Mutiara Pagi

Mutiara Pagi Mutiara Pagi

01/09/2023

Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 45
ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.
Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.

Tanamkan amanah sejak dini

1. Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya.

2. Latihlah anak untuk berpuasa. Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya.

3. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan. Orang tua memberi contoh untuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak s**a cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

4. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk. Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya.

5. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini. Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik.

6. Doakan agar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah.

7. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuangan mengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),

“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany.

[Diedit oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.suara-islam.com/read/index/7436/Tanamkan-Sikap-Amanah-Sejak-Dini.]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015

゚viral

31/08/2023

Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 44
ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1

Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.”

Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.

Pengertian Amanah

Amanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.
Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

" لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ "

“Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.

Di dalam al-Qur’an disebutkan:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh". QS. Al Ahzab (33): 72.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.

Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.

Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.
Bersambung…

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014

[ Diedit oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.suara-islam.com/read/index/7436/Tanamkan-Sikap-Amanah-Sejak-Dini.]

30/08/2023

Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 43
MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bag-3 (terakhir)

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya:

5. Untuk mendapat pengakuan orang

Adakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.

Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.

Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya.

6. Untuk meraih keinginan

Anak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.

Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya.

7. Untuk membela diri

Kebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang.

Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.

Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.

Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014

[Dinukil oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya U Ihsan dan A Ihsan (hal. 103-105).]

29/08/2023

Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 42
MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya:

3. Sebagai gurauan

Tentu Anda semua tahu jenis bohong yang satu ini. Sebagian orang sengaja bohong dengan dalih bergurau. Mereka lupa bahwa kebohongan adalah satu keburukan dan tetap dinamakan kebohongan, baik serius atau bergurau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selalu berkata benar walaupun saat bercanda. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tentu. Hanya saja aku selalu berkata jujur”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Anas radhiyallahu’anhu menuturkan pada kita salah satu bentuk canda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai pemilik dua telinga!”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy dan al-Albany.
Adapun cara mengatasi kebiasaan berbohong dalam candaan adalah: dengan tidak mendorong anak-anak berbohong, tidak tertawa karena gurauan atau humor seperti ini, serta memberikan alternatif lainnya.

4. Menghindari hukuman dan mencari keselamatan

Anak kecil adakalanya belajar bahwa kebohongan mampu menghindarkan dari hukuman atau larangan orang tua. Terutama bagi orang tua yang enggan berdialog dan mengidentifikasi permasalahan. Juga tidak memberi kesempatan belajar, enggan memaafkan atau menerima alasan.

Bohong semacam ini seringkali terjadi dalam keluarga yang berlebihan dalam menerapkan aturan terlalu ketat dan senang menakut-nakuti serta mengancam dengan berbagai sanksi.
Untuk mengatasi hal ini: perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini.

Jangan selalu fokus dengan hukuman

Saat si kecil berbohong, jangan langsung memikirkan akan menghukum anak. Karena, sikap orangtua seperti ini, justru akan membuat anak semakin sering berbohong untuk menghindari hukuman.

Ubah kebiasan tersebut dengan menerapkan konsekuensi. Bahwa setiap perilaku anak yang negatif dan positif ada konsekuensinya. Termasuk ketika anak ketahuan berbohong maka konsekuensi yang harus diterima anak adalah belajar untuk meminta maaf dan tidak mengulang perilaku tersebut.

Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan ‘adil’. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.

Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.

Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.

Bersambung…

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Shafar 1436 / 24 Nopember 2014

[ Dimodifikasi oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 101-102) dan berbagai referensi lain.]
゚viral

27/08/2023

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 41
MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1

Alangkah baiknya kita mengetahui faktor-faktor yang mendorong anak berbohong dan bagaimana cara mengatasinya. Sehingga kita bisa dengan bahagia berkata, “Anakku tak s**a bohong”.

Di antara faktor pendorong anak berbohong:

1. Tidak mengetahui hukum berbohong dan akibatnya
Anak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral.

Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.

Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.

Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia, mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada, mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.

Biasanya setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.
Solusi untuk mengatasi hal ini, jelaskan kepadanya makna, hukum dan akibat berbohong di dunia dan akhirat sejak dini. Lalu awasi anak dan berikan dukungan ketika ia berbicara jujur, serta peringatkan segera dengan lembut jika ia berbohong.

2. Sebagai kebiasaan yang diperoleh

Ini sering terjadi pada anak yang hidup di tengah keluarga yang s**a berbohong, baik ayah, ibu ataupun saudara-saudaranya. Sehingga anak belajar bohong sejak usia dini. Akibatnya, kebohongan menjadi suatu yang lumrah dan tidak tercela dalam keluarga tersebut. sebab, masing-masing pernah membohongi dan dibohongi yang lain.

Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat di sana.
Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.

Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk p**ang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.

Solusi untuk mengatasi hal ini, tak ada cara lain selain menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dalam keluarga. Dengan melatih seluruh anggota keluarga berperilaku jujur.
Bersambung…

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1436 / 10 Nopember 2014

[ Dimodifikasi oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 100-101) dan http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/problema-anak-berbohong.html.]

゚viral

25/08/2023

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 40
ANAK DAN KEJUJURAN

Kejujuran adalah salah satu pilar terpenting dalam akhlak Islam. Diperlukan usaha keras untuk menanamkan dan mengokohkan sifat ini. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah meletakkan dasar yang kuat dalam masalah ini. Beliau menempatkan kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam muamalah kemanusiaan. Sehingga
kedua orang tua juga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun.

Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

" مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ "

“Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”, lalu ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Namun, amat disayangkan, masih banyak orang tua yang menganggap remeh hal ini. Mereka menyepelekan masalah kejujuran dalam pergaulan bersama anak. Mudah berkata bohong, banyaknya perbuatan yang menyelisihi ucapan ataupun tidak menepati janji. Ini adalah perkara yang berbahaya bagi pembentukan karakter anak.
Lantas bagaimanakah kiat membentuk kejujuran anak?

1. Biasakan putra-putri anda untuk berbicara jujur. Ajarkan pada mereka pengertian jujur dan perbedaannya dengan bohong.

Berkata jujur adalah menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya. Tanpa ditambahi ataupun tidak dikurangi.

2. Doronglah mereka untuk berlaku jujur. Dengan memberitahukan ganjaran dan dampak positifnya di dunia dan di akhirat. Misalnya dengan menyampaikan hadits berikut,

"عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا".

"Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yg jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan seorang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta." HR. Muslim.
Jangan lupa p**a untuk menyanjung mereka saat berlaku jujur.

3. Jadilah figur teladan yang baik bagi mereka dan jangan pernah berbohong. Apabila Anda terlanjur berbohong atau terbukti berbohong, maka akuilah bahwa Anda telah berbuat salah. Beristighfarlah, lalu mintalah maaf kepada mereka.

4. Apabila Anda mengungkap kebohongan salah satu anak Anda, janganlah membeberkannya di hadapan umum. Tapi berilah ia peringatan dengan cara yang privasi. Tanyailah secara langsung dengan lembut dan tidak kasar, agar ia mau menjelaskan sebab-sebabnya. Selanjutnya atasilah sebab-sebab tersebut.

5. Jauhkan putra-putri Anda dari teman yang buruk. Meskipun ia adalah anak kerabat dan keluarga.

6. Seringlah menyuguhkan kisah-kisah tentang mulianya kejujuran dan buruknya kebohongan dengan cara yang menarik. Sehingga anak-anak Anda selalu memperhatikan.

[ Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 98-100) dengan sedikit tambahan.]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Muharram 1436 / 27 Oktober 2014

24/08/2023

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 39
ANAK DAN ADAB BERBICARA

[Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari artikel berjudul “Menanamkan Adab Berbicara kepada Anak”.]

Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Maka hal ini merupakan masalah serius yang harus dihadapi dengan serius p**a.

Cara Menanamkan Adab Bicara pada Anak
Menanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak:

Pertama: tanamkan akidah yang kuat.

Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah ta’ala.

Kedua: ajarkan keteladanan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam berbicara.

Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya: selalu menyatakan kebenaran; tidak berdusta; jujur dalam perkataan; berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua; tidak banyak bicara, dsb.

Ketiga: jangan bosan memberi keteladanan.

Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya.

Keempat: biasakan mengucapkan kalimat thayyibah.

Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan p**a bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet!, dasar bodoh!, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.

Kelima: jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik.

Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.

Keenam: bijak dalam memberi peringatan atau nasihat.

Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan agama, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulangi-nya di lain waktu.

Ketujuh: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan.
Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1435 / 13 Oktober 2014

09/08/2023

Pemimpin dan Pengikut orang orang Kafir akan saling Menyalahkan di akhirat (1)
゚viral

25/06/2023

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 38
ANAK DAN ADAB BERPAKAIAN

[ Disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi.]

Berpakaian adalah sebuah aktivitas yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Dalam ajaran Islam, pakaian bukan semata-mata masalah budaya dan mode. Islam menetapkan batasan-batasan tertentu untuk laki-laki maupun perempuan. Di antaranya:

1. Menutup aurat

Allah ta’ala berfirman,

"يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ"

“Wahai anak keturunan Adam, Kami telah menurunkan kepada kalian pekaian untuk menutup aurat-aurat kalian dan pelindung bagi kalian. Berpakaian menutup aurat karena taat kepada Allah adalah cara berpakaian yang paling baik”. QS. Al-A’raf (7): 26.

Islam telah menetapkan bahwa aurat lelaki adalah antara pusar sampai kedua lutut. Sedangkan bagi perempuan adalah seluruh tubuh tanpa terkecuali, menurut sebagian ulama. Ulama lainnya berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.

Anak-anak perlu dibiasakan menutup aurat sejak dini, menggunakan anjuran dan meminimalisir paksaan. Namun apabila telah baligh, maka saat itu wajib bagi orang tua untuk mengharuskan mereka menutup aurat.

2. Tidak menyerupai pakaian lawan jenis

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

"لَعَنَ اللهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ"

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”. HR. Ahmad dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Larangan menyerupai lawan jenis bersifat umum, mencakup larangan dalam berpakaian, berucap, gerakan, cara jalan dan dalam semua kondisi. Di antara yang paling sering terjadi dalam urusan pakaian. Seperti seorang wanita yang memakai celana panjang. Padahal, sebagaimana maklum, celana panjang adalah pakaian khas laki-laki. Jika wanita ikut-ikutan berpakaian seperti ini maka ia telah menyerupai laki-laki dalam berpakaian.

3. Tidak berlebihan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala dalam QS. Al-A’raf (7): 31. Berlebihan dalam berpakaian contohnya adalah membeli baju yang teramat mahal, padahal dia kurang mampu dan juga tidak terlalu dibutuhkannya.

4. Membaca doa saat mengenakan dan melepas pakaian

Doa mengenakan pakaian adalah:

"الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ"

Alhamdulillâhilladzî kasânî hâdzâts-tsauba warozaqonîhi min ghoiri haulin minnî walâ quwwatin.

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan kepadaku pakaian ini dan yang telah memberikan rizki pakaian ini kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku”. HR. Abu Dawud dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.

Adapun doa melepas pakaian adalah “Bismillah”. HR. Ath-Thabarany dalam al-Ausath dan dinyatakan hasan oleh al-Munawy.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1435 / 22 September 2014

Address

Bekasi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mutiara Pagi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category