SEROBONG DAKSINA
Atau disebut juga Serobong Bebedogan dibuat dari daun janur yang sudah hijau tanpa tepi diatasnya maupun dibawahnya. Serobong Daksina ini menjadi lapisan pada bagian tengah dari Bebedogan. Serobong Daksina ini lambang Akasa yang tanpa tepi.
3. TAMPAK
Dibuat dari empat potong helai janur berbentuk seperti kembang teratai bersegi delapan. Melambangkan arah mata angin.
4. TELOR ITIK
Dibungkus dengan Urung Ketipat Taluh. Melambangkan Bhuwana Alit yang menghuni bumi ini.
5. BERAS
Melambangkan Hasil Bumi yang menjadi sumber kehidupan.
6. BENANG TUKELAN
Atau Benang Bali, sebagai simbol dari penghubung Jiwataman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina.
7. UANG KEPENG
berjumlah 225, merupakan simbol Bhatara Brahma, untuk menciptakan Hidup dan Sumber Kehidupan. Angka 225 ini kalau dijumlahkan menjadi angka 9 yang juga merupakan 9 penjuru alam bhuwana agung/Dewata Nawa Sangga.
8. PISANG, TEBU dan KEKOJONG
Simbol manusia yang menghuni bumi dari bagian dalam alam ini. Idealnya manusia hidup dengan pedoman Tri Kaya Parisudha.
9. POROSAN dan KEMBANG
Porosan adalah lambang pemujaan terhadap Hyang Tri Murti, sedangkan Kembang adalah lambang niat suci dalam beryadnya kepada Hyang Tri Murti.
10. GEGANTUSAN
Melambangkan mahluk yang lahir berulang-ulang sesuai tingkatan Karma.
11. PESEL-PESELAN dan BIJA RATUS
Melambangkan hidup keanekaragaman/kebersamaan
12. KELAPA
Unsur yang paling utama dalam Daksina. Melambangkan Bhuawa Agung itu sendiri. Buah kelapa harus dikupas dan dibersihkan kulitnya sampai terlihat batoknya. Dimana serabut kelapa itu melambangkan pengikat indria. Maka itu Karunia Hyang Widhi akan dapat kita capai apabila kita mampu melepaskan diri dari ikatan indria.

🌺 sumber:
Suksmaning Banten oleh Drs. I Ketut Wiana M.Ag

Address

Jalan Jatiluhur Raya, Jakasampurna, Bekasi Bar
Bekasi
17137

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pura Agung Tirta Bhuana, Bekasi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Pura Agung Tirta Bhuana, Bekasi:

Share