Masjid Baitut Taqwa

Masjid Baitut Taqwa Rekening Masjid Baitut Taqwa
BRI Cabang Songgon Banyuwangi
Norek : 6132-01-010729-53-2
An. Pembanguna Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan terimakasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil 'alamin, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, taufik dan hidayah-Nya sehingga kita dapat melaksanakan tugas sehari-hari. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga Bapak/Ibu/Saudara(i) Para Donatur/Dermawan senantiasa berada dalam lindungan

Allah SWT serta selalu sukses dalam menjalankan tugas sehari-hari Amin ya Rabbal 'Alamin. Kami Pengurus Masjid Baitut Taqwa yang beralamat di :

Jalan Iskandar Muda No. 363
Dusun Wiyayu Timur Desa Bedewang
Kecamatan Songgon
Kabupaten Banyuwangi
Propinsi Jawa Timur,

Dengan ini mengajukan permohonan bantuan dana kepada Bapak/Ibu/Saudara(i) Para Donatur/Dermawan untuk penyelesaian renovasi dan perluasan bangunan Masjid Baitut Taqwa. Sekecil apapun bantuan dana yang Bapak/Ibu/Saudara(i) Para Donatur/Dermawan berikan tentunya sangat berarti demi terlaksananya renovasi dan perluasan bangunan Masjid Baitut Taqwa tesebut. Bagi Bapak/Ibu/Saudara(i) para Donatur/Dermawan yang berkeinginan memberikan bantuan bisa menyerahkan langsung kepada pengurus Masjid Baitut Taqwa atau transfer ke :

Bank BRI Unit Punjer Bondowoso
Nomor Rekening : 6198-01-000107-50-6
Atas Nama : Harum Triana Dewi
Konfirmasi setelah melakukan transfer
melalu SMS/Call ke nomer :
08156575646 Harum Triana Dewi

Demikian surat permohonan ini kami sampaikan, besar harapan kami permohonan ini dapat dikabulkan dan semoga apa yang Bapak/Ibu/Saudara(i) Para Dermawan berikan bernilai ibadah dan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormat Kami,
Panitia Masjid Baitut Taqwa


Keterangan :
Rekening atas nama Masjid Baitut Taqwa sedang dalam Proses pembuatan.

23/09/2016

Dosa Fitnah
Posted on April 14, 2013 by masjidtamanpuncakjalil

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman percaya kepada berita angin. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita itu benar, dan juga tidak semua berita yang disampaikan ada faktanya. Ingatlah, musuh-musuh kamu senantiasa mencari kesempatan untuk menjatuhkan kamu. Maka wajib atas kamu untuk selalu berwaspada, hingga kamu boleh kenal pasti orang yang hendak menyebarkan berita yang tidak benar.

Fitnah disebarkan untuk memburuk-burukkan individu atau kump**an kerana perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan layak dibandingkan orang lain. Ia juga menyebabkan nilai agama musnah daripada menjadi pegangan hidup dalam masyarakat. Apabila nilai agama yang menjadi tunjang kesempurnaan hidup hilang, maka banyak dosa dilakukan.
Perkara itu diingatkan dengan tegas oleh Rasulullah dalam sabda Baginda yang bermaksud: “Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, sifat kedekut dan jenayah berleluasa”. – (Hadis riwayat Muslim).

Fitnah adalah sebahagian daripada perbuatan mengadu-domba. Apabila disebarkan, ia mudah menyebabkan permusuhan dua pihak. Permusuhan menjadi semakin tegang dan tidak terkawal apabila banyak fitnah ditabur.

Ia juga tidak mempunyai asas kebenaran. Islam mengarahkan manusia supaya memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dalam berita berunsur fitnah. Justeru, wajib bagi orang Muslim menghalusi setiap berita yang diterima sebelum mempercayainya. Kesahihan berita dapat dilakukan dengan melihat kepada fakta dan sumber berita.

Jika perlu, gunakan masa lebih lama sebelum membuat keputusan. Lebih lama berfikir adalah lebih baik supaya tidak menanggung kesan buruk. Allah memberi hidayah kepada manusia untuk berfikir dengan hati terbuka dan mengharapkan petunjuk-Nya.

Sekiranya berita yang diterima belum diketahui kebenarannya, jangan kita membicara atau menyebarkannya. Rasulullah bersabda: “Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat”. – (Hadis riwayat Muslim).

Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran penting bagi memastikan kita tidak terpedaya dengan berita palsu berunsur fitnah. Allah berfirman dalam surah al-Hujurat, ayat 6 yang bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidiki dulu (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, kerana kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan”.

Dalam era teknologi maklumat, penyebaran fitnah mudah dilakukan melalui alat komunikasi tanpa perlu berdepan dengan orang lain, malah identiti penyebar juga dirahsiakan.

Dosa fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, ia tidak diampunkan Allah melainkan orang yang difitnah memberi keampunan. Tentu s**ar untuk mengakui kesalahan sendiri dan memohon keampunan daripada orang lain.

Dosa fitnah juga menghalang kita masuk syurga. Rasulullah bersabda: “Tidak masuk syurga orang yang s**a menyebarkan fitnah”. – (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Penyebar fitnah akan diberi malu oleh Allah apabila dibangkitkan pada akhirat kelak. Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang menyebarkan kata-kata yang memalukan seorang Muslim dengan tidak sebenarnya, nescaya dia akan diberi malu oleh Allah dalam neraka pada hari kiamat”. – (Hadis riwayat Ibn Abid Dunya dari Abu Zar).

Iman Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsia yang tidak mahu diketahui orang lain adalah perbuatan adu-domba dan fitnah.

Mencari dan membocorkan rahsia orang dilarang Allah seperti di dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain”. – (Surah al-Hujurat, ayat 12).

Sesiapa yang menyebarkan berita berbentuk cacian dan kejian, kecelakaan besar bakal diterima sebagai balasan. Allah berfirman: “Kecelakaan besar bagi tiap-tiap pencaci dan pengeji.” – (Surah al-Humazah, ayat pertama).

Hanya orang yang berpekerti buruk melahirkan perkataan buruk. Orang cerdik tidak sekali-kali mengeluarkan perkataan buruk yang secara langsung melambangkan keburukan diri sendiri.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kamu apa itu mengumpat?” “Tidak,” jawab sahabat. Balas Baginda, “Mengumpat adalah kamu menyebut tentang kawan kamu apa yang dibencinya.” Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimanakah sekiranya sesuatu yang disebut itu ada padanya?” Jawab Rasulullah SAW, “Itulah maksudnya mengumpat.” Nabi berkata lagi, “Kalau kamu menyebut apa yang tidak ada padanya, itu adalah buhtan (fitnah).” (Hadis Riwayat Tirmizi)

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [An Nur : 12].

Wahai kaum msulimin, inilah langkah pertama yang harus engkau lakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnuhan (berperasangka baik) kepada dirimu. Jika engkau sudah husnuzhan kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzhan kepada saudaramu dan (menyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan. Dan engkau katakan,

“Maha Suci Engkau (Allah) , ini merupakan kedustaan yang besar”. [An Nur : 16].

Inilah yang dilakukan oleh sebagian shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sampai berita kepada mereka tentang Ummul Mukminin.

Diceritakan dari Abu Ayyub, bahwa istrinya berkata,”Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab,”Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina), hai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab,”Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata,”Demi Allah, A’isyah itu lebih baik dibanding kamu.”

Kemudian Allah berfirman.

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta”. [An Nur : 13].

Inilah langkah yang kedua, jika ada berita tentang saudaranya. Langkah pertama, mencari dalil yang bersifat batin, maksudnya berhusnuzhan kepada saudaranya.

Langkah kedua mencari bukti nyata.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. [Al Hujurat : 6].

Maksudnya mintalah bukti kebenaran suatu berita dari si pembawa berita. Jika ia boleh mendatangkan buktinya, maka terimalah. Jika ia tidak boleh membuktikan, maka tolaklah berita itu di depannya; karena ia seorang pendusta. Dan cegahlah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dengan demikian, berita itu akan mati dan terkubur di dalam dada pembawanya ketika kehilangan orang-orang yang mau mengambil dan menerimanya.

Siapakah yang akan terlibat dengan dosa besar fitnah?

1. Individu yang mula-mula mencipta dan merancangan berita fitnah itu dengan diubah suai gambar-gambar palsu (superimpose) dan dimuatkan dalam internet (facebook, blog atau you-tube)

2. Semua akhbar yang memuatkan dalam akhbar mereka tanpa usul periksa di petik daripada laman sosial dan membenarkan berita-berita atau gambar-gambar berupa fitnah tersebut.

3. Sesiapa sahaja yang ‘share’ dan ‘like’ dan mempercayai dan menyebarkan p**a berita fitnah tersebut kepada rakan-rakan mereka dalam facebook atau blog.

4. Semua saluran televison yang menyiarkan berita fitnah dan membesar-besarkannya seolah-olah perkara tersebut benar-benar berlaku tanpa membawa saksi dan bahan bukti yang sahih.



5. Semua NGO , kelab, persatuan, pemimpin parti politik , pemimpin masyarakat, bekas pemimpin negara, pensyarah, wartawan, penulis blog dan artis yang menyokong dan memberi komen negatif tanpa membawa saksi yang adil terhadap berita fitnah terutama yang melibatkan tuduhan zina atau liwath maka mereka semuanya akan mendapat saham DOSA BESAR . Sia-sia sahaja amal soleh dan amal ibadah mereka di dunia kerana seronok mempromosikan berita fitnah dan tuduhan jahat . Termasuk juga individu yang hebat memperkatakan Islam dan pakar motivasi tetapi tewas dengan hasutan syaitan mudah mempercayai fitnah dan tuduhan zina dan liwath kepada seorang muslim tanpa membawa 4 orang saksi yang adil. Setakat dakwaan tidak cukup untuk disabitkan kesalahan seseorang muslim.



Apakah akibat yang akan mereka terima di dunia dan akhirat jika mereka membuat, menyebarkan, menyokong dan mempercayainya?

25/04/2016

Rekening Masjid Baitut Taqwa
BRI Cabang Songgon Banyuwangi
Norek : 6132-01-010729-53-2
An. Pembangunan Masjid Baitut Taqwa

15/04/2016
14/04/2016
14/04/2016

DOA DHUHA

14/04/2016

Jaga Ucapan Saat Memandikan Mayat Agar Tidak Bernasib Seperti Ini

Oleh Gusnawati Jamaris
Monday, April 11, 2016


Lisan merupakan salah satu nikmat yang Allah SWT berikan kepada hambaNya. Meskipun merupakan anggota badan yang cukup kecil namun lisan dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau neraka.

Oleh sebab itulah sudah sepantasnya seorang muslim memperhatikan apa yang diucapkan lisannya. Sebab bisa jadi ia menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata ringan dan sepele namun justru dapat mendatangkan murka Allah SWT.

Jaga Ucapan Saat Memandikan Mayat Agar Tidak Bernasib Seperti Ini

Sebagaimana yang dialami oleh wanita pemandi mayat ini, dimana ia mendapatkan murka dari Allah SWT karena tidak menjaga lisannya ketika memandikan mayat seorang wanita. Sehingga salah satu anggota tubuhnya menempel pada mayat tersebut. Penasaran bagaimana akhirnya ? Berikut kisah selengkapnya.

Dikisahkan pada zaman Imam Malik, ada seorang wanita yang sangat buruk kelakuannya. Dimana ia selalu bergonta-ganti pasangan dan tidak pernah menolak ajakan lelaki. Hingga tibalah di hari kematiannya. Ketika itu mayat wanita tersebut dimandikan oleh seorang wanita yang memang pekerjaannya memandikan mayat.

Namun tiba-tiba tangan wanita sipemandi mayat itu melekat pada kemaluan mayat wanita muslimah tersebut. Sehingga semua penduduk dan ulama gempar akan hal tersebut. Orang-orang yang ada disana menjadi heboh dan bingung bagaimana caranya untuk melepaskan tangannya dari mayat wanita tersebut.

Setelah dipikirkan hanya ada dua cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pertama mereka harus memotong tangan wanita pemandi mayat itu atau kedua wanita tersebut dikuburkan sekaligus. Tentu saja kedua pilihan ini sangat tidak mungkin untuk dilakukan.

Sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk meminta pendapat Imam Malik. Ketika telah bertemu dengan Imam Malik, ia tidak langsung memberikan pendapatnya. Namun ia justru memberikan wejangan terlebih dahulu kepada para penduduk tersebut. Bahkan pernah satu ketika Imam Malik mendapatkan 40 pertanyaan, tapi yang dijawabnya hanyalah 5 pertanyaan. Hal ini dikarenakan kehati-hatiannya dan kesensitifannya dalam membahas ilmu agama.

Setelah selesai memberikan wejangan, Imam Malik lantas bertanya kepada si wanita pemandi mayat tersebut. "Katakanlah dengan jujur, apa yang telah engkau ucapkan saat memandikan mayat tersebut?

Dengan malu dan sedih wanita pemandi mayat itu berkata bahwa pada saat ia memandikan si mayat, ia mengatakan kepada si mayat sewaktu membersihkan tubuhnya,

"Sudah berapa kali tubuh ini melakukan zina?" ucapnya.

Sehingga Imam Malik pun menjelaskan kepada orang-orang yang hadir bahwa, "Wanita ini telah melanggar hukum Allah SWT. Sebab ia telah menjatuhkan Qazaf (tuduhan zina) pada wanita tersebut tanpa mendatangkan 4 orang saksi. Oleh karena itu, sesuai dengan hukum Allah SWT maka wanita ini harus dijatuhkan hukuman hudud yaitu dengan 80 kali deraan (cambuk) karena tidak mendatangkan saksi."

Dan dengan izin serta kekuasaan Allah SWT, ketika wanita itu telah mendapat 80 kali deraan, tiba-tiba tangannya terlepas dari mayat tersebut. Sehingga wanita pemandi mayat itu akhirnya bertaubat kepada Allah SWT atas perbuatan buruknya tersebut.

Oleh sebab itulah hendaknya kita senantiasa bisa menjaga lisan dari ucapan-ucapan buruk terutama menggunjing dan memfitnah orang lain, sekalipun orang tersebut telah meninggal dunia.

Dan dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa jangan pernah sekalipun berburuk sangka kepada orang lain meskipun ia adalah seorang wanita yang berperangai buruk. Sehingga jika kita tidak pernah melihat perbuatannya langsung maka kita dilarang untuk menuduhnya berzina.

Dikutip dari :
http://palingyunik.blogspot.co.id/2016/04/jaga-ucapan-saat-memandikan-mayat-agar.html

Jaga Ucapan Saat Memandikan Mayat Agar Tidak Bernasib Seperti Ini Oleh Gusnawati Jamaris Monday, April 11, 2016 Bagikan : Tweet Lisan merupakan salah satu nikmat yang Allah SWT berikan kepada hambaNya. Meskipun merupakan anggota badan yang cukup kecil namun lisan dapat menyebabkan pemiliknya ditetap…

Gotong Royong Masyarakat Sekitar
14/04/2016

Gotong Royong Masyarakat Sekitar

Address

Bedewang, Songgon
Banyuwangi
68463

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid Baitut Taqwa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category