Rizal Abu Hafizah Azzahra

Rizal Abu Hafizah Azzahra mulia manhaj salaf

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ❌ANGGAPAN SIAL KARENA SUATU PERTANDA ADALAH KESYIRIKANJika Anda...
02/03/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

❌ANGGAPAN SIAL KARENA SUATU PERTANDA ADALAH KESYIRIKAN

Jika Anda merasa akan terjadi kesialan atau musibah karena adanya suatu pertanda yang sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dengan kesialan atau musibah. Ini disebut thiyarah dan thiyarah itu termasuk kesyirikan.

Dari Abdullah bin Mas‘ud -radhiyallahu ‘anhu-, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun, Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakal (dalam hati)”.

(HR. Abu Daud No. 3910 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud)

Ath-Thiyarah disebut juga At-Tathayyur. Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengatakan,

“At-Tathayyur artinya merasa sial karena suatu pertanda yang dilihat atau didengar”.

(Miftah Daris Sa‘adah [3/311])

Sebagian ulama membedakan ath-Thiyarah dengan at-Tathayyur. Al-Qarafi -rahimahullah- mengatakan,

“At-Tathayyur artinya sangkaan dalam hati bahwa akan terjadi kesialan, sedangkan at-Thiyarah adalah perbuatan yang dihasilkan dari tathayyur, yaitu berupa lari atau perbuatan lainnya”.

(Al-Furuq [4/1367])

Contohnya, jika seseorang ketika hendak pergi keluar rumah, lalu tiba-tiba ia kejatuhan cicak. Kemudian timbul dalam hatinya perasaan bahwa ia akan sial karena pertanda berupa kejatuhan cicak tersebut. Inilah tathayyur.

Jika ia mengurungkan niatnya untuk pergi, inilah thiyarah. Ini semua adalah kesyirikan sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- katakan dalam hadits di atas.

Semua bentuk merasa sial yang muncul dalam sangkaan, sekadar melihat pertanda buruk yang tidak ada hubungan sebab akibat secara syar‘i atau qadari (ilmiah), maka itu thiyarah.

An-Nawawi -rahimahullah- mengatakan,

“At-Tathayyur artinya merasa sial dan landasannya pada perkara-perkara yang buruk baik berupa perkataan, perbuatan, atau sesuatu yang dilihat”.

(Syarah Shahih Muslim [4/2261])

Read more https://muslim.or.id/anggapan-sial-karena-suatu-pertanda-adalah-kesyirikan/
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣__________⁣⁣⁣⁣⁣
Follow kami: http://berbagi.link/indonesiabertauhid⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣__________⁣⁣⁣⁣⁣
♻️ Silakan disebarluaskan⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمMENGUSAP DAN BERDO'A DI KUBURAN WALI....❓ 🖋️Muhammad Abduh Tuasi...
02/03/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

MENGUSAP DAN BERDO'A DI KUBURAN WALI....❓

🖋️Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Kita pernah dengan kisah seseorang yang kuburnya diarak masa, sampai tanahnya diambil, bahkan sampai kuburnya ambles 5 kali saat sering turunnya hujan, kata si Juru Kunci. Di kubur wali lainnya, ada yang bersikap berlebihan sampai mencium-cium nisannya, di antara tujuannya untuk ngalap berkah. Bentuk berlebihan lainnya adalah sampai berdo’a menghadap kubur wali, padahal kita berdo’a seharusnya menghadap kiblat.



⬛Bentuk Berlebihan Terhadap Kubur yang Terjadi Sejak Masa Nabi Nuh

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan p**a sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan p**a suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23).

Sebagian ulama salaf berkata bahwa mereka ini (Wadd, Suwaa’, YaghuBerdo a’uq dan Nasr) adalah orang sholih di masa Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, orang-orang beri’tikaf (berdiam) di kubur mereka. Selanjutnya, dibuatlah patung-patung mereka lalu disembah. Kalau ada yang melakukan ziarah seperti ini ke kubur, maka termasuk ziarah yang tidak ada tuntunan. Ajaran seperti ini termasuk ajaran Nashrani dan orang musyrik. Jika maksud penziarah kubur adalah ingin agar do’anya mustajab di sisi kubur, atau ia berdo’a meminta pada mayit, atau ia beristighotsah pada mayit, ia meminta dan bersumpah atas nama mayit pada Allah dalam menyelesaikan urusan dan kesulitannya, ini semua termasuk amalan yang tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dilakukan oleh para sahabat. Lihat penjelasan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 27: 31.

Bentuk-bentuk ghuluw (berlebihan) terhadap kubur orang sholih dapat kita saksikan dalam beberapa point di bawah ini. Semua bentuk ini adalah bentuk berlebihan dan juga perantara menuju syirik.



1️⃣Mencium dan Mengusap Kubur Termasuk Mungkar

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sepakat para ulama akan terlarangnya mengusap-ngusap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di fatawanya, beliau rahimahullah berkata.

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِمَنْ سَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قَبْرِهِ أَنْ يُقَبِّلَ الْحُجْرَةَ وَلَا يَتَمَسَّحَ بِهَا لِئَلَّا يُضَاهِيَ بَيْتُ الْمَخْلُوقِ بَيْتَ الْخَالِقِ

“Para ulama sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi yang memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kubur beliau lantas ia mencium kamarnya (yang di dalamnya terdapat kubur Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) dan mengusap-ngusap kuburnya. Ini sama saja menandingi rumah makhluk dengan rumah Pencipta (baitullah)” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 97). Karena baitullah (Ka’bah) dibolehkan mengusap hajar aswad. Kalau seseorang mengusap-ngusap kubur, maka itu sama saja menandingi rumah Allah.

Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلِهَذَا اتَّفَقَ السَّلَفُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَسْتَلِمُ قَبْرًا مِنْ قُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَلَا يَتَمَسَّحُ بِهِ

“Para ulama sepakat tidak boleh menyentuh kubur para nabi dan lainnya, begitu p**a tidak boleh mengusap-ngusapnya. ” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 31). Jika kubur Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak boleh diperlakukan seperti itu, bagaimana lagi dengan kubur lainnya seperti pada kubur habaib, kubur wali atau kubur sholihin?! Tentu tidak dibolehkan.

2️⃣Terlarang Berdo’a Menghadap Kubur

Syaikhul Islam menerangkan p**a bahwa berdo’a di sisi kubur dianggap keliru jika menghadap kubur langsung. Namun lihatlah bagaimana yang dilakukan di kubur-kubur para habib dan wali saat ini! Mereka berdo’a bukan menghadap kiblat, namun menghadap kubur secara langsung.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَلَا يَدْعُو هُنَاكَ مُسْتَقْبِلَ الْحُجْرَةِ فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ . وَمَالِكٍ مِنْ أَعْظَمِ الْأَئِمَّةِ كَرَاهِيَةً لِذَلِكَ . وَالْحِكَايَةُ الْمَرْوِيَّةُ عَنْهُ أَنَّهُ أَمَرَ الْمَنْصُورَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْحُجْرَةَ وَقْتَ الدُّعَاءِ كَذِبٌ عَلَى مَالِكٍ . وَلَا يَقِفُ عِنْدَ الْقَبْرِ لِلدُّعَاءِ لِنَفْسِهِ فَإِنَّ هَذَا بِدْعَةٌ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَقِفُ عِنْدَهُ يَدْعُو لِنَفْسِهِ وَلَكِنْ كَانُوا يَسْتَقْبِلُونَ الْقِبْلَةَ وَيَدْعُونَ فِي مَسْجِدِهِ

“Tidak boleh berdo’a di kubur Nabi dengan menghadap ke kamarnya. Semua ini terlarang menurut kesepakatan para ulama. Imam Malik yang paling keras melarang hal ini. Banyak cerita yang diriwayatkan dari Imam Malik di mana beliau memerintahkan Manshur untuk menghadap kamar saat berdo’a, ini riwayat dusta. Tidak boleh berdiri di sisi kubur untuk berdo’a untuk kepentingan dirinya karena ini tidak dituntunkan. Tidak pernah seorang sahabat pun berdiri di sisi kubur untuk kepentingan dirinya. Yang para sahabat lakukan adalah mereka berdo’a menghadap kiblat dan berdo’a di masjid (Masjid Nabawi).” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 147).



3️⃣Berdo’a di Sisi Kubur Wali

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلَا يُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ عِنْدَهُ وَلَا قَصْدُهُ لِلدُّعَاءِ عِنْدَهُ أَوْ بِهِ ؛ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كَانَتْ مِنْ أَسْبَابِ الشِّرْكِ وَعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ

“Para ulama sepakat tidak dianjurkan shalat di sisi kubur, tidak p**a berdo’a di sisi kubur atau berdo’a lewat perantaraan kubur. Karena seluruh hal ini adalah perantara pada syirik dan sebab penyembahan kepada watsn (segala sesuatu yang disembah selain Allah). ” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 31). Hal ini menunjukkan terlarangnya berdo’a di kubur wali, habaib atau orang sholih. Namun yang dibolehkan adalah mendo’akan kebaikan untuk si mayit seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan ketika kita ziarah kubur dan tetap menghadap kiblat. Do’a yang dimaksud adalah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ (وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ) وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, (semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan). Kami insya Allah akan bergabung bersama kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 975).

doa_di_kubur_

Adapun jika do’anya menjadikan mayit sebagai perantara, ini adalah amalan bid’ah dan perantara menuju syirik. Yang lebih parah adalah berdo’a kepada mayit atau menjadikan mayit sebagai perantara pada Allah namun di dalamnya ada ibadah kepada selain Allah seperti ada tumbal, sesaji, dll, ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. Lihat bahasan Rumaysho.com: Menjadikan Selain Allah sebagai Perantara dalam Do’a.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Sumber https://rumaysho.com/3063-mengusap-dan-berdoa-di-kubur-wali.html

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم⛔️WISATA SPIRITUAL KE KUBURAN WALI..                            ...
02/03/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

⛔️WISATA SPIRITUAL KE KUBURAN WALI..

By Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sudah begitu ma’ruf wisata spiritual ke kubur wali digalakkan di negeri kita. Bahkan ingin lebih dilestarikan demi meningkatkan devisa daerah. Memang ziarah kubur adalah suatu hal yang disyari’atkan. Namun ada suatu masalah di balik itu. Terjadinya pengkultusan terhadap kubur wali. Seperti yang pernah kita dengar pada kuburan seorang “Gus …” yang tanah kuburnya sampai jadi rebutan para peziarah, ditambah lagi dengan ritual tanpa dasar yang dilakukan. Dan satu hal yang akan disinggung di sini mengenai safar ke suatu tempat dalam rangka ibadah.

Safar Mengunjungi Kuburan Wali

Kuburan para wali songo sangat tersohor sekali di negeri kita, sampai di Jawa Timur ada 5 kuburan mereka. Orang dari daerah yang jauh pun berjuang keras datang ke sana demi ziarah kubur.

Jika kita perhatikan dalam ajaran Islam, sebenarnya ziarah kubur seperti ini terlarang. Dalil larangannya ditunjukkan dalam hadits berikut ini.

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: masjidil haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397).

Hadits di atas mencakup larangan untuk safar dalam rangka ibadah ke suatu tempat semata-mata karena tempat itu. Jadi, setiap safar yang dilakukan dalam rangka ibadah di suatu tempat tertentu adalah terlarang, kecuali ke tiga masjid tadi, yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho. Adapun jika bersafarnya karena silaturahim, berdagang, mencari ilmu, rekreasi dan kegiatan mubah lainnya, maka tidak ada masalah. Semisal kita menuntut ilmu ke suatu masjid di daerah Jogja dari Jawa Timur, maka ini tidaklah masalah. Karena maksud safar yang dilakukan adalah bukan mengunjungi masjid, namun yang dimaksud adalah menuntut ilmu.

Baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/2250-wisata-spiritual-ke-kuburan-wali.html

Gabung Telegram :
https://t.me/kajianahlussunnah1

☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
Barakallah fikum.

🪀 *KAJIAN AHLUS SUNNAH*
*MENEBAR CAHAYA SUNNAH*

▪┈┈◈❂◉❖ ° ❖◉ ◈┈┈▪

25/02/2023
بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم📚 *MENINGGALKAN SHALAT ITU KAFIR*Meninggalkan shalat itu kafir, ...
25/02/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

📚 *MENINGGALKAN SHALAT ITU KAFIR*

Meninggalkan shalat itu kafir, demikian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

*Riyadhus Sholihin*,
Kitab Al-Fadhail, Bab 193. Perintah Menjaga Shalat Wajib dan Larangan serta Ancaman yang Sangat Keras bagi yang Meninggalkannya

Hadits #1078

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُولُ : (( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 82]

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Jika seseorang meninggalkan shalat, maka tidak ada antara dirinya dan kesyirikan itu pembatas, bahkan ia akan terjatuh dalam syirik. Istilah syirik dan kafir kadang bisa bermakna sama yaitu kafir kepada Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 2:64)

Hadits #1079

وَعَنْ بُرَيْدَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadirs ini hasan shahih.) [HR. Tirmidzi, no. 2621 dan An-Nasa’i, no. 464. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]

Hadits #1080

وَعَنْ شَقِيقٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ التَّابِعيِّ المتَّفَقِ عَلَى جَلاَلَتِهِ رَحِمهُ اللهُ ، قَالَ : كَانَ أصْحَابُ محَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لاَ يَرَوْنَ شَيْئاً مِنَ الأعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ . رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ في كِتَابِ الإِيْمَانِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ .

Dari Syaqiq bin ‘Abdullah seorang tabi’in yang disepakati kemuliaannya–semoga Allah merahmatinya–ia berkata, “Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang kufur karena meninggalkan amal, kecuali shalat.” (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-Iman dengan sanad yang shahih) [HR. Tirmidzi, no. 2622. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan nama tabi’innya adalah ‘Abdullah bin Syaqiq]

Perbedaan Syirik dan Kafir

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama apakah syirik dan kafir punya makna yang sama ataukah tidak.

Pendapat pertama, setiap kesyirikan masuk kekafiran namun tidak setiap kekafiran masuk kesyirikan. Kafir adalah lawan dari Iman dan Islam. Sedangkan syirik adalah lawan dari tauhid. Syirik dikhususkan pada penyembahan pada berhala.

Perhatikan ayat berikut,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah: 1). Asalnya ‘athaf(penggunaan waw dalam ayat) menunjukkan berbedanya orang kafir dan orang musyrik.

Pendapat kedua, syirik dan kafir itu bermakna sama. Inilah pendapat dari Syafi’i dan selainnya sebagaimana kata Ibnu Hazm. (Lihat bahasan Al-Mukhtashar fi Al-‘Aqidah, hlm. 19.)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sumber https://rumaysho.com/16843-ingat-meninggalkan-shalat-itu-kafir.html

https://t.me/menebar_cahayasunnah

📡Silahkan Di Sebarkan,Tanpa Merubah Tulisan & Tetap Menyertakan Link Kami.
Barakallah Fiikum.

🪀 *KAJIAN AHLUS SUNNAH*
*MENEBAR CAHAYA SUNNAH*

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎════

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمHUKUM MENONTON SINETRON DI TELEVISI❓Oleh: Asy Syaikh Shalih bin ...
25/02/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

HUKUM MENONTON SINETRON DI TELEVISI❓

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Wajib bagi seorang muslim untuk menjaga waktunya dengan menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya, karena dia bertanggung jawab dengan waktu yang dia habiskan. Bagaimana dia habiskan waktu tersebut?

Allah ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ

Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir (Faatir: 37)

Dan di dalam hadits (riwayat At Tirmidzi), seseorang akan ditanya tentang kehidupannya dan waktu yang dia habiskan.

Menonton sinetron menghabiskan waktu, sehingga tidak sepantasnya seorang muslim menyibukkan diri menontonnya.

Apabila di dalam sinetron tersebut terdapat perkara-perkara yang haram, maka menontonnya pun haram seperti: wanita yang berhias dan bertabarruj (tidak berhijab, menampakkan kecantikannya di hadapan selain mahram –pent), musik dan nyanyian, dan juga sinetron yang mengandung ajaran/pemikiran yang rusak, yang jauh dari tuntunan agama dan akhlak yang mulia. Begitu juga sinetron yang menampilkan perilaku yang tidak tahu malu dan merusak akhlak. Sinetron semacam ini tidak boleh ditonton.

(Diterjemahkan dari Al Muntaqa min Fatawa Syaikh Fauzan, juz 3 nomor 516 untuk blog https://ulamasunnah.wordpress.com)

☕ Silahkan Di Sebarkan, Mudah2an Anda Mendapatkan Bagian Dari Pahalanya ☕
Barakallah Fikum.

Join Telegram :
https://t.me/media_sunnahnabi

🪀 *KAJIAN AHLUS SUNNAH*
*MENEBAR CAHAYA SUNNAH*

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎══════•

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم   SEORANG SUAMI ADALAH PEMIMPIN DI DALAM KELUARGANYAMaka karena...
23/02/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

SEORANG SUAMI ADALAH PEMIMPIN DI DALAM KELUARGANYA

Maka karena seorang pemimpin hendaknya bertanggungjawab didalam keluarganya.
Maka karena seorang pemimpin hendaknya memperhatikan apa yang di pimpinnya.

Apakah istrinya dan anak-anaknya sudah senantiasa mengerjakan shalat...?
Apakah sudah menutup auratnya dengan benar...?
Apakah tutur katanya juga akhlaknya di jaga dengan baik...?

Sudah seharusnya...

Sudah seharusnya seorang suamilah yang bertanggungjawab didalam keperluan keluarganya.

Sudah seharusnya seorang suami berusaha untuk mengayomi dan membimbing keluarganya dalam ilmu agama, agar bisa bersama -sama meraih jannah-Nya.

=Untuk para suami=

Dari itu..janganlah menjadi suami yang s**a mendzolimi keluarganya.

Dari itu.. janganlah menjadi suami yang membiarkan keluarganya tidak taat agama.

Jika...
Jika belum mampu memberikan harta,...berilah cinta,kasih sayang juga ilmu agama.

Jika...
Jika di kehidupan dunia tidak bergelimang harta dan kemewahan.

Maka...
Maka carilah kebahagiaan dan kemewahan yang sejati, yaitu Surga-Nya.

Jangan sampai...
Jangan sampai sengsara dunia, sengsara p**a di akhirat karena sekeluarga tidak taat.

Karena..
Karena hakekat kebahagiaan yang kekal abadi itu, apabila diri kita juga keluarga kita bersama-sama masuk ke dalam jannah-Nya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.,ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap isterinya. " (HR.Tirmidzi)

Abu Affiq

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم *MALAM PERTAMA SAAT KAU DIKUBURKAN*________✒Saat itulah banyak ...
23/02/2023

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

*MALAM PERTAMA SAAT KAU DIKUBURKAN*
________✒

Saat itulah banyak kejadian kau alami, tapi tidak seorang pun dapat menceritakannya kepadamu.

Dan kamu pun tidak dapat menceritakannya kepada siapapun.

☘ Yang jelas, kita semua harus mempersiapkan bekal masing-masing.
Dan bekal itu bukanlah harta, namun Takwa, yakni: *melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.*

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):

_"Carilah bekal kalian, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan"._
*[QS. Al- Baqarah: 197].*

Dalam ayat lain Allah Ta'ala juga berfirman (yang artinya):

_"Wahai kaum mukminin, BERTAKWALAH kalian kepada Allah, dan lihatlah diri masing-masing apakah yang sudah dia persiapkan untuk hari esoknya, dan BERTAKWALAH kalian kepada Allah"._
*[QS Al Hasyr: 18].*

☘ Lihatlah bagaimana Allah mengulang perintah untuk bertakwa hingga dua kali di ayat yang pendek ini, agar kita tidk lupa bahwa persiapan yang paling baik untuk hari esok adalah TAKWA.

Wallahu a'lam.


🖊 Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, MA
Dewan Pembina Yayasan Risalah Islam

*Oleh: Mutiara Risalah Islam*
>>>>>>>>🌺🌺

Address

Bekasi
17612

Telephone

+6285219027279

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rizal Abu Hafizah Azzahra posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Rizal Abu Hafizah Azzahra:

Shortcuts

Share