03/04/2020
KH. Achmad Asy'ari Pakistaji, Santri Kesayangan Kiai Saleh
Kiai Asy'ari begitu namanya dikenal. Bagi warga Pakistaji, Kecamatan Kabat, nama tersebut, mungkin tak asing. Beliaulah pelopor madrasah di desa tersebut. Sebut saja MI dan MTs An-Najahiyah yang hingga kini masih menjadi tempat belajar warga, berdiri berkat perjuangannya.
Kiai Asy'ari merupakan tokoh asli Pakistaji. Ia adalah putra Mbah Rustam. Tak ada yang ingat siapa sebenarnya nama Mbah Rus. Karena nama Rustam sendiri itu, merujuk pada nama anak pertamanya. Sebagaimana umumnya, biasanya orang tua dipanggil dengan sebutan bapaknya fulan, si anak pertama. Hal ini lambat laun menghapus kenangan masyarakat pada nama aslinya.
Sebagaimana para kiai pada umumnya, Asy'ari muda pun mengenyam pendidikan di pesantren. Salah satu pesantren yang ditujunya adalah Lateng, Banyuwangi. Saat itu, ia belajar langsung kepada KH. Sholeh Syamsudin atau biasa dikenal dengan nama Kiai Saleh Lateng.
Di bawah bimbingan Kiai Saleh, Asy'ari pun tumbuh menjadi ahli ilmu, sekaligus memiliki semangat juang untuk mendakwahkan Islam. Ia aktif di Nahdlatul Ulama. Selain mendirikan sejumlah lembaga pendidikan, beliau pun aktif dalam forum-forum bahtsul masail.
Kegemarannya pada ilmu fiqih dan bahtsul masail itu, membuatnya berlangganan Swara Nahdlatoel Oelama. Majalah tersebut merupakan terbitan PBNU generasi pertama. Pengantarnya berbahasa Jawa dan menggunakan aksara pegon. Di dalamnya menyediakan rubrik tanya jawab. Banyak kiai di seantero Jawa yang terlibat dalam tanya jawab dan tak jarang saling bantah di dalam rubrik tersebut.
Menurut penuturan putranya, KH. M. Amin Asy'ari, dulu banyak ditemukan SNO yang dikoleksinya. Sayangnya, saat renovasi rumah, koleksi tersebut tak terurus dan hilang.
Sepulangnya dari pesantren, Kiai Asy'ari lantas mempersunting gadis di kampungnya. Namanya Makbulah. Dari pernikahan ini, dikaruniai delapan orang anak. Di antaranya adalah Muhammad Makki Asy'ari dan Masduqi Asy'ari.
Untuk mempererat hubungan dengan sang guru, Kiai Saleh, ia lantas menjodohkan anaknya yang bernama Makki Asy'ari itu dengan putri Kiai Saleh dari pernikahannya yang ketiga dengan Nyai Sarah. Sang putri itu, bernama Nayu Shofia. Hubungan guru murid ini pun semakin erat dengan hubungan besan.
Akan tetapi, dalam perkembangannya, hubungan tersebut semakin liat. Betapa tidak, Kiai Asy'ari yang seorang besan ini, juga dinikahkan dengan putrinya yang lain. Yakni, Nayu Zaenab yang tak lain adalah kakak dari Nayu Shofia sendiri.
Alkisah, ketika era revolusi kemerdekaan, Kiai Saleh dicari-cari oleh Gubernur Jawa Timur, Van der Plass. Ia mencari tokoh-tokoh berpengaruh untuk dirayunya menjadi antek penjajah. Dengan iming-iming bantuan dana yang cukup besar. Namun, Kiai Saleh menolak. Ia memilih bersembunyi di kampung Kemangi, Pakistaji.
Di kampung itu, Kiai Saleh bersembunyi di rumah menantunya yang tak lain adalah putra Kiai Asy'ari. Saat itu, Kiai Saleh juga mengajak keluarganya. Di antaranya adalah Zaenab yang saat itu berstatus janda beranak tiga. Singkat kata, Kiai Saleh menjodohkan keduanya. Dari pernikahan ini, Kiai Asy'ari mendapatkan seorang putra, yakni Muhammad Amin Asy'ari.
Hubungan antara Kiai Saleh dan Kiai Asy'ari semakin rumit tatkala anaknya yang lain, Masduqi Asy'ari dinikahkan dengan cucunya yang bernama Halimatus Sa'diyah. Ia adalah putri dari Kiai Faqih Abdullah Tukangkayu dengan Nayu Asmah.
Hubungan yang begitu erat dan kompleks tersebut, tak lain sebagai bentuk kasih sayang Kiai Saleh kepada Kiai Asy'ari. Tak mungkin seseorang menikahkan anak turunnya dengan seseorang yang tak memiliki jejak yang baik, bukan?
Kiai Asy'ari diberi usia panjang. Beliau wafat pada 7 Januari 1974/ 12 Dzulhijah 1393 H dalam usia lebih dari satu abad. Hingga tulisan ini dibuat, masih belum diketahui pasti ia lahir pada tahun berapa. (*)