08/09/2026
Ketika John G. Paton hendak meninggalkan Skotlandia untuk menjadi misionaris di New Hebrides (kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Vanuatu), seorang teman berusaha menghentikannya. Ia tahu bahwa beberapa misionaris sebelumnya telah terbunuh. Paton menjawab dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu kesaksian imannya yang paling terkenal:
“Jika saya dapat hidup dan mati untuk melayani serta memuliakan Tuhan Yesus, bagi saya tidak ada bedanya apakah saya dimakan oleh para kanibal atau oleh cacing.”
Pada 5 November 1858, Paton dan istrinya, Mary Ann Robson, tiba di Pulau Tanna. Mereka membangun sebuah pos misi di Port Resolution. Tetapi harga pelayanan itu segera menjadi sangat mahal. Pada 12 Februari 1859, anak pertama mereka, Peter Robert Robson, lahir. Hanya beberapa minggu kemudian, Mary meninggal karena penyakit tropis pada 3 Maret 1859. Bayi mereka menyusul meninggal pada 20 Maret. Paton menguburkan istri dan anaknya sendiri. Bayangkan, baru beberapa bulan berada di tempat pelayanan. Istri meninggal. Anak meninggal. Dan ia sendirian di tengah masyarakat yang sebagian menentang kehadirannya.
Namun, Paton tidak langsung meninggalkan panggilannya.
Ia terus belajar bahasa setempat, memberitakan Injil, dan melayani masyarakat Tanna. Ia mengalami sakit, kelaparan, ancaman pembunuhan, dan berbagai serangan. Pada akhirnya, setelah situasi semakin berbahaya, ia memang harus meninggalkan Tanna pada 1862.
LALU ADA SATU MALAM YANG TIDAK PERNAH DILUPAKANNYA.
Dalam autobiografinya, Paton menceritakan bagaimana suatu malam sekelompok orang bersenjata mengepung rumah misi. Mereka datang dengan maksud menyerang.
Paton dan orang-orang yang bersamanya berdoa. Para penyerang akhirnya pergi.
Bertahun-tahun kemudian, setelah sebagian masyarakat Tanna menjadi Kristen, Paton bertanya kepada mereka mengapa mereka tidak menyerang malam itu. Mereka mengatakan bahwa mereka melihat banyak orang mengelilingi rumah tersebut. Paton mengatakan tidak ada pasukan di sana. Apa yang sebenarnya mereka lihat tidak dapat kita verifikasi secara historis. Tetapi bagi Paton, peristiwa itu menjadi kesaksian tentang pemeliharaan Allah di tengah situasi yang secara manusiawi sangat mengerikan. Kisah-kisah lain dalam autobiografinya juga menggambarkan bagaimana ia berkali-kali menghadapi orang-orang bersenjata yang hendak membunuhnya.
Dan di sinilah kisah Paton menjadi sangat menantang bagi kita.
Kita mudah terpesona oleh kisah tentang perlindungan Allah.
Kita mudah membicarakan “pasukan yang tidak terlihat.”
Tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih dalam. Bukan hanya apa yang terjadi di sekeliling Paton, tetapi juga apa yang terjadi di dalam dirinya. Ia tahu risikonya sebelum berangkat. Ia tahu bahwa orang-orang yang hendak dilayaninya mungkin menolaknya.
Ia tahu bahwa pelayanan bisa membuatnya kehilangan nyawa.
Dan kemudian ia benar-benar kehilangan istri dan anaknya.
Namun, ia tetap mengarahkan hidupnya kepada Kristus.
Paton bukan orang yang tidak mengenal ketakutan. Ia justru mengenal ketakutan dengan sangat dekat. Tetapi ketakutan tidak menjadi tuannya.
Sekarang bandingkan dengan kehidupan kita. Banyak dari kita tidak hidup dalam situasi seperti Paton. Kita tidak harus berjalan ke sebuah pulau terpencil dengan kemungkinan dibunuh. Kita memiliki gereja. Kita memiliki Alkitab. Kita memiliki teknologi.
Kita dapat memberitakan Injil tanpa harus mempertaruhkan nyawa setiap kali berbicara tentang Kristus. Tetapi ironisnya, kenyamanan kadang justru membuat kita lebih sulit bergerak daripada bahaya.
Kita takut dianggap aneh. Takut ditolak. Takut kehilangan kenyamanan. Takut hubungan kita terganggu. Takut pelayanan menjadi merepotkan. Takut harus keluar dari rutinitas.
Kita berkata: “Nanti.” “Belum waktunya.” “Saya terlalu sibuk.” Paton bersedia mempertaruhkan hidupnya demi orang-orang yang bahkan mungkin membunuhnya. Kita? Kadang-kadang kita bahkan tidak bersedia mengorbankan sedikit kenyamanan untuk seseorang yang sedang membutuhkan Kristus.
Dan ini yang seharusnya menjadi teguran buat kita, bahwa mengikut Kristus tidak selalu dimulai dengan kesediaan untuk mati bagi-Nya. Sering kali dimulai jauh lebih sederhana: bersedia kehilangan waktu, bersedia menolong, bersedia mengampuni, bersedia mendatangi orang yang sulit, bersedia memberitakan Injil,
bersedia keluar dari kenyamanan, dan bersedia berkata: “Tuhan, hidup saya milik-Mu.”
Paton pernah menghadapi pertanyaan tentang apakah ia siap untuk dimakan oleh kanibal. Kita mungkin tidak akan pernah menghadapi situasi seperti itu. Tetapi kita menghadapi pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: Apakah kita bahkan bersedia merasa tidak nyaman demi Kristus? Karena seseorang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Kristus tidak hanya siap mati bagi Kristus. Ia juga belajar hidup bagi Kristus ketika hidup itu menuntut pengorbanan.
“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.” — Roma 14:8