03/11/2025
*Rangkuman [ Edited]*
Taklim Subuh Masjid Al Furqon ,Boulevard Hijau Kota Harapan Indah
2 Nopember 2025
Oleh ; Ustadz Munandar,MA
QS. An-Naml ayat 17,
وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
Artinya:
_“Dan dikumpulkan untuk Sulaiman bala tentaranya dari golongan jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”_
(QS. An-Naml [27]: 17)
Ayat ini menggambarkan kekuasaan dan mukjizat Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, yang Allah karuniai kemampuan memimpin makhluk dari berbagai jenis dengan tertib dan teratur , sebuah tanda kebesaran dan hikmah Ilahi.
■ Penjelasan Ibnu Katsir :
Dlm Tafsir al-Qur’an al-‘Adhom, Ibnu Katsir menjelaskan:
وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ...
Artinya: Allah mengumpulkan bagi Nabi Sulaiman seluruh tentaranya , dari golongan jin, manusia, dan burung-burung.
Mereka adalah pas**an besar yang disusun dengan teratur dan disiplin, setiap golongan memiliki tugas dan posisi masing-masing. Nabi Sulaiman mampu memahami bahasa mereka dan memerintah mereka dengan kekuasaan yang Allah anugerahkan kepadanya.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa hal ini termasuk *mukjizat besar Nabi Sulaiman, karena beliau mampu memimpin makhluk dari tiga alam (manusia, jin, dan hewan) dengan keadilan dan ketertiban*
(Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir, juz 6, hal. 189–190)
■ Pandangan Imam al-Ghazali
Imam al-Ghazali tidak menulis tafsir ayat ini secara langsung dalam Ihya’ Ulumiddin, namun beliau sering mengutip kisah Nabi Sulaiman untuk menunjukkan kebijaksanaan, ketaatan, dan amanah kekuasaan.
Dalam Ihya’ Ulumiddin (Kitab Adab al-Mulk wa al-Imarah), beliau menyebut:
*“Kekuasaan yang sempurna bukanlah pada banyaknya pas**an, tetapi pada tertibnya hati dan taatnya jiwa di bawah perintah Allah, sebagaimana tertibnya pas**an Sulaiman di bawah perintahnya.”*
QS.An_ Naml ayat 18 -19:
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌۭ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَـٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَـٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًۭا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
Artinya :
(18)
_“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: ‘Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’”_
(19)
_“Maka dia (Sulaiman) tersenyum tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, lalu dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam (golongan) hamba-hamba-Mu yang saleh.’”_
■ Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 18 – Lembah Semut
● “Lembah semut” adalah daerah yang makmur dan menjadi tempat banyak koloni semut.
● Allah memberi i*lmu khusus kepada Nabi Sulaiman *untuk memahami bahasa binatang.
● Ucapan semut menunjukkan kepemimpinan, ketelitian, dan kasih sayang antar makhluk kecil, yang juga takut mengganggu dan diganggu.
Ayat 19 – Senyum Nabi Sulaiman
● Sulaiman tersenyum bukan mengejek, tetapi karena takjub dan bersyukur atas nikmat luar biasa yg mampu memahami makhluk kecil.
● Doa yang beliau ucapkan menunjukkan kerendahan hati seorang raja dan nabi besar.
●Ini juga menandakan adab seorang mukmin ketika mendapat karunia: tidak sombong, tapi segera bersyukur.
(Tafsir Ibnu Katsir, Juz 6, hlm. 189–190)
■ Pandangan Imam al-Ghazali
Dalam Ihya’ Ulumiddin (Kitab Asy-Syukr), Imam al-Ghazali menjelaskan:
*“Doa Nabi Sulaiman ini adalah puncak dari syukur sejati , karena beliau memohon agar diberi ilham untuk bersyukur, bukan hanya bersyukur dengan lisannya.”*
Artinya:
*Syukur sejati bukan sekadar mengucap alhamdulillah, tetapi menggunakan nikmat untuk amal saleh yang diridai Allah*
● Kalimat “وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ” adalah doa agar setiap amal diterima dan diridai, bukan sekadar dikerjakan.
● Al-Ghazali juga menafsirkan bahwa semut melambangkan makhluk kecil yang peka terhadap bahaya dan saling menjaga — seperti halnya orang beriman yang saling menasihati agar tidak celaka di dunia dan akhirat.
Pandangan Imam al-Ghazali,
Dalam Ihya’ Ulumiddin, bagian Adab al-Mulk wa al-Amr bil Ma‘ruf, Imam al-Ghazali menulis:
*Lihatlah semut yang memberi peringatan di lembahnya.
Ia tidak memiliki kuasa, tapi ia berbicara demi keselamatan kaumnya*
*Ia tidak tahu apakah suaranya akan didengar, tapi ia telah menunaikan amanah lisannya.
Itulah hakikat orang yang menasihati karena Allah*
Menurut al-Ghazali lagi :
Kebaikan sejati bukan pada hasil, tetapi pada niat dan usaha menyampaikan.
Seorang da’i atau penyeru kebenaran tidak rugi jika tidak didengar, karena pahalanya pada ketulusan.
■Hikmah Ilmiah dan Spiritual
● Semut memiliki sistem komunikasi dengan vibrasi dan bahasa kkmia "pheromone" , tetapi Allah memberi kasyf (ilmu langsung) kepada Nabi Sulaiman untuk memahami makna ucapan mereka.
● Ini menunjukkan keseimbangan antara ilmu dan iman, antara akal dan rahmat Allah.
● Senyum Nabi Sulaiman menandakan: orang berilmu sejati tidak sombong terhadap yang kecil, tetapi melihat tanda kebesaran Allah pada setiap ciptaan.
____________________
Mukjizat Nabi Suliman yang bisa berbicara dengan semut di tinjauan dari tiga sisi: ilmiah, filosofis, dan keimanan.
1. Analisis Ilmiah dan Linguistik Semut
Al-Qur’an menyebut dalam QS. An-Naml [27]:18–19 bahwa Nabi Sulaiman mendengar perkataan seekor semut yang memperingatkan kaumnya agar masuk ke sarang supaya tidak terinjak.
قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ...
a. Fakta Biologis Modern
Penelitian dalam biologi dan etologi (ilmu perilaku hewan) menunjukkan bahwa:
_Semut berkomunikasi dengan bahasa kimia (pheromon), getaran, dan suara ultrasonik_
_Ilmuwan seperti Edward O. Wilson (Harvard University) membuktikan bahwa semut memiliki sistem komunikasi yang kompleks dan terorganisir layaknya masyarakat manusia: mereka memberi sinyal bahaya, arah makanan, dan tugas sosial_
_*Dalam eksperimen modern, frekuensi suara semut dapat direkam antara 1–5 kHz — rentang yang mungkin bisa didengar oleh manusia jika Allah menghendaki kemampuan itu*_
_Semut berkomunikasi dengan lebih dari 10 jenis feromon (zat kimia), yang menyampaikan pesan seperti bahaya, arah makanan, dan status sosial_
_Semut juga menggunakan getaran dan suara ultrasonik melalui antena dan kaki_
_Struktur komunikasi mereka sangat teratur dan “bermasyarakat” seperti manusia kecil_
>> Jadi, “bahasa semut” benar-benar nyata dan sistematis, meski bukan bahasa lisan manusia.
Rujukan:
_E.O. Wilson, The Insect Societies (Harvard Univ. Press, 1971)_
>>Maka, dari sudut ilmiah, “suara semut” benar-benar ada, hanya saja tidak dapat didengar manusia biasa tanpa alat khusus...
2. Analisis Mukjizat dan Keistimewaan Nabi Sulaiman
Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Sulaiman diberikan:
عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ —
“Kami telah diajari bahasa burung.” (An-Naml 27:16)
Menurut tafsir:
Ini bukan hanya bahasa burung, tetapi kemampuan memahami komunikasi makhluk hidup.
Artinya: Allah memberikan kepekaan dan pengetahuan khusus yang melampaui indera manusia biasa — suatu bentuk ilmu ladunni (pengetahuan langsung dari Allah).
Jadi, kemampuan Nabi Sulaiman bukan hasil eksperimen biologis, tapi anugerah kenabian, yang memungkinkan beliau “menerjemahkan” makna komunikasi semut — bukan sekadar mendengar bunyi, tapi memahami maksud dan isi pesannya.
3. Makna Filosofis dan Spiritual (Menurut Imam al-Ghazali )
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menafsirkan secara batin:
● Semut melambangkan makhluk kecil dan lemah, tapi Allah menjadikannya mampu menyampaikan kebenaran kepada seorang raja besar.
● Ini mengajarkan kerendahan hati dan kepekaan hati — bahwa orang besar harus mampu mendengar suara yang kecil, bahkan dari makhluk paling sederhana.
● Kemampuan Nabi Sulaiman bukan hanya biologis, tapi spiritual, hasil dari hati yang mukasyafah (terbuka terhadap hakikat ciptaan Allah).
■ Refleksi:
Ilmu modern baru bisa “mendengar” semut dengan mikrofon super sensitif; sedangkan Nabi Sulaiman sudah “memahami” maknanya — itulah perbedaan antara pengetahuan eksperimen dan ilmu yang diilhami Allah.
Imam al-Ghazali
Dalam Ihya’ Ulumiddin, bagian Adab al-Mulk wa al-Amr bil Ma‘ruf, Imam al-Ghazali menulis:
“Lihatlah semut yang memberi peringatan di lembahnya.
Ia tidak memiliki kuasa, tapi ia berbicara demi keselamatan kaumnya.
Ia tidak tahu apakah suaranya akan didengar, tapi ia telah menunaikan amanah lisannya.
Itulah hakikat orang yang menasihati karena Allah.”
__________________________
Manusia diciptakan dengan potensi menuju tingkatan paling tinggi (taqarrub kepada Allah) atau tergelincir ke tingkat paling rendah (lebih rendah dari hewan).
Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ • ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
_“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya_.”
(QS. At-Tīn [95]: 4–5)
■ Empat Sifat Dasar dalam Diri Manusia (Menurut Imam al-Ghazali)
1. Sifat Bahīmiyyah (Hewani / Nafsu Syahwat)
Asalnya dari kata bahīmah, artinya binatang ternak.
Mengendalikan keinginan jasmani: makan, minum, tidur, seks, dan kesenangan duniawi.
Jika tidak dikendalikan oleh akal dan iman, sifat ini menjerumuskan manusia dalam rakus, tamak, malas, dan syahwat yang berlebihan.
● Ihya’, Juz 3: “Sifat bahīmiyyah adalah dorongan perut dan farji yang jika tidak dijaga, menjatuhkan manusia di bawah derajat hewan.”
● Latihan pengendalian: Puasa, qana‘ah (merasa cukup), dan muraqabah (merasa diawasi Allah).
2. Sifat Sabu‘iyyah (Buas / Amarah)
Dari kata sabu‘ = binatang buas.
Mendorong manusia untuk marah, berperang, sombong, keras hati, dan s**a menindas.
Bila tidak dikendalikan, sifat ini menumbuhkan kebencian, dendam, dan kezaliman.
Namun bila diarahkan dengan benar, sifat ini menjadi semangat membela kebenaran dan keberanian dalam jihad.
● Latihan pengendalian: Menahan amarah, sabar, tawadhu‘, dan lembut kepada makhluk.
3. Sifat Syaiṭāniyyah (Kejahatan / Tipu Daya)
Sumbernya dari bisikan setan dalam diri manusia.
Ciri: licik, sombong, menipu, iri, dan senang menyesatkan orang lain.
Inilah sifat yang membuat manusia berakal tapi menyeleweng, menggunakan kecerdasannya untuk keburukan.
Imam Ghazali: “Syaitan dalam diri manusia ialah akalnya yang tidak disinari wahyu.”
● Latihan pengendalian: Dzikir, istighfar, dan menjaga kejujuran hati.
4. Sifat Malakiyyah (Malaikat / Ruhani)
Ini adalah sisi fitrah suci dan cahaya akal yang tunduk kepada Allah.
Sifat ini mendorong manusia kepada ilmu, ibadah, kasih sayang, dan cinta kebenaran.
Ketika sifat ini yang menguasai, manusia naik ke maqam al-insān al-kāmil (manusia sempurna).
● Cara menguatkannya: Dzikir, tafakkur, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mujahadah (melawan hawa nafsu).
Ustadz juga mengutip ungkapan dari Kitab Al-Ḥikam karya Imam Ibn ‘Aṭho’illah as-Sakandarī, salah satu kitab tasawuf yang sangat dalam maknanya.
إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ لَكَ فَضْلَهُ، خَفَى عَنْكَ فِعْلَكَ، وَأَظْهَرَ فِيهِ فَضْلَهُ. وَلَا يَضُرُّكَ ذَنْبٌ إِذَا وَاجَهَتْكَ عِنَايَتُهُ، كَمَا لَا يَنْفَعُكَ طَاعَةٌ إِذَا حَلَّتْ عَلَيْكَ قِسْوَتُهُ.
Artinya
“Apabila Allah hendak menampakkan karunia-Nya kepadamu, maka Dia akan menutupi amalmu dan menampakkan keutamaan-Nya atasmu.
Tidak akan membahayakanmu dosa, jika engkau telah diliputi oleh kasih sayang dan perhatian-Nya; sebagaimana tidak bermanfaat bagimu ketaatan, jika engkau dikuasai oleh kekerasan hati-Nya.”
■Makna dan Penjelasan
Bukan berarti dosa tidak berbahaya, tetapi maksudnya: jika Allah sudah membuka hijab (tabir) antara hamba dan-Nya, lalu menariknya dalam rahmat dan taufik, maka rahmat itu bisa menghapus jejak keburukan masa lalu.
Allah berfirman:
“إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا”
_"Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa."_(QS. Az-Zumar: 53)
Imam Ibn ‘Aṭho’illah ingin menegaskan bahwa hidayah dan pembukaan hijab (kasyf) adalah pemberian murni dari Allah, bukan hasil perhitungan amal manusia.
Maka bila Allah menghendaki, seseorang yang dulunya durhaka bisa dibuka hatinya, lalu menjadi wali dan kekasih Allah dalam sekejap.
■ Pandangan Imam al-Ghazali
Dalam Ihya’ Ulumiddin, beliau juga berkata serupa:
“Barangsiapa dibukakan mata hatinya oleh Allah, niscaya ia melihat kebesaran Allah dalam setiap sesuatu, walaupun sebelumnya ia tenggelam dalam dosa.”
— (Ihya’, Kitab Tafakkur wa Ma‘rifah)
Demikian Rangkuman dengan tambahan penjelasan dari sumber lain ,semoga bermanfaat
والله اعلم
🙏🏻☕
Abdullah bs
Disclaimer:
Banyak ayat dan narasi yg tidak bisa kami kutip karena keterbatasan ingatan.