02/09/2026
“Kalau hari ini kita mengaku sebagai orang yang sudah merdeka, apakah kehadiran kita juga membuat orang lain merasa lebih merdeka?”
Sering kali kita memahami “memikul salib” sebagai pergumulan pribadi: tentang imanku, masalahku, pengorbananku, dan hubunganku dengan Tuhan. Tetapi mungkin kita perlu melihatnya lebih jauh.
Salib juga berbicara tentang kesediaan kita hadir bagi kehidupan orang lain.
Di tengah realitas kehidupan yang tidak selalu mudah, apakah kita cukup peka untuk melihat?
Apakah kita mau berempati ketika orang lain sedang berjuang? Atau aku justru nyaman berada di zona aman, sementara pergumulan di sekitarku bukan lagi urusanku?
Memikul salib berarti berani keluar dari kenyamanan. Bukan hanya berdoa agar keadaan berubah, tetapi bertanya: “Apa yang bisa aku lakukan agar kehidupan seseorang menjadi sedikit lebih baik karena kehadiranku?”
Sebab kasih yang tidak berpura-pura selalu menemukan bentuknya dalam tindakan.
Mungkin inilah arti memikul salib kebangsaan bagi kita:
Tidak hidup hanya untuk diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk hadir, peduli, berempati, dan mengambil bagian.
Sebab kemerdekaan yang sejati bukan hanya ketika aku hidup lebih baik, tetapi ketika melalui hidup kita , orang lain juga mengalami kehidupan yang lebih baik.
Ringkasan Kotbah,
Minggu, 30 Agustus 2026