29/05/2017
Mimbar Masjid Agung Al Jami' Pekalongan Pertahankan Bangunan Inti Peninggalan Bupati Raden Aryowiryo
Jami Kauman Pekalongan merupakan masjid yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi bagi syiar agama Islam. Masjid yang berlokasi di kawasan Alunalun Kota Pekalongan tersebut menjadi salah satu ciri khas Kota Pekalongan.
Meski telah dibangun beberapa masjid baru, arsitektur dan kemegahan Masjid Jami tak kalah. Bahkan posisinya tetap tak tergantikan sebagai simbol islami warga Kota Batik Pekalongan. Tercatat dalam prasasti yang ditulis ulang di marmer dan ditempel di bagian dalam masjid.
Di sana tertulis, ”Pada hari Selasa Kliwon, 9 Rabiul Awal 1270 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 26 Desember 1852 Miladiyah Masehi atau Tahun 1782 Jawa, oleh Bupati Pekalongan, Almarhum Raden Aryowiryo Tumenggung Adinegoro, didirikanlah masjid Jami Pekalongan”.
Menurut Pembina Takmir Masjid Jami Pekalongan Masmud Masykur, bangunan inti masjid itu hingga kini sengaja dipertahankan. Dengan kondisi yang masih orisinal, begitu memasuki ruangan dalam masjid, jamaah akan merasakan kesejukan seperti memasuki masjid-masjid bersejarah lainnya di Pulau Jawa.
Fisik Masjid Jami, kata dia, yang dibangun pertama kali merupakan inti dari masjid saat ini. Dibatasi sembilan pintu besar dengan 12 jendela besar dengan ukuran luas 35 meter persegi. Kemudian bagian inti dalam masjid dilengkapi dengan satu mihrab (ruang imam), satu kubah untuk khatib.
”Kemudian, pada tahun 1907, dibangun kubah di sebelah selatan mihrab untuk shalat Bupati Kiai Adipati Aryonotodirjo,” terang Mahmud Masykur. Menurutnya, penyempurnaan berikutnya dimulai 1 Juni 1927 berupa perluasan masjid, berupa pembangunan serambi atau pendapa depan dan samping (utara dan selatan) yang dipelopori oleh tokoh masyarakat dari Kauman dan Pesindon.
Pembangunan itu dipercayakan kepada panitia atau komite yang ahli di bidangnya waktu itu. Bertepatan dengan Ramadan 1351 H (Januari 1933), sebuah menara setinggi 27 meter berdiri megah menjulang tinggi di sisi utara halaman masjid tersebut.
”Biaya pembangunan menara ini sepenuhnya hanya bersumber dari seorang jamaah, yaitu Almukarom Sayyid Hussein bin Ahmad bin Syahab,” tuturnya. Kini, area masjid kembali diperluas, khususnya ke arah utara. Perluasan di antaranya akan dipergunakan untuk kegiatan ikatan remaja masjid, perpustakaan, balai pengobatan, termasuk untuk jamaah.
Khusus pada bulan Ramadan, digelar pengajian rutin usai Shalat Zuhur, kemudian menjelang berbuka puasa, dan setelah Shalat Subuh. Pada saat berbuka ada pembagian takjil. Selain itu, juga ada pembagian beras untuk kaum duafa dan fakir miskin.
SUARA MERDEKA CYBERNEWS