18/02/2026
MEMBANGUN KESHALIHAN ANAK
DENGAN SHIYAM DAN QIYAM RAMADHAN
Oleh : Ilham Akbar Umri
الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد :
|| PENDIDIKAN ANAK ADALAH TANGGUNG JAWAB ORANG TUA ||
Di antara karunia Allah kepada seseorang adalah adanya anak keturunan. Keberadaan mereka merupakan perhiasan indah bagi kehidupan orang tuanya. Allah berfirman :
{ ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِینَةُ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۖ }
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia....”
[Surat Al-Kahfi: 46]
Meskipun tetap seseorang diingatkan agar keberadaan mereka tidak menyibukkan dari urusan akhiratnya. Oleh karena itu Allah melanjutkan :
{ .... وَٱلۡبَـٰقِیَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَیۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابࣰا وَخَیۡرٌ أَمَلࣰا }
“.... tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
[Surat Al-Kahfi: 46]
Berkata Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah :
والمُرادُ مِنَ الآيَةِ الكَرِيمَةِ تَنْبِيهُ النّاسِ لِلْعَمَلِ الصّالِحِ؛ لِئَلّا يَشْتَغِلُوا بِزِينَةِ الحَياةِ الدُّنْيا مِنَ المالِ والبَنِينَ عَمّا يَنْفَعُهم في الآخِرَةِ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الأعْمالِ الباقِياتِ الصّالِحاتِ
“Yang dimaksud dari ayat yang mulia ini adalah memberikan perhatian kepada manusia untuk beramal shalih. Agar mereka tidak disibukkan oleh perhiasan kehidupan dunia, baik itu harta ataupun anak keturunan, dari amal-amal shalih yang bermanfaat bagi mereka di akhirat di sisi Allah.” (Adhwaa-ul Bayan : 3/1207)
Dan di sisi lain, Allah menetapkan kewajiban bagi orang tua untuk melindungi anak-anaknya dengan memberikan pendidikan ilmu dan adab. Allah berfirman :
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَیۡهَا مَلَـٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظࣱ شِدَادࣱ لَّا یَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَاۤ أَمَرَهُمۡ وَیَفۡعَلُونَ مَا یُؤۡمَرُونَ }
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[Surat At-Tahrim: 6]
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah :
" ووقاية الأهل [والأولاد]، بتأديبهم وتعليمهم "
“Melindungi keluarga dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mengajarkan adab dan ilmu kepada mereka.” (Taisiirul Kariimir Rahman : 835)
Rasulullahﷺ bersabda :
" أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ "
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (Muttafaqun alaihi dari Abdullah bin Umar)
Berkata Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolany rahimahullah :
والراعي هو الحافظ المؤتمن الملتزم صلاح ما اؤتمن على حفظه فهو مطلوب بالعدل فيه والقيام بمصالحه
“Ar Ra’ii (pemimpin) adalah seorang penjaga lagi diberi amanah yang berkewajiban (memperhatikan) baiknya amanah yang dijaga, sehingga dia dituntut untuk adil di dalamnya dan menegakkan kemaslahatan-kemaslahatannya.” (Fathul Bari : 13/140)
|| DOA-DOA YANG DINAIKKAN KE LANGIT UNTUK KESHALIHAN ANAK ||
Karena tanggung jawab tersebut, maka anak yang shalih dan shalihah menjadi dambaan bagi setiap orang tua. Sehingga berbagai upaya dilakukan dan doa dipanjatkan agar sang anak menjadi hasil usaha yang baik bagi orang tuanya.
Banyak di dalam Al Qur’an doa-doa yang diajarkan kepada kita melalui lisan para nabi alaihimus salam agar memiliki anak keturunan yang shalih, menjadi penyejuk pandangan, dan terhindar dari sifat-sifat yang tidak diridhai oleh Allah.
Yang sangat menakjubkan dalam masalah ini adalah begitu banyaknya doa-doa kebaikan untuk anak keturunan yang dipanjatkan oleh Khalilurrahman (kekasih Allah), yang juga merupakan imaamul hunafa’ (pemimpin orang-orang yang bertauhid), yaitu Nabi Ibrahim alaihis salam.
Beliau berdoa agar dikaruniai anak yang shalih :
{ رَبِّ هَبۡ لِی مِنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ }
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”
[Surat Ash-Shaffat: 100]
Beliau juga berdoa agar anak keturunannya terhindar dari menyembah berhala :
{ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰهِیمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنࣰا وَٱجۡنُبۡنِی وَبَنِیَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ }
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.
[Surat Ibrahim: 35]
Beliau juga berdoa agar anak keturunannya menjadi pelaksana shalat yang baik :
{ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِی مُقِیمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّیَّتِیۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَاۤءِ }
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
[Surat Ibrahim: 40]
Beliau juga berdoa untuk anak keturunannya agar menjadi ummat yang berpasrah diri kepada Allah :
{ رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّیَّتِنَاۤ أُمَّةࣰ مُّسۡلِمَةࣰ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَیۡنَاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِیمُ (128) رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡهُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِكَ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَیُزَكِّیهِمۡۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ (129) }
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.(128) Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.(129)
[Surat Al-Baqarah: 128-129]
Nabi Zakaria alaihis salam berdoa :
{ هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِیَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِی مِن لَّدُنكَ ذُرِّیَّةࣰ طَیِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِیعُ ٱلدُّعَاۤءِ }
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
[Surat Ali ‘Imran: 38]
Dan di antara doa yang dipanjatkan oleh ibadurrahman (yaitu hamba-hamba Allah yang dijanjikan surga) :
{ وَٱلَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰجِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا }
Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
[Surat Al-Furqan: 74]
|| PERAN SHALAT DAN PUASA BAGI KESHALIHAN SESEORANG ||
Tidak diragukan lagi bahwa shalat dan puasa merupakan dua bagian penting dalam bangunan islam. Keduanya merupakan rukun islam yang harus terpelihara dengan baik agar keislaman seseorang juga baik.
Beberapa keterangan menjelaskan tentang pengaruh shalat dan puasa yang sangat besar terhadap keshalihan seseorang.
Allah berfirman :
{ ٱتۡلُ مَاۤ أُوحِیَ إِلَیۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ }
Bacalah Kitab (Al-Qur`ān) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Ankabut: 45]
Berkata Syaikh As Sa’dy rahimahullah :
ووجه كون الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر، أن العبد المقيم لها، المتمم لأركانها وشروطها وخشوعها، يستنير قلبه، ويتطهر فؤاده، ويزداد إيمانه، وتقوى رغبته في الخير، وتقل أو تعدم رغبته في الشر، فبالضرورة، مداومتها والمحافظة عليها على هذا الوجه، تنهى عن الفحشاء والمنكر، فهذا من أعظم مقاصدها وثمراتها
“Alasan utama shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar adalah bahwa hamba yang menegakkan shalat dengan menyempurnakan rukun-rukun, syarat-syarat, serta kekhusyukan, niscaya hatinya tersinari, hatinya bersih, keimanannya bertambah, keinginannya terhadap kebaikan menguat, dan keinginannya terhadap keburukan mengecil atau lenyap. Sehingga, secara otomatis merutinkannya dan menjaganya dengan cara seperti ini akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Maka ini merupakan maksud dan buah paling agung dari ibadah tersebut.” (Taisiirul Kariimir Rahman : 602)
Rasulullah ﷺ bersabda :
" إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ "
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada seorang hamba di hari kiamat dari adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia telah beruntung dan lulus. Dan jika shalatnya rusak, maka dia menyesal dan merugi. Maka apabila ada yang kurang dari shalat fardhunya, Allah berfirman : lihatlah, adakah dia memiliki shalat nafilah? Lalu disempurnakanlah dengannya shalat fardhunya. Kemudian begitulah seluruh amalnya.” (HR. Abu Dawud no. 864, At Tirmidzi no. 413, An Nasa’i no. 466, dan Ibnu Majah no. 1425 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Demikian p**a dengan puasa yang memang fungsinya utamanya sebagai junnah (perisai) yang melindungi diri dari perbuatan dosa di dunia dan melindungi diri dari api neraka di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda :
" الصِّيَامُ جُنَّةٌ "
“Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151)
Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah :
ومعناه : سترة ومانع من الرفث والآثام ، ومانع أيضا من النار
“Dan makna (junnah) adalah pelindung dan penghalang dari ucapan kotor dan perbuatan-perbuatan dosa, serta penghalang juga dari api neraka.” (Al Minhaj : 3/485)
Berkata Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolany rahimahullah :
وقال ابن العربي : إنما كان الصوم جنة من النار؛ لأنه إمساك عن الشهوات، والنار محفوفة بالشهوات.
Ibnul Araby berkata : “Sesungguhnya shaum menjadi perisai dari api neraka, karena ia menahan dari syahwat, sedangkan neraka diliputi oleh syahwat.” (Fathul Bari : 4/135)
Bahkan para pemuda yang tidak memiliki kemampuan untuk menikah saja diperintahkan untuk berpuasa, karena memang bisa meredam dan memutus syahwat. Rasulullah ﷺ bersabda :
" يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ ؛ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؛ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ "
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu, maka hendaklah dia menikah. Karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya ia menjadi wijaa’ baginya.” (HR. Bukhari no. dan Muslim no. 1400)
Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata :
" وهو رض الخصيتين، والمراد هنا أن الصوم يقطع الشهوة ، ويقطع شر المني، كما يفعله الوجاء "
“(wijaa’) adalah meremukkan dua te**is (kebiri), dan yang dimaksud di sini adalah bahwa puasa memutus syahwat dan memutus keburukan air mani, sebagaimana wijaa’ berlaku.” (Al Minhaj : 4/301)
|| JALAN PENTING YANG HARUS DITEMPUH OLEH PARA ORANG TUA ||
Dari keterangan di atas menjadi jelas bahwa shalat dan puasa berperan penting bagi keshalihan seseorang. Sehingga sepatutnya bagi orang tua berupaya menganjurkan dan mengajarkan anak-anak untuk menegakkan shalat. Allah berfirman :
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَیۡهَا مَلَـٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظࣱ شِدَادࣱ لَّا یَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَاۤ أَمَرَهُمۡ وَیَفۡعَلُونَ مَا یُؤۡمَرُونَ }
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[Surat At-Tahrim: 6]
Berkata Al Imam Ibnu Katsir dalam menerangkan ayat ini :
" وَفِي مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ الْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيُّ، مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَة، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا" "
“Dan masuk dalam makna ayat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi dari hadits Abdul Malik bin Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya, dari kakeknya berkata : Rasulullah ﷺ bersabda : “ Perintahkan anak untuk shalat jika mencapai tujuh tahun, dan apabila mencapai sepuluh tahun pukullah dia atasnya.”
Kemudian beliau melanjutkan :
" قَالَ الْفُقَهَاءُ: وَهَكَذَا فِي الصَّوْمِ؛ لِيَكُونَ ذَلِكَ تَمْرِينًا لَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ، لِكَيْ يَبْلُغَ وَهُوَ مُسْتَمِرٌّ عَلَى الْعِبَادَةِ وَالطَّاعَةِ وَمُجَانَبَةِ الْمَعْصِيَةِ وَتَرْكِ الْمُنْكَرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ "
“Berkata para fuqoha’ : demikian p**a pada puasa, agar menjadi latihan baginya untuk beribadah, agar dia masuk usia baligh dalam keadaan terus menjalankan ibadah, ketaatan, menjauhi maksiat, dan meninggalkan kemungkaran. Dan Allah-lah pemberi taufik.” (Tafsiirul Qur’anil Adzim : 4/518)
Memerintahkan anak-anak untuk menegakkan shalat adalah kebiasaan Nabi Ismail yang dipuji oleh Allah. Allah berfirman :
{ وَٱذۡكُرۡ فِی ٱلۡكِتَـٰبِ إِسۡمَـٰعِیلَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلۡوَعۡدِ وَكَانَ رَسُولࣰا نَّبِیࣰّا (54) وَكَانَ یَأۡمُرُ أَهۡلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرۡضِیࣰّا (55) }
Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur`ān). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.(54) Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridai di sisi Tuhannya.(55)
[Surat Maryam: 54-55]
Luqman orang shalih pun memerintahkan putranya untuk menegakkan shalat. Allah berfirman menghikayatkan perkataan Luqman :
{ یَـٰبُنَیَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَاۤ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَ ٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ }
“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”
[Surat Luqman: 17]
Rasulullah ﷺ juga diperintahkan untuk memerintahkan keluarga, yang juga termasuk anak, agar menegakkan shalat. Allah berfirman :
{ وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَیۡهَاۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقࣰاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَـٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ }
Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.
[Surat Tha-Ha: 132]
Bahkan, Rasulullah ﷺ pernah mendatangi rumah putrinya yang telah berumah tangga untuk membangunkan perhatian terhadap qiyamullail.
عن عَلِيّ بْن أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَيْلَةً فَقَالَ : " أَلَا تُصَلِّيَانِ ؟
Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi beliau dan Fatimah di suatu malam lalu berkata : “Tidakkah kalian shalat?” (Bukhari no. 1127 & Muslim no. 775)
Allah juga mencela para generasi yang menyia-nyiakan shalat, sehingga mereka pun lebih menuruti syahwat. Allah berfirman :
{ ۞ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَ ٰتِۖ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ غَیًّا }
Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.
[Surat Maryam: 59]
Dan pada masalah puasa Imam Al Bukhari menulis di dalam shahihnya “باب صوم الصبيان” yaitu Bab Puasanya Anak-Anak. Beliau membawakan riwayat hadits berikut :
عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ : أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ : " مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ ". قَالَتْ : فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ.
Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz berkata : Nabi ﷺ mengirim utusan di pagi hari asyura’ ke desa orang Anshar (dengan pesan) : “Barangsiapa di antara kalian telah makan pagi, maka hendaklah menyempurnakan sisa harinya. Dan barangsiapa berpuasa, maka teruslah berpuasa.” Beliau (Ar Rubayyi’) berkata : setelah itu kami berpuasa asyura’ dan memerintahkan anak-anak kecil kami puasa. Dan kami jadikan untuk mereka mainan dari wol. Jika salah seorang mereka menangis karena makanan, kami memberikannya mainan itu sampai waktu berbuka.
(HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)
Berkata Al Imam An Nawawi :
وفي هذا الحديث تمرين الصبيان على الطاعات ، وتعويدهم العبادات ، ولكنهم ليسوا مكلفين
“Dan di dalam hadits terdapat pelatihan bagi anak-anak untuk melakukan berbagai macam ketaatan dan membiasakan berbagai bentuk ibadah, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang terkena beban syariat.” (Al Minhaj : 3/470)
Berkata Ibnu Hajar Al Asqolany :
وفي الحديث حجة على مشروعية تمرين الصبيان على الصيام كما تقدم؛ لأن من كان في مثل السن الذي ذكر في هذا الحديث فهو غير مكلف، وإنما صنع لهم ذلك للتمرين.
“Di dalam hadits ini terdapat hujjah akan disyariatkannya pelatihan puasa terhadap anak-anak sebagaimana yang telah lalu, karena anak yang berusia seperti yang disebutkan dalam hadits tidaklah mukallaf (terkena beban syariat), akan tetapi hal itu dilakukan kepada mereka untuk melatih.” (Fathul Bari : 4/257)
|| RAMADHAN, IALAH WAKTUNYA ||
Dan pada bulan Ramadhan ini secara khusus, momentum pengajaran shalat dan puasa pada anak dapat dimanfaatkan. Pelatihan shalat dengan qiyam di malam harinya dan pelatihan puasa dengan shiyam di siang harinya. Bahkan Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengibaratkan keduanya sebagai dua jihad di bulan Ramadhan.
اعلَم أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه :
١ – جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام ،
٢ – وجهادٌ باللَّيل على القِيام ،
فمَن جمعَ بينَ هذَين الجهادَين ، ووَفَّى بحُقُوقهما ،وصَبَر عليهما ، وفّى أجرَه بغَير حسَابٍ .
“Ketahuilah bahwasanya pada bulan Ramadhan, berkumpul pada seorang mukmin 2 bentuk Jihad :
1. Jihad di siang hari dengan Shiyam (puasa)
2. Jihad di malam hari dengan Qiyamullail
Barangsiapa yang mengumpulkan 2 jihad ini seraya menuaikan hak-haknya serta bersabar dalam menjalankan keduanya, maka Allah menunaikan balasannya tanpa batas.” (Lathaaiful Ma’aarif : 319)
Rasulullah ﷺ bersabda :
" مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ".
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan harapan pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
Rasulullah ﷺ juga bersabda :
" مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ".
“Barangsiapa melakukan qiyam di bulan Ramadhan karena keimanan dan harapan pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)
Al Imam An Nawawi menjelaskan :
" والمراد بقيام رمضان صلاة التراويح، واتفق العلماء على استحبابها "
“Yang dimaksud dengan qiyam ramadhan adalah shalat tarawih, dan sepakat para ulama’ akan sunnahnya.” (Al Minhaj : 3/74)
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai anak yang shalih dan shalihah, yang menjadi penyejuk pandangan, serta dimuliakan oleh Allah dengan dikumpulkan di dalam surga bersama-sama keluarga.
{ جَنَّـٰتُ عَدۡنࣲ یَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَاۤىِٕهِمۡ وَأَزۡوَ ٰجِهِمۡ وَذُرِّیَّـٰتِهِمۡۖ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ یَدۡخُلُونَ عَلَیۡهِم مِّن كُلِّ بَابࣲ (23) سَلَـٰمٌ عَلَیۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ (24) }
(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(23) (Sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atas kamu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.(24)
[Surat Ar-Ra’d: 23-24]
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم