GBIA Salvation - Batam

GBIA Salvation - Batam "Jemaat dari Allah yang Hidup, Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran." (1 Timotius 3:15) GBIA Salvation (Gereja Baptis Independen Alkitabiah)
Penanggung jawab : Ev.

Lambok A. Sitorus, M.Min. GBIA Salvation turut mendirikan Yayasan Insan Hati Kudus
yang mengayomi Panti Asuhan "Kasih Mulia." Dukungan terhadap gereja dan panti asuhan berupa donasi
dapat diberikan melalui: BCA 8550561990 (A.N. Libertina Gea)

2 Korintus 9:6-9
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

02/10/2026
Melayani anak-anak sekolah minggu dan remaja merupakan keistimewaan yang diberikan Tuhan.Tuhan mempercayai saya untuk be...
30/09/2026

Melayani anak-anak sekolah minggu dan remaja merupakan keistimewaan yang diberikan Tuhan.

Tuhan mempercayai saya untuk berkontribusi dalam membentuk kehidupan mereka dengan firman Tuhan yang ditaburi ke hati mereka.

"Doa akan membuatmu meninggalkan dosa, atau dosa akan membuatmu meninggalkan doa."— Charles H. Spurgeon"Tetaplah berdoa,...
29/09/2026

"Doa akan membuatmu meninggalkan dosa, atau dosa akan membuatmu meninggalkan doa."
— Charles H. Spurgeon

"Tetaplah berdoa, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." — Lukas 22:40

"Aku lebih memilih mampu berdoa daripada menjadi seorang pengkhotbah yang hebat; karena Yesus Kristus tidak pernah menga...
28/09/2026

"Aku lebih memilih mampu berdoa daripada menjadi seorang pengkhotbah yang hebat; karena Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan murid-murid-Nya bagaimana berkhotbah, melainkan bagaimana berdoa."
— Dwight L. Moody

“Tuhan, ajarlah kami berdoa.” — Lukas 11:1

23/09/2026
Ketika John G. Paton hendak meninggalkan Skotlandia untuk menjadi misionaris di New Hebrides (kepulauan yang sekarang di...
08/09/2026

Ketika John G. Paton hendak meninggalkan Skotlandia untuk menjadi misionaris di New Hebrides (kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Vanuatu), seorang teman berusaha menghentikannya. Ia tahu bahwa beberapa misionaris sebelumnya telah terbunuh. Paton menjawab dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu kesaksian imannya yang paling terkenal:
“Jika saya dapat hidup dan mati untuk melayani serta memuliakan Tuhan Yesus, bagi saya tidak ada bedanya apakah saya dimakan oleh para kanibal atau oleh cacing.”

Pada 5 November 1858, Paton dan istrinya, Mary Ann Robson, tiba di Pulau Tanna. Mereka membangun sebuah pos misi di Port Resolution. Tetapi harga pelayanan itu segera menjadi sangat mahal. Pada 12 Februari 1859, anak pertama mereka, Peter Robert Robson, lahir. Hanya beberapa minggu kemudian, Mary meninggal karena penyakit tropis pada 3 Maret 1859. Bayi mereka menyusul meninggal pada 20 Maret. Paton menguburkan istri dan anaknya sendiri. Bayangkan, baru beberapa bulan berada di tempat pelayanan. Istri meninggal. Anak meninggal. Dan ia sendirian di tengah masyarakat yang sebagian menentang kehadirannya.
Namun, Paton tidak langsung meninggalkan panggilannya.
Ia terus belajar bahasa setempat, memberitakan Injil, dan melayani masyarakat Tanna. Ia mengalami sakit, kelaparan, ancaman pembunuhan, dan berbagai serangan. Pada akhirnya, setelah situasi semakin berbahaya, ia memang harus meninggalkan Tanna pada 1862.

LALU ADA SATU MALAM YANG TIDAK PERNAH DILUPAKANNYA.
Dalam autobiografinya, Paton menceritakan bagaimana suatu malam sekelompok orang bersenjata mengepung rumah misi. Mereka datang dengan maksud menyerang.
Paton dan orang-orang yang bersamanya berdoa. Para penyerang akhirnya pergi.

Bertahun-tahun kemudian, setelah sebagian masyarakat Tanna menjadi Kristen, Paton bertanya kepada mereka mengapa mereka tidak menyerang malam itu. Mereka mengatakan bahwa mereka melihat banyak orang mengelilingi rumah tersebut. Paton mengatakan tidak ada pasukan di sana. Apa yang sebenarnya mereka lihat tidak dapat kita verifikasi secara historis. Tetapi bagi Paton, peristiwa itu menjadi kesaksian tentang pemeliharaan Allah di tengah situasi yang secara manusiawi sangat mengerikan. Kisah-kisah lain dalam autobiografinya juga menggambarkan bagaimana ia berkali-kali menghadapi orang-orang bersenjata yang hendak membunuhnya.

Dan di sinilah kisah Paton menjadi sangat menantang bagi kita.
Kita mudah terpesona oleh kisah tentang perlindungan Allah.
Kita mudah membicarakan “pasukan yang tidak terlihat.”
Tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih dalam. Bukan hanya apa yang terjadi di sekeliling Paton, tetapi juga apa yang terjadi di dalam dirinya. Ia tahu risikonya sebelum berangkat. Ia tahu bahwa orang-orang yang hendak dilayaninya mungkin menolaknya.
Ia tahu bahwa pelayanan bisa membuatnya kehilangan nyawa.
Dan kemudian ia benar-benar kehilangan istri dan anaknya.
Namun, ia tetap mengarahkan hidupnya kepada Kristus.

Paton bukan orang yang tidak mengenal ketakutan. Ia justru mengenal ketakutan dengan sangat dekat. Tetapi ketakutan tidak menjadi tuannya.

Sekarang bandingkan dengan kehidupan kita. Banyak dari kita tidak hidup dalam situasi seperti Paton. Kita tidak harus berjalan ke sebuah pulau terpencil dengan kemungkinan dibunuh. Kita memiliki gereja. Kita memiliki Alkitab. Kita memiliki teknologi.
Kita dapat memberitakan Injil tanpa harus mempertaruhkan nyawa setiap kali berbicara tentang Kristus. Tetapi ironisnya, kenyamanan kadang justru membuat kita lebih sulit bergerak daripada bahaya.
Kita takut dianggap aneh. Takut ditolak. Takut kehilangan kenyamanan. Takut hubungan kita terganggu. Takut pelayanan menjadi merepotkan. Takut harus keluar dari rutinitas.
Kita berkata: “Nanti.” “Belum waktunya.” “Saya terlalu sibuk.” Paton bersedia mempertaruhkan hidupnya demi orang-orang yang bahkan mungkin membunuhnya. Kita? Kadang-kadang kita bahkan tidak bersedia mengorbankan sedikit kenyamanan untuk seseorang yang sedang membutuhkan Kristus.

Dan ini yang seharusnya menjadi teguran buat kita, bahwa mengikut Kristus tidak selalu dimulai dengan kesediaan untuk mati bagi-Nya. Sering kali dimulai jauh lebih sederhana: bersedia kehilangan waktu, bersedia menolong, bersedia mengampuni, bersedia mendatangi orang yang sulit, bersedia memberitakan Injil,
bersedia keluar dari kenyamanan, dan bersedia berkata: “Tuhan, hidup saya milik-Mu.”

Paton pernah menghadapi pertanyaan tentang apakah ia siap untuk dimakan oleh kanibal. Kita mungkin tidak akan pernah menghadapi situasi seperti itu. Tetapi kita menghadapi pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: Apakah kita bahkan bersedia merasa tidak nyaman demi Kristus? Karena seseorang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Kristus tidak hanya siap mati bagi Kristus. Ia juga belajar hidup bagi Kristus ketika hidup itu menuntut pengorbanan.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.” — Roma 14:8

Kesaksian Lizzie Atwater: Tuhan Tetap Dekat di Ujung KehidupanPada 15 Agustus 1900, di tengah gelombang kekerasan terhad...
02/09/2026

Kesaksian Lizzie Atwater: Tuhan Tetap Dekat di Ujung Kehidupan

Pada 15 Agustus 1900, di tengah gelombang kekerasan terhadap orang-orang Kristen di Tiongkok, Lizzie Atwater, seorang misionaris Kristen asal Amerika yang melayani bersama suaminya di Tiongkok dan saat itu sedang mengandung, ditangkap bersama sepuluh orang lainnya. Mereka kemudian dibunuh secara brutal.

Reaksi nasionalis yang keras terhadap para misionaris dan gereja-gereja Kristen menewaskan puluhan ribu orang. Salah satu wilayah yang mengalami pembantaian paling parah adalah Shanxi, tempat Lizzie berada. Namun, yang paling menggugah bukan hanya bagaimana Lizzie mati, melainkan bagaimana ia menghadapi kemungkinan kematiannya.

Dalam surat terakhirnya kepada keluarga, Lizzie menulis:

“Keluargaku yang terkasih, aku sangat ingin melihat wajah kalian, tetapi aku takut kita tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Aku sedang mempersiapkan diri menghadapi akhir dengan sangat tenang. Tuhan sungguh sangat dekat, dan Dia tidak akan meninggalkanku.”

Lizzie tidak menyangkal rasa takut. Ia juga tidak berpura-pura bahwa kematian adalah sesuatu yang mudah. Ia merindukan keluarganya dan sadar bahwa mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi di dunia ini.

Tetapi di tengah ketidakpastian itu, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takutnya: kehadiran Tuhan.

Imannya tidak membuatnya kebal terhadap penderitaan. Imannya membuatnya mampu menghadapi penderitaan tanpa kehilangan pengharapan. Kesaksiannya mengingatkan kita bahwa kekristenan bukanlah janji bahwa orang percaya tidak akan mengalami badai, penganiayaan, kehilangan, atau kematian.

Kekristenan adalah keyakinan bahwa Kristus tetap menyertai kita bahkan ketika semua yang kita andalkan di dunia ini runtuh.
“Tuhan sungguh sangat dekat, dan Dia tidak akan meninggalkanku.” Kalimat itu bukan sekadar kata-kata indah. Bagi Lizzie, kalimat itu diuji di ambang kematian.

Dan di situlah iman menjadi nyata. Bukan ketika hidup berjalan sesuai keinginan kita, tetapi ketika kita masih dapat berkata, bahkan di tengah penderitaan, “Tuhan dekat. Dia tidak akan gagal.”

Isteri sedang melayani firman Tuhan dalam kebaktian anak ceria. Puji Tuhan! 😊🙏
01/09/2026

Isteri sedang melayani firman Tuhan dalam kebaktian anak ceria. Puji Tuhan! 😊🙏

Address

Kav. Seroja, Blok H No. 200, Dapur 12, Sagulung
Batam
29439

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBIA Salvation - Batam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GBIA Salvation - Batam:

Shortcuts

Share