Putra-Putri Servatius

Putra-Putri Servatius Manusia untuk yang lain:

Satu KATA,
Satu HATI,
Satu SEMANGAT,
SERVATIUS! One for Others

29/11/2013

Pak Stevie adalah "Bapak" putra putri Servas. Selamat jalan B**g

Senengnya punya Paus yang MENYENANGKAN.
14/11/2013

Senengnya punya Paus yang MENYENANGKAN.

On his second day in office Pope Francis greeted his brother cardinals. The audio wasn't captured, but I've added it here. For more videos see BrandonVogt.co...

Gladi Rohani 2013 diikuti oleh anak-anak penerima Komuni Pertama 2013.
16/09/2013

Gladi Rohani 2013 diikuti oleh anak-anak penerima Komuni Pertama 2013.

02/02/2013

Hai, teman-teman Bina Iman Remaja (BIR) Putra Putri Servas, kita kumpul lagi nyoooook
Hari: Minggu,
Tanggal: 3 Februari 2013,
Jam: 16.00 - 18.00 wib
Tempat: Ruang Bernardus, gereja St. Servatius
Acaranya seru banget deh, kita akan bernyanyi bermain dan tidak lupa mendengar dan merenungkan Sabda Allah dan Tuhan Yesus dengan suasana santai tapi serius lho.

Tema pertemuan kita kali ini, "Mengapa Kita Berdoa"?
Pendamping utama tema ini, Tante/Bu Susi.

Siapa saja yang boleh ikut?
Semua yang sudah menerima komuni (sakramen ekaristi).

Ingatkan papa/mama, ayah/bunda, bapak/ibu kalian untuk mengantar ke gereja.

Ditunggu kehadirannya lho...

Salam Servas.

25/04/2012

Kisah Para Imam Katolik di Kapal Titanic

Father Thomas Byles

Tahun 2012 ini dunia mengenang 100 tahun tenggelamnya Kapal Titanic. Kisah tenggelamnya kapal ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama “Titanic”. Bagi mereka yang pernah me-nonton film “Titanic”, di suatu scene kepanikan yang terjadi di kapal Titanic menjelang tenggelamnya kapal tersebut, kita melihat bahwa ada sejumlah imam Katolik sedang mendengarkan pengakuan dosa umat atau sedang memimpin umat berdoa bersama-sama.

Apakah scene tersebut hanyalah sekadar scene fiksi di dalam film tersebut ataukah memang benar-benar terjadi?

Well,umat Katolik sekalian, hal itu benar-benar terjadi. Berbagai dokumentasi historis mengenai Titanic menyebutkan sejumlah Imam Katolik melakukan pelayanan imamatnya di Kapal Titanic tersebut.

Satu nama yang terkenal adalah Romo Thomas Byles yang lahir pada tanggal 26 Februari 1870 di Yorkshire, Inggris. Dia adalah anak pertama dari tujuh bersaudara bagi pasangan Protestan Louisa Davids dan Alfred Holden Byles. Ayahnya adalah seorang pendeta Kongregasionalis dan pebisnis yang sukses. Pada saat melanjutkan pendidikan ke Balliol College, Oxford, Thomas Byles muda berpindah menja-di Katolik dan kemudian masuk ke Seminari Katolik dan ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 15 Juni 1902.

Adiknya, William yang juga berpindah menjadi Katolik merantau ke Amerika untuk menjalankan bisnis karet. Di sana, William bertemu pasangannya dan berencana menikah. William meminta Romo Thomas Byles datang untuk memimpin Upacara Pernikahan mereka.

Romo Thomas Byles pun menumpang kapal Titanic. Berikut ini data mengenai Romo Thomas Byles.

Name: Fr. Thomas Roussel Davids Byles
>Born: Saturday 26th February 1870
>Age: 42 years
>Last Residence: in London, England
>Occupation: Priest / Minister 2nd Class passenger
>First Embarked: Southampton on Wednesday 10th April 1912Ticket No. 244310, £13
>Destination: Jacksonville Florida United States

Seperti yang kita ketahui, Kapal Titanic kemudian menabrak gunung es dan perlahan-lahan mulai tenggelam. Laporan-laporan yang ada menyebutkan bahwa Romo Thomas Byles sedang mendaraskan brevir (Ibadat Harian) di dek atas kapal ketika Titanic menabrak gunung es pada hari Minggu, 14 April 1912.

Berdasarkan para saksi, saat kapal sedang tenggelam, Romo Thomas Byles menolong para wanita dan anak-anak untuk masuk ke dalam sekoci penyelamat, kemudian ia mendengarkan pengakuan dosa umat, memberikan pengampunan dosa, dan memimpin para penumpang di tengah kepanikan tersebut untuk berdoa Rosario.

Agnes McCoy, salah satu dari korban yang selamat, menyatakan bahwa ketika kapal besar tersebut sedang tenggelam, Romo Byles “berdiri di dek dengan umat Katolik, Protestan dan Yahudi berlutut di sekitarnya.”

“Romo Byles sedang mendaraskan Rosario dan berdoa bagi kedamaian kekal jiwa-jiwa mereka yang akan binasa.” Demikian kata Agnes kepada New York Telegram pada 22 April 1912 berdasarkan pada website yang didedikasikan untuk mengenang Romo Thomas Byles, FatherByles.com.

Dalam kenangan teman imamat Romo Thomas Byles, Romo Patrick McKenna, “Ia dua kali menolak tawaran tempat di perahu [penyelamat], dan berkata tugasnya adalah tetap tinggal di kapal ketika satu jiwa meminta pelayanannya.”

Sedangkan Encyclopedia Titanica menyebutkan bahwa “Romo Byles adalah seorang pahlawan sampai akhir, [ia] menolong penumpang kelas tiga naik ke tangga, ke dalam perahu-perahu, mendengarkan pengakuan dosa dan berdoa bersama dengan mereka yang tidak dapat melarikan diri. Beberapa surat kabar melaporkan bahwa dia ditawari sebuah kursi [di perahu penyelamat] tetapi ia menolaknya.

Encyclopedia Titanica juga mengutip pernyataan seorang korban selamat lainnya mengenai Romo Byles: “[Sembari] melanjutkan doa-doa, ia membawa kami ke tempat di mana perahu diturunkan. [Ia] mem-bantu para wanita dan anak-anak dengan membisikkan kepada mereka kata-kata penghiburan dan peneguhan.” - Miss Bertha Moran dalam The Evening World, April 22, 1912

The Church Progress di St. Louis, Missouri pada 25 April juga menuliskan sebuah pernyataan yang menegaskan heroisme Romo Byles.
“... di hampir setiap baris yang telah ditulis dan di setiap kalimat yang telah diucapkan, berdiri dengan teguh di atas setiap ekspresi lain gambaran kepahlawan yang luhur yang akan disalin ke dalam halaman halaman sejarah. Dan juga mungkin, karena hal ini patut mendapatkan kehormatan itu.
Tetapi ketika itu, sebutan [pahlawan] harus diberikan kepada seseorang yang pena dan lidah hampir lupakan dalam laporan mereka akan tragedi laut yang mengerikan. Di antara mereka yang dengan selamat mencapai daratan kembali, tampaknya tidak ada seorang pun yang sadar akan kehadirannya di kapal, tetapi kita dapat berharap bahwa banyak orang yang bertemu dengannya dalam kebahagiaan kekal [di surga] akan memuji Allah Bapa bahwa Romo Thomas Byles ada di sana untuk memberikan pengampunan dosa kepada mereka.

Romo Thomas Byles kemudian meninggal, tenggelam bersama kapal Titanic. Tubuhnya, bila seandainya ditemukan, tidak pernah teridentifikasikan. Dalam suatu audiensi pribadi dengan William (adiknya Romo Byles) dan istrinya, Paus St. Pius X mendeklarasikan Romo Byles sebagai martir bagi Gereja.

Di salah satu surat yang pernah ditulisnya, Romo Byles menyebutkan dua imam lainnya yang naik kapal Titanic sebagai penumpang kelas dua. Mereka bersama-sama dengan Romo Byles melaksanakan pe-layanan imamat mereka di Titanic. Mereka adalah Imam Benediktin Jerman bernama Romo Josephus M. Peruschitz, OSB dan Imam Diosesan Lithuania bernama Romo Juozas Montvila. Tentang mereka, seorang penumpang kelas dua Titanic bernama Ellen Toomey menyebutkan bahwa Montvila, Peruschitz dan Byles mengadakan Perayaan Ekaristi setiap hari di dalam kapal Titanic.

Father Juozas Montvila

Romo Juozas Montvila(27 tahun) adalah seorang imam muda dari Negara Lithuania. Ia memegang teguh panggilannya sampai akhir dengan menolak salah satu kursi baginya di perahu penyelamat dan me-milih melaksanakan tugas imamatnya bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan. Ia meninggal bersama dengan tenggelamnya Titanic. Dia dianggap sebagai pahlawan di Lithuania dan sekarang dipertimbangkan untuk dikanonisasi oleh Gereja Katolik.

Father Josephus Peruschitz, OSB

Romo Josephus Peruschitz (42) sendiri bersama-sama dengan Romo Thomas Byles dan Romo Juozas Montvila pada saat Titanic sedang tenggelam juga memberikan Sakramen Tobat kepada para penum-pang Titanic yang akan meninggal. Sama seperti kedua imam heroik di atas, Romo Peruschitz juga menolak kursi yang disediakan baginya di perahu penyelamat dan memilih tetap di Titanic untuk menye-lamatkan jiwa-jiwa para pendosa sekalipun ia harus kehilangan nyawanya.

Kisah ketiga imam heroik ini memang nyaris tidak pernah terdengar di telinga banyak umat Katolik sendiri. Dan kita harus bersyukur sekarang bahwa akhirnya kita bisa mendengar kisah heroik mereka. Romo Thomas Byles, Romo Juozas Montvila dan Romo Josephus Peruschitz, OSB lebih memilih menyelamatkan orang lain tidak hanya dengan tindakan nyatanya menolong para korban tetapi juga dengan kuasa imamatnya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ia membawa keselamatan duniawi dan keselamatan surgawi kepada banyak orang. Saya yakin, mereka sudah berada di surga sekarang.

Pax et Bonum, ditulis oleh Indonesian Papist.

Referensi:
Encyclopedia Titanica
Life Site News
Father Thomas Byles of The Titanic
Jean Elizabeth Seah

07/04/2012
04/04/2012

"Kisah gadis cilik papa yang dilarang masuk ke sekolah minggu."
"Tempatnya sudah penuh....," kata sang guru, melirik pakaian kumal si gadis.
Si gadis menunduk lesu, jongkok menunggu di depan pintu. Lewat seorang pastur muda, menyapa si gadis cilik, mengapa tidak masuk. Si gadis menjawab lirih, katanya tempatnya sudah penuh.
Si pastur muda menuntun si gadis penuh kasih, masuk ke dalam kelas, mencari bangku kosong di depan. Si gadis disuruh duduk. Semenjak itu mereka berteman baik. Pastur muda membimbing si gadis cilik, menemukan damai di dalam gereja.

Dua tahun berlalu, karena sakit menahun, si gadis meninggal dunia.

Dengan penuh kesedihan pastur muda ke rumah si gadis, membantu membereskan barang2 si gadis yang tidak seberapa.
Di dalam sebuah laci lemari yang usang, ditemukan sebuah saputangan kumal. Terbungkus di dalamnya,...

sepucuk surat yang ditulis tangan & segenggam uang logam 57 sen, hasil tabungannya selama dua tahun lebih. "...saya ingin menyumbangkan uang ini... untuk membangun gereja.... sehingga bisa menampung lebih banyak anak2 seperti saya....".

Si pastur muda tak kuasa menahan airmata yang mengambang. Airmata menetes deras membasahi surat. Sebuah suratkabar lokal mendengar kisah ini. Ditulis & diterbitkan.
Kuasa Tuhan sungguh luar biasa. Seorang malaikat cilik telah dikirimkan olehNYA, 'tuk menyentuh mereka yang berhati keras.
Sumbangan mengalir deras.
Tanah, uang & bangunan, serta tenaga sukarela.
Kini berdiri megah mengelilingi gereja, sebuah sekolah baru, rumah sakit & gereja lebih besar.
Uang 57 sen mungkin tak seberapa, mungkin tak kan berarti apa2, namun telah menggerakkan sebuah kemanusiaan.

Bukan lah nilai atau seberapa besar nilai yang ada tapi seberapa berharga sesuatu yang dimiliki yang kita persembahkan

Thanks For Everything..... God

05/11/2011

Gw mulai skrg mau belajar seperti Andoy.. Kadang ketika gw beranjak dewasa, iman murni gw mulai luntur kemakan sama masalah duniawi.. Gw kurang bersyukur atas hidup gw, kurang respect akan orang tua.. Tetapi gw mau belajar seperti Andoy, sehingga gw orang ke2 yg membuat Tuhan menangis.. Inspiratif a...

Address

Bekasi
17415

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Putra-Putri Servatius posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share