02/07/2026
Kajian Rutin Jum'at bada Subuh Syarah Tafsir Surat Al Baqarah.
Terjemahan Tafsir As-Sa'di (Surat Al-Baqarah: 259)
Ini juga merupakan dalil (bukti) lain atas keesaan Allah dalam hal penciptaan, pengaturan, mematikan, serta menghidupkan. Allah berfirman:
"Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah runtuh hingga menutupi (puing-puing) atap-atapnya..."
Maksudnya, penduduk negeri tersebut telah binasa dan lenyap, serta dinding-dindingnya runtuh menimpa atap-atapnya. Tidak ada lagi satu pun manusia di sana, melainkan telah menjadi tempat yang sunyi senyap dan kosong dari penduduknya.
Lalu orang tersebut berdiri memandangi negeri itu dengan penuh keheranan dan berkata:
"...Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?..."
Ucapan ini muncul karena ia menganggap mustahil hal itu terjadi dan karena ketidaktahuannya akan kekuasaan Allah Ta'ala. Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi orang tersebut, Allah memperlihatkan sebuah tanda kekuasaan-Nya pada diri orang itu sendiri dan pada keledainya. Saat itu, ia sedang membawa makanan dan minuman.
"...Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, 'Berapa lama engkau tinggal (di sini)?' Dia (orang itu) menjawab, 'Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.'..."
Ia mengira waktu kematiannya sangat singkat karena pengetahuan dan indranya telah hilang saat mati, dan ia hanya mengingat kondisi terakhirnya sebelum meninggal. Maka dikatakan kepadanya:
"...Allah berfirman, 'Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah...' "
Maksudnya, makanan dan minuman itu tidak berubah basi, melainkan tetap utuh seperti semula meskipun tahun-tahun telah berlalu dan waktu berganti. Pada hal ini terdapat bukti terbesar atas kekuasaan Allah, di mana Dia menjaga dan memeliharanya dari kerusakan, padahal makanan dan minuman termasuk hal yang paling cepat membusuk.
"...tetapi lihatlah keledaimu..."
Padahal keledai itu telah mati, daging dan kulitnya telah hancur, tulang-belulangnya telah berserakan, serta persendiannya telah terpisah-pisah.
"...Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia..."
Sebagai bukti atas kekuasaan Allah dan kemampuan-Nya dalam membangkitkan orang-orang mati dari kubur mereka, agar hal ini menjadi contoh konkret yang dapat disaksikan langsung oleh mata kepala, sehingga manusia mengetahui kebenaran dari apa yang dikabarkan oleh para rasul.
"...Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali..."
Maksudnya, bagaimana Kami memasukkan sebagian tulang ke bagian tulang lainnya dan menyusunnya satu sama lain.
"...kemudian Kami membalutnya dengan daging.'..."
Maka orang itu pun melihat proses tersebut dengan mata kepalanya sendiri sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Ta'ala.
"...Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, 'Saya mengetahui (yakin) bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' "
Catatan Kesimp**an Penafsir:
Zahir (makna tersurat) dari konteks ayat ini menunjukkan bahwa orang tersebut adalah seseorang yang tadinya mengingkari adanya hari kebangkitan, lalu Allah menghendaki kebaikan baginya dan menjadikannya sebagai tanda serta dalil bagi manusia. Hal ini didasarkan pada tiga alasan:
Pertama: Ucapannya, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?" Seandainya dia seorang nabi atau hamba yang saleh, tentu dia tidak akan mengucapkan perkataan seperti itu.
Kedua: Allah memperlihatkan mukjizat pada makanan, minuman, keledai, dan dirinya sendiri agar ia menyaksikannya langsung dengan matanya, sehingga ia mengakui apa yang tadinya ia ingkari. Di dalam ayat ini juga tidak disebutkan bahwa negeri tersebut akhirnya dibangun kembali dan pulih seperti semula, tidak ada p**a dalam konteks ayat yang menunjukkan hal itu, dan memang tidak banyak faedahnya di sana. Apa faedahnya sebagai dalil dihidupkannya orang mati jika sebuah negeri yang hancur kemudian didatangi lagi oleh penduduknya atau orang lain lalu mereka membangunnya kembali? Dalil yang sesungguhnya justru terletak pada dihidupkannya kembali diri orang itu, keledainya, serta tetap utuhnya makanan dan minuman miliknya.
Ketiga: Pada firman-Nya, "Maka ketika telah nyata baginya..." Maksudnya, telah jelas baginya suatu perkara yang tadinya tidak ia ketahui dan samar baginya. Maka dengan ini, diketahuilah kebenaran dari apa yang telah kami sebutkan. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).