24/06/2016
BENARKAH TIDAK BOLEH MEMBACA PADA HARI SARASWATI?
Oleh: Jro Mangku Sita - Acarya Pasraman Dharma Krya Shanta Werdhi
Hari raya Saraswati adl perayaan hari turunnya ilmu pengetahuan (WIDYA) dan Tuhan YME melalui sinar suci-Nya Dewi Saraswati.
Kata " Saraswati" berasal dari kata "Sara" = Dia yg memberi esensi/ arti, "Swa" = diri sendiri, dan "Thi" = Dia yg mengetahui. Saraswati juga berarti "yg mengalir". Dlm Reg Veda, beliau digambarkn sbg sebuah sungai yg sll mengalir, beliau memberi kesuburan setiap kandungan wanita, & juga kesuburan bagi semua pemujanya.
Di kalangan umat Hindu banyak yg berpendapat bahwa pd Hari Raya Saraswati tdk boleh membaca/menulis & begitu juga sebaliknya ada yg menganggap bahwa hal iru hanyalah sebuah mitos.
Kami mencoba merangkum dari berbagai pendapat mengenai hal ini:
1. Pemikiran keliru ttg pelarangan oleh para Ortu kpd anak2nya utk membaca (belajar) pd saat perayaan Saraswati.Mereka beranggapan bahwa klo kita membaca saat perayaan Saraswati, itu akan mengganggu ketenangan San Hyang Aji Saraswati.
2. Saniscara Umanis Watugunung = Saraswati, hanya melalui proses belajarlah ilmu itu akan diperoleh, bukan dg membuatkan sesajen saja, tanpa pernah membaca & meneguk saripatinya dg membaca.
3.Menurut Lontar Sundarigama ttg Brata Saraswati. Pemujaan Dewi Saraswati hrs dilakukan pd pagi hri/ tengah hri. Bagi yg melaksanakan Brata Saraswati dg penuh, tdk membaca & menulis selama 24 jam. Sedangkan bagi yg melaksankan dg biasa, setelah tengah hari boleh membaca & menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan "malam Sastra" & "sambang semadi".
Jk dipikirkn terasa ada kejanggalan, mengapa pd hri Saraswati yaitu turunnya ilmu pengetahuan malah sebaliknya memaknai dg tdk membaca. menulis. Dlm Parasara Dharmasastra dijelaskan bahwa ayat2 suci/petunjuk2 suci tdk boleh ditafsir dg logika, hrs ada penjelasan dari Sang Sadhu (org suci) atau dlm ilmu modern oleh ahlinya. Yg terpenting adl dijelaskan oleh orang suci. Mengapa orang suci? Di dlm Veda dijelaskan bahwa Veda itu ada di dlm pikiran, di dlm pikiran org Sadhu (org suci lahir batin). Dlm hukum progresif juga tdk dibenarkan menfasirkan hukum dg logika sebab bisa berakibat fatal.
Berdasarkan Sloka Manawa Dharmasasra tsb Hukum adat/tradisi suci diakui sbg sumber hukum yg sah. Salah satu sumber hukum larangan membaca bersumberkan pd Lontar Sundarigama:
"Sang Hyang pustakam lingganing aksara, pinihayu, puja walinin haturaken puspa wangi, kalingania, amuja Sang Hyang Bayu, ika samana ika, sira tan wenang angreka aksara, tann wenang angucara veda, puja mwang kidung kekawin, kawanangan laksnania ayoga ameneng"
Dari berbagai pendapat sumber yg kami rangkum, dpt disimpulkan bahwa larangan utk membaca lebih tertuju kpd pustaka suci spt kitab Catur Veda, Brahmana,, Upanisad, Veda Smerti, Dharmasastra, Itihasa, Purana, Lontar2 & yg sejnisnya yg berkaitan dg ajaran agama/ ajaran ketuhanan. Sedangkan larangan menulis spt menulis Devanegari, menulis aksara Bali, aksara Jawa, yg berhubungan dg Tuhan/aksara2 suci.
Jk dewasa ini spt buku bacaan (buku pelajaran sekolah) atau menulis latin biasa, itu kembali kpd pendapat individu masing2.
Smg bermanfaat.
"Gunung Agung Gunung Lempuyang, siap sangkur nambung kekalih. Kirang langkung ampurayang, benjang pungkur sambung malih" Suksma.