14/05/2026
Prestasi PBNU Di Era KH. Said Agil Siraj Dapat Dilihat Sampai Sekarang
Kalau bicara prestasi, periode Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan Ketua Umum Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA, antara Tahu. 2010-2021, saya sedikitpun tak bisa mengingkari, bahwa era ini, NU melakukan lompatan besar baik dari segi jumlah anggota, wacana keilmnuan, maupun program layanan yang sepanjang masa NU dikatakan tertinggal.
Data Survei Tahun 2009, menempatkan angka jumlah populasi warga NU, atau responden yang mengaku dirinya warga NU di angka 34%, atau setara 79,6 juta, jika sesuai data BPS jumlah penduduk Indonesia saat itu adalah 234 juta jiwa,.
Sepuluh tahun kemudian, tahun 2019, menurut survey Lembaga Survei Indonesia, dengan metode multi random sampling, jumlah responden yang dengan sadar mengaku dirinya sebagai warga NU mencapai 49,5% dari populasi 267 juta jiwa, maka mereka yang mengaku dirinya NU mencapai angka 132 juta jiwa, dan diakui atau tidak, keberanian orang mengaku NU antara lain karena adanya kebanggaan terhadap organisasi yang saat itu digawangi oleh Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA. sebagai Ketua Umum.
Pada periode tersebut, tercatat perkembangan perguruan tinggi NU yang sangat signifikan. Tercatat ada 32 tambahan kampus NU baru, di bawah pembinaan Lembaga Perguruan Tinggi PBNU, dan berdirinya 20 Rumah Sakit NU dan ratusan klinik kesehatan di seluruh Indonesia. Angka yang terlihat kecil bola dibanding dengan capaian Muhammadiyah, tetapi jika dirinut dari kesejarahan NU, sungguh jumlah yang sangat signifikan.
Jumlah itu belum termasuk data penambahan pilihan Ma'had Ali, yakni lembaga pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren dengan fokus pada kajian Islam mendalam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab kuning, yang disetarakan dengan Perguruan Tinggi formal.
Maraknya kaderisasi juga begituencolok pada sepuluh tahun periode ini, sejak dari Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU yang digawangi langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU saat itu, Drs. KH. As'ad Said Ali, dan pengkaderan lain yakni Madrasah Kader NU, yang keduanya berlomba menciptakan kader militan di berbagai lokasi.
Lima tahun usai kepengurusan beliau, data penambahan perguruan tinggi dan rumah sakit belum dirilis, survei kecenderungan jumlah pengikut juga belum dilakukan, tetapi melihat geliat di masyarakat, terlihat cenderung stagnan, atau bisa jadi berkurang, kalau dilihat dari angka prosentase, walaupun periode ini, juga menorehkan prestasi luar biasa dalam melanjutkan kaderisasi serta program baru "Digdaya NU", yang membuat secara administrasi, NU lebih tertib dan profesional.
Maka, bukan sesuatu yang mengada-ada, kalau kedua kelebihan ini dikombinasikan untuk makin memperkuat NU di masa mendatang, yakni menggabungkan kecepatan gerakan ala Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA, dengan ketertiban dan kecermatan berorganisasi model KH. Yahya Cholil Staquf. Keduanya memiliki intelektualitas, akar kultural dan keberanian yang diakui semua pihak, juga memiliki jaringan luas nasional maupun internasional, yang kian mengokohkan peran NU di dunia.
Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA. sebagai Rais Aam, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf sebagai Ketua Umum. Bagaimana menurut anda?